Senin, 21 September 2015

HARUSKAH MENJADI SEORANG YG SEMPURNA UNTUK BISA MENASEHATI?

✔️ HARUSKAH MENJADI SEORANG YG SEMPURNA UNTUK BISA MENASEHATI?

Sebagian orang enggan melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, karena merasa belum mampu melakukan amalan ma’ruf yang hendak ia perintahkan, atau meninggalkan kemungkaran yang hendak ia larang.

Dia khawatir termasuk ke dalam golongan orang yang mengatakan apa yang tidak dia lakukan. Sebagaimana yang disinggung dalam firman Allah ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ(3)

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kemurkaan Allah bila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. As-Shof: 2-3).

Pertanyaan yang harus kita temukan jawabannya adalah: apakah seorang harus sempurna dulu amalannya,  untuk bisa menasehati orang lain?

Kemudian apakah setiap orang yang tidak melakukannya apa yang ia perintahkan, dan melanggar sendiri apa yang dia larang, masuk dalam ancaman ayat di atas?

Syaikh Anis Thahir Al-Indunisy, saat kajian membahas kitab Iqtidho’ as-Shirot al-Mustaqiem , di masjid Nabawi malam Senin (20 Rabi’us Tsani 1436 H) menerangkan, bahwa ada dua hal yang perlu dibedakan dalam masalah ini.

Beliau mengatakan,

فيه فرق بين أن تنصح غيرك وأنت عاجز عن العفل، وبين أن تنصح غيرك و أنت قادر على الفعل

“Bedakan, antara Anda menasehati seorang, sementara Anda belum ada daya untuk melakukan apa yang Anda nasehatkan. Dengan Anda menasihati seorang,  sementara Anda mampu melakukan apa yang Anda nasehatkan.”

Jadi, ada dua jenis orang dalam masalah ini:

Petama,
adalah orang yang menasehati orang lain, namun dia belum mampu melakukan amalan ma’ruf yang ia sampaikan, atau meninggalkan kemungkaran yang ia larang.

Yang kedua,
adalah orang yang menasehati orang lain sementara sejatinya dia mampu untuk melakukan pesan nasehat yang ia sampaikan.

Akan tetapi justru mengabaikan kemampuannya dan ia terjang sendiri nasehatnya,  tanpa ada rasa bersalah dan menyesal. Ia merasa nyaman dan biasa-biasa saja dengan tindakan kurang terpuji tersebut.

Orang jenis pertama, dia belum bisa melakukan amalan ma’ruf yang dia perintahkan, karena dia belum memiliki daya untuk melakukannya. Bisa jadi karena hawa nafsunya yang mendominasi, setelah pertarungan batin dalam jiwanya.  Sehingga, saat ia melanggar sendiri apa yang dia nasehatkan, dia merasa bersalah dan menyesal atas kekurangannya ini. Serta senantiasa memperbaharui taubatnya.

Saat ia tergelincir pada larangan yang ia larang, ia katakan pada dirinya, “Sampai kapan… sampai kapan kamu seperti ini?! Kamu menasehati orang-orang untuk menjauhi perbuatan ini.. sementara kamu sendiri yang melakukannya?! Tidakkah kamu takut kepada Allah.”

Untuk orang yang seperti ini, hendaknya ia jangan merasa enggan untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar.
Karena tidak menutup kemungkinan, nasehat yang ia sampaikan, akan membuatnya terpacu untuk melaksanakan amalan ma’ruf yang dia perintahkan, atau meninggalkan kemungkaran yang dia larang.
Hal ini sudah menjadi suatu hal yang lumrah dalam pengalaman seorang.

Adapun orang jenis kedua, dia menerjang sendiri pesan nasehatnya, setelah adanya daya dan kemampuan untuk melakukan nasehat tersebut. Namun justru dia abaikan. Saat menerjangnya pun, dia tidak merasa menyesal dan bersalah atas tindakannya tersebut. Orang seperti inilah yang termasuk dalam ancaman ayat di atas.

Seperti seorang ayah merokok di samping anaknya yang dia juga merokok. Lalu Sang Ayah menasehatikan anaknya, “Nak…jangan ngrokok. Ndak baik ngrokok itu..” . Sementara dia sendiri klepas-klepus ngrokok di samping anaknya, tanpa merasa menyesal dan bersalah.

Barangkali makna inilah yang disinggung dalam perkataan para salafus sholih dahulu.

