Kamis, 01 September 2016

Cerita Cinta: SAHABAT SETIA HINGGA SURGA

Cerita Cinta:
SAHABAT SETIA HINGGA SURGA

Di tengah keterasingan, aku mencoba memaknai persahabatan dan di kala kesulitan menghimpit aku berusaha merenungkan tafsir Kesetiaan...

Di tengah gangguan bersosialisasi aku berjuang mengurai benang kusut kejujuran dalam pergaulan...

Memang benar kata para ulama sahabat ada empat,

Pertama, teman laksana makanan yang dibutuhkan untuk kehidupan.

Kedua, teman laksana obat yang dibutuhkan saat kesakitan.

Ketiga, teman laksana racun amat bahaya bila ditelan.

Keempat, teman laksana virus senantiasa menularkan penyakit saat berdampingan.

Waspadalah bersahabat dengan banyak orang, karena mereka pada umumnya, tidak mudah mentolelir kekurangan, kurang bisa memaafkan kesalahan, mudah mengumbar aib, mudah marah dalam urusan sepele, dan gampang hasud dengan kenikmatan besar maupun kecil. Jangan kamu jadikan seseorang sebagai sahabat sebelum Anda mengujinya dengan lamanya pergaulan, amanah dalam masalah uang, membantumu dalam kesulitan, dan setia dalam bepergian.

Ribuan orang pernah bertegur sapa dan berpapasan denganku, ada yang masih aku ingat namun banyak yang terlupa moga semuanya bisa jumpa di Surga.

Banyak sekali kebaikan yang aku petik dan hikmat yang aku dapatkan dari harga sebuah persahabatan...

Atha berkata, carilah temanmu saat menghilang, barangkali dia sedang sakit perlu ditengok, atau sedang menghadapi kesulitan perlu bantuan atau sedang lupa persahabatan perlu diingatkan.

Kebaikan dan perhatian mereka terlalu banyak dihitung apalagi ditabung, ada yang terekam indah dalam kenangan dan ada yang terlupakan bahkan terabaikan semoga Allah memaafkan.

Betapa besarnya pahala bersahabatan yang ditegakkan diatas keimanan dan keadilan hingga Allah menjamin naungan teduh di hari pengadilan.....

Bahkan Allah berfirman dalam hadits qudsi, manakah orang-orang yang berkasih sayang karenaku, demi izzahku Aku akan naungi dengan naungan Arasyku...

Dan manusia dihimpun pada hari Kiamat bersama orang yang dicintainya, di mana pernah seorang Badui datang kepada Rasulullah dan bertanya, Kapankah Kiamat terjadi? Beliau menjawab, Apakah yang Anda persiapkan untuknya? Maka sang Badui pun menjawab, Cinta Allah dan cinta RasulNya. Maka beliau menjawab, Engkau akan dihimpun bersama orang yang kamu cintai.

Anas bin Malik menangis setelah mendengar jawaban nabi karena kegembiraan sehingga berkata, Aku mencintai Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan Utsman meski amalanku tidak bisa menyamai amalan mereka, aku hanya berharap bisa dikumpulkan bersama mereka di hari Kiamat.

Hak bersahabatan cukup banyak yang antara lain,

1. Jagalah nama baik dan kehormatan sahabatmu.

2. Nasehati secara tulus di kesepian akan kesalahan dan kesesatannya.

3. Bantulah hajat hidupnya baik berupa materi, tenaga, pikiran dan ilmu yang Anda miliki.

4. Doakan ketika bersin dan mengucapkan hamdalah, jawablah salamnya, tengoklah saat sakit, antarkan jenazahnya saat meninggalnya dan berilah nasihat dengan tulus saat minta nasihat serta kabulkan undangannya.

5. Jagalah kehormatan keluarganya dan panggillah dengan nama indahnya.

6.  Doakan dengan kebaikan dan Hidayah saat Anda sedang berjauhan.

Said bin Ash berkata, temanku punya hak tiga atasku, kalau dia mendatangiku aku sambut dengan hangat, bila dia berbicara aku dengar dengan menghadapkan muka dan bila dia duduk aku luaskan majelisnya.

Sementara sahabat setia adalah orang yang bila kamu pandang mengingatkan Allah, ucapannya mendorong kepada kebaikan dan tingkah lakunya memotivasi kepada keakhiratan.

Kisah Mengharukan Seorang Pendeta di Pedalaman Kalimantan Memeluk Islam

Inilah Kisah Mengharukan Seorang Pendeta di Pedalaman Kalimantan Memeluk Islam

- Senin, 31 Agustus 2015

Islamedia – Seorang mantan pendeta Kristen Protestan menuliskan sebuah surat yang ditujukan kepada Tuan Syaikh Abdurrozzaq, dalam surat tersebut mantan pendeta tersebut menerangkan bagaimana kronologis akhirnya dirinya memeluk agama Islam.

Mantan pendeta yang tinggal di Pedalaman Kalimantan tersebut bernama Robert Tanhu Mangkulang dengan nama Islam Abdurrahman Al Islami.

Abdurahman Al Islami belum sempat mengirimkan surat tersebut, mungkin karena sakit yang dideritanya, akan tetapi surat tersebut ditemukan oleh saudaranya yang non muslim ditumpukan buku-bukunya sebulan setelah wafatnya.

Berikut ini isi suratnya dikutip dari website resmi Ustadz Firanda Adireja

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله

Kepada yang saya cintai karena Allah Tuan Syaikh Abdurrozzaq semoga Allah memberkahi anda.

Perkenalkan nama saya Robert Tanhu Mangkulang dengan nama Islam Abdurrahman al Islami 58 tahun, berasal dari suku Dayak Kalimantan.

Sebelumnya saya minta maaf bila mengganggu waktu anda dan aktifitasnya. Saya ingin menceritakan kisah singkat tentang kehidupan saya dan juga harapan saya di akhir hidup saya yang tersisa.

Saya masuk Islam pada tanggal 15 Desember 2011, mulanya saya masuk Islam dan mengenal Agama Islam karena keraguan agama yang saya yakini, di keluargaku 6 bersaudara semuanya berbeda agama, ada hindu paganisme, kristen katholik dan protestan, tapi tidak ada satu pun yang masuk Islam karena keluarga kami menganggap Islam agama yang rumit dan sulit.

Selama 30 tahun lebih saya menjadi misionaris protestan dan terakhir menjadi kepala gereja di seluruh kota di Kalimantan, tepatnya di Kutai Barat, selama itu pula saya diberikan kecukupan rezeki harta dan jabatan yang layak karena itulah tujuan para pendeta, dari keenam kali pernikahan saya tidak dikaruniai anak keturunan, harta yang saya punya dipakai untuk bersenang-senang dan habis di meja judi.

Di akhir masa tua ini saya merasa takut dan gelisah dengan agama yang saya yakini yaitu kristen protestan. Tidak membawa ketenangan dan ketentraman, sebelum saya mengenal Islam ini saya meneliti dan membanding-bandingkan kitab-kitab injil saya dengan kitab yang dulu, ada sisi yang kontradiktif antara satu dan lainnya, ditambah lagi saya ingin menghabiskan masa tua di tempat kelahiran saya.

Sebulan kemudian saya memutuskan untuk pergi meninggalkan gereja demi niat saya untuk pindah mencari ketenangan hati. Singkat cerita kami, yaitu saya dan murid saya yang mengantar sampailah di satu pelosok kabupaten Paser yang mayoritas 90 prosen adalah penganut paganisme dan animisme, namun selama puluhan tahun ditinggalkan ada sedikit berbeda, ada beberapa orang yang masuk agama Islam diantaranya mantan mertua yaitu bapak istri saya ketiga ternyata sudah menjadi muslim.

Seperti biasa di pagi hari saya selalu berkeliling untuk berolahraga, sengaja saya melewati rumah bekas istri saya karena penasaran kami berdiskusi dan berdialog dengan mereka, padahal dulu mereka adalah orang-orang yang nakal dan brutal namun ada perubahan drastis dengan sikap perilaku dan penampilan yang islami.

Tuan Syaikh Abdurozzaq desa kami desa terisolir dan jauh dari keramaian, selama puluhan tahun tidak ada da’i atau ustadz yang masuk ke pedalaman, lalu saya tanyakan kepada mereka apa yang menyebabkan mereka masuk Islam? Mereka bercerita ada seorang pemuda jawa yang datang dari kota kecamatan selalu datang membawa alat penghisap darah penyakit dan mengamalkan agamanya, karena keramahan dan budi pekerti yang baik mereka belajar, dari mulai 2 keluarga yang masuk Islam hingga 30 keluarga (setara 40 orang dewasa 18 anak kecil) yang belajar tentang agama Islam.

Selesai berdialog mereka memberi buku kecil berjudul “Sebab-Sebab Kebahagiaan” karya Syaikh Abdurozzaq dan buku Bekam Sunnah Nabi dan Mukjizat Medis. Sampai di rumah sebelum tidur saya membaca dan merenungi tiap makna dari lembaran buku itu, entah kenapa badan saya merinding, dada bergemuruh karena takjub dengan penjelasan kebahagiaan yang saya cari selama ini.

Puluhan tahun saya berkhotbah di hadapan jamaah, baru kali sekarang saya mendapat suatu kata indah walaupun ada beberapa yang kurang dimengerti dalam bahasanya tapi saya faham akan maksud dan tujuan si penulis.

Keesokan harinya saya bertemu dengan teman-teman di desa untuk menanyakan kapan pemuda itu kembali akan datang? ternyata hari itu mereka sudah ada janji untuk menjemput lewat sungai karena daratan berlumpur setelah hujan lebat.

Setelah ketemu kami yaitu saya mengutarakan niat saya untuk memeluk agama Islam maka dengan keyakinan yang kuat saya mengucapkan syahadat di hadapan 8 laki-laki dewasa dan 4 wanita walaupun agak sulit karena saya belum terbiasa dan tidak bisa maka saya dituntun untuk membaca “Laailaha illallah Muhammad Rasulullah”.

Pemuda tadi memegang erat tangan saya dan memeluknya tubuh ini dengan haru lalu dia ucapkan “Bapak sekarang menjadi saudara saya dalam Islam maka berbahagialah bapak dengan jaminan Allah, bahwa dengan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya kita akan bertemu di surga”

Setelah itu kami berbincang dan berbagi pengalaman, dan saya tanyakan kepada pemuda ini dimana saya bisa bertemu dengan penulis ini buku, sambil menunjukkan buku yang saya bawa. Ternyata pemuda ini pun belum pernah bertemu atau melihat langsung Syaikh Abdurrozzaq, dia hanya mendengar suara di radio swasta sebelum dia merantau ke Kalimantan, bahkan bila ada kunjungan penulis buku ini dia tidak bisa hadir karena kemampuannya untuk datang ke Jakarta.

Dua minggu kemudian dia datang kembali membawa buku-buku pelajaran cara praktis membaca al-Quran dan papan tulis, sekaligus memberi kabar gembira bahwa Syaikh Aburrozzaq akan datang bulan Februari di Jakarta tahun 2012, maka saya katakan ke padanya “Mari kita berangkat ke Jakarta, masalah ongkos saya yang akan tanggung, bawa juga keluargamu”. Namun dia menolak dengan alasan bahwa dia mengajarkan agama bukan karena harta dan iming-iming materi dunia, tapi saya bersikeras untuk memberi dia uang. Selama dua tahun naik turun bukit pemuda ini hanya digaji dengan ikan dan pisang sedangkan saya diberi sesembahan para jamaah setiap minggu.

Akhirnya dia menerima dan membelikan tiket untuk keberangkatan kami di bulan Februari 2012 bersama keluarganya.

Sejak saat itu kami belajar dan saya pun belajar dengan sungguh-sungguh akan kebaikan Islam, umumnya di suku kami tidak ada paksaan untuk memeluk agama lain karena perbedaan agama boleh asal jangan mengganggu adat istiadat yang ada di desa kami yang mayoritas hindu paganisme.

Di pagi hari badan saya sakit semua, hernia kambuh dan seluruh kaki terasa berat digerakkan, dengan bantuan tetangga dibawa ke poliklinik terdekat lalu saya diobati dengan obat-obatan seadanya karena klinik kampung yang ada di desa tidak ada petugas yang jaga itupun yang mengobati adalah bidan kampung/dukun anak.

