Rabu, 12 Agustus 2015

KARENA HATI KITA BERADA DIANTARA JARI JEMARI ALLAH

KARENA HATI KITA BERADA DIANTARA JARI JEMARI ALLAH

(edisi merespon perubahan dalam hidup)

Keadaan seorang hamba di suatu masa, memang tak bisa menjadi ukuran apapun bahwa ia akan menjadi seperti apa dimasa yang lain. Episode kehidupan seorang muslim di suatu waktu tak akan bisa menjadi ukuran bahwa ia juga akan menjadi orang yang sama di episode hidupnya yang lain.

Gambaran ini setidaknya membawa pesan penting, agar  kita semestinya memberi respon terhadap perubahan-perubahan hidup itu, lalu menyadari bahwa untuk menjadi istiqomah lalau menutup episode-episode hidup dengan husnul khotimah perlu kita mintakan kepada Allah.

Kita tentu masih ingat, bahwa dalam doanya Rasulullah shallahu alaihi wasalam senantiasa memohon agar diberikan ketetapan dalam agama
Beliau bersabda:

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik"

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” 

Ummu Salamah Radhiallahu anha pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengapa beliau selalu membaca do'a itu..?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, Tidaklah seorang manusia melaikan hatinya selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat lain beliau bersabda:

إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا

“Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad)

Hingga di tapal batas akhir,  kita tak boleh lengah untuk saling mengingatkan.

Ya Allah.... Tetapkanlah hati kami di atas ketaatan padamu..

_______________
Madinah 26 Dzul qo'dah 1433 H
ACT El-Gharantaly

✒Oleh Al-Ustâdz Aan Chandra Thalib El-Gharantaly Hafizhahullâh Ta’âlâ
BBM Broadcast Al-Ustâdz Aan Chandra Thalib El-Gharantaly Hafizhahullâh Ta’âlâ

♻Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi
Grup WA Dakwah Islam

Share yuk semoga teman anda mendapat faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka pintu amal kebaikan bagi anda. َآمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِين.

#DakwahSunnah
#SyiahBukanIslam
#IndonesiaBertauhid

MAU PAHALA BESAR...??

☝MAU PAHALA BESAR...??

���� KELUAR DARI RUMAH MENUJU MASJID DALAM KEADAAN TELAH BERSUCI ,PAHALANYA SEPERTI PAHALA HAJI YANG MUHRIM ( BERIHROM)

=============

��عن أبي أمامة الباهلي–رضي الله عنه -
أن النبـي-صلى الله عليه و سلم ﷺ قال :

  من خرج من بيته متطهرا إلى صلاة مكتوبة فأجره كأجر الحاج المحرم ومن خرج إلى تسبيح الضحى لا ينصبه إلا إياه فأجره كأجر المعتمر وصلاة على أثر صلاة لا لغوبينهما كتاب في عليين .

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang haji yang sedang ihram, dan barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat Duha,
dia tidak mempunyai niat kecuali itu maka pahalanya seperti orang yang sedang umrah. Dan menunggu shalat hingga datang waktu shalat yang lain yang tidak ada perbuatan sia sia  di antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘Iliyyin.”

�� (HR. Abu Daud 558 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani rohimahulloh  dalam shahih At Targhib wat Tarhib 670).

������  Wahai saudaraku.. Bersemangatlah .....
�� untuk keluar dari rumahmu menuju masjid dalam keadaan sudah berwudhu ,sehingga engkau mendapatkan keutamaan yang sangat agung ini.

BBM Dakwah Islam 541a29ec

Selasa, 11 Agustus 2015

PENGARUH TEMAN SHOLIH BAGI SESEORANG

�� Catatan di malam hari

PENGARUH TEMAN SHOLIH BAGI SESEORANG .

Malam ini sabtu 24 syawal 1436 atau yang bertepatan dengan tanggal 08 Agustus 2015, saya diberi nikmat Allah yang begitu besar, nikmat tersebut berupa keikutsertaan saya dalam kepungurusan pantia dauroh syar'iyyah yang ke-16.

Bagian yang saya tangani adalah pendaftaran peserta dauroh, yang mereka semua adalah da'i dan asatidzah dari seluruh Indonesia.

Pendaftaran dibuka sekitar pukul 13.30 WIB, dan sejak saat itulah saya bersalaman dan berkenalan dengan ustadz- ustadz yang menjadi peserta dauroh kali ini..

Dan subhanallah....
Apakah anda tahu apa yang saya rasakan wahai saudaraku,,,
Demi Allah saya merasa tenang, bahagia. Dan saya merasakan adanya keimanan yang bertambah, tidak hanya itu ghiroh (kecemburuan) dalam agama semakin menguat, keinginan untuk memperjuangkan islam semakin membara..

Maka,,, alangkah dahsyatnya pengaruh seorang teman...
Saya yang hanya sekedar bertemu dan bersalaman saja sudah merasakan manfaatnya, maka bagaimana dengan bergaul dan bermuamalah dengan orang-orang sholih dalam keseharian, tentunya akan memberikan manfaat yang lebih besar lagi...

Saudaraku,,,
Itulah pengaruh teman bagi seseorang, dan memang seseorang tergantung pada temannya. Nabi bersabda :

المرء على دين خليله

"Seseorang tergantung pada temannya"

Maka wahai saudaraku, hendaknya kita pintar-pintar dalam memilih teman, jangan sampai kita salah memilih teman,,,

Begitu juga wahai saudaraku, apabila kita berkeinginan untuk memperbaiki diri, bertaubat serta berkeinginan untuk menjadi insan yang mulia, maka kita harus mencari teman yang baik untuk kita..

Tidakkah kita mengingat kisah sang pembunuh 100 nyawa, ketika hendak bertaubat dia mendatangi ahli ilmu dan tahukah anda, apa nasehat yang disampaikan ahli ilmu tersebut kepada sang pembunuh???
Ahli ilmu tersebut menyuruh agar dia pindah dari daerahnya menuju daerah yang dipenuhi orang-orang sholih.

Demikian sedikit catatan kecil yang bisa kami torehkan, semoga bermanfaat bagi penulis dan bagi saudaraku seiman dan semoga kita diberi nikmat berupa teman-teman yang sholih. Amin..

Blessing hills, Trawas 18.57 WIB.

✏ Ustadz Nur Kholis, S.Pd.I حفظه الله تعالى

�� www.suaraaliman.com
Youtube.com/user/suaraalimantv
fb.com/radiosuaraaliman
---------
�� Group WA Suara Al-Iman
Radio 846 AM SURABAYA
SMS/WA 087770000846

Walimatul 'Urus [Pesta Pernikahan]

Walimatul 'Urus
[Pesta Pernikahan]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Selenggarakanlah walimah MESKIPUN hanya dengan menyembelih SEEKOR KAMBING"
[HR Bukhari no 2049]

NAMUN pesta pernikahan hendaknya SESEDARHANA MUNGKIN...

Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
"Makanan PALING BURUK adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang ORANG-ORANG KAYA SAJA untuk makan, sedangkan ORANG-ORANG MISKIN tidak diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya"[HR Bukhari no 5177]

CATATAN PENTING, hendaknya yang diundang itu orang-orang shalih, baik KAYA maupun MISKIN, sesuai sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
"Janganlah engkau bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin dan jangan makan makananmu melainkan orang-orang yang bertaqwa"
[Hadits Hasan Riwayat Abu Dawud no 4832]

Jika Di Undang WAJIB DATANG:
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Jika salah seorang dari kamu di undang menghadiri acara walimah, maka datangilah!"
[HR Bukhari no 5173]

Memenuhi undangan walimah wajib DATANG walau sedang berpuasa
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Apabila seseorang dari kalian diundang makan, maka penuhilah undangan itu. Apabila ia tidak berpuasa, maka makanlah (hidangannya), tetapi jika ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia mendo’akan (orang yang mengundangnya)"
[HR Muslim no 1431]

Boleh tidak DATANG dengan alasan kuat:
Hal ini berdasarkan riwayat dari ‘Atha' bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu pernah diundang acara walimah, sementara dia sendiri sibuk membereskan urusan pengairan. Dia berkata kepada orang-orang, "Datangilah undangan saudara kalian, sampaikanlah salamku kepadanya dan kabarkanlah bahwa aku sedang sibuk"
[ Al-Hafizh berkata, "Sanadnya shahih." (Fat-hul Baari IX/247]

almanhaj.or.id
oleh: Al-ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafizhahullah
Menebar Dakwah Salafiyah
[al-indunisy 54836AAE]
Semoga bermanfa'at

Menahan Pandangan ( Ghadzul Bashar )

Menahan Pandangan ( Ghadzul Bashar )

Apapun yang kita lihat niscaya akan direspons oleh akal pikiran kita dan juga direspons oleh suasana hati kita , semakin banyak yang kita lihat maka akan semakin banyak komentar yang akan terjadi, tentu saja melihat sesuatu adalah merupakan bagian nikmat dari Allah Subhanahu Wa ta'ala.