Sa’id bin Jubair mengatakan, “Jika tidak boleh melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar,  kecuali orang yang sempurna niscaya tidak ada satupun orang yang boleh melakukannya”.
Ucapan Sa’id bin Jubair ini dinilai oleh Imam Malik sebagai ucapan yang sangat tepat. (Tafsir Qurthubi, 1/410).

Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata kepada Mutharrif bin Abdillah, “Wahai Mutharrif nasihatilah teman-temanmu”. Mutharrif mengatakan, “Aku khawatir mengatakan yang tidak ku lakukan”.
Mendengar hal tersebut, Hasan Al-Bashri mengatakan, “Semoga Allah merahmatimu, siapakah di antara kita yang mengerjakan apa yang dia katakan, sungguh setan berharap bisa menjebak kalian dengan hal ini sehingga tidak ada seorang pun yang berani amar ma’ruf nahi mungkar.” (Tafsir Qurthubi, 1/410).

Al-Hasan Al-Bashri juga pernah mengatakan, “Wahai sekalian manusia sungguh aku akan memberikan nasihat kepada kalian padahal aku bukanlah orang yang paling shalih dan yang paling baik di antara kalian. Sungguh aku memiliki banyak maksiat dan tidak mampu mengontrol dan mengekang diriku supaya selalu taat kepada Allah.
Andai seorang mukmin tidak boleh memberikan nasihat kepada saudaranya kecuali setelah mampu mengontrol dirinya niscaya hilanglah para pemberi nasihat dan minimlah orang-orang yang mau mengingatkan.” (Tafsir Qurthubi, 1/410).

Semoga bermanfaat.
Barakallah fiikum.

�� Copas dari postingan WA grup Islamadina 08778 2400 868, silahkan berbagi.

Hukum Menjual Kulit Binatang Qurban ?

Hukum Menjual Kulit Binatang Qurban ?

Sumber: Majalah As-Sunnah edisi 10 Tahun VIII Oleh Ustadz Abu Ismail Muslim Al Atsary

Menyembelih binatang kurban merupakan ibadah agung yang dilakukan umat Islam setiap tahun pada hari raya qurban.

Orang yang menyembelih binatang kurban, boleh memanfaatkannya untuk memakan sebagian daging darinya, menshadaqahkan sebagian darinya kepada orang-orang miskin, menyimpan sebagian dagingnya, memanfaatkan yang dapat dimanfaatkan, misalnya, kulitnya untuk qirbah (wadah air) dan sebagainya.

Dalil hal-hal di atas adalah hadits-hadits di bawah ini:

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلَا يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَبَقِيَ فِي بَيْتِهِ مِنْهُ شَيْءٌ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِي قَالَ كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا

" Dari Salamah bin Al Akwa’  -radhiyallahu 'anhu-, dia berkata: “ Nabi shalallahu 'alaihi wa salam bersabda : " Barangsiapa di antara kamu menyembelih kurban, maka janganlah dia berada pada waktu pagi setelah tiga hari sedangkan sesuatu dari kurbannya masih tersisa di dalam rumahnya’.” Tatkala pada tahun berikutnya, para sahabat bertanya: “Wahai, Rosulullah ! Apakah kita akan melakukan sebagaimana yang telah kita lakukan pada tahun lalu?” Beliau menjawab: “Makanlah, berilah makan, dan simpanlah. Karena sesungguhnya tahun yang lalu, manusia tertimpa kesusahan (paceklik), maka aku menghendaki kamu menolong (mereka) padanya (kesusahan itu).” ( HR Bukhari, no. 5.569; Muslim, no. 1.974 )

Perintah Nabi shalallahu 'alaihi wa salam “ Makanlah, berilah makan, dan simpanlah” bukan menunjukkan kewajiban, tetapi menunjukkan kebolehan. Karena perintah itu datangnya setelah larangan, sehingga hukumnya kembali kepada sebelumnya. ( Lihat juga Fathul Bari, penjelasan hadits no. 5.569 )

Dari hadits ini kita mengetahui, bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa salam pernah melarang memakan daging qurban lebih dari tiga hari. Hal itu agar umat Islam pada waktu itu menshadaqahkan kelebihan daging qurban yang ada. Namun larangan itu kemudian dihapuskan. Dalam hadits lain, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam dengan tegas menghapuskan larangan tersebut dan menyebutkan sebabnya. Beliau bersabda:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ فَوْقَ ثَلَاثٍ لِيَتَّسِعَ ذُو الطَّوْلِ عَلَى مَنْ لَا طَوْلَ لَهُ فَكُلُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا

" Dahulu aku melarang kamu dari daging qurban lebih dari tiga hari, agar orang yang memiliki kecukupan memberikan keluasan kepada orang yang tidak memiliki kecukupan. Namun (sekarang), makanlah semau kamu, berilah makan, dan simpanlah. ( HR Tirmidzi, no. 1.510, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani )

Setelah meriwayatkan hadits ini, Imam Tirmidzi - rahimahullah- berkata :

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ

Pengamalan hadits ini dilakukan oleh ulama dari kalangan para sahabat Nabi shalallahu 'alaihi wa salam dan selain mereka.