Seminggu kemudian pemuda ini datang dan berniat untuk menjemput saya ke rumahnya serta tinggal beberapa hari di rumah samping mushola, namun takdir berkata lain jangankan untuk jalan, berdiripun tak mampu. Pemuda ini membacakan beberapa do’a dan dia meminta madu dan air serta diminumkan kepada saya, sore harinya saya agak membaik, bisa jalan tertatih-tatih, saya minta ijin tidak hadir dalam pengajian iqro dan ia pun mengerti.

Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak bisa bertemu atau datang ke jakarta, sampaikan salam dan tolong tuliskan rasa terima kasih kepada Syaikh Abdurozzaq, saya akan ke rumah teman yang ada di kabupaten untuk melihat tayangan langsung, kebetulan dia mempunyai parabola. Akhirnya pemuda ini berangkat bersama keluarganya ke jakarta, ada seorang ibu yang menitipkan barang untuk Syaikh berupa tas karena kecintaan beliau kepada tuan Syaikh Abdurrozzaq.

Hari minggu 19 februari 2012, hari itu saya sangat senang melihat wajah anda Syaikh Abdurrozzaq, walaupun ada gangguan dan sinyal yang buruk tapi ada pelajaran yang bisa diambil “bahwa bila kita ingin meraih cinta Allah harus mendahulukan perintah-perintah-Nya”. Saya ingin sekali mendengar tapi suara, gambar dan tayangannya tersendat-sendat, sehingga waktu itu saya jadi berfikir kenapa saya tidak memaksakan berangkat ke jakarta.

Tuan Syaikh Aburrozzaq sejak itu pula saya mulai mengerti arti kehidupan dalam pandangan Islam bahwa dunia hanya sementara sedangkan akhirat kekal dan abadi.

Ada kejadian yang membuat saya miris dan sedih, pemuda tadi dicegat dan diinterogasi oleh sebagian aparatur desa, yang ironisnya mereka adalah muslim, mereka menganggap pemuda ini mengajarkan ajaran menyimpang karena itu dia tertahan dan tidak bisa mengajar lagi, lalu datanglah saudara kami “Maris” salah satu tokoh yang masuk Islam dia menjelaskan kepada aparatur desa bahwa dia hanya mengajarkan baca tulis al-Quran.

Dua bulan tiga bulan sampai satu tahun dia tidak pernah datang lagi, apalagi setelah kami warga muslim ikut-ikutan ritual belian (pemanggilan roh-roh halus), mau tidak mau, suka atau tidak suka kami harus mengikutinya adat-istiadat karena ini solidaritas suku.

Tuan Syaikh Abudrrozzaq pemuda ini tidak pernah datang lagi, kami memaklumi dan mengerti dia membutuhkan perubahan dari kami dan juga perjuangan untuk melawan adat tapi kami tidak mampu, dan lagi beliau juga perlu penghasilan untuk keluarga semoga Allah memudahkan urusan pemuda ini.

Tuan Syaikh Abdurrozzaq semoga dengan tulisan ini dan sampainya tulisan ini di hadapan anda semoga ada da’i atau ustadz yang mau ke tempat kami, dulu waktu kami menjadi misionaris kami bisa ke pelosok-pelosok tapi umat Islam yang kata anda rahmat semesta alam tidak ada yang bertahan ke pedalaman. Maka disisa umurku ini saya berharap bisa bertemu di surga kelak. Saya mempunyai penyakit kronis bisa saja setelah ini Allah mencabut nyawa saya, sekali lagi terimakasih untuk anda dan Islam.

Abdurrahman al-Islami
Muara Andeh, 15 Agustus 2014

Berikut ini pertanyaan mantan pendeta ketika Syaikh Abdurrozzaq mengisi di Jakarta :https://youtu.be/vDL3aFKHXO0?t=6719

Berikut ini scan surat mantan pendeta:

https://app.box.com/s/0wz2q7wujvqkb3jgikwxm9kwednl4j8s

[islamedia/firanda]

i

Apa hukumnya mencukur jenggot (lihyah) atau mencukur sebagiannya?

*Apa hukumnya mencukur jenggot (lihyah) atau mencukur sebagiannya?*

*Jawab :*

Alhamdulillah, mencukur jenggot hukumnya *haram* berdasarkan hadits-hadits shahih yang secara tegas melarangnya. Dan berdasarkan dalil-dalil umum yang melarang menyerupai orang-orang kafir.

Diantaranya hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Selisihilah orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan potonglah kumis.” Dalam riwayat lain berbunyi: “Potonglah kumis dan peliharalah jenggot.”

Masih banyak lagi hadits-hadits lain yang semakna dengan itu. Maksud memelihara jenggot adalah *membiarkannya tumbuh secara alami.* Termasuk memeliharanya adalah membiarkannya tanpa mencukur, mencabut atau memotongnya sedikitpun. Ibnu Hazm bahkan telah menukil ijma’ (kesepakatan) tentang hukum wajibnya memotong kumis dan memelihara jenggot.

Beliau berdalil dengan sejumlah hadits, diantaranya adalah hadits Ibnu Umar terdahulu dan hadits Zaid bin Arqam yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Barangsiapa tidak memotong sebagian dari kumisnya maka ia bukan termasuk golonganku (golongan yang melaksanakan sunnahku).” Hadits tersebut dinyatakan shahih oleh At-Tirmidzi, ia berkata dalam kitab Al-Furu’ bahwa riwayat yang dibawakan oleh rekan-rekan kami dari kalangan madzhab Hambali di atas menegaskan hukum haramnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma’ telah memerintahkan supaya menyelisihi orang-orang kafir dan melarang menyerupai mereka. Sebab menyerupai mereka secara lahiriyah merupakan sebab menyerupai tabiat dan tingkah laku mereka yang tercela. Bahkan merupakan sebab meniru keyakinan-keyakinan sesat mereka. Dan dapat mewariskan benih-benih kecintaan dan loyalitas dalam batin kepada mereka. Sebagaimana kecintaan dalam hati dapat menyeret kepada penyerupaan dalam bentuk lahiriyah. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain kami. Maka janganlah kalian menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani.” Dalam riwayat lain berbunyi: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (H.R Imam Ahmad).

Bahkan Umar bin Khaththab menolak persaksian orang yang mencabuti jenggotnya. Dalam kitab At-Tamhid Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Haram hukumnya mencukur jenggot, sesungguhnya perbuatan tersebut hanya dilakukan oleh kaum banci.” Yaitu perbuatan tersebut termasuk menyerupai kaum wanita.

Dalam riwayat disebutkan bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah seorang yang lebat jenggotnya. (H.R Muslim dari Jabir)

Dalam riwayat lain disebutkan: “Tebal jenggotnya” dalam riwayat lain: “Banyak jenggotnya”, maknanya sama yakni lebat jenggotnya. Oleh karena itu *tidak dibolehkan* memotong sedikitpun darinya berdasarkan dalil-dalil umum yang melarangnya.


*(Fatawa Lajnah Daimah Jilid V/133, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Dewan Tetap Arab saudi untuk riset-riset ilmiyah dan fatwa)*

[Salafy.or.id]

Rabu, 31 Agustus 2016

Saudaraku, Tolong Letakkan Dulu HPmu

📲⛔📱 *Saudaraku, Tolong Letakkan Dulu HPmu*

✍​ Ustadz Ibnu Zubair.. _hafidzohulloh_


Sesungguhnya Rasulullah _Shollallahu alaihi wassalam_ pernah menerima sebuah cincin, beliau pun mengenakannya.

Kemudian beliau berkata kepada para Sahabatnya,

*_"Cincin ini telah memecah perhatianku dari kalian, terkadang aku melihat cincin ini, terkadang aku melihat ke kalian. Maka beliau pun melempar cincin tersebut."_*
( HR. Nasai, Hadits Shohih. Ahmad Syakir dan Al-Albani menyatakan bahwa isnad hadits ini Shohih)

Ini merupakan adab yang dituntunkan oleh Nabi _Shollallahu 'Alaihi Wassalam_, yakni *janganlah seseorang sibuk sendiri dengan sesuatu hal ketika sedang bermajelis*, bahkan ia seharusnya mencegah sebab-sebab yang dapat membuat terpecahnya perhatian.

Sungguh mulia tuntunan Nabi _Shollallahu 'Alaihi Wassalam_ diatas. *betapa sering kita sibuk dengan HP kita sendiri ketika sedang berkumpul, bertemu, berbicara dengan orang lain*, atau yang lebih parahnya ketika kita *sedang menghadiri kajian_*.

Kalau perlu, ikuti yang dilakukan oleh Nabi _Shollallahu 'Alaihi Wassalam_. Buang saja HP kita. Tentunya kita akan merasa _eman-eman_ untuk melakukan ini. Maka hendaknya kita menyingkirkan sementara HP ini demi terfokusnya perhatian kita.


🌐Sumber : Channel Telegram Washilah

➖➖➖
  
Repost by :  
👥 *SOBAT MUSLIM* group sharing kajian2 islam via WhatsApp & Telegram khusus _ikhwan_~(laki-laki)~   
📱 Admin: +62 853-1028-3995 (utk bergabung silahkan kirim pesan via WA / TG dg format: Daftar#Nama#Kota Domisili)  
📮 Join Channel Telegram *SOBAT MUSLIM* di : https://goo.gl/g64jcQ

Selasa, 30 Agustus 2016

Makan dengan tangan kiri = meniru setan!

Makan dengan tangan kiri = meniru setan!

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

فَإِنَّ الْآكِلَ بِهَا، إِمَّا شَيْطَانٌ وَإِمَّا مُشَبَّهٌ بِهِ

“yang makan dengan tangan kiri, kalau ia bukan setan maka ia menyerupai setan” (Zaadul Ma'ad, 2/369)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: “makan dan minum dengan tangan kiri ketika ada udzur hukumnya tidak mengapa, adapun jika tanpa udzur maka haram. Karena Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam melarangnya, beliau bersabda:

إن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله

'sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya'

dan Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya ia menyuruh kepada perbuatan buruk dan kemungkaran” (QS. An Nur: 21)
Kemudian, setan itu senang jika anda makan dengan tangan kiri anda, karena itu artinya anda telah mengikuti setan dan menyelisihi Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam. Maka ini bukan perkara remeh! Jika anda makan atau minum dengan tangan kiri, setan sangat bergembira karena perbuatan tersebut. Ia gembira karena anda telah mencocoki dirinya dan menyelisihi Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam. Maka ini bukan perkara remeh! Oleh karena itu wajib bagi para penuntut ilmu untuk melarang orang-orang awam melakukan perbuatan ini.

Banyak orang yang kita dapati ketika makan, mereka minum dengan tangan kiri. Kata mereka: “nanti gelasnya kotor”. Padahal kebanyakan gelas sekarang terbuat dari kertas yang hanya sekali pakai saja. Maka jika demikian biarkan saja ia terkena noda (dari bekas makan). Kemudian, masih memungkinkan anda memegangnya pada bagian bawahnya diantara telunjuk dan ibu jari, kemudian meminumnya. Lalu andaikan alternatif-alternatif barusan tidak memungkinkan, maka biarkan saja gelasnya terkena noda nanti bisa dicuci, ini bukan hal yang musykilah.

Karena selama seseorang itu tahu bahwa melakukan hal tersebut hukumnya haram dan berdosa jika minum dengan tangan kiri, maka yang haram itu tidak boleh dilakukan kecuali darurat”(Sumber: http://islamancient.com/play.php?

Senin, 29 Agustus 2016

SURAH AL MULK USTADZ ZAIN ABU KAUTSAR

CARA MENGENALI ITU UJIAN ATAU MURKA ALLAH SAAT TERTIMPA MUSIBAH

🔍 CARA MENGENALI ITU UJIAN ATAU MURKA ALLAH SAAT TERTIMPA MUSIBAH
 
PERTANYAAN :
Jika seseorang sedang diuji dengan penyakit atau musibah yang buruk pada jiwa dan harta, bagaimana cara mengenali bahwa hal itu ujian atau murka dari Allah?

 
JAWABAN :
Allah Azza Wa Jalla menguji hamba-hambaNya dengan kebahagiaan dan kesedihan, dengan kesulitan dan kemudahan, bisa jadi Dia menguji mereka untuk mengangkat derajat mereka dan melipatgandakan kebaikan mereka, sebagaimana yang Dia lakukan kepada para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salam dan kepada orang-orang sholeh dari hambaNya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 أشد الناس بلاء الأنبياء ، ثم الأمثل فالأمثل

“Manusia yang paling keras bala’nya (ujiannya) adalah para Nabi, kemudian yang serupa dengan mereka, demikian seterusnya."
 