Tetapi melihat sesuatu bisa juga menjadi bagian dari bencana , jikalau kita tidak terlatih memilih apa yang akan kita pandang. Kita harus terus senantiasa berlatih untuk dapat mengendalikan mata kita sehingga apa yang kita lihat harus mempunyai nilai bagi kemuliaan diri kita, bagi produktivitas amal kita dan terutama bagi kepulangan kita ke akhirat nanti.

Ghadzul Bashar, menahan pandangan adalah bagian daripada lezatnya iman, manisnya ibadah , kalau ada diantara sahabat yang bertanya “ mengapa ibadah saya tidak khusyu ? ” salah satu diantara penyebabnya itu adalah pandangan yang tidak terjaga.

Marilah kita pilih untuk melihat hanya yang dihalalkan Allah dan memalingkan pandangan dari sesuatu yang haram , melihat wanita yang berpakaian tidak halal “ tahan pandangan ! “, Insya Allah kita akan merasakan manisnya iman.

Termasuk melihat lawan jenis yang akan menggelincirkan , semakin tertahan semakin terjaga hati ini, percayalah saudara-saudaraku kita tidak akan bisa bahagia dengan mengobral pandangan terhadap apapun yang diharamkan , kita akan jauh lebih nikmat ketika kita mempunyai keberanian untuk menahan , tahan……..!, tahan………! Palingkan pandangan dari yang tidak halal.

Lebih baik kita nikmati membaca Al Qur’an , membaca kitab-kitab yang dapat membuka hati kita daripada kita obral mata kita melihat sesuatu yang akan mengeraskan hati dan merusak lezatnya iman.

http://www.seindahsunnah.com/menahan-pandangan-ghadzul-bashar/

------------------------
♻️ WA : 085319144749

�� Broadcast WA Dakwah SeindahSunnah.com

�� Share yuk mudah-mudahan Allah Ta'ala memudahkan jalan ke Surga bagi kita semua.. aamiin

�� Mau Dapat Ilmu ? Gabung Yuk bersama Seindah Sunnah di :

�� WA: 085319144749 ketik [ Nama # Umur # L/P # Alamat ]

Tanda-tanda Hari Kiamat Yang Sudah Terjadi Dan Sedang Terjadi

�� BimbinganIslam.com
Selasa, 26 Syawal 1436 H / 11 Agustus 2015 M
�� Ustadz Abdullāh Roy, MA
�� Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
�� Halaqah 12 | Tanda-tanda Hari Kiamat Yang Sudah Terjadi Dan Sedang Terjadi
⬇ Download Audio
https://www.dropbox.com/s/mzpvfyh0q7ikwvt/12.tanda%20hari%20kiamat%20yg%20sedang%20terjadi.mp3?dl=0
~~~~~~~~~~~~~~~

TANDA-TANDA HARI KIAMAT YANG SUDAH TERJADI DAN SEDANG TERJADI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqoh yang ke-12 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah "Tanda-tanda Hari Kiamat Yang Sudah Terjadi Dan Sedang Terjadi".

Diantaranya :

1. Keluarnya Nabi-nabi palsu setelah Nabi Muhammad Shallallāhu 'Alayhi wa Sallam.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda,
"Tidak akan datang hari kiamat sampai datang para pendusta, mendekati 30 orang, semuanya mengaku sebagai utusan Allāh."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama mengatakan:

"Yang dimaksud dengan Nabi-nabi palsu di dalam hadits ini adalah orang-orang yang mengaku menjadi Nabi setelah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan mereka memiliki pengikut yang banyak.

Seperti Musailamah Al-Kadzdzāb, Al-Aswad Al-'Ansiy, Al-Mukhtār Ats-Tsaqafiy dan lain-lain."

Adapun orang yang mengaku sebagai Nabi dan diikuti oleh segelintir manusia maka ini banyak dan lebih dari 30 orang.

2. Berlombanya orang-orang yang dahulunya miskin dalam membangun bangunan.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, ketika ditanya oleh Malaikat Jibrīl tentang sebagian tanda-tanda hari kiamat, maka Beliau mengatakan:

"Engkau akan melihat orang yang dahulunya tidak beralas kaki, tidak berpakaian, orang miskin, penggembala kambing, mereka saling berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan."

(HR. Muslim)

Kemudian diantara tanda-tanda hari kiamat yang sudah terjadi dan sedang terjadi,

3. Disandarkannya pekerjaan kepada orang yang tidak berhak.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda yang artinya: 

"Apabila amanat sudah di sia-siakan maka tunggulah hari kiamat."

Beliau ditanya:

"Yā Rasūlullāh, bagaimana menyia-nyiakan amanat?"

Maka Beliau Shallallāhu 'Alayhi wa Sallam mengatakan:

"Apabila sebuah perkara sudah disandarkan kepada orang yang tidak berhak, maka tunggulah hari kiamat."

(HR. Bukhari)

Dan betapa banyak di zaman kita amanat diberikan kepada orang yang tidak berhak.

4. Salam hanya untuk orang dikenal.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang shahīh yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ إِذَا كَانَتِ التَّحِيَّةُ عَلَى الْمَعْرِفَةِ

“Sesunguhnya diantara tanda-tanda hari kiamat apabila salam itu untuk hanya diberikan kepada orang yang dikenal."

Petunjuk Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah memberikan salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

Benar apa yang dikabarkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan apa yang Beliau sampaikan semuanya wahyu dari Allāh.

Hal ini hendaknya menambah keimanan bagi seorang muslim dan hendaknya dia waspada dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi hari kiamat yang sudah semakin dekat ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudara - mu
Abdullāh Roy

Ditranskrip oleh
Tim Transkrip BIAS
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Tanda-tanda Hari Kiamat Yang Sudah Terjadi Dan Sedang Terjadi

�� BimbinganIslam.com
Selasa, 26 Syawal 1436 H / 11 Agustus 2015 M
�� Ustadz Abdullāh Roy, MA
�� Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
�� Halaqah 12 | Tanda-tanda Hari Kiamat Yang Sudah Terjadi Dan Sedang Terjadi
⬇ Download Audio
https://www.dropbox.com/s/mzpvfyh0q7ikwvt/12.tanda%20hari%20kiamat%20yg%20sedang%20terjadi.mp3?dl=0
~~~~~~~~~~~~~~~

TANDA-TANDA HARI KIAMAT YANG SUDAH TERJADI DAN SEDANG TERJADI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqoh yang ke-12 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah "Tanda-tanda Hari Kiamat Yang Sudah Terjadi Dan Sedang Terjadi".

Diantaranya :

1. Keluarnya Nabi-nabi palsu setelah Nabi Muhammad Shallallāhu 'Alayhi wa Sallam.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda,
"Tidak akan datang hari kiamat sampai datang para pendusta, mendekati 30 orang, semuanya mengaku sebagai utusan Allāh."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama mengatakan:

"Yang dimaksud dengan Nabi-nabi palsu di dalam hadits ini adalah orang-orang yang mengaku menjadi Nabi setelah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan mereka memiliki pengikut yang banyak.

Seperti Musailamah Al-Kadzdzāb, Al-Aswad Al-'Ansiy, Al-Mukhtār Ats-Tsaqafiy dan lain-lain."

Adapun orang yang mengaku sebagai Nabi dan diikuti oleh segelintir manusia maka ini banyak dan lebih dari 30 orang.

2. Berlombanya orang-orang yang dahulunya miskin dalam membangun bangunan.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, ketika ditanya oleh Malaikat Jibrīl tentang sebagian tanda-tanda hari kiamat, maka Beliau mengatakan:

"Engkau akan melihat orang yang dahulunya tidak beralas kaki, tidak berpakaian, orang miskin, penggembala kambing, mereka saling berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan."

(HR. Muslim)

Kemudian diantara tanda-tanda hari kiamat yang sudah terjadi dan sedang terjadi,

3. Disandarkannya pekerjaan kepada orang yang tidak berhak.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda yang artinya: 

"Apabila amanat sudah di sia-siakan maka tunggulah hari kiamat."

Beliau ditanya:

"Yā Rasūlullāh, bagaimana menyia-nyiakan amanat?"

Maka Beliau Shallallāhu 'Alayhi wa Sallam mengatakan:

"Apabila sebuah perkara sudah disandarkan kepada orang yang tidak berhak, maka tunggulah hari kiamat."

(HR. Bukhari)

Dan betapa banyak di zaman kita amanat diberikan kepada orang yang tidak berhak.

4. Salam hanya untuk orang dikenal.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang shahīh yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ إِذَا كَانَتِ التَّحِيَّةُ عَلَى الْمَعْرِفَةِ

“Sesunguhnya diantara tanda-tanda hari kiamat apabila salam itu untuk hanya diberikan kepada orang yang dikenal."

Petunjuk Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah memberikan salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

Benar apa yang dikabarkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan apa yang Beliau sampaikan semuanya wahyu dari Allāh.