Dalam hadits lain disebutkan :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَاقِدٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ لُحُومِ الضَّحَايَا بَعْدَ ثَلَاثٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَمْرَةَ فَقَالَتْ صَدَقَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُولُ دَفَّ أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ حَضْرَةَ الْأَضْحَى زَمَنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادَّخِرُوا ثَلَاثًا ثُمَّ تَصَدَّقُوا بِمَا بَقِيَ فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ النَّاسَ يَتَّخِذُونَ الْأَسْقِيَةَ مِنْ ضَحَايَاهُمْ وَيَجْمُلُونَ مِنْهَا الْوَدَكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا ذَاكَ قَالُوا نَهَيْتَ أَنْ تُؤْكَلَ لُحُومُ الضَّحَايَا بَعْدَ ثَلَاثٍ فَقَالَ إِنَّمَا نَهَيْتُكُمْ مِنْ أَجْلِ الدَّافَّةِ الَّتِي دَفَّتْ فَكُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا
" Dari Abdullah bin Waqid, dia berkata: Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam melarang memakan daging qurban setelah tiga hari, Abdullah bin Abu Bakar berkata: Kemudian aku sebutkan hal itu kepada ‘Amrah. Dia berkata “ Dia ( Abdullah bin Waqid ) benar. Aku telah mendengar ‘Aisyah - radhiyahu 'anha- mengatakan, orang-orang Badui datang waktu ‘Idul Adh-ha pada zaman Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam , maka Beliau bersabda,’ Simpanlah (sembelihan kurban) selama tiga hari, kemudian shadaqahkanlah sisanya’.” Setelah itu (yaitu pada tahun berikutnya, Pen) para sahabat mengatakan: “Wahai, Rasulullah, sesungguhnya orang-orang membuat qirbah-qirbah 1) 1) Qirbah: wadah air yang terbuat dari kulit.] dari binatang-binatang kurban mereka, dan mereka melelehkan (membuang) lemak darinya.” Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda: “ Memangnya kenapa ?” Mereka menjawab,” Anda telah melarang memakan daging kurban setelah tiga hari.” Maka Beliau bersabda: “ Sesungguhnya aku melarang kamu hanyalah karena sekelompok orang yang datang (yang membutuhkan shadaqah daging, Pen). Namun (sekarang) makanlah, simpanlah, dan bershadaqahlah.” (HR. Muslim, no. 1.971)

Banyak ulama menyatakan, orang yang menyembelih kurban disunnahkan bershadaqah dengan sepertiganya, memberi makan dengan sepertiganya, dan dia bersama kelurganya memakan sepertiganyanya. Namun riwayat-riwayat yang berkaitan dengan ini lemah. Sehingga hal ini diserahkan kepada orang yang berkurban. Seandainya dishadaqahkan seluruhnya, hal itu dibolehkan. Wallahu a’lam. [ Shahih Fiqhis Sunnah (2/378), karya Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim.]

Sumber: Majalah As-Sunnah edisi 10 Tahun VIII Oleh Ustadz Abu Ismail Muslim Al Atsary

Selengkapnya : http://www.seindahsunnah.com/bolehkah-menjual-kulit-binatang-qurban/

�� Broadcast WA Dakwah Seindah Sunnah
♻️ WA : 085319144749
�� ketik [ Nama # Umur # L/P # Alamat ]

�� Share yuk mudah-mudahan Allah Ta'ala memudahkan jalan ke Surga bagi anda.. aamiin

Sabtu, 19 September 2015

Sejarah bagian 1 Nama nabi muhammad shallallohu'alaihiwassalam

��Sejarah

Materi 1:

١ - نبينا - صلى الله عليه وسلم- هو أبو القاسم محمد بن عبد الله بن عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف بن قصي بن كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب بن فهر بن مالك بن النضر بن كنانة بن خزيمة بن مدركة بن إلياس بن مضر بن نزار بن معد بن عدنان.