🔴 Kadang kala Allah Subhanahu wa Ta’ala melakukannya disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa, dan mensegerakan hukumanNya, sebagaimana dalam firman-Nya: 

وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم ويعفو عن كثير

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (Qs. Asy Syura 30)
 
🔺 Jika pada umumnya seorang manusia tidak maksimal dalam menjalankan kewajiban, maka apa yang menimpanya disebabkan karena dosa-dosanya dan kelalaiannya akan perintah Allah.
🔺 Dan jika salah seorang dari hamba Allah yang sholeh diuji dengan penyakit atau semacamnya, maka hal ini termasuk sejenis dengan ujian yang menimpa para Nabi dan Rasul untuk  mengangkat derajat, mengagungkan pahalanya, dan agar menjadi teladan bagi yang lain dalam hal kesabaran dan pengharapan.

 
📌 KESIMPULANNYA :
Bahwa bisa jadi bala’ (ujian) itu mengangkat derajat, dan mengagungkan pahala, sebagaimana yang Allah lakukan kepada para Nabi dan para hamba-hamba pilihanNya, bisa juga untuk menghapuskan dosa, sebagaimana dalam firman Nya:

من يعمل سوءً يُجز به 

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu." (Qs. An Nisa’ 123)
 
Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 ما أصاب المسلم من همٍّ ولا غم ولا نصب ولا وصب ولا حزن ولا أذى إلا كفَّر الله به من خطاياه حتى الشوكة يشاكها 

“Tidaklah ada yang menimpa seorang muslim dari mulai kerisauan, kegundahan, keburukan, penyakit, kesedihan dan duka kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya sampai duri yang menancap sekalipun."

 من يرد الله به خيراً يُصِب منه

“Barang siapa yang Allah menginginkan kebaikan baginya , maka dia akan memberi ujian baginya."
 

🔵 Namun bisa jadi juga kejadian itu merupakan hukuman yang disegerakan karena disebabkan oleh maksiat dan tidak segera bertaubat, sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam :

إذا أراد الله بعبده الخير عجَّل له العقوبة في الدنيا ، وإذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافيه به يوم القيامة
 
“Jika Allah menginginkan kepada hamba-Nya sebuah kebaikan maka Dia akan mensegerakan hukumannya di dunia, dan jika mengingikan keburukan kepada hamba-Nya maka Allah akan menahan hukuman-Nya dengan dosanya hingga akan dilaksanakan pada hari kiamat." (HR. Tirmidzi) Hasan

______________________________
 
📚 Syaikh bin Baaz, Majmu’ Fatawa wa Maqalat,

Rabu, 17 Agustus 2016

MILIKI HARTAMU

💡Tafakkur pagi --------------------------------- *MILIKI HARTAMU* Akhi/Ukhti…‬‬ ‪‪Ada berapa banyak uang di tabunganmu... ???‬‬ ‪‪Atau di brangkas besimu...??‬‬ ‪‪Atau dimana saja kau menyimpannya…‬?? ‪‪ ‬‬ ‪‪Pada suatu hari al Ahnaf bin Qais melihat uang logam satu Dirham di tangan seseorang, maka iapun bertanya kepadanya, "Uang siapakah ini..???‬‬ ‪‪Spontan orang itu menjawab, "Uangku!".‬‬ Maka Ahnaf berkata, "Uang itu menjadi milikmu bila kau nafkahkan dalam rangka mencari PAHALA atau BERSYUKUR pada Allah".‬‬ ‪‪ ‬‬ ‪‪Kemudian ia mendendangkan sebuah bait sya'ir:‬‬ ‪‪ ‬‬ ‫أنت للمال إذا أمسكته ... فإذا أنفقته فالمال لك .‬ ‪‪ ‬‬ ‪‪"Kamu dimiliki oleh hartamu bila kau menyimpannya‬‬ ‪‪Namun tatkala kamu MENGINFAKKANNYA, maka HARTA itu menjadi MILIKMU".‬‬ ‪‪ ‬‬ ‪‪Subhanallah…‬‬ ‪‪Jadi yang menjadi milik kita adalah yang telah berpindah tangan dari brangkas dan simpanan kita...‬‬ ‪‪ ‬‬ ‪‪Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:‬‬ ‫ ‬ ‫((يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ))‬ ‫ ‬ ‪‪"Hamba itu berkata, "Hartaku, hartaku", tidaklah menjadi hartanya kecuali tiga:‬‬ ‪‪Yang ia makan kemudian habis‬‬ ‪‪Yang ia kenakan kemudian usang‬‬ ‪‪Yang ia sedekahkan, maka itulah yang dikumpulkannya‬‬. ‪‪Adapun yang selain itu, maka akan sirna dan ia akan meninggalkannya untuk orang lain". (HR Muslim)‬‬ ‪‪ ‬‬ ‪‪Kalau kau cinta kepada hartamu‬‬..... ‪‪ ‬‬ ‪‪Kalau kau ingin menumpuk hartamu‬‬..... ‪‪ ‬‬ ‪‪Maka segera pindahkan dari tempatnya, ke tempat yang abadi‬‬... Tidak perlu takut dirampok atau dicuri Karena dijaga, ‬‬ oleh Pencipta Langit dan Bumi 📝USTADZ. DR, SYAFIQ RIZA BASALAMAH, MA 📶 S I L A H K A N D I S H A®E _____________________

Rabu, 20 Juli 2016

DA'I DAN POPULARITAS

�� DA'I DAN POPULARITAS

Tujuan utama seorang muslim dalam beramal adalah untuk mencari keridhaan Allah, bukan untuk menggapai popularitas dan ketenaran.

Allah ta'ala berfirman,

"تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ".

Artinya: "Negeri akhirat itu kami adakan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri serta tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa". QS. Al-Qashash: 83.[1]

Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam bersabda,

"إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ".
"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya hati[2] dan yang tidak mencari ketenaran[3]".[4]

Ayyûb as-Sikhtiyâni (w. 131 H) menjelaskan, "Seorang hamba yang mencintai ketenaran, tidak dianggap jujur (kepada Allah) sedikitpun".[5]

Imam Syafi'i (w. 204 H) berkata, "Aku senantiasa berangan-angan agar para manusia mempelajari ilmu yang kumiliki ini, namun mereka tidak menisbatkan satu huruf pun dari ilmu tersebut kepadaku!".[6]

Namun, seandainya seseorang telah berusaha selalu ikhlas dalam berdakwah, dan dia tidak bertujuan untuk mengejar popularitas, tapi barangkali karena keilmuannya yang mumpuni, atau kepiawaiannya dalam berorasi; lantas dia menjadi tenar, apakah dalam kondisi seperti ini dia tetap tercela?

Jawabannya: tidak! Karena bukan dia sendiri yang mencari ketenaran tersebut, namun popularitas itu datang dengan sendirinya tanpa ada keinginan dari dia.[7]

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) menjelaskan, "Karakter yang tercela adalah: mengejar popularitas. Adapun jika popularitas tersebut ada lantaran karunia dari Allah, tanpa dikejar seorang hamba, maka hal itu tidak tercela. Hanya saja hal tersebut bisa membuat hamba yang lemah imannya terfitnah".[8]

Oleh karena itu, kita dapatkan para nabi, para sahabat nabi shallallahu'alaihiwasallam, para ulama besar, ketenaran mereka merambah seluruh penjuru bumi. Tapi, apakah hal itu dikarenakan mereka adalah tipe manusia yang gemar berburu popularitas, meskipun dengan cara mengorbankan idealisme? Atau hal itu karunia dari Allah, lantaran mereka senantiasa taat kepada-Nya? Tentu saja yang kedua!

Dan Allah memiliki hikmah ilahiyah di balik pengaruniaan ketenaran kepada mereka. Di antaranya: dengan popularitas yang dimiliki para orang salih di atas, banyak manusia yang akan meneladani mereka dalam ketaatan kepada Allah, sehingga tersebarlah keimanan di muka bumi. Lain halnya jika yang tenar hanya orang-orang yang fasik atau tokoh-tokoh ahlul bid'ah; akibatnya mereka akan dijadikan idola yang dipuja-puja dan ditiru seluruh gerak-geriknya, sebagaimana yang terjadi di akhir zaman ini. Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu…

Para ulama membawakan suatu perumpamaan, "Orang-orang yang lemah keimanannya namun tenar, ibarat seseorang yang tidak mahir berenang sedang dalam keadaan tenggelam dan di sekelilingnya banyak orang-orang yang sedang tenggelam juga. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya posisi dia tidak diketahui oleh mereka; karena jika mereka berpegangan dengan tubuhnya, dia tidak akan kuat menahan beban, lalu binasa bersama mereka.

Namun orang yang bertubuh kuat dan pintar berenang, sebaiknya orang-orang yang tenggelam di sekelilingnya mengetahui posisinya. Supaya mereka bisa berpegangan dengan tubuhnya, lalu ia menyelamatkan mereka dan mendapatkan pahala dari Allah".[9]

Andaikan kita termasuk golongan yang kuat keimanannya, kemudian dikaruniai Allah ketenaran, maka seyogyanya kita tetap waspada akan tipu daya setan dan senantiasa menganggap bahwa karunia tersebut adalah ujian dari Allah.

Imam Ahmad bin Hambal (w. 241 H) berkata, "Aku telah diuji oleh Allah dengan ketenaran!".[10]

Ya, para ulama rabbaniyyin menganggap popularitas sebagai ujian berat! Tidak seperti sebagian kita!

Pada suatu hari, tatkala sedang berada di dalam mobilnya, Syaikh al-Albani dilihat oleh seseorang. Segera orang tadi dengan penuh semangat mendatangi syaikh dan berkata, "Engkaukah Syaikh al-Albani?!". Tatkala ditanya seperti itu, syaikh menangis. Ketika ditanya mengapa menangis, beliau menjawab, "Seharusnya seorang hamba senantiasa bermujahadah, dan tidak terperdaya dengan ketenaran dirinya!".[11]

Andaikan kita di posisi beliau, bagaimanakah kira-kira reaksi kita?

�� Jangan tinggalkan dakwah karena khawatir popularitas!

Sebagaimana kita tidak boleh meninggalkan jalan dakwah karena takut riya', kita juga tidak boleh meninggalkannya karena khawatir terhadap popularitas. Yang benar: kita tetap berdakwah dan bermujahadah untuk memperbaiki niat, serta waspada dari tipu daya setan.

Ibn al-Mubârak (w. 181 H) bercerita, bahwa suatu hari Sufyân ats-Tsauri (w. 161 H) berkirim surat padanya, yang berisikan, "Sebarkanlah ilmu dan waspadalah dari popularitas!".[12]

�� Obat riya' dan cinta popularitas[13]

Salah satu faktor terbesar dari sekian banyak faktor yang membantu seseorang untuk mengusir virus riya' dan cinta popularitas dari hati adalah: memohon pertolongan kepada Allah sang penguasa segala sesuatu dalam hal ini, dengan penuh kesungguhan.