Hal ini hendaknya menambah keimanan bagi seorang muslim dan hendaknya dia waspada dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi hari kiamat yang sudah semakin dekat ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudara - mu
Abdullāh Roy

Ditranskrip oleh
Tim Transkrip BIAS
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

20 Sebab Kenapa Harus Mema'afkan (Bagian 1)

�� BimbinganIslam.com
Senin, 25 Syawwal 1436 H / 10 Agustus 2015 M
�� Materi Tematik
�� Ustadz Firanda Andirja, MA
�� 20 Sebab Kenapa Harus Mema'afkan (Bagian 1)
⬇ Download Audio
https://www.dropbox.com/s/6937s3hhh7jdybh/20%20Sebab%20Kenapa%20Harus%20Memaafkan%20I.mp3?dl=0
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

20 SEBAB KENAPA HARUS MEMAAFKAN (BAG. 1)

بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَّا بَعْدَهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا و أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

فَإِنَّ أَحْسَنَ الكَلاَمِ كَلاَمُ اللّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulillāh, kita akan membacakan risalah yang ditulis oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh yang topiknya adalah

"20 SEBAB KENAPA KITA HARUS MEMAAFKAN ORANG YANG MENZHALIMI KITA".

Pembahasan kita kali ini tentang sifat memaafkan.

Dia adalah sifat yang agung, yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebutkan bahwasanya perangai tersebut adalah salah satu dari ciri-ciri penghuni surga.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla abadikan dalam Al-Qurān dengan firmanNya:

.. وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ 

"Dan orang-orang yang memaafkan (orang-orang yang bersalah kepada mereka)."

(Āli 'Imrān 134)

Dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebelumnya menyebutkan dalam ayat tersebut:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

"Bersegeralah kalian menuju kepada ampunan Allāh dan bersegeralah kalian menuju kepada surga Allāh yang luasnya seluas langit dan bumi yang Allāh siapkan bagi orang-orang yang bertaqwa."

(Āli 'Imrān 133)

Kemudian Allāh menyebutkan ciri-ciri orang yang bertaqwa tersebut, diantaranya kata Allāh yaitu:

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ 

"Yaitu orang-orang yang memaafkan (orang lain)."

Oleh karenanya kita jangan menyepelekan sifat memaafkan ini.

Sebagian ulama mengatakan bahwasanya:

"Perkara yang paling memudahkan seseorang masuk ke dalam surga setelah Tauhīd adalah akhlaq yang mulia."

Terlalu banyak dalil-dalil yang menunjukkan bagaimana mulianya perangai yang mulia di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Cukuplah sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

أقربكم مني مجلساً يوم القيامة أحاسنكم أخلاقاً. 

"Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat kelak yaitu orang yang paling mulia akhlaqnya."

(HR. Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadis ini hasan.” dari shahābat Jābir radhiyallāhu 'anhu)

Sebaliknya, perkara yang paling memudahkan seseorang masuk neraka setelah kesyirikan adalah akhlaq yang buruk.

Dan kita membahas tentang satu akhlaq yang mulia, yang kata Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh:

"Tidak ada yang bisa mampu melakukannya kecuali para Nabi dan orang-orang shiddiqūn yang imannya tinggi, yang yakin akan hari akhirat."

Oleh karenanya setelah Allāh menyebutkan:

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ 

Kata Allāh :

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ 

"Dan Allāh mencintai orang-orang yang berbuat ihsan."

(Āli 'Imrān 134)

Jadi, orang yang bisa memaafkan orang lain, dia adalah orang yang telah mencapai derajat ihsan, dalam makna:

√ Dia ihsan dalam beribadah
√ Dan ihsan terhadap orang lain

Ihsan kepada orang lain yaitu dia memaafkan oranglain, berarti dia berbuat baik kepada oranglain.

Dan ihsan dalam hal dia merasa seakan-akan dia melihat Allāh dan kalau dia tidak mampu untuk melihat Allāh berarti Allāh telah melihat dia.

Kenapa?

Karena tatkala dia memaafkan orang lain butuh keyakinan yang tinggi.

Yakin bahwasanya Allāh melihat dia memaafkan orang lain dan Allāh akan memberikan ganjaran.

Kalau dia tidak punya keimanan yang kuat bahwasanya Allāh akan memberikan ganjaran kepada dia, maka dia sulit untuk memaafkan.

Karena kapan kita baru memaafkan?

Yaitu tatkala kita dizhalimi.

Sifat ini (memaafkan oranglain), tidak bisa kita nampakkan kecuali tatkala kita dizhalimi, baru kita tertantang apakah anda memaafkan atau tidak.

Karena kalau sudah dizhalimi, biasanya orang akan menuntut balas.

Maka, Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan diantara sifat-sifat para penghuni surga yaitu orang-orang yang memaafkan orang lain.

Allāh menyebutkan dalam ayat yang lain:

وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

"Dan engkau memaafkan maka itu lebih dekat kepada ketaqwaan."

(Al-Baqarah 237)

Kata Allāh:

وَ لْيَعْفُوا وَ لْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ

"Maafkanlah dan berlapanglah dada. Apakah kalian tidak ingin Allāh mengampuni dosa-dosa kalian?"

(An-Nūr 22)

Sebelum kita membacakan risalah Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh yang termasuk di dalam Al-Jāmi'u Al-Masāil, saya akan memberikan muqaddimah tentang sifat memaafkan yang dimiliki oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah orang yang sangat pemaaf.

Tentunya kita masih ingat tentang kisah seorang 'Arab Badui yang tatkala ingin meminta harta dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kemudian dia menarik selendang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan tarikan yang keras sehingga memberikan bekas di leher Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Setelah itu dia berteriak:

"Wahai Muhammad, berikanlah harta Allāh yang ada pada dirimu."

Ia meminta dengan cara yang kasar, dengan menarik selendang Nabi dan dengan memanggil nama Nabi, 'Yā Muhammad.'

Tidak ada shahābat yang berani mengatakan Nabi dengan namanya langsung (Yā Muhammad).

Allāh Subhānahu wa Ta'āla saja kalau memanggil, 'Yā Rasūlullāh,' atau, 'Yā Nabiyullāh,' adapun dia mengatakan, 'Yā Muhammad."

Kemudian setelah menarik dengan keras/kasar dan memanggil dengan nama, 'Yā Muhammad,' lantas dia mengatakan, 'Berikan harta Allāh yang ada padamu.'

Subhanallāh, menakjubkan, ini diantara mu'jizat akhlaq Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yaitu Nabi langsung bisa tertawa dan mengatakan:

"Berikanlah harta kepada Badui ini."

Dan ini adalah suatu yang menakjubkan, bagaimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak bermuka masam terlebih dahulu, akan tetapi langsung bisa memaafkan.

Dan bukan hanya sekedar memaafkan tetapi langsung bisa tertawa terhadap orang 'Arab Badui tadi dan memenuhi permintaannya.

Ini menunjukkan sikap memaafkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang luar biasa.

(bersambung ke bag. 2)
--------------------------
#BantuDakwahPapua

�� Fokus kegiatan :
1. Akuisisi Radio Swasta Untuk Dakwah.
2. Program Kaderisasi Da'i Pribumi.
3. Bina Pesantren.
4. Pembangunan Sarana Ibadah

Salurkan Sedekah dan Infaq anda melalui :
|  Rek. Bank Syariah Mandiri
|  No.Rek 7814500017
|  a.n. Cinta Sedekah [Infaq]

Untuk memudahkan pencatatan laporan donasi
Mohon setelah transfer konfirmasi
�� SMS ke : 0878-8145-8000

Format konfirmasi :
#BantuDakwahPapua#Nama#Domisili#Tanggal Transfer#Nominal#

⚠ Contoh:
#BantuDakwahPapua#Sarrah#Solo#31/8/2015#500Rb#
〰〰〰〰〰〰〰〰
����������������

Macam-Macam Najis Dan Cara Menghilangkannya

�� BimbinganIslam.com
Jum'at, 22 Syawal 1436 / 7 Agustus 2015
�� Ustadz Fauzan ST, MA
�� Matan Abu Syuja' | Kitab Thahārah
�� Kajian 26 | Macam-Macam Najis Dan Cara Menghilangkannya
⬇ Link download audio:
https://drive.google.com/open?id=0B1e0BM9z9hzYUWV3NFV1S3NMWms
~~~~~~~~~~~~~
MATAN KITAB:

(فصل) وكل مائع خرج من السبيلين نجس إلا المني وغسل جميع الأبوال والأرواث واجب إلا بول الصبي الذي لم يأكل الطعام فإنه يطهر برش الماء عليه ولا يعفى عن شيء من النجاسات إلا اليسير من الدم وما لا نفس له سائلة إذا وقع في الإناء ومات فيه فإنه لا ينجسه والحيوان كله طاهر إلا الكلب والخنزير وما تولد منهما أو من أحدهما والميتة كلها نجسة إلا السمك والجراد والآدمي ويغسل الإناء من ولوغ الكلب والخنزير سبع مرات إحداهن بالتراب ويغسل من سائر النجاسات مرة تأتي عليه والثلاثة أفضل وإذا تخللت الخمرة بنفسها طهرت وإن خللت بطرح شيء فيها لم تطهر.

MACAM-MACAM NAJIS

Dan setiap cairan yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur) hukumnya najis kecuali mani

Membasuh kencing dan kotoran (tinja) itu wajib kecuali kencing bayi laki-laki kecil yang belum memakan makan maka cara menyucikannya cukup dengan menyiramkan air. Perkara yang najis tidak dimaafkan kecuali sedikit seperti darah hewan yang tidak mengalir apabila jauh ke dalam bejana (wadah) dan mati maka tidak menajiskan isi bejana.

Seluruh binatang itu suci kecuali anjing dan babi dan yang lahir dari keduanya atau salah satunya. Adapun bangkai itu najis kecuali ikan, belalang dan manusia.

Bejana yang terkena jilatan anjing dan babi harus dibasuh 7 (tujuh) kali salah satunya dengan tanah. Sedang najis yang lain cukup dibasuh sekali namun 3 kali lebih baik.

Apabila khamar (arak) menjadi anggur dengan sendirinya maka ia menjadi suci. Apabila perubahan itu karena memasukkan sesuatu maka tidak suci.

➖➖➖➖➖➖➖

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat bimbingan Islam yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, pada halaqah ke 26 ini, kita akan membahas seputar Najis Dan Cara Menghilangkannya.

Sebagiannya pernah disinggung pada awal pembahasan kitab matan Abu Syuja'.

➡PEMBAHASAN PERTAMA:
Tentang najis,

قال المصنف:
((وكل مائع خرج من السبيلين نجس إلا المني))

"Dan setiap cairan yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur) hukumnya najis kecuali cairan mani".

Di dalam manuskrip yang lain disebutkan:

((وكل ما يخرج من السبيلين نجس))

"Dan apa saja yang keluar dari dalam kubul dan dubur adalah najis".

Pada teks yang kedua ini lebih umum meliputi cairan maupun kotoran, baik darah, air kencing, kotoran dan cairan lainnya seperti madzi dan wadi.

Dalil bahwasanya itu adalah najis, diantaranya adalah hadits Anas radhiyallāhu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, beliau berkata:
كان النبي صلى الله عليه وسلم «إذا تبرز لحاجته، أتيته بماء فيغسل به»

"Nabi Shallallāhu 'alyhi wa sallam apabila keluar untuk buang hajat atau buang air, maka saya pun membawakan air untuk beliau, kemudian beliau mencuci dengan air tersebut". (HR Bukhari)

Hadits lain, diriwayatkan Imam Bukhari dari Ali radhiyallāhu 'anhu, beliau berkata:
كنت رجلا مذاء فاستحييت أن أسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأمرت المقداد بن الأسود فسأله فقال: «فيه الوضوء»
"Saya adalah seorang yang sering keluar air madzi, namun saya malu untuk bertanya kepada Rasūlullāh Shallallāhu 'alyhi wa sallam, maka saya perintahkan Miqdad bin Aswad untuk bertanya kepada beliau, maka beliaupun bersabda, wajib berwudhu."

Di dalam riwayat Muslim
فقال: «يغسل ذكره ويتوضأ»
"hendaknya dia mencuci kemaluannya, kemudian berwudhu".

قال المصنف: ((إلا المني))

Berkata penulis:
"Kecuali air mani"

Disini diperkecualikan cairan mani, maka cairan mani itu tidak najis, baik cairan mani dari manusia maupun cairan mani dari hewan, kecuali anjing dan babi.

Dalilnya adalah:
Tatkala Rasūlullāh Shallallāhu 'alyhi wa sallam ditanya tentang cairan mani, maka beliau bersabda:
( إنما هو  كالبصاق )

"Bahwasanya cairan mani itu seperti ludah (yaitu tidak najis)."
(HR Daruqutni, Baihaqi dengan sanad yang shahih)

Begitu pula di dalam hadits yang lain, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari 'Aisyah radhiyallāhu 'anhā tatkala beliau menceritakan bahwasanya 'Asiyah mengerik cairan mani yang menimpa baju Rasūlullāh Shallallāhu 'alyhi wa sallam yang telah mengering dan beliau tidak mencucinya dan pakaian itu digunakan oleh Rasūlullāh Shallallāhu 'alyhi wa sallam untuk shalat.

➡ PEMBAHASAN KEDUA:
Tentang cara membersihkan najis

قال المصنف:
((وغسل جميع الأبوال والأرواث واجب))

"Dan mencuci seluruh kencing dan kotoran adalah wajib".

Ini adalah hukum asal, berdasarkan dalil2 diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwasanya Rasūlullāh Shallallāhu 'alyhi wa sallam memerintahkan para sahabatnya untuk menyiramkan air diatas kencing seorang badui yang kencing di masjid.

Ini menunjukkan bahwasanya menghilangkan najis, itu adalah wajib.

قال المصنف:
(( إلا بول الصبي الذي لم يأكل الطعام فإنه يطهر برش الماء عليه))

Kata penulis, "bahwasanya yang diperkecualikan kencing bayi laki-laki yang belum makan makanan, maka cara mensucikannya cukup dengan memercikkan air di atasnya".

Dan hal ini tidak berlaku bagi bayi perempuan.
Dan bayi, selama masih menyusui dan belum makan makanan selain susu, maka cara membersihkan atau mensucikan kain yang terkena kencing bayi tersebut cukup dengan dipercikkan air di atasnya.

Adapun bayi perempuan, maka tetap,harus dicuci walaupun belum makan makanan.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh para pemilik kitab Sunan atau Ashabus Sunan, mereka mengatakan di dalam hadits tersebut, Rasūlullāh Shallallāhu 'alyhi wa sallam bersabda:
«يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ، وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلَامِ»
"Bahwasanya najis kencing bayi perempuan dicuci dan najis kencing bayi laki-laki cukup dipercikkan air di atasnya".

Dan di dalam riwayat lain ditambahkan:
{مالم يطعم}

"sebelum bayi tersebut makan makanan".

Yakni berlaku sebelum bayi tersebut makan makanan lain selain susu.

قال المصنف:
((ولا يعفى عن شيء من النجاسات إلا اليسير من الدم))

"Dan keberadaan najis tidak ditoleransi atau tidak dimaafkan, kecuali apabila hanya sedikit dari darah ataupun nanah".

Hal ini terkait dengan ibadah shalat, dimana ibadah shalat harus suci dari najis dan hadats.

Namun apabila terdapat sedikit darah ataupun nanah, baik di badan ataupun dalam pakaian maka dimaafkan dan diberikan toleransi serta tetap sah shalatnya.

Dan perkataan para ulama mengenai ini, cukup banyak tentang jenis dan kadar najis yang dimaafkan, apabila mengenai pakaian ataupun badan.

Namun secara umum yang menajadi acuan, menjadi dhobit atau patokannya adalah sesuatu yang darurat atau banyak terjadi serta sulit untuk dihindari serta sulit untuk dihilangkan.

قال المصنف:
((وما لا نفس له سائلة إذا وقع في الإناء ومات فيه فإنه لا ينجسه))

"Dan hewan yang tidak memiliki aliran darah, apabila terjatuh diatas bejana dan mati diatasnya, maka bangkai tersebut tidak membuat air dalam bejana menjadi najis".

Ini adalah lanjutan dari najis yang dimaafkan dalam madzhab syafi'i, dan dianggap sebagai najis, karena dianggap sebagai bangkai. dan bangkai adalah najis.
Akan tetapi karena dia termasuk yang ma'fu (dimaafkan)  maka dia tidak membuat najis air yang tercemar atau terjatuh kedalamnya hewan-hewan tersebut.

Akan tetapi disini dikatakan oleh Ibnu Mundzir:
"Dan saya tidak mengetahui seorang pun yang berpendapat dengan pendapat ini, kecuali Imam Syafi'i".
Karena sudah dijelaskan pada pertemuan yang lampau bahwasanya hewan yang tidak memiliki aliran darah apabila mati, maka dia tidaklah najis dan bukan merupakan bangkai yang najis.

قال المصنف:
((والحيوان كله طاهر إلا الكلب والخنزير وما تولد منهما أو من أحدهما))

"Dan hewan-hewan seluruhnya adalah suci dalam keadaan hidupnya, kecuali anjing dan babi dan apa-apa yang keluar dari keduanya (yaitu peranakan dari keduanya) atau dari salah satunya."

Dan poin ini telah dibahas pada pertemuan sebelumnya.

قال المصنف:
((والميتة كلها نجسة إلا السمك والجراد والآدمي))

"Dan semua bangkai najis, kecuali bangkai ikan, bangkai belalang dan bangkai manusia."