Dikisahkan bahwa seorang ulama salaf bertanya kepada muridnya, "Apa yang akan engkau lakukan jika setan datang menggodamu untuk berbuat maksiat?". "Aku akan berusaha keras melawannya", jawab si murid. "Jika dia datang lagi?". "Aku akan kembali melawannya!". "Jika ia datang lagi?". "Aku akan terus melawannya!". Maka sang guru berkomentar, "Jika demikan, perjalananmu akan amat panjang. Andaikan engkau melewati suatu tempat, tiba-tiba ada seekor anjing yang menggonggong dan menghalangi jalanmu, apa yang akan kau kerjakan?". "Aku akan mengusir anjing tersebut dan berusaha keras menghalaunya!", jawab si murid. Lantas sang guru berkata, "Jika demikan usahamu akan berat. Mengapa engkau tidak memanggil si empu anjing tadi dan minta tolong padanya? Niscaya energi yang engkau keluarkan tidak terlalu banyak".[14]

Ya Allah, karuniakanlah keikhlasan pada setiap perkataan dan perbuatan kami…

-------------------------------

[1]  Sebagian ahli tafsir berdalilkan dengan ayat di atas untuk menunjukkan tercelanya mencari popularitas. Lihat: Al-Bahr al-Madîd fî Tafsîr al-Qur'ân al-Majîd, karya Ibnu 'Ujaibah (IV/456), cetakan yang ada dalam al-Maktabah asy-Syamilah.
[2]  Lihat: Syarh Shahih Muslim, karya an-Nawawi (XVIII/301), terbitan Beirut: Dar al-Ma'rifah, cet VI, th 1420/1999.
[3]  Lihat: Siyar A'lâm an-Nubalâ' (I/119 -footnote).
[4] HR. Muslim (XVIII/300-301 no. 7358).
[5]  Musnad Ibn al-Ja'd (I/577 no. 1287), terbitan Kuwait: Maktabah al-Falah, cet I, th 1405/1985.
[6]  Al-Majmû', karya an-Nawawi (I/30), terbitan Jedah: Maktabah al-Irsyad, tc, tt.
[7] Baca: Ar-Riyâ' Dzammuhu wa Atsaruhu as-Sayyi' fî al-Ummah karya Syaikh Salim al-Hilaly (hal. 67).
[8]  Mukhtashar Minhâj al-Qâshidîn, karya Imam Ibn Qudamah (hal. 270), terbitan 'Ammân: Dar 'Ammar, cet II, 1415/1994. Lihat pula: Ihyâ' 'Ulûm ad-Dîn, karya Abu Hamid al-Ghazali (III/238), terbitan Beirut: Dar al-Fikr, tc, 1423/2003
[9] Lihat: Ibid.
[10] Manâqib al-Imam Ahmad, karya Ibn al-Jauzi (hal. 252), terbitan Mesir: Maktabah al-Khanji, cet I, 1399/1979.
[11] Al-Imâm al-Albâni, Durûs, Mawâqif wa 'Ibar, karya Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhân (hal. 126), terbitan Riyadh: Dar at-Tauhid, cet I, 1429/2008.
[12] Hilyah al-Auliyâ' karya Abu Nu'aim al-Ashbahani (VII/70), terbitan Mesir: Maktabah as-Sa'adah, cet I, th 1351.
[13] Semoga Allah memudahkan kami menyelesaikan penulisan makalah berjudul "Menggapai Beningnya Hati" dan menjadikannya bermanfaat bagi penulis serta para pembacanya, amien.
[14]  Lihat: Talbîs Iblîs, karya Ibn al-Jauzi (I/280) , terbitan Riyadh: Dar al-Wathan, cet I, 1423/2002.

SELEPAS RAMADHAN

�� *SELEPAS RAMADHAN?* ��

Ramadhan telah berakhir, apa yang harus kita lakukan setelah ramadhan? Istiqomah dalam beramal atau bermaksiat lagi. Menjadi hamba Allah yang beribadah kepada Allah setiap saat atau menjadi hamba ramadhan yang hanya mengenal Allah dibulan ramadhan.
Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

_“Dan sembahlah Rabb-mu hingga datang kematian menjemputmu.” (QS. Al-Hijr: 99)._

Tugas kita selepas ramadhan belum berakhir kita tetap diwajibkan untuk senantiasa beribadah kepada Allah sampai kematian menjemput. Hendaknya setelah ramadhan kita berdo'a agar amalan dibulan Ramadhan diterima.

Sebagian ulama salaf mengatakan,

كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَبْلُغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

_*"Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan. Kemudian mereka pun berdo’a selama 6 bulan agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima oleh-Nya.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 232).*_

Itulah salaf, ketika ramadhan berakhir selama 6 bulan berdo'a agar ibadah dibulan ramadhan diterima.

Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu mengatakan,

كُوْنُوْا لِقَبُوْلِ اْلعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامًا مِنْكُمْ بِاْلعَمَلِ أَلَمْ تَسْمَعُوْا اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ يَقُوْلُ : ]إِنَّمَا يَتَقَبَلُ اللهُ مِنَ اْلمُتَّقِيْنَ[

_”Hendaklah kalian lebih memperhatikan bagaimana agar amalan kalian diterima daripada hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian menyimak firman Allah ’azza wa jalla, [إِنَّمَا يَتَقَبَلُ اللهُ مِنَ اْلمُتَّقِيْنَ]“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (Al Maaidah: 27).” (Lathaaiful Ma’arif: 232)._

�� *APA YANG KITA LAKUKAN?*
1. Walaupun ramadhan telah pergi hendaknya kita tetap menjadi hamba Allah yang senantiasa beribadah kepada Allah.
2. Istiqomah dalam beramal
3. Berdo'a agar amalan kita dibulan ramadhan diterima Allah.
_”Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan amalan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 244)._

_______________________
Artikel: FSI Tunas Ilmu

Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan

�� *Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Syawal ?* ��

☘ Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhal (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri.

☘ Begitu pula Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga mengeaskan bahwa yang paling utama adalah berpuasa pada enam hari awal bulan syawal sesudah hari Idul Fithri secara langsung, berturut-turut sebagaimana yang ditetapkan oleh para ulama, karena cara itu lebih maksimal dalam mewujudkan pengikutan seperti yang dituturkan dalam hadits, “kemudian mengikutinya”, dan karena cara itu termasuk bersegera menuju kebajikan yang diperintahkan oleh dalil-dalil yang menganjurkannya dan memuji orang yang mengerjakannya, juga hal itu termasuk keteguhan hati yang merupakan bagian dari kesempurnaan seorang hamba Allah, sebab kesempatan tidak selayaknya dibiarkan lewat percuma; karena seseorang tidak tahu apa yang dihadapkan kepadanya di kesempatan yang kedua atau akhir perkara.

�� Namun, jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa Syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa syawal tiga hari setelah Idul Fithri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa Syawal hingga keluar waktu (bulan Syawal) karena bermalas-malasan maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa Syawal.

‼ Catatan : Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qadha’ (mengganti) puasa Syawal tersebut di bulan Dzulqa’dah. Hal ini tidaklah mengapa. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/466)
Wallahu a’lam.

Bolehkah melaksanakan puasa Syawal pada hari Jum’at?

Bolehkah melaksanakan puasa Syawal pada hari Jum’at? Ataukah ada larangan melaksanakan puasa saat itu karena ada hadits yang melarangnya?
Keutamaan Puasa Syawal

Kita tahu bersama bahwa puasa Syawal itul punya keutamaan, bagi yang berpuasa Ramadhan dengan sempurna lantas mengikutkan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka ia akan mendapatkan pahala puasa setahun penuh. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).
Itulah dalil dari jumhur atau mayoritas ulama yag menunjukkan sunnahnya puasa Syawal. Yang berpendapat puasa tersebut sunnah adalah madzhab Abu Hanifah, Syafi’i dan Imam Ahmad. Adapun Imam Malik memakruhkannya. Namun sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah, “Pendapat dalam madzhab Syafi’i yang menyunnahkan puasa Syawal didukung dengan dalil tegas ini. Jika telah terbukti adanya dukungan dalil dari hadits, maka pendapat tersebut tidaklah ditinggalkan hanya karena perkataan sebagian orang. Bahkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah ditinggalkan walau mayoritas atau seluruh manusia menyelisihinya. Sedangkan ulama yang khawatir jika puasa Syawal sampai disangka wajib, maka itu sangkaan yang sama saja bisa membatalkan anjuran puasa ‘Arafah, puasa ‘Asyura’ dan puasa sunnah lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)
Larangan Puasa pada Hari Jum’at

Dalam hadits Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ
“Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali jika ia berpuasa pula pada hari sebelum atau sesudahnya.” (HR. Bukhari no. 1849 dan Muslim no. 1929).
Juga terdapat hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ
“Janganlah khususkan malam Jum’at dengan shalat malam tertentu yang tidak dilakukan pada malam-malam lainnya. Janganlah pula khususkan hari Jum’at dengan puasa tertentu yang tidak dilakukan pada hari-hari lainnya kecuali jika ada puasa yang dilakukan karena sebab ketika itu.” (HR. Muslim no. 1144).
Dari Juwairiyah binti Al Harits radhiyallahu ‘anha,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهِيَ صَائِمَةٌ فَقَالَ أَصُمْتِ أَمْسِ قَالَتْ لا قَالَ تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا قَالَتْ لا قَالَ فَأَفْطِرِي
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuinya pada hari Jum’at dan ia dalam keadaan berpuasa, lalu beliau bersabda, “Apakah engkau berpuasa kemarin?” “Tidak”, jawabnya. “Apakah engkau ingin berpuasa besok?”, tanya beliau lagi. “Tidak”, jawabnya lagi. “Batalkanlah puasamu”, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1986).
Maksud Larangan Puasa pada Hari Jum’at

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nadzar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jum’at, maka tidaklah makruh.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, 6: 309).
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimah

Larangan Puasa pada Hari Jum’at

Maksud Larangan Puasa pada Hari Jum’at

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nadzar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jum’at, maka tidaklah makruh.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, 6: 309).
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Jika seseorang berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian bukan maksud untuk pengkhususan karena hari tersebut adalah hari Jum’at namun karena itu adalah waktu longgarnya saat itu, maka pendapat yang tepat, itu masih dibolehkan.” (Syarhul Mumthi’, 6: 477).
Puasa Syawal pada Hari Jum’at

Kalau kita perhatikan dari penjelasan Imam Nawawi berarti masih dibolehkan melakukan puasa Syawal pada hari Jum’at karena bertepatan dengan kebiasaan puasa. Begitu pula dari penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin juga menunjukkan masih bolehnya berpuasa Syawal pada hari Jum’at. Alasannya, karena puasa yang dilakukan saat itu bukan karena hari tersebut adalah hari Jum’at lantas ia berpuasa. Namun yang dimaksudkan adalah karena bulan tersebut adalah bulan Syawal sehingga dilakukanlah puasa Syawal kala itu. Ditambah lagi puasa Syawal pada hari Jum’at masih dihukumi boleh jika diikuti berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya.
Semoga semakin tercerahkan dengan penjelasan Rumaysho.Com yang singkat ini. Moga Allah memberi kita kemudahan untuk melakukan puasa Syawal ini.

MANA CALONNYA?

MANA CALONNYA?
@salimafillah

Bukan. Ini juga bukan tentang pertanyaan yang sering mencekat tenggorokan melebihi nastar kadaluwarsa. Bagi sebagian kita, mendapat soalan ini bagai rundungan awan kelabu yang menodai pelangi ceria hari raya.

Kepada para bujang; jodoh sudah tertulis di Lauhil Mahfuzh. Hanya cara kita mengambil menentukan bagaimana Allah memberikannya. Yang dijemput dalam ridhaNya, betapa lembut uluranNya. Yang menyahut pasangan dengan murkaNya, ah tentu akan berbeda rasanya.

Di anggitan ini, saya hendak mengingatkan para Wali anak gadis; ayah, kakek, paman, kakak, adik lelaki dan seterusnya, bahwa tugas mereka soal calon suami para akhawat itu bukan hanya untuk menjadi juri, melainkan panitia seutuhnya.

Inilah 'Umar ibn Al Khaththab yang menantunya, Khunais ibn Hudzafah As Sahmi gugur di Perang Badr. Maka Hafshah pun menjadi janda. Ketika wanita mulia yang baru berusia 18 tahun itu habis masa 'iddahnya, sang ayah bergegas mencarikan suami shalih baginya.

Pertama, 'Umar menjumpai lelaki terbaik ummat, Abu Bakr. Tapi Ash Shiddiq hanya diam dan terus diam dengan segala tawaran 'Umar untuk menikahi Hafshah. Bingung menyikapinya, 'Umar beralih pada sang muhajir ganda, 'Utsman ibn 'Affan.

"Ya 'Utsman", ujarnya, "Masa 'iddah Hafshah setelah gugurnya Khunais telah usai dan dia putriku yang amat kusayangi. Adapun istrimu Ruqayyah binti Rasulillah juga baru saja meninggal. Bagaimanakah pendapatmu jika seorang duda yang baik menikahi seorang janda yang baik?"

'Utsman tampak terkejut dan malu dengan tawaran terus-terang itu. Segera setelah menguasai diri, dia berkata, "Berikanlah aku waktu untuk memikirkannya."

Waktu tiga haripun diberikan, tapi ketika jawaban dihulurkan, 'Umar kembali menangguk kecewa. "Dalam waktu dekat ini, kurasa aku belum bisa memikirkan pernikahan lagi."

"Tak mengapa", sahut 'Umar dengan hambar.