Dan poin inipun pernah kita jelaskan pada halaqah yang telah lampau.

قال المصنف:
((ويغسل الإناء من ولوغ الكلب والخنزير سبع مرات إحداهن بالتراب))

"Dan bejana yang dijilat anjing dan babi dicuci sebanyak 7x, dan salah satunya adalah dengan tanah."

Hal ini berdasarkan hadits Bukhari dan Muslim tatkala Rasūlullāh Shallallāhu 'alyhi wa sallam bersabda:

"Cara membersihkan bejana kalian apabila dijilat oleh anjing adalah dengan mencucinya sebanyak 7x dan salah satunya adalah dengan tanah."

قال المصنف:
((ويغسل من سائر النجاسات مرة تأتي عليه))

"Dan untuk jenis najis-najis yang lain maka cukup dicuci sekali saja."

Hal ini berdasarkan pada hadits Ibnu Umar:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: «كَانَتِ الصَّلَاةُ خَمْسِينَ، وَالْغُسْلُ مِنَ الجَنَابَةِ سَبْعَ مِرَارٍ، وَغَسْلُ الْبَوْلِ مِنَ الثَّوْبِ سَبْعَ مِرَارٍ، فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُ حَتَّى جُعِلَتِ الصَّلَاةُ خَمْسًا، وَالْغُسْلُ مِنَ الْجَنَابَةِ مَرَّةً، وَغَسْلُ الْبَوْلِ مِنَ الثَّوْبِ مَرَّةً»

"Dahulu kewajiban shalat sebanyak 50 waktu, dan mandi janabah sebanyak 7x dan bersuci dari kencing sebanyak 7x. Maka Rasūlullāh Shallallāhu 'alyhi wa sallam pun senantiasa meminta, yaitu meminta kepada Allāh agar diberikan keringanan, sampai Allāh jadikan shalat hanya 5 waktu sholat dan mandi janabah hanya 1x dan mencuci dari air kencing cukup 1x."
(HR Abu Daud dan beliau tidak mendha'ifkan hadits ini)

قال المصنف: ((والثلاثة أفضل))

"Dan mencuci sebanyak 3x itu lebih baik/afdhal."

Berdasarkan hadits:
«إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ، فَلَا يُدْخِلْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ »

"Apabila kalian bangun dari tidur, maka janganlah memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum mencucinya sebanyak 3x."
(HR Ashabus Sunan)

قال المصنف:
((وإذا تخللت الخمرة بنفسها طهرت وإن خللت بطرح شيء فيها لم تطهر))

"Apabila khamr berubah menjadi cuka dengan sendirinya, maka dia menjadi suci. Namun apabila berubah menjadi cuka dengan menambahkan sesuatu kedalamnya, maka dia tidak menjadi suci."

Ini adalah permasalahan yang kembali kepada masalah, apakah khamr itu najis atau tidak?.
Dan bagi jumhur yang mengatakan bahwasanya khamr itu najis, maka dia bisa menjadi suci apabila berubah menjadi cuka dengan sendirinya. Bukan dengan faktor kesengajaan.

Namun apabila disana ada faktor kesengajaan, apakah dengan menambahkan unsur atau dengan proses tertentu yang disengaja, maka khamr tersebut menurut jumhur tidaklah menjadi suci, walaupun dia berubah bentuknya menjadi sesuatu yang lain, yaitu menjadi cuka.

Demikian.
و الله تعالى أعلم
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Ditranskrip oleh:
Tim Transkrip BiAS
________

Tafsir Surat 3 Ali-'Imran, Ayat 149.

Taushiyah ke 188, Senin 25 Syawal 1436 / 10 Agustus 2015

Tafsir Mudah 100 Ayat Al-Qur'an Seruan Kepada Orang Beriman

Ayat Keenambelas: Surat 3 Ali-'Imran, Ayat 149.

Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi."

Tafsir Mudah dan Kandungan Ayat:

1. Ayat ini adalah seruan untuk semua orang beriman tanpa pandang suku, ras, warna kulit dan bangsa.
2. Orang beriman adalah orang mengimani semua yang wajib diimani dengan ucapan lisan, keyakinan hati dan pengamalan dengan anggota tubuh. Iman bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah dan bisa berkurang dengan kedurhakaan kepada Allah.
3. Ayat ini berisi larangan Allah mentaati orang kafir.
4. Orang kafir itu adalah siapa saja yang mengingkari keesaan Allah dan tidak beriman kepada para rasul Allah.
5. Orang kafir itu meliputi Yahudi, Nasrani, orang-orang musyrik dan munafik.
6. Kita dilarang taat kepada orang kafir karena mereka pasti menyesatkan kita dari jalan kebenaran.
7. Orang kafir selalu menginginkan keburukan bagi orang Islam dan bahkan ingin agar orang Islam keluar dari Islam.
8. Keluar dari Islam itu ada dua macam;
a). Pindah agama.
b). Tetap beragama Islam tapi Islam yang telah menyimpang jauh dari ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam.
9. Allah berfirman: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka." [QS 2 Al-Baqarah, ayat 120].
10. Allah berfirman: "Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)." [QS 4 An-Nisa', ayat 89].
11. Orang kafir itu adalah orang yang rugi dunia akhirat.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan "Ahlul Qur'an" [Keluarga Al-Qur'an] dan "Shohibul Qur'an"  [Sahabat Al-Qur'an], yang "Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur'an", selalu membaca, memahami dan mengamalkannya sehingga kami menjadi sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat, aamiin..

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

���� WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang ����

�� Infaq kegiatan dakwah MTDHK bisa disalurkan melalui rekening a/n Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah;

�� BSM No: 7755555511
�� BNI No: 0362755494

���� Semoga Allah beri ganti dengan yang lebih baik dan barokah di dunia dan akhirat.

☝��️Kegiatan dakwah dan laporan keuangan ada di website kami www.mtdhk.com.

�� Untuk berlangganan WA Taushiyah MTDHK ketik "GABUNG" kirim WA (bukan SMS) ke +6283848634832 (Anggota lama tidak perlu mendaftar lagi)

�� Silahkan disebarkan kiriman ini sebagaimana aslinya tanpa dirubah sedikitpun, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah.. Jazakumulloh khoiro.

Tafsir Surat 3 Ali-'Imran, Ayat 130.

Taushiyah ke 187, Ahad 24 Syawal 1436 / 09 Agustus 2015

Tafsir Mudah 100 Ayat Al-Qur'an Seruan Kepada Orang Beriman

Ayat Kelimabelas: Surat 3 Ali-'Imran, Ayat 130.

Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan."

Tafsir Mudah dan Kandungan Ayat:

1. Ayat ini adalah seruan untuk semua orang beriman tanpa pandang suku, ras, warna kulit dan bangsa.
2. Orang beriman adalah orang mengimani semua yang wajib diimani dengan ucapan lisan, keyakinan hati dan pengamalan dengan anggota tubuh. Iman bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah dan bisa berkurang dengan kedurhakaan kepada Allah.
3. Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman agar waspada dari riba dengan berbagai macam jenisnya.
4. Diantara bentuk riba adalah memberikan hutang kepada orang lain dengan meminta lebih ketika membayar hutangnya walaupun sedikit. Ini hukumnya haram.
5. Pada akhirnya menjadi berlipat ganda karena setiap kali terlambat membayar maka nilainya bertambah pula.
6. Semakin berlipat ganda riba-nya maka dosanya semakin besar pula.
7. Agama Islam mengajarkan agar kita membantu fakir miskin dan memberikan tempo untuk membayar hutang sampai mampu dan bukan memanfaatkan dengan meminta tambahan setiap kali terlambat membayar hutangnya.
8. Orang bertakwa tidak akan berbuat kedzaliman seperti ini karena bertakwa kepada Allah adalah dengan senantiasa mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
9. Orang yang bertakwa adalah orang yang sukses dunia akhirat.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan "Ahlul Qur'an" [Keluarga Al-Qur'an] dan "Shohibul Qur'an"  [Sahabat Al-Qur'an], yang "Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur'an", selalu membaca, memahami dan mengamalkannya sehingga kami menjadi sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat, aamiin..

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

���� WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang ����

�� Infaq kegiatan dakwah MTDHK bisa disalurkan melalui rekening a/n Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah;

�� BSM No: 7755555511
�� BNI No: 0362755494

���� Semoga Allah beri ganti dengan yang lebih baik dan barokah di dunia dan akhirat.

☝��️Kegiatan dakwah dan laporan keuangan ada di website kami www.mtdhk.com.

�� Untuk berlangganan WA Taushiyah MTDHK ketik "GABUNG" kirim WA (bukan SMS) ke +6283848634832 (Anggota lama tidak perlu mendaftar lagi)

�� Silahkan disebarkan kiriman ini sebagaimana aslinya tanpa dirubah sedikitpun, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah.. Jazakumulloh khoiro.

Kapan Disyari'atkan Mand

�� Faedah
�� Dalam pelajaran "Ad Durar Al Bahiyah fii masaailil fiqhiyah",
�� Dalam pembahasan "Kapan Disyari'atkan Mandi" 

�� berkata Asy Syaikh Akram bin Muhammad bin Ziyadah: "Al Imam Asy Syafi'i  berpendapat bahwa mandi jum'at hukumnya sunnah. Walaupun demikian, ketika Beliau mendengar hadits (Mandi jum'at wajib bagi setiap lelaki dewasa). Beliau selalu mengamalkannya. Bahkan berkata:"aku selalu mandi jum'at baik dalam keadaan bepergian maupun tidak. Di musim panas maupun dingin".
�� Syaikh Akram berkomentar:" inilah teladan salaf, mereka beramal karna amalan itu "sunnah", tp sebagian kita sekarang meninggalkan amalan karena menganggapnya "hanya sunnah"..
�� Semoga Allah menjaga kita semua dalam keistiqomahan.. Amiin..

Hembusan Faidah Nasihat pembukan Daurah Trawas.

�� Hembusan Faidah Nasihat pembukan Daurah Trawas.

1⃣ Syeikh Muhammad Musa Alu Nashr - hafizhahullah -

➡ Waspadalah dari sikap "At Ta'aalum" sikap sok tau sok pinter.
➡ Hilangkanlah kesombongan dari diri pribadi kita, karena kesombongan itu adalah musuh ilmu; ilmu takkan singgah pada orang yang sombong, sebagaimana air itu selalu meninggalkan tempat yang tinggi.
➡ Jangan gila popularitas "Hubbuz Zhuhur" karena ia akan merusak segalanya.

2⃣ Syeikh Akram Az Ziyadah - hafizhahullah -

➡ Mencari ilmu adalah langkah menuju surga.
➡ Hendaknya senantiasa sabar dalam menuntut ilmu.
➡ Keluar dalam rangka menuntut ilmu adalah JIHAD
➡ Aturlah waktu dan manfaatkanlah ia dengan sebaik-baiknya.
➡ Berusahalah untuk selalu perbaiki niat.
➡ Kebenaran " al haq" itu amat berat, Syeikh Al Albani pernah mengatakan;
ﺍﻟﺤﻖ ﺛﻘﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻔﻮﺱ ﻓﻼ ﺗﺰﻳﺪﻭﻩ ﺛﻘﻞ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﻋﻠﻰ ﺛﻘﻠﻪ
Kebenaran itu berat bagi jiwa, maka janganlah engkau tambah beratnya sebuah kebenaran dengan beratnya dakwah (cara penyampaian yang susah)

3⃣ Syeikh Ali Hasan Al Halabi - hafizhahullah -
Setelah menyitir hadits "yahmilu hazal ilma 'uduluhu...." Beliau menjelaskan bahwa dalam hadits tersebut disebutkan 3 penyakit;
➡ "Al Ghulluw" sikap berlebihan.
��  Obatnya: ditepis dengan penjelasan hakikat Islam dan wasathiyyahnya "sikap pertengahan; tidak berlebihan tidak pula menggampangkan"
➡ Penyakit kebatilan
�� Yang mampu mengobati hanyalah manhaj salaf yang bersifat Al'adl, dengan ilmul yaqin.
➡ Penyakit kebodohan
�� Obatnya adalah dengan senantiasa belajar.

DAUROH SYAR'IYYAH 16, STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA DAN MARKAZ SYEIKH AL ALBANI YORDAN

Trawas, 9 Agustus 2015
Oleh : Khoiri Assalaky

Menjadi Tak Terkenal

��Perenungan Perjalanan dan                         Mutiara Kehidupan��.
    ��(Belajar tawadlu dan sabar)

��Menjadi Tak Terkenal

��Malam yang senyap, tak ada suara kecuali desiran angin yang bergesek dedaunan. Atau berdesir meniup debu-debu pasir. Atau menyiul dari tiupan mulut mereka yang terlelap.
Di waktu ini, banyak kisah para salaf bermunajat memuja Rab mereka, menjadikan tetesan air mata sebagai kalimat doa. Ada pula yang berderma tanpa berharap satu pun lirik mata. Mereka lebih senang tak dikenal dan disanjung. Walaupun mereka pemilik amalan yang agung.

��Berbeda dengan khalayak kini.: ��Bekerja dalam diam dinilai tidak berkontribusi.
��Popularitas merupakan sebuah harga.
��Penghargaan dan penghormatan adalah kebanggaan.
��Pujian adalah harapan.
��Salah seorang ulama besar generasi tabiut tabi’in, Abdullah bin al-Mubarak, mengatakan:
��tidak dikenal dan tidak disanjung adalah kehidupan.
��Menjadi biasa di mata manusia adalah harapan.
��Salah seorang murid beliau, Hasan bin Rabi’, bercerita,
��"Suatu hari, aku bersama Ibnul Mubarak menuju tempat minum umum. Orang-orang (mengantri) minum dari tempat tersebut. Lalu Ibnul Mubarak mendekat ke tempat peminuman umum itu, tidak ada orang yang mengenalinya.
Mereka memepet-mepet bahkan mendorong-dorongnya.
Ketika keluar dari desak-desakan tersebut, .......
��Ibnul Mubarak berkata, ‘Yang seperti inilah baru namanya hidup. Ketika orang tidak mengenalmu dan tidak mengagung-agungkanmu’.” ...
"Shifatu Shafwah, 4/135).

��Mungkin Anda adalah seorang aktivis yang dihargai di rantau. Menjadi pembicara di mimbar dan memimpin jamaah shalat.
Mewakili universitas atau bahkan delegasi negara. Saat pulang, Anda dianggap biasa. Tidak memiliki keistimewaan di masyarakat.
��Maka nikmatilah keadaan tersebut. Karena itulah hakikat hidup.��
��Bila masa Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu keluar dari rumahnya. Lalu orang-orang mengikutinya. Lalu beliau bertanya,
��"Apakah kalian ada keperluan?” Mereka menjawab, “Tidak ada. Kami hanya ingin berjalan bersamamu”.
��Ibnu Mas’ud menegur mereka, “Pulanglah (jangan ikuti aku). Yang demikian itu kehinaan bagi yang mengikuti dan fitnah (ujian ketenaran) bagi yang diikuti”. (Shifatu Shafwah, 1/406).

��Diikuti masa dan ditempeli teman kesana kemari dapat mengeraskan hati.
��Manusia bisa merasa bernilai luar biasa, padahal di sisi Allah dia bukanlah siapa-siapa.
��Jangan berobsesi menjadi terkenal karena ilmu dan amal. ��Kalau bisa memiliki peranan dan tidak dikenal, maka itu lebih bernilai.
��Bukanlah manusia tempat kita berharap balasan.
����Akan tetapi apa yang ada di sisi Allah ﷻ lah yang terbaik.��

Sumber:
– al-Jalil, Abdul Aziz bin Nashir. 1994. Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf. Riyadh: Dar at-Thayyibah.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Senin, 10 Agustus 2015

MENGAPA HARUS PUSING?

MENGAPA HARUS PUSING?

Dalam perjalanan Dakwah,sebagaian orang merasa pusing dengan besarnya operasional dakwah yang harus di emban di pundaknya.

"Ana pusing memikirkan biaya operasional dakwah ini, dalam satu bulan kami harus mengeluarkan sekian ratus juta untuk membayar ini dan itu...sementara kami harus peras keringat,banting tulang buat berbagai usaha dan" jor-joran"ke mana-mana cari infaq dan donatur".

Itulah sebagian ungkapan para aktivis dan penggerak dakwah. Ungkapan jujur menunjukkan kepeduliannya kepada dakwah.

Ikhwati....
Setiap kita wajib untuk senantiasa memikirkan kemajuan dakwah,mencari sumber-sumber pendanaan dalam dakwah,berikhtiar dan berusaha.

Tapi....
Pahamilah bahwa dakwah dan agama ini milik Allah. Dia yang bertanggung jawab penuh untuk menjaganya, memeliharanya dan menyebarkannya. Baik dengan perantara antum ataupun orang selain antum. Maka jangan pernah pesimis dengan bantuan Allah.

Jikalah Abdul Mutthalib dengan yakinnya berkata kepada Raja Abrahah:" adapun unta-unta yang kau ambil ..seluruhnya milikku dan kembalikan padaku, sementara Ka bah ada pemiliknya(Allah) dan Ia pasti kan menjaganya"....mengapa kita harus kalah dengan Abdul Mutthalib dan ragubdengam pertolongan Allah, padahal kita belajar akidah yang tidak dipelajari Abdul Mutthalib.

Hal terpenting yang harus antum jaga adalah,keikhlasan. Karena hanya dengan itu semata rahmat Allah akan turun dan datang. Hilangkan segala bentuk harap dan ketergantungan kepada makhluk yang meruntuhkan dakwah dan menghilangkan berkah.

Satu telunjuk ikhwan yang ikhlas sekalipun faqir ketika diangkat ke langit dengan bersumpah atas nama Allah....akan lebih baik dari ribuan konglomerat yang ubun-ubun dan hati mereka ada dalam gengaman Allah. Allah maha kuasa untuk mengunci hati-hati mereka untuk menyalurkan infaq kepada anda dan memalingkannya kepada yang lain yang lebih ikhlas daripada anda.

Ikhwati...
Dakwah ini berat jika kita bergantung dengan diri kita sendiri,dengan ilmu dan kepiawaian kita,dengan loby dan manuver kita.

Lebih dahsyat dari itu..perasaan mampu menghusung dakwah sendiri dengan segelintir manusia yang bersama anda...akan melahirkan ujub dan sombong,merasa bangga dan berjasa atas Islam.

Ketika anda pasrahkan agama ini kepada Allah, menghilangkan segala perasaan "mampu " tanpa pertolongan Allah...meyakini Allah pasti akan menolong siapa saja yang memperjuangkan agamanya...pasti beban yang berat dipundak anda kan jadi ringan. Kecemasan anda kan menjadi senyum penuh keyakinan akan datangnya pertolongan Allah.

Ikhwati....
Sebesar apa keikhlasan kita dalam berdakwah,seperti itu datang keberkahan.
Sebesar apa ketergantungan kita pada makhluk,sebesar itu pula musibah yang menimoa kita karena ditinggalkan Allah.

Ikhwati...