"Ya Rasulallah", adu 'Umar di kesempatan berjumpa, "Telah kutawarkan Hafshah kepada 'Utsman, tapi 'Utsman menolaknya."

"Semoga Allah karuniakan kepada Hafshah", sahut Sang Nabi sambil tersenyum,  "Lelaki yang lebih baik daripada 'Utsman. Dan semoga Allah karuniakan kepada 'Utsman, wanita yang lebih baik daripada Hafshah."

Dan berlakulah takdir Allah. 'Utsman dinikahkan oleh Sang Nabi dengan Ummu Kultsum, adik Ruqayyah. Adapun suatu hari, Rasulullah menggandeng tangan 'Umar dan berkata, "Bagaimana jika aku yang menikahi Hafshah?"

Itu salah satu hari paling membahagiakan dalam hidup 'Umar ibn Al Khaththab, sang ayah yang tahu hakikat menjadi Wali.

Saat walimah pernikahan Hafshah dan Rasulullah digelar, Abu Bakr mendekati 'Umar. "Apakah kau masih kesal dengan sikapku kemarin?"

"Tentu saja", sahut 'Umar. Sikap lelaki yang tidak jelas itu menjengkelkan.

"Sebenarnya aku sangat berminat pada tawaranmu."

"Kenapa tidak kau katakan?"

"Karena aku mendengar bahwa Rasulullah juga bertanya tentang Hafshah."

"Itu juga kenapa tidak kau katakan?"

"Karena aku takkan pernah membuka rahasia Rasulullah pada siapapun."

Persahabatan mereka sangat dahsyat bukan?

Nah, kepada para akhawat; sampaikan kisah ini kepada kakak lelaki. Lalu katakan misalnya, "Bang, tukeran teman yuk!"

"Maksudnya?"

"Teman Abang yang shalih buatku. Temanku yang shalihah buat Abang. Skenarionya kita atur nanti ya."

Atau sampaikan kisah ini pada Ayahanda, lalu katakan pada beliau di pagi Jumat, "Nanti kalau shalat Jumat, perhatikan shaff depan ya Bah. Kalau ada yang shalih, ganteng, duduknya khusyu', nyimak khuthbahnya nggak ngantuk ajak lah ke rumah untuk makan siang ya."

Atau sampaikan juga pesan itu pada Kakek kita. Tapi untuk kakek tambahkan pesan tentang umur. Karena kakek bisa salah faham dan yang diajak pulang seusia beliau semua. Jalau diprotes ngelesnya, "Ya kalau shaff pertama isinya sebeginian semua, Cuk.."

Saya tuliskan ini, karena sering beberapa rekan akhawat bertanya bagaimanakah ikhtiyar menjemput jodoh bagi pihak yang biasanya pasif ini dari sisi Allah. Di tengah antara ekstrem hanya menanti dalam doa dan ekstrem lain yang berani menawarkan diri pada lelaki shalih yang diyakini, semoga jalan tengah ini salah satu solusi.

Sampaikan pada para Wali.

semangat menimba ilmu dengan teknologi.

Syeikh Sholih al-Masy’ari hafizhahullah pernah ditanya tentang cara semangat menimba ilmu dengan teknologi...gadget,radio,tv dst

✏Beliau hafizhahullah menjawab:
��Yang didapat dengan cepat itu akan pudar dengan cepat pula

��Ilmu itu adalah layaknya rezki harus dicari dan didatangi sumbernya dengan sabar dan tekun.

��Tidak ada ulama yang mutqin ilmunya karena sebab teknologi. ...bahkan ada dari mereka berjalan berbulan bulan untuk mendapatkan ilmu.

��Sekiranya ada kajian rutin yang sarat dengan faidah ilmu maka janganlah ditinggalkan karena ada event "kajian umum"

��Betapa banyak orang hanya copy paste dalam gadget nya dan tidak pernah dihafalkan dan  dicatat ulang.

Hal ini karena berpindah pindah tanpa fokus dalam menuntut ilmu syar'i itu seperti makan "sandwich" kenyang nya cepat dan laparnya pun cepat.

��Sebagaimana orang yang rajin nonton kajian ilmu ...giliran diajak mendatangi majelis ilmu yang sarat dengan faidah ilmiyah...ia jawab, "Aku nonton aja disini...sama kok hasilnya"

Saudaraku yang semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan kepadamu. ...
��Mari kita berusaha memaksimalkan usaha untuk mendatangi majelis ilmu dan seluruh tekno gadget itu kita gunakan untuk menshare faidah dari apa yang telah kita pelajari dan bukan SARANA UTAMA dalam menimba ilmu syar'i.

��Besarnya pahala mendatangi majelis ilmu tergantung besarnya jerih payah dan pengorbanannya

❓Soal:
Besarnya pahala tergantung besar nya perjuangan untuk mencapainya ya? Ada haditsnya?

✅JAWAB :
Barakallahu fiikum
Ada hadits nya sebagai berikut:

إن لك من الأجر على قدر نصبك و نفقتك

رواه الحاكم و صححه الألباني في صحيح الترغيب والترهيب 1116

Sesungguhnya bagimu ada pahala sesuai dengan jerih payah dan pengorbananmu

��HR. Al Hakim no. 1733 dari Aisyah radhiallahu’anha .
Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah, lihat Shohih At Targhib wa At Tarhib no. 1116.

Jadi bedakan saja antara orang yang mencukupkan menuntut ilmu dengan melihat TV dibandingkan dengan orang yang susah payah "tertatih" berat mendatangi majelis ilmu...

AYO SEMANGAT ....
saudaraku...Mari kita datangi majelis ilmu.
Semoga bermanfaat

مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً

“Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.”

Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ

“Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320).

Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur,

العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ

“Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.”

Ingatlah semakin sulit dan berat dalam mempelajari agama, semakin besar pahala. Maka bersabarlah dalam belajar.
Sumber telegram fawaid muwatho.

Kamis, 30 Juni 2016

Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah

Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?
Oleh : Penulis: Ust. Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.
Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan:
*“MOHON MAAF LAHIR & BATHIN ”*
Seolah-olah saat Idul Fitri hanya khusus untuk minta maaf.
Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idul Fitri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan.
Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku dihari Idul Fitri...
Demikian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,, mengajarkan kita
*Tidak ada satu ayat Qur'an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” disaat-saat Idul Fitri.*
Satu lagi, saat Idul Fitri, yakni mengucapan :
"MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN".
Arti dari ucapan tersebut adalah :
“Kita kembali dan meraih kemenangan”
KITA MAU KEMBALI KEMANA?
Apa pada ketaatan atau kemaksiatan?
Meraih kemenangan?
Kemenangan apa?
Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan?
Satu hal lagi yang mestik dipahami, setiap kali ada yang mengucapkan
“ Minal ‘Aidin wal Faizin ”
Lantas diikuti dengan kalimat,
“ Mohon Maaf Lahir dan Batin ”.
Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya.
Ini sungguh KELIRU luar biasa...
Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain....
PASTI PADA BINGUNG....
Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.
Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , yaitu :
*"TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM"*
*(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).*
Jadi lebih baik, ucapan / SMS /BBM / WA,, kita :
*" Selamat Idul Fitri. Taqobbalallahu minna wa minkum "*
Barakallahu Fiikum
Kewajiban kita hanya men-syiar kan selebihnya kembalikan kepada masing-masing.. Krn kita tdk bisa memberi hidayah kpd orang lain hanya Allah lah yg bisa memberi hidayah kepada hamba NYA yg IA kehendaki
Semoga bermanfaat...
Allahu a'lam

Jumat, 24 Juni 2016

KISAH IMAM AL-BUKHARI DAN UANG SERIBU DINAR

KISAH IMAM AL-BUKHARI DAN UANG SERIBU DINAR Sebelum kita simak kisah ini ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu seberapa banyak uang 1000 dinar itu: 1 dinar = 4,25 gram emas murni 1000 dinar = 4.250 gram = 4.25 kg emas murni... Jika 1 gram emas murni seharga Rp. 500.000 berarti: 1000 dinar= 4.250 × 500.000 Hasilnya: 2,125,000,000 ( dua milyar seratus dua pulu lima juta) Uang yang sangat banyak sekali...... _____________ Sekarang mari kita simak kisah berikut ini: Disebutkan oleh al-Imam Abdus Salam al-Mubarakfury dalam kitab Shirah al-Imam Al-Bukhari: Bahwasanya Imam Bukhari pernah sekali mengarungi lautan di masa beliau masih menuntut ilmu, pada waktu itu beliau membawa uang 1000 dinar (dua milyar rupiah lebih) dan ini merupakan harta yang sangat banyak Kemudian datanglah kepada beliau salah seorang dari awak kapal, lelaki tersebut menampakkan kecintaan dan kesukaan kepada sang Imam, dia selalu berusaha mendekat dan duduk dengan beliau...ketika Imam Bukhari melihat kecintaan dan kesetiaan lelaki tersebut dan saking akrabnya sampai2 beliau memberitahukan kepada lelaki tersebut tentang 1000 dinar yang beliau bawa di kapal. Kemudian pada suatu hari lelaki tersebut bangun dari tidurnya kemudian dia menangis, merobek-robek bajunya dan memukul-mukul wajah dan kepalanya...ketika manusia melihat keadaan lelaki tersebut maka mereka bingung dan terheran2...maka mereka mendatanginya dan menanyakan sebab musababnya... Lelaki tersebut akhirnya berkata: "aku memiliki kantong yang berisi 1000 dinar akan tetapi kantong itu lenyap dariku" Maka akhirnya orang2 mengadakan pemeriksaan satu persatu pada semua penumpang kapal, di saat seperti itu, Imam Bukhari mengeluarkan kantong dinarnya secara sembunyi-sembunyi lalu beliau melemparkanya ke Laut, pemeriksaan terus berlangsung sampai ke beliau dan sampai usai, akan tetapi para pemeriksa tidak menjumpai apapun. Maka para pemeriksa kembali ke lelaki tersebut dan mencelanya habis-habisan. Ketika orang-orang turun dari kapal, lelaki tersebut mendatangi Imam Bukhari dan berkata: "apa yang kamu lakukan dengan kantong dinarmu???? Imam Bukhari menjawab: "aku melemparkannya ke Laut " Lelaki tadi berkata: " bagaimana engkau bisa bersabar atas hilangnya harta yang banyak darimu???" Imam Bukhari berkata kepadanya: " wahai orang bodoh, sesungguhnya aku telah menghabiskan seluruh umur dan hidupku untuk mengumpulkan hadits2 Rasulullah, dan seluruh dunia telah mengetahui ketsiqqohanku (kredibilitasku dalam meriwayatkan hadits), maka bagimana mungkin aku menjadikan diriku menjadi bahan tuduhan sebagai seorang pencuri?? Apakah mutiara berharga (yaitu: tsiqqoh dalam periwayatan hadits) yang mana aku habiskan umurku untuknya aku korbankan hanya karena uang yang sedikit??? Masya Allah....Semoga Allah merahmati Imam Al-Bukhari. Beliau melakukan itu bukan demi nama baik dan harga dirinya akan tetapi demi menjaga keotentikan agama, karena beliau adalah lambang dari Hadits nabi...jika beliau tertuduh sebagai pencuri..maka hilanglah nilai validitas hadits yang beliau kumpulkan. Demikianlah sikap wara' para ulama', Dunia tidak ada artinya bagi mereka dibandingkan Ilmu hadits. Akhukum fillah: Fadlan Fahamsyah Kisah ini diambil Dari kitab

Sedekah Pada Orang Miskin Atau Pada Karib Kerabat?

°° " Lebih Utama Mana ".. Sedekah Pada Orang Miskin Atau Pada Karib Kerabat? Karib Kerabat adalah semua yang mempunyai hubungan darah dengan kita mulai dari ibu bapak, saudara kandung,paman,bibi,keponakan,misanan,mindoan dstnya, Pertanyaan diatas mungkin dirasa sepele namun kenyataannya, kebanyakan muslim yang belum tahu lebih memilih untuk bersedekah pada fakir miskin daripada bersedekah terhadap keluarga atau kerabatnya sendiri. Padahal, Setiap perintah sedekah dan infak di dalam al Qur’an, selalu yang pertama kali disebutkan adalah karib kerabat Seperti yang termaktub dalam ayat berikut ini: وءاتى المال على حبه ذوى القربى “….dan memberikan harta yang ia cintai kepada karib-kerabat…..” (QS. Al Baqarah 177) وءات ذى القربى حقه والمسكين “Dan berikanlah kepada karib-kerabat akan haknya dan orang miskin….” (QS. Al Isra 26) Dan banyak lagi ayat lain yang senada dengan itu. Jika kita cermati, ada satu pesan yang sangat penting untuk kita amalkan. Yaitu mendahulukan karib kerabat atau orang terdekat untuk menerima infak atau apapun bentuk kebaikan. Sebelum kita memberi kepada orang lain, kita harus perhatikan apakah ada di antara orang terdekat yang masih membutuhkan atau semua sudah makmur, tidak perlu disantuni lagi. Amat disayangkan bila seseorang memiliki kekayaan yang membuat ia mampu menyantuni orang lain, dan sangat peduli dengan masalah sosial di lingkungannya sehingga ia mudah memberi kepada fakir miskin, anak yatim dan berbagai bentuk amal sosial lainnya. Namun sayang beribu sayang ia sangat cuek dan pelit kepada karib kerabatnya sendiri. Barangkali ia merasa pemberian kepada keluarga terdekat tidak mendapatkan pahala. Padahal justru itulah yang lebih besar pahalanya di sisi Allah. Oleh karena itu pemahaman yang salah ini perdu diluruskan. Tidakkah memilukan, bila seseorang tinggal di rumah yang bagaikan istana, sementara saudara kandungnya tinggal di rumah RSSS (rumah sangat sederhana sekali). Tidakkah kita mengangkat alis bila seseorang mempunyai kekayaan besar, turun dari satu mobil mewah dengan dibukakan pintu oleh para ajudan, berpindah dari satu gedung mewah ke gedung mewah berikutnya, Namun saudara kandungnya menjadi kuli atau babu yang siap diperintah-perintah dengan suara tinggi sambil diacungi telunjuk kiri, wajahnya penuh ketakutan dengan kepala tertunduk serta badan yang membungkuk. Ingatlah.. Rasulullah SAW bersabda: ….يا أمة محمد، والذي بعثني بالحق لا يقبل الله صدقة من رجل وله قرابة محتاجون إلى صلته ويصرفها إلى غيرهم. والذي نفسي بيده، لا ينظر الله إليه يوم القيامة “….Wahai umat Muhammad, demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran, Allah tidak akan menerima sedekah seseorang yang mempunyai kerabat yang membutuhkan bantuannya, sementara ia memberikan sedekah atau bantuan itu kepada orang lain. Dan demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamannya, Allah tidak akan memandangnya di hari kiamat nanti”. (HR. Thabrani) Rasulullah SAW juga pernah bersabda: الصدقة على المسكين صدقة، وعلى القريب صدقتان، صدقة وصلة “Sedekah kepada orang miskin dinilai satu sedekah, sedangkan kepada karib kerabat nilainya sama dengan dua, nilai sedekah dan nilai silaturrahmi”. Ada pesan penting yang sangat jelas disini: “Jika anda menjadi orang yang kaya, jadikanlah orang terdekat anda yang pertama sekali merasakan kekayaan itu. Ibu-bapak, anak-istri, saudara kandung, baru yang lainnya. Jangan sampai masyarakat anda memuji kedermawanan anda, sementara orang terdekat mengurut dada karena kebakhilan anda, padahal mereka dianggap kaya oleh orang lain karena anda sebagai saudaranya” Penulis: Ustadz Zulfi Semoga bermanfaat. Aamiin Yaa Robbal'Alamiin. (Sumber: Markaz Diskusi & Informasi)

Bahasa Arab Yang Umum Di Dengar

Ikhwan: Saudara laki: laki (jamak) Akhwat: Saudara perempuan (jamak) Ukhti : panggilan untuk saudari perempuan Akhi: panggilan untuk saudara laki: Antum : kamu (jamak) Ikhwah fillah: saudara sekalian Afwan: maaf Tafaddhol: silahkan Jazakumullahu khair: terimakasih banyak anta : kamu, [lelaki] antuma: kamu,dua orang [lelaki] antum: kamu,ramai: ramai, [lelaki] anti: kamu, [perempuan] antuma: kamu,dua orang, [perempuan] antukanna: kamu, ramai: ramai, [perempuan] ana: saya nahnu: kami Keif Halaq: how are you Zein: I’m fine Ismi: My name is Shukran: Thank you Afwan: You’re welcome Asf: maaf Ahlan wa sahlan: selamat datang Sabah al kheir: Selamat pagi Nih aslinya adalah: Kaifa haluka (maskulin : tunggal) Kaifa haluki(feminin : tunggal) Kaifa halukuma(maskulin/feminin : dual) Kaifa halukum(maskulin : plural) Kaifa halukunna(feminin : plural) Apa khabar anda hari ini : kaifa haluka ( ki kalau perempuan) al : yaum? How is your pain?

HUKUM MEMBERIKAN ZAKAT KEPADA ORANG TUA, ANAK, ISTRI / SUAMI, KELUARGA & KERABAT

°°° 💸👥💰 HUKUM MEMBERIKAN ZAKAT KEPADA ORANG TUA, ANAK, ISTRI / SUAMI, KELUARGA & KERABAT💰👥💸 🛍 MEMBERI ZAKAT KEPADA KERABAT 💰 Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sebelumnya kita telah membahas delapan golongan yang berhak menerima zakat. Jika di antara kerabat ada yang termasuk orang yang berhak menerima zakat (misal fakir dan miskin), apakah kerabatnya bisa memberikan ia zakat? Berikut penjelasan selengkapnya. 📮Suami Memberi Zakat kepada Istrinya Hal ini tidak dibolehkan berdasarkan ijma’ ulama (kesepakatan para ulama). Mayoritas ulama memberi alasan bahwa nafkah suami itu wajib bagi istri. Sehingga jika suami memberi pada istri, itu sama saja ia memberi pada dirinya sendiri.[1] 📮 Istri Memberi Zakat kepada Suaminya Mengenai hal ini terdapat perselisihan di antara para ulama. Pendapat yang tepat, istri boleh memberikan zakat untuk suami. Di antara dalilnya adalah hadits berikut: ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمَّا صَارَ إِلَى مَنْزِلِهِ جَاءَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ تَسْتَأْذِنُ عَلَيْهِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ زَيْنَبُ فَقَالَ « أَىُّ الزَّيَانِبِ » . فَقِيلَ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ . قَالَ « نَعَمِ ائْذَنُوا لَهَا » . فَأُذِنَ لَهَا قَالَتْ يَا نَبِىَّ اللَّهِ إِنَّكَ أَمَرْتَ الْيَوْمَ بِالصَّدَقَةِ ، وَكَانَ عِنْدِى حُلِىٌّ لِى ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهِ ، فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَوَلَدَهُ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ ، زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ » 📋 Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai berkhutbah, sesampainya Beliau di tempat tinggalnya, datanglah Zainab, isteri Ibu Mas’ud meminta izin kepada beliau, lalu dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini adalah Zainab”. Beliau bertanya, “Zainab siapa?”. Dikatakan, “Zainab isteri dari Ibnu Mas’ud”. Beliau berkata, “Oh ya, persilakanlah dia”. Maka dia diizinkan kemudian berkata, “Wahai Nabi Allah, sungguh anda hari ini sudah memerintahkan shadaqah (zakat) sedangkan aku memiliki emas yang aku berkendak menzakatkannya namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini dibandingkan mereka (mustahiq).“ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibnu Mas’ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih barhak kamu berikan shadaqah daripada mereka“.[2] Alasan lainnya, istri tidak punya kewajiban memberi nafkah pada suami. Maka tidak mengapa memberi zakat kepada suami seakan-akan ia orang lain.[3] 📮 Memberi Zakat kepada Orang Tua dan Anak Menyerahkan zakat kepada orang tua atau kepada anak yang tidak lagi ditanggung nafkahnya, jika mereka termasuk orang yang terlilit utang, budak mukatab (budak yang ingin merdeka dan perlu tebusan) atau ingin berperang di jalan Allah, maka itu dibolehkan berdasakan pendapat yang paling kuat.[4] Sedangkan jika orang tua dan anak tadi itu miskin dan ia tidak bertanggung jawab sama sekali dalam memberi nafkah pada mereka, diperbolehkan juga memberi zakat kepada mereka berdasarkan pendapat yang lebih kuat dan ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Jadi hal di atas dibolehkan jika mereka yang diberi zakat itu miskin dan orang yang memberi zakat tidak mengambil manfaat sama sekali dari zakat yang telah ia serahkan.[5] 📮 Memberi Zakat kepada Kerabat Boleh menyerahkan zakat kepada kerabat jika memang mereka betul-betul orang yang berhak menerima zakat yaitu termasuk delapan golongan sebagaimana yang telah dijelaskan. Bahkan kerabat lebih berhak mendapatkan zakat dari yang lainnya. Karena di situ ada pahala sedekah (zakat) sekaligus pahala menjalin hubungan kekerabatan (silaturahmi). Dari Salman bin ‘Amir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ 📋 “Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin pahalanya satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat pahalanya dua; pahala sedekah dan pahala menjalin hubungan kekerabatan.”[6] Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. ✏ Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com ______ 📌Catatan Kaki: [1] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8268, index “zakat”, point 178. [2] HR. Bukhari no. 1462. [3] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, Al Maktabah At Taufiqiyah, 2/75-76. [4] Majmu’ Al Fatawa, 25/90-92. [5] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/75. [6] HR. An Nasai no. 2582, At Tirmidzi no. 658, Ibnu Majah no. 1844. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. 📁 Sumber: https://rumaysho.com/1180-memberi-zakat-kepada-kerabat.html •═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════• 🌐Dicopy via Channel Telegram Risalah Ramadhan ➖➖➖    Repost by :   👥 SOBAT MUSLIM group sharing kajian2 islam via WhatsApp & Telegram khusus ikhwan(laki-laki)    📱 Admin: +62 853-1028-3995 (utk bergabung silahkan kirim pesan via WA / TG dg format: Daftar#Nama#Kota Domisili)   📮 Join Channel Telegram SOBAT MUSLIM di : https://goo.gl/g64jcQ