Ketika Ibnul Qayyim dan para sahabatnya begitu gundah gulana karena besarnya tantangan dalam dakwah dan dahsyatnya gelombang fitnah. Tahukah anda apa yang mereka lakukan..??

Mereka mendatangi majlis ilmu dan mendatangi guru mereka syaikhul Islam ibnu Taimiyah. Apa kata Ibnul Qayyim:" baru saja kami melihat beliau(Ibnu Taimiyah)dan mendengar perkataannya...seketika hilanglah kecemasan kami dan datanglah ketenangan dan ketentraman".

Ikhwati...
Dakwah ini berat jika anda berjalan sendiri tanpa bimbingan ilmu dan para asatidzah. Dakwah ini bukan perusahaan yang dapat diprediksi untung rugi dan gagal berhasilnya dengan kalkulator dan program-program canggih dunia.

Dakwah ini sangat bergantung pada Allah dan bimbingan para ulama. Ketika kau tinggalkan Dia dan mereka...kemana lagi kau harus berlari..??

Ikhwati para aktivis dakwah...
Bagaikan charger hp yang begitu menentukan hidup matinya hp..begitu juga hubungan anda dengan Allah dan ulama.

Namun sayangnya kulihat dirimu tidak begitu bersemangat menimba ilmu,melebihi semangatmu dalam mengumpulkan orang.

Namun kulihat dirimu bermalas-malasan untuk mendatangi kajian,tidak seperti semangatnya dirimu ketika tour kesana-kemari, mencari support dari makhluk.

Ikhwati....
Janganlah jadi lilin-lilin yang menerangi manusia namum membakar dirinya. Jikalah orang-orang pulang daurah ke rumah masing-masing denagan membawa obor penyuluh...sementara engkau sendiri pulang berjalan dalam gelap dan kelam.

Trawas-Mojokerto, 24 Syawwal 1436/9 Agustus 2015

Abu Fairuz.

Renungan : Bukan Sekedar Memberi

Renungan : Bukan Sekedar Memberi

Kita sesungguhnya patut bersyukur jika di tengah semakin tingginya individualisme masyarakat, di tengah gencarnya arus hedonisme dunia, ternyata “memberi” masih berada dalam daftar aktivitas kita sehari-hari. Entah sekedar memberikan salam atau memberikan sebagian harta benda. Akan tetapi, mungkin kita tak pernah mengukur bagaimana derajat pemberian kita. Dengan kata lain, mungkin kita terlupa bahwa ternyata kita seringkali hanya sekedar memberi, memberikan apa yang sudah tidak lagi kita inginkan, memberikan apa yang sudah tak lagi kita butuhkan. Sungguh terpaut jauh dengan kualitas pemberian oleh para sahabat pendahulu Islam.

Dahulu Fatimah putri Rasulullah rela memberikan kalung yang dimilikinya kepada seorang fakir yang datang kepadanya. Kita tentu juga tidak asing lagi bagaimana QS. Al-Hasyr ayat 9 melukiskan kemuliaan kaum Anshar yang dengan senang hati memberikan pertolongan terbaik kepada kaum muhajirin. Bercermin pada kehidupan para sahabat, betapa kita melihat untaian kisah indah mereka yang bisa menjadi para pemberi kaliber dunia, yang bukan saja bisa memberi di saat senggang dan sempit, tetapi juga bisa memberikan bagian terbaik dari diri mereka.

Sungguh besar kemuliaan yang terpancar dari pemberian mereka. Memberikan yang terbaik adalah manifestasi keikhlasan dan pengorbanan. Memberikan yang terbaik berarti juga wujud keyakinan kita kepada janji Allah dalam QS. Al-Baqarah: 272 bahwa tak akan pernah dirugikan sedikitpun orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah.
Memberikan yang terbaik pun berarti mensyukuri nikmat Allah  serta mengoptimalkan segala kemampuan dan potensi diri untuk bisa memberikan manfaat buat orang lain. Dan tentu, memberikan yang terbaik adalah bukti nyata cinta seorang muslim kepada saudaranya. Lihatlah, betapa semua keutamaan ini tercermin dalam kualitas pemberian mereka yang begitu tinggi.

Sementara bagi kita agaknya jerat-jerat kehidupan dunia mungkin masih begitu kuat membekap sehingga kita lebih sering memberi sekedarnya, memberikan seperlunya.
Sepertinya, logika akhirat para sahabat itu masih di luar rasio kita sehingga teramat susah bagi kita untuk bisa meniru perilaku generasi terbaik itu. Akan tetapi, bukanlah hal yang mustahil bagi kita untuk bisa mengambil sedikit dari keteladanan para sahabat, sehingga kita bisa mempersembahkan setiap hal terbaik yang ada dalam diri kita.

Baca Kelanjutannya :

http://www.seindahsunnah.com/bukan-sekedar-memberi/
------------------------
♻️ WA : 085319144749

�� Broadcast WA Dakwah SeindahSunnah.com

�� Share yuk mudah-mudahan Allah Ta'ala memudahkan jalan ke Surga bagi kita semua.. aamiin

JADILAH DA'I DENGAN HARTA ANDA

��BimbinganIslam.com
Sabtu, 23 Syawal 1436 H / 8 Agustus 2015 M
�� Materi Tematik | Jadilah Da'i Dengan Harta Anda
�� Ustadz Firanda Andirja, MA
�� Video Source: https://www.youtube.com/watch?v=zYbjXQkQj-o
⬇ Download Audio:
https://drive.google.com/open?id=0B1e0BM9z9hzYWExQS2pCREVXSmc
-----------------------------------

JADILAH DA'I DENGAN HARTA ANDA

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam haditsnya:

لا حَسَدَ إِلا فِي اثْنَيْنِ. رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي حَقٍّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
  
Tidak ada hasad kecuali pada 2 orang:
① Seseorang yang Allah berikan harta kemudian dia salurkan harta tersebut untuk perkara-perkara yang benar
② Seseorang yang Allah berikan kepada dia hikmah (ilmu) maka dia berhukum dengan ilmu tersebut dan dia mengajarkan ilmu tersebut.
(Muttafaqun'alah)

Inilah 2 orang yang berhak kita cemburui.

Ada apa gerangan dengan orang tersebut?
Dua orang ini kalau kita perhatikan adalah 2 komponen penting dalam dakwah.

Dakwah membutuhkan 2 model manusia, yaitu:
❶ manusia yang berilmu yang kemudian menyampaikan dakwahnya
❷ manusia yang memiliki harta sebagai donasi untuk menyokong harta tersebut.

Oleh karenanya lihatlah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diawal dakwahnya, Allah mentakdirkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menikah dengan seorang wanita yang kaya raya.

Dialah Khadijah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā yang dengan harta Khadijah tersebut digunakan seluruhnya untuk menyokong dakwah suaminya Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan juga dengan takdir Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Allāh menjadikan orang dewasa yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakr radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, diapun seorang yang kaya raya.

Oleh karenanya harta Abu Bakr sangat bermanfaat dizaman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Oleh karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:
"Tidak ada manfaat yang diberikan sebagaimana manfaatnya harta Abu Bakr radhiyallāhu Ta'āla 'anhu."

Abu Bakr, dialah yang telah membebaskan budak-budak yang masuk Islam ketika mereka disiksa, seperti Bilal bin Rabah ketika disiksa oleh Umayyah bin Khallaf.

Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika itu tidak mampu membebaskan Bilal, yang mampu membebaskan Bilal tatkala itu adalah Abu Bakr radhiyallāhu Ta'āla 'anhu.

Dengan hartanya dia infaqkan untuk membebaskan Bilal dari perbudakan yang dia rasakan.

Sampai-sampai ayah dari Abu Bakr mengatakan:
"Wahai Abu Bakr, kalau engkau hendak membebaskan budak maka pilihlah budak-budak yang kuat, jangan ku bebaskan budak-budak yang lemah."

Tapi kata Abu Bakr :
"Aku ingin mengharap wajah Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Karenanya, donasi dalam berdakwah adalah perkara yang sangat penting. Dengan adanya 2 komponen ini maka berjalanlah dakwah.

Bahkan terkadang seorang da'i cemburu kepada harta karena yang bersusah payah untuk menyampaikan ilmu, yang berhadapan langsung dengan masyarakat, yang terkadang dicerca dan dicela.

Sementara pemilik harta, terkadang dia hanya duduk dirumahnya.
Dia hanya menyalurkan hartanya sebagai donasi untuk dakwah.

Tatkala ternyata ada orang-orang yang berhasil didakwahi oleh sang da'i maka pahalanya mengalir kepada sang da'i dan juga mengalir kepada pemilik harta tersebut yang telah memberi donasi dalam dakwah.

Padahal yang bersusah payah adalah sang da'i, yang berjalan jauh, yang berhadapan dengan masyarakat, dicerca, dimaki, dikatakan bodoh, dituduh dengan tuduhan yang tidak-tidak adalah sang da'i, bukan pemilik harta.

Tapi pahalanya mengalir kepada sang da'i dan juga mengalir kepada pemilik harta yang dia mungkin, tatkala sang da'i sedang bersusah payah, dia (pemilik harta) sedang duduk dan bercanda dengan anak & istrinya namun pahala terus mengalir.