DAFTAR RADIO & TV DAKWAH SUNNAH NUSANTARA, UNTUK MENEMANI PERJALANAN MUDIK ANDA

💎📻 DAFTAR RADIO & TV DAKWAH SUNNAH NUSANTARA, UNTUK MENEMANI PERJALANAN MUDIK ANDA🚘🚆✈ Berikut daftar radio dan televisi dakwah yang bisa anda nikmati selama mudik : 📻 RADIO DAKWAH SUNNAH DI PULAU JAWA ✅ 01. Radio Rodja Cileungsi Frekuensi: 756 AM ✅ 02. Radio Muslim AM Jakarta Frekuensi: 837 AM ✅ 03. Radio Al Binaa AM Pebayuran-Bekasi Frekuensi: 918 AM ✅ 04. Radio Rodja Bandung Frekuensi: 1476 AM ✅ 05. Radio An Najiyah Bandung Frekuensi: 107.9 FM ✅ 06. Radio Al Bayan Cianjur Frekuensi: 107,7 FM ✅ 07. Radio Al Ma’tuq Sukabumi Frekuensi: (masih Proses) ✅ 08. Radio Afiyah FM Majalengka Frekuensi : 107,8 FM ( sementara Off) ✅ 09. Radio Riyadhul Jannah 104,5 FM, Tasikmalaya. ✅ 10. Radio Kita Cirebon Frekuensi : 94,3 FM ✅ 11. Radio SIS FM ( Sindanglaut) Cirebon Frekuensi : 107,8 FM ✅ 12. Radio Aswaja Brebes Frekuensi: 107,8 FM ✅ 13. Radio BB FM Bumiayu Frekuensi: 107,9 FM ✅ 14. Radio Insani Purbalingga Frekuensi: 102.2 FM ✅ 15. Radio Aswaja Pemalang Frekuensi: dalam Proses ✅ 16. Radio Bass FM Salatiga Frekuensi: 93,2 FM ✅ 17. Radio Shahabat Muslim Tegal Frekuensi: 107,7 FM ✅ 18. Radio Rodja Kebumen (RISS FM) Frekuensi: 97.6 FM ✅ 19. Radio Rodja Purwokerto Frekuensi: dalam Proses ✅ 20. Radio As Syafi’i Pekalongan Frekuensi: dalam Proses ✅ 21. Radio Islamic Centre Bin Baz (ICBB) Jogja Frekuensi: 107,8 FM ✅ 22. Radio Muslim Yogyakarta Frekuensi: 107.8 FM ✅ 23. Radio Mutiara Sunah Magelang Frekuensi: 90.5 FM ✅ 24. Radio Nidaulirsyad Salatiga Frekuensi: (sementara Off) ✅ 25. Radio Nurussunnah Semarang Frekuensi: 107.7 FM ✅ 26. Radio Profesional Muslim-Al irsyad Frekuensi: 107.9 FM ✅ 27. Radio Tazkiyah FM Tersono Jateng Frekuensi :106.7 FM ✅ 28. Radio Kasanah Klaten Frekuensi: 107.9 FM ✅ 29. Radio Abror Sukoharjo Frekuensi: 107,7 FM ✅ 30. Radio An Nida’ FM Rembang Jateng Frekuensi: 107,9 FM ✅ 31. Radio An Najah Wonosobo Frekuensi: 88,9 FM ✅ 32. Radio Majas Pondok Jamil Frekuensi: 91,9 FM ✅ 33. Radio Kita Madiun Frekuensi: 105,2 FM ✅ 34. Radio As Sunnah Pasuruan Frekuensi: 91,8 FM ✅ 35. Radio As Sunnah Wangon Frekuensi: 107,7 FM ✅ 36. Radio Idza’atul Khair Ponorogo Frekuensi: 92,6 FM ✅ 37. Radio An Nur (RDI) Malang Frekuensi: 107,7 FM ✅ 38. Radio Al-Umm Malang Frekuensi: 102,5 FM ✅ 39. Radio Suara Fitrah Surabaya Frekuensi: 107,9 FM ✅ 40. Radio Al Iman – Surabaya Frekuensi: 846 AM ✅ 41. Radio Ar Royyan Gresik Frekuensi: 107,2 FM ✅ 42. Radio Al Hikmah Banyuwangi Frekuensi: 98,8 FM ✅ 43. Radio Ihya As Sunnah Pamekasan Frekuensi: 98.1 FM 📻 DI LUAR PULAU JAWA ✅ 44. Radio Rodja Lampung (SMS) Lampung Frekuensi: 91,1 FM ✅ 45. Radio Pasaman FM Pasaman Barat Frekuensi : 101,9 FM ✅ 46. Radio Ray Padang Frekuensi : 95,1 FM ✅ 47. Radio Salam Jambi Frekuensi : 105,1 FM ✅ 48. Radio Hidayah Pekan Baru Frekuensi: 103,4 FM ✅ 49. Radio dakwah Sangata FM Frekuensi : 96,0 FM ✅ 50. Radio Geliga Tanjung Pinang Frekuensi : 105,3 FM ✅ 51. Radio Syiar Berau Frekuensi: 95,1 FM ✅ 52. Radio DB FM Aceh Frekuensi : 99 FM ✅ 53. Radio Telaga Dakwah Bireun Aceh Frekuensi: 99,2 FM ✅ 54. Radio Hang FM Batam Frekuensi : 106.0 FM ✅ 55. Radio Ababil Natuna Frekuensi : 100,0 FM ✅ 56. Radio Al Huda Bolaangmongondow Frekuensi : 107,0 FM ✅ 57. Radio Arrisalah FM Frekuensi : 95.7 FM ✅ 58. Radio Gema Madinah Barabai Frekuensi : 93.7 FM ✅ 59. Radio Gema Madinah Martapura Frekuensi : 93.7 FM ✅ 60. Radio Muadz Kendari Frekuensi: 94,3 FM ✅ 61. Radio Rodja Bontang / Frekuensi : 95,8 FM ✅ 62. Radio Rodja Pontianak Frekuensi: 94,7 FM ✅ 63. Radio Satu Lombok Frekuensi: 105,4 FM ✅ 64. Radio Sautuna FM Sumbawa Frekuensi : 94,4 FM 📺 TELEVISI DAKWAH SUNNAH ✔ 01. Rodja TV Freq 3627 Sym 18000 ✔ 02. Insan TV Freq 4052 Sym 3333 ✔ 03. Surau TV Freq 3722 Symbol Rate 3330 ✔ 04. Wesal TV Freq 4052 Sym 333382 ✔ 05. Bunayya TV Freq 3722 Symbol Rate 3330 ✔ 06. NIAGA TV ✔ 07. Insan TV Freq 4052 Sym 3333 ✔ 08. Salam TV ✔ 09. Hang TV ✔ 10. Al Hidayah TV Pekan Baru ✔ 11. Muslim TV Cirebon ✔ 12. TV satu Lombok Frekuensi 38 UHF titik kordinat 48 UHF ✔ 13. Telaga Hati TV Pekanbaru ✔ 14. UKM TV ✔ 15. Imediaplus TV ✔ 16. IHBS TV Streaming ✔ 17. Ibnu Taymiyah TV Streaming ✔ 18. Ruziqa TV Streaming ✔ 19. Salwa TV Streaming ✔ 20. Yufid TVStreaming. (azman) 📚sumber : Artvisi ------ 🚖 Mudik Nyaman Bersama Radio Sunnah Penulis Admin - Kamis, 23 Jun 2016 12:02 JAKARTA (fokusislam) – Musim mudik atau pulang kampung akan segera tiba. Menemani perjalanan mudik anda, ada puluhan radio dan televisi dakwah yang bisa anda nikmati selama perjalanan. Meskipun berada dalam konsidi macet, dilanda kebosanan atau didera rasa penat, anda tetap bisa mendengarkan siraman jiwa melalui radio dan televisi dakwah. 🌐Sumber: Mudik Nyaman Bersama Radio Sunnah - http://fokusislam.com/3889-mudik-nyaman-bersama-radio-sunnah.html , dg perubahan urutan dan tata letak ➖➖➖    Repost by :   👥 SOBAT MUSLIM group sharing kajian2 islam via WhatsApp & Telegram khusus ikhwan(laki-laki)    📱 Admin: +62 853-1028-3995 (utk bergabung silahkan kirim pesan via WA / TG dg format: Daftar#Nama#Kota Domisili)   📮 Join Channel Telegram SOBAT MUSLIM di : https://goo.gl/g64jcQ

Kenapa Pemuda ini Menangis...?

Materi Tayang Spesial Ramadhan 1437 H AIHQ DK PSDM ODOJ 📜Kisah Hikmah Kenapa Pemuda ini Menangis...? 💫 Sebuah cerita yang mungkin bisa tergugah hati dan batin kita untuk kembali kejalan kebenaran. Kisah mengharukan dan menjadi renungan segar bagi pecinta muhasabah💫 〰 Aku melakukan perjalanan pulang setelah melakukan safar yang cukup lama. Setelah mengambil posisi di pesawat, qadarullah, posisiku di dekat sekelompok pemuda yang doyan hura-hura. Ketika tertawa dibuat terbahak-bahak, dan terlalu banyak bersenda gurau. Tempat itupun penuh dengan bau rokok mereka. Ketika itu, pesawat penuh penumpang, sehingga tidak memungkinkanku untuk berpindah tempat. Ingin sekali aku pergi dari tempat ini, biar aku bisa istirahat. Sesak rasanya duduk bersama mereka. Aku hanya bisa menenangkan pikiranku dengan mengeluarkan mushaf dan membaca Al-Quran dengan suara pelan. Beberapa saat kemudian, kondisi mulai tenang. Ada diantara pemuda ramai itu mulai membaca koran, ada yang sudah mulai tidur. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan salah satu pemuda yang hura-hura duduk di sampingku, "cukup..cukup…!" Aku mengira dia merasa terganggu dengan suaraku. Akupun minta maaf, dan melanjutkan baca Al-Quran dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar. Tiba-tiba orang itu menutupi wajahnya dengan tangannya, kepalanya naik turun, maju mundur, dengan respon kasar dia memarahiku, "Saya sudah minta kamu untuk diam, Diam! Saya gak sabar!" Diapun langsung pergi meninggalkan tempat duduknya, menghilang dari pandanganku. Sampai akhirnya dia kembali. Dia minta maaf, dan menyesali perbuatannya, kemudian tenang di tempat duduknya. Aku tidak tahu, apa yang sedang terjadi. Tapi setelah tenang sejenak, dia melihatku dan air matanya mengalir. Di situlah dia mulai bercerita, "Sudah kurang lebih tiga tahun, saya belum pernah meletakkan dahi untuk sujud, saya tidak menyentuh sedikitpun satu ayat dalam Al-Quran. Sebulan ini saya melakukan traveling. Hampir semua maksiat telah saya cicipi dalam perjalanan ini. Saya mendengar anda membaca Al-Quran. Terasa hitam dunia di wajah ini. Sesak dada..., Saya merasa sangat hina..., saya merasa semua ayat yang anda baca menghantam jasad ini, layaknya cambuk. Sayapun bingung dan bertanya pada diri ini, "Sampai kapan kelalaian ini akan kualami?" "Kemana lagi aku harus melaju?" "Setelah piknik penuh hura-hura ini apalagi yang harus aku lakukan???" Lalu tadi saya ke toilet. Tahu kenapa? Saya ingin menangis sejadi-jadinya, dan tidak ada tempat yang terlihat manusia, selain toilet." Akupun... menasehatinya untuk bertaubat, kembali kepada Allah. Setelah itu dia terdiam. Ketika pesawat mendarat. Dia memintaku ngobrol sejenak. Seolah dia ingin menjauh dari kawan-kawannya. Semangat kesungguhan untuk bertaubat sangat kelihatan dari raut wajahnya. Dia bertanya, "Apa mungkin Allah akan menerima taubat saya?" Kujawab dengan firman Allah, "Apakah anda pernah membaca firman Allah, قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا 🇮🇩 Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53) Dia mulai senyum kecil, senyum penuh harapan dan air matanya berlinangan. Dia menyampaikan kepadaku, “Saya janji, saya akan kembali kepada Allah.” ** Beribu ribu tahun yang lampau terjadilah sebuah kisah dalam sebuah hadits .. ✍🏼Dalam perjalanan pulang dari peperangan, kaum muslimin membawa kemenangan besar. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan dan tawanan. Tiba-tiba ada seorang ibu diantara tawanan itu, yang kebingungan mencari anaknya. Sampai akhirnya ketemu dan dia susui. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat, أتروْن هذه طارحةً ولدَها في النار؟ “Mungkinkah wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?” Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali: الَلَّهُ أرحمُ بعباده مِن هذه بولدها “Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari). 〰 Hikmah dari " Kenapa Pemuda ini Menangis...? " ✍🏼Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa besar. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah dan direnungkan, Kapan saatnya kita mau bertaubat...? Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri...? 📚Sumber: Tajarub Da’awiyah Najihah (Diterjemahkan Oleh ustadz Ammi Nur Baits). ◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇• AIHQ - DK PSDM ODOJ AIHQ/16/16/06/2016 Menyampaikan dengan Hati

Rabu, 22 Juni 2016

Kisah Hikmah

Materi Tayang Spesial Ramadhan 1437 H AIHQ DK PSDM ODOJ 📜Kisah Hikmah Kenapa Pemuda ini Menangis...? 💫 Sebuah cerita yang mungkin bisa tergugah hati dan batin kita untuk kembali kejalan kebenaran. Kisah mengharukan dan menjadi renungan segar bagi pecinta muhasabah💫 〰 Aku melakukan perjalanan pulang setelah melakukan safar yang cukup lama. Setelah mengambil posisi di pesawat, qadarullah, posisiku di dekat sekelompok pemuda yang doyan hura-hura. Ketika tertawa dibuat terbahak-bahak, dan terlalu banyak bersenda gurau. Tempat itupun penuh dengan bau rokok mereka. Ketika itu, pesawat penuh penumpang, sehingga tidak memungkinkanku untuk berpindah tempat. Ingin sekali aku pergi dari tempat ini, biar aku bisa istirahat. Sesak rasanya duduk bersama mereka. Aku hanya bisa menenangkan pikiranku dengan mengeluarkan mushaf dan membaca Al-Quran dengan suara pelan. Beberapa saat kemudian, kondisi mulai tenang. Ada diantara pemuda ramai itu mulai membaca koran, ada yang sudah mulai tidur. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan salah satu pemuda yang hura-hura duduk di sampingku, "cukup..cukup…!" Aku mengira dia merasa terganggu dengan suaraku. Akupun minta maaf, dan melanjutkan baca Al-Quran dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar. Tiba-tiba orang itu menutupi wajahnya dengan tangannya, kepalanya naik turun, maju mundur, dengan respon kasar dia memarahiku, "Saya sudah minta kamu untuk diam, Diam! Saya gak sabar!" Diapun langsung pergi meninggalkan tempat duduknya, menghilang dari pandanganku. Sampai akhirnya dia kembali. Dia minta maaf, dan menyesali perbuatannya, kemudian tenang di tempat duduknya. Aku tidak tahu, apa yang sedang terjadi. Tapi setelah tenang sejenak, dia melihatku dan air matanya mengalir. Di situlah dia mulai bercerita, "Sudah kurang lebih tiga tahun, saya belum pernah meletakkan dahi untuk sujud, saya tidak menyentuh sedikitpun satu ayat dalam Al-Quran. Sebulan ini saya melakukan traveling. Hampir semua maksiat telah saya cicipi dalam perjalanan ini. Saya mendengar anda membaca Al-Quran. Terasa hitam dunia di wajah ini. Sesak dada..., Saya merasa sangat hina..., saya merasa semua ayat yang anda baca menghantam jasad ini, layaknya cambuk. Sayapun bingung dan bertanya pada diri ini, "Sampai kapan kelalaian ini akan kualami?" "Kemana lagi aku harus melaju?" "Setelah piknik penuh hura-hura ini apalagi yang harus aku lakukan???" Lalu tadi saya ke toilet. Tahu kenapa? Saya ingin menangis sejadi-jadinya, dan tidak ada tempat yang terlihat manusia, selain toilet." Akupun... menasehatinya untuk bertaubat, kembali kepada Allah. Setelah itu dia terdiam. Ketika pesawat mendarat. Dia memintaku ngobrol sejenak. Seolah dia ingin menjauh dari kawan-kawannya. Semangat kesungguhan untuk bertaubat sangat kelihatan dari raut wajahnya. Dia bertanya, "Apa mungkin Allah akan menerima taubat saya?" Kujawab dengan firman Allah, "Apakah anda pernah membaca firman Allah, قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا 🇮🇩 Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53) Dia mulai senyum kecil, senyum penuh harapan dan air matanya berlinangan. Dia menyampaikan kepadaku, “Saya janji, saya akan kembali kepada Allah.” ** Beribu ribu tahun yang lampau terjadilah sebuah kisah dalam sebuah hadits .. ✍🏼Dalam perjalanan pulang dari peperangan, kaum muslimin membawa kemenangan besar. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan dan tawanan. Tiba-tiba ada seorang ibu diantara tawanan itu, yang kebingungan mencari anaknya. Sampai akhirnya ketemu dan dia susui. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat, أتروْن هذه طارحةً ولدَها في النار؟ “Mungkinkah wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?” Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali: الَلَّهُ أرحمُ بعباده مِن هذه بولدها “Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari). 〰 Hikmah dari " Kenapa Pemuda ini Menangis...? " ✍🏼Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa besar. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah dan direnungkan, Kapan saatnya kita mau bertaubat...? Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri...? 📚Sumber: Tajarub Da’awiyah Najihah (Diterjemahkan Oleh ustadz Ammi Nur Baits). ◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇• AIHQ - DK PSDM ODOJ AIHQ/16/16/06/2016 Menyampaikan dengan Hati

ANJURAN MEMBUKA JENDELA WAKTU FAJAR

ANJURAN MEMBUKA JENDELA WAKTU FAJAR Asy Syaikh Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah berkata:Ada seorang yang menceritakan kepadaku, dahulu di negerinya ada seorang yang buta yang mengetahui terbitnya fajar dengan aromanya, ya, dengan aroma fajar, tanpa menyaksikannya. Maka jika ia mencium aroma fajar, maka ia bangkit mengumandangkan adzan, lalu jika manusia memperhatikan fajar, mereka mendapatinya memang sudah terbit.Maka engkau mengetahui bahwasanya fajar itu memiliki aroma. Saya pernah mendengar atau membaca dari beberapa kitab-kitab kedokteran, bahwasanya pada waktu terbitnya fajar, akan muncul gas atau sesuatu yang serupa dengan gas. Oleh karena itu mereka menganjurkan untuk membuka jendela-jendela rumah tatkala terbit fajar, agar masuk gas ini yang akan mendukung kehidupan. Syarh Umdah Al-Ahkam 1/575Sumber: Channel Telegram Syaikh Fawwaz hafizhahullah————- قـال الـعلامة ابن عـثيمين عليه رحمة الله – :• – ” حدثني رجل أنه كان في بلدهـم أعمى يعرف طلوع الفجر برائحته ، نعم برائحته ، بدون أن يشاهد ، فإذا شم رائحته قام فأذن ، فإذا طالع الناس الفجر وجدوه قد طلع ، فأنت تعرف للفجر رائحة ، فقد سمعت أو قرأت في بعض الكتب الطبية أنه يندفع مع طلوع الفجر غازات أو شيء يشبه الغازات ، ولهذا حثوا على أن تفتح نوافذ المنازل عند طلوع الفجر لتدخل هذه الغازات التي توجب الحياة .. ” .【 شـرح عـمدة الأحكـام( ٥٧٥/١ )】

POLITIK DALAM ISLAM AJARAN ROSULULLOH YG DITINGGALKAN UMATNYA

POLITIK DALAM ISLAM AJARAN ROSULULLOH YG DITINGGALKAN UMATNYA UMATKU POLOS, UMATKU MALANG Oleh Dr Aries Munandar Salah satu kesalahan umat Islam sejak dulu adalah polos, buta politik, bahkan alergi dan menarik diri dari politik. Ini adalah warisan konstruksi berpikir kolonial, di mana diset politik itu urusan orang kulit putih, bisnis itu urusan etnis Cina, sedangkan pribumi ya jadi petani, pegawai, atau buruh. Padahal kebijakan yang mengatur arah kehidupan berbangsa dan bernegara ditentukan melalui mekanisme politik. Coba lihat betapa dahsyatnya permainan politik dan dampaknya. Dampak tersebut menjadi berkali lipat lebih luar biasa karena politik pasti berjalin-berkelindan dengan media. Seorang Jokowi dalam waktu sangat singkat bisa naik dari Walikota Solo, jadi Gubernur DKI, lalu jadi Presiden. Hampir tidak ada yang mempersoalkan bahwa beliau tidak pernah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Walikota dan Gubernur dengan baik. Pun ketika US dollar menembus angka 13 ribu rupiah setelah beberapa bulan menjabat, tidak ada yang menyoal keyakinan sejumlah pakar pro Jokowi yang ketika kampanye Pilpres menyatakan bahwa US dollar akan aman di angka 10 ribu jika Jokowi jadi Presiden. Paralel dengan itu, seorang Ahok bisa melesat dari Bupati Belitung Timur menjadi Wagub DKI, dan kemudian jadi Gubernur di Ibu Kota Negara. Banyak umat Islam dengan polos melihat dua fenomena di atas sebagai kebetulan. Padahal orang yang belajar politik sedikit saja pasti paham, tidak ada kebetulan dalam politik. Selalu ada agenda, strategi dan skenario di balik setiap peristiwa. Selalu ada master mind di belakang itu semua. Bahkan selalu ada penyandang dana yang berkepentingan memastikan bahwa dampak peristiwa poltik tersebut memberikan benefityang lebih besar ketimbang cost yang dikeluarkan. Sama naifnya kalau kita menganggap bahwa kebetulan Ade Komarudin menggantikan Setya Novanto yang terjerat kasus korupsi sebagai Ketua DPR RI. Lalu Setya Novanto, yang saat berkunjung ke AS hadir di kampanye Donald Trump, malah terpilih jadi Ketum Golkar. Apa mungkin Setya Novanto bisa jadi pucuk pimpinan Partai Beringin tanpa campur tangan Ical? Jangan lupa, Donald Trump adalah kandidat Presiden AS yang terkenal sangat anti-Islam. Salah satu gagasan dalam kampanyenya adalah melarang masuknya muslim ke negara Paman Sam. Cerita tidak berhenti di situ. Tak lama setelah Setya Novanto jadi bos Golkar, partai warisan Orba ini langsung menyatakan dukungan kepada Ahok untuk kembali menjadi DKI Satu, menyusul Nasdem dan Hanura yang sudah lebih dahulu menyorongkan dukungan. Kelanjutannya kita semua sudah mahfum. Tindakan Ahok menggusur ribuan warga marjinal di Jakarta tidak pernah disorot media. Demikian pula dugaan korupsi dalam kasus pembelian lahan RS Sumber Waras tidak 'dikuliti' dengan antusias oleh para jurnalis. Sebaliknya, kasus kecil razia Satpol PP terhadap seorang pedagang di Serang yang membuka warung di siang hari bulan Ramadhan di-blow up media dengan gegap gempita, dengan angle yang menyudutkan umat Islam. Padahal Satpol PP hanya menegakkan Perda yang sudah bertahun-tahun berlaku di Serang, sebuah wilayah dengan 95% warga muslim. Kacaunya, Presiden dengan sangat patriotik menyumbang 10 juta untuk si pedagang. Bahkan para netizen menggalang dana hingga 130 juta sebagai wujud simpati. Mengapa misalnya Jokowi tidak menyumbang dan para netizen tidak menggalang dana simpati yang sedemikian signifikan untuk para korban penggusuran Ahok? Apakah karena para warga marjinal itu melanggar Perda mengenai tata ruang sebagaimana selama ini didalihkan Ahok? Kalau begitu sama saja bro! Pedagang di Serang itu dirazia Satpol PP karena melanggar Perda yang mengatur jam buka gerai makanan selama Ramadhan. Bahkan belakangan ada informasi menarik. Ibu Saeni yang ketiban rejeki nomplok gara-gara warungnya kena razia ternyata tidak benar-benar miskin, karena ditengarai punya tiga warteg. Coba tengok bagaimana gegap gempitanya pemberitaan bahwa KPK menyatakan kasus RS Sumber Waras bebas dari korupsi, padahal BPK sebelumnya nyata-nyata mengindikasikan kerugian negara ratusan milyar dalam kasus ini. Sebaliknya, rentetan penggusuran yang dilakukan Ahok sepi-sepi saja di media. Kok bisa? Kebetulan? Pastinya tidak. Silakan lihat siapa bos besar di balik media-media kita. Jadi kalau kita melihat banyak Perda bernuansa syariah dilucuti oleh rezim Jokowi, itu mahlumrah. Justru aneh kalau tidak begitu. Mungkin masih banyak yang belum ngeh bahwa partainya Pak Jokowi ngotot mengubah isi UU Perkawinan tahun 1974 yang tidak merestui perkawinan beda agama. Partai tersebut juga berupaya menghilangkan ketentuan dalam UU Pendidikan Nasional yang nengharuskan sekolah menyediakan guru agama yang seagama dengan anak didiknya. Bahkan partai yang sama berada di barisan terdepan penentang UU Anti Pornografi. Satu lagi. Di samping polos dan kurang melek politik, sebagian umat ini juga kurang tajam logikanya, sehingga mudah dijebak oleh kerancuan berpikir yang dihembuskan para politisi. Misalnya, Ahok kerap mengatakan, pilih mana antara pemimpin muslim tapi korup, atau pemimpin kafir tapi tidak korup. Duh, itu fallacy of comparison namanya. Kita dipaksa memilih dua pilihan yang keduanya salah. Kita dibutakan sedemikian rupa seolah tidak ada pilihan yang lain. Padahal, belum tentu saat ini pemimpin kafir yang tidak korup itu benar-benar ada. Padahal, belum tentu pemimpin kafir yang bicara begitu -which is Ahok sendiri - benar-benar tidak korup. Padahal, banyak pemimpin muslim yang tidak korup. Contoh lain, salah satu Wakil Ketua Dewan yang sudah dipecat partainya, Fahri Hamzah mengatakan bahwa partainya tidak bisa memecat dirinya karena dia dipilih oleh konstutuennya. Publik disesatkan dari fakta bahwa seseorang bisa dipilih dalam pemilu sebagai anggota legislatif ya karena diajukan oleh partainya. Dan kerja mesin partai punya andil besar dalam kemenangan seorang kandidat. Apalagi dalam sebuah partai kader seperti partainya Bung Fahri. Jadi masih tetap mau polos dan apolitis?