Oleh karenanya, anda yang diberikan kelebihan harta oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, jadilah anda seorang da'i.

Bukan dengan ilmu, tapi dengan harta. Anda jug bisa berperan sebagai seorang da'i.

Jangan meremehkan diri anda,ingat tadi Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyamakan antara 2 orang ini (tidak ada hasad kecuali pada 2 orang ini, yang berilmu dan berharta).

Jika keduanya dimanfaatkan untuk dakwah maka ini 2 orang yang sangat mulia disisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan jangan khawatir, harta anda akan diganti oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Dalam hadits disebutkan:
أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْك.

"Wahai Bani Ādam, berinfaqlah, Allāh akan ganti infaqmu hartamu."

Ini hadits umum berkaitan dengan infaq dalam segala perkara.

Barangsiapa berinfaq maka akan diganti oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Bagaimana lagi dengan berinfaq dijalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, disuatu amalan yang sangat dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, yang Allāh berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33)

"Dan perkataan siapa yang lebih indah daripada menyeru dijalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, dan perkataan siapa yang lebih baik daripada orang yang berdakwah dijalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."
(Fushilat 33)

Infaq yang anda keluarkan pada tempatnya (dakwah), menyeru manusia untuk mengagungkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, mengingat akhirat, mengingatkan bahwa dunia ini hanya sementara.

Ini adalah perkataan yang sangat indah.
Maka, kami para da'i membutuhkan partisipasi saudara-saudara kami sekalian yang diberikan kelebihan harta oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jadilah anda seorang da'i dengan harta yang diberikan Allāh kepada anda, niscaya anda diberkahi dan dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dunia dan akhirat.

Dan ingatlah betapa banyak pahala yang akan mengalir kepada anda karena sebab harta anda tersebut.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tim Transkrip BiAS
_____________________________________
��  #BantuDakwahPapua
---------------------------------------------------
Salurkan Sedekah & Infaq anda melalui :
|  Rek. Bank Syariah Mandiri
|  No.Rek 7814500017
|  a.n. Cinta Sedekah [Infaq]

�� Konfirmasi transfer, SMS ke : 0878-8145-8000

Format konfirmasi :
#BantuDakwahPapua#Nama#Domisili#Tanggal Transfer#Nominal#

⚠ Contoh:
#BantuDakwahPapua#Sarrah#Solo#31/8/2015#500Rb#

Berapapun kontribusi anda sangatlah berarti perkembangan dakwah Islam di bumi Papua

Update laporan perkembangan donasi dapat diakses di :
�� www.cintasedekah.org/BantuDakwahPapua
〰〰〰〰〰〰〰〰

FENOMENA RUWAIBIDHOH (EDISI MURAJAAH)

FENOMENA RUWAIBIDHOH (EDISI MURAJAAH)…

AUGUST 8, 2015 ADMIN

Ustadz Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى

Disebuah negeri entah berantah..
Semua bisa serba instan..
Dengan mengandalkan ketrampilan mengolah kata, seseorang bisa dengan mudah di ustadzkan..
Dengan Modal Al Qur’an dan terjemahannya seseorang bisa langsung menafsirkan Al-Qur’an.
Ada lagi yang masuk Islam hari ini, besoknya langsung jadi da’I. Asal bisa bahasa arab sedikit, ditambah Lap Top atau Tablet langsung buka pengajian dan punya murid plus nongol di tv.
Sesekali jadi aktor buat film “religi” di bulan Ramadhon.
Karena merasa disaingi oleh sang da’I, artis juga tak mau kalah.
Sambil megang gitar tua, sang artis tanpa malu-malu berfatwa pada masaalah-masalah yang memerlukan kompetensi fiqih tingkat tinggi.
Iya, berfatwa pada masaalah-masaalah yang seandainya ditanyakan pada Umar, niscaya dia akan mengumpulkan ahli badr untuk mencari jawabannya.

Kabar terakhir yang saya terima, ada mentalis yang tiba-tiba jadi mufassir..
Konon tafsirnya “luar biasa”.
Iya, “luar biasa” karena keluar dari yg biasa..

Di negri itu juga..
Semua orang -kecuali yang dirahmati Allah- merasa kurang kalau tidak bicara soal agama, tak peduli apa latar belakang pendidikannya.
Bahkan merupakan sesuatu yang WAH dan perlu mendapat apresiasi apabila ada orang bicara bukan pada bidangnya.
Dengan gelar Prof. Dr. Anda bebas untuk bicara dibidang apa saja yang anda mau..
Senin Jadi Pakar Hukum
Selasa Jadi Pengamat Ekonomi
Rabu Jadi Kriminolog
Kamis Jadi Pengamat Politik
Jum’at Jadi Khotib
Sabtu Jadi Ahli Komunikasi
Ahad Jadi Komentator Bola.
Biar keren, tak perlu panggil Ust. Cukup “Cendikiawan Muslim” saja

Jurusnya gak jauh-jauh dari:
Menurut saya…
Menurut hemat kami…
Menurut pengamatan saya…
Saya sih melihatnya boleh-boleh saja…

Si awam ya iya-iya saja..
Padahal…
“Ilmu itu adalah agama, maka perhatikan dari siapa kamu mengambil agamamu” (Ibnu Sirin)

Para salaf terdahulu sangat takut untuk mengomentari sesuatu tanpa ilmu. Mereka takut kalau tergelincir walau sejengkalpun dari petunjuk rabbani.

Ibnu Abi Malikah -rahimahullah- mengatakan : Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallaahu ‘Anhu pernah berkata : ‘Bumi mana yang akan ku pijak, dan langit mana yang akan sanggup menaungiku, jika aku berkata tentang ayat dari kitab Allah dengan ra’yuku (pendapatku) atau dengan apa yang aku tidak tahu.’

Dalam taarikh Dimasyq Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa Atho Ibnu Rabah -rahimahullah- pernah ditanya tentang sesuatu. Beliau menjawab:
“Aku tidak tahu”. Penanya tadi berkata: Tidakkah engkau mau mengutarakan pendapat pribadimu dalam masaalah ini..? Atho menjawab:

إني أستحي من اللَّه أن يدان فِي الأرض برأيي

“Aku malu pada Allah, jika orang-orang dimuka bumi ini beragama dengan pendapatku”

Bandingkan sifat kehati-hatian salaf dengan sifat sebagian orang saat ini, yang ilmunya tidak sampai sepersepuluh dari ilmu mereka, namun lagaknya sudah seperti mujtahid mutlak, begitu gampangnya menghukumi sesuatu atau mengomentari sesuatu.

Sebagai catt:
Apapun Latar belakang pendidikan seseorang tak jadi masaalah, hanya saja kenalilah kapasitas diri. Setiap bidang punya ahlinya.

Bagi penuntut ilmu, fenomena diatas bukan hal yang mustaghrab (patut dianggap aneh) sebab Rasulullah shallahu alaihi wasallam telah jauh-jauh hari mengabarkan akan munculnya fenomena ini

Sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- mengatakan; Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah)

Manyikapi fenomena diatas marilah sejenak Bersama Petunjuk Rabbani:

Allah azza wa jalla berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [QS Al Isra`: 36]

Dia juga berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram.” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” [QS An Nahl: 116]

Dan firman-Nya:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” [QS Yusuf: 108]

Dua Ayat pertama diatas mengandung pelarangan berbicara tanpa ilmu.
Adapun ayat selanjutnya menerangkan bahwa apabila kita ingin berdakwah, hendaklah melandasi dakwah kita dengan hujjah berupa ilmu dan dalil dari Al Quran maupun hadits.

Apabila seseorang berdakwah tanpa landasan ilmu maka bisa jadi dia menyangka telah menyeru kepada kebaikan, namun pada kenyataannya dia telah menyeru kepada kesalahan dan kebid’ahan. Na’udzubillahi min dzalik.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah berkata:
“….Jika hal itu (ilmu dan fiqih) menjadi tolak ukur seluruh amal sholih, maka wajib bagi pelaku amar ma’ruf nahi munkar untuk memenuhi keriteria tersebut dalam dirinya, dan tidak dikatakan amal sholih apabila dilakukan tanpa ilmu dan fiqih, sebagaimana pernyataan Umar bin Abdil Aziz: “Orang yang menyembah Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkannya labih besar dari kemaslahatan yang dihasilkannya”

Beliau melanjutkan…
Ini sangat jelas, karena niat dan amal yang tidak disertai ilmu merupakan kebodohan, kesesatan dan (bentuk) pengekoran terhadap hawa nafsu. Maka dari itu ia harus mengetahui yang ma’ruf dan yang munkar serta dapat membedakan keduanya. Ia juga harus memiliki ilmu tentang apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang.” (Secara ringkas dari Majmu Fatawa 28 hal: 135-137. Jilid: 14 bagian ke dua hal: 78 untuk cetakan Daarul wafaa’ ).