"Nabi kita ﷺ , Beliau adalah Abul Qosim Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththolib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushoy bin Kilaab bin Murroh bin Ka'b bin Luay bin Gholib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan."

�� Pelajaran:
1⃣ Abul Qosim merupakan nama kunyah Beliau ﷺ . Sebagaimana yang diriwayatkan Hakim dalam Mustadraknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Saya adalah Abul Qosim, Allah yang memberi dan saya yg membagikan."
2⃣ Muhammad merupakan nama Beliau ﷺ , namanya yang lain:
~ Ahmad (lihat ash-Shaf:6)
~ Al-Maahiy, Al-Haasyir, Al-'Aaqib (lihat HR. Bukhari no.3532 dan Muslim no.2354)
~ al-Muqoffiy, Nabiyyut Tawbah, Nabiyyur Rahmah (lihat HR. Muslim no.2355)
~ al-Mutawakkil (lihat HR. Al-Bukhari no.4838)
Dan masih banyak nama-nama lainnya yang mencapai seribu nama namun tdak disebutkan krna lemahnya dalil yg dgunakan bhkan sbagiannya tdak memiliki dasar sama skali.
3⃣ Nasab Beliau ﷺ hingga Adnan ini disepakati para ahli nasab dan tdak ada sm skali perbedaan pndapat tentang hal tersebut. (Zaadul Ma'aad I/70)
4⃣ Rasulullah ﷺ berasal dari keturunan dan nasab yang mulia, dan hal ini memberi pengaruh terhadap dakwah yg diusungnya. Orang yg berasal dari keturunan yang mulia membuat orang lebih tertarik dengan seruannya, sebagaimana pertanyaan Raja Heraklius kepada Abu Sufyan: "Bagaimana garis turunan Muhammad di tengah masyarakatmu?" Lalu Abu Sufyan yg saat itu belum masuk Islam menjawab: "Dia berasal dari keturunan yang mulia di antara kami."

Wallohu Ta'ala A'lam
✏Ustadz Abu Abdirrazzaq Marzuki Umar, Lc. حفظه الله (Alumni Fakultas Syari'ah Universitas Islam Madinah dan saat ini menempuh S2 di jurusan Sejarah Islam di kampus yang sama)
��Grup WA Belajar Islam Intensif��

Gabung Grup BII
Ketik BII#Nama#Daerah
Kirim ke:
0853-9831-9697(ikhwah)
0898-4301-733(akhwat)

PENTINGNYA KAJIAN RUTIN

# Kajian TEMATIK Akbar Mengundang Ustadz/Ulama Ternama dan Pengajian RUTIN

-Alhamdulillah kita sangat gembira mulai banyak kajian akbar yang menunjukkan antusias beragama yang tinggi, ini cocok untuk me-recharge keimanan dan ilmu serta dakwah bagi kaum muslimin

-Tetapi bagi yang sudah "lama ngaji" sebaiknya jangan menuntut ilmu dengan datang kajian TEMATIK saja, bahkan mulai meninggalkan kajian RUTIN dgn kurikulum ringan walaupun seminggu sekali membahas kitab tertentu

Alhamdulillah kita sangat bergembira dan senang dengan semakin banyaknya kajian-kajian besar semacam tabligh akbar yang kami rasa semakin sering intensitasnya. Kita juga sangat bergembira jika ada ustadz atau ulama ternama dengan ilmunya yang masyaAllah serta akhlaknya yang bisa menjadi panutan, datang memberikan ilmu dan contoh akhlak mulia walaupun sebentar.

Intinya kita sangat bergembira bisa melihat langsung sosok dan teladan yang selama ini mungkin kita hanya membaca bukunya, mendengar kajiannya atau hanya menonton videonya. Jika dibandingkan dahulunya, bisa dibilang agak jarang kajian akbar dengan mengundang ustadz atau ulama ternama.

Memang pengajian akbar seperti ini sangat bagus. Sebuah taman surga dunia, rekreasi me-rechargekeimanan (asalkan niatnya ikhlas, bukan sekedar untuk kopdar, jualan, bisnis apalagi “cuci mata”). Sangat bagus juga bagi mereka yang baru mengenal hidayah dan bagi orang awam.

Tetapi yang perlu diperhatikan adalah bagi mereka yang sudah lama mendapat hidayah menuntut ilmu (udah ngaji beberapa tahun). Sebaiknya belajar agama jangan hanya pengajian akbar saja yang umumnya hanya TEMATIK, tetapi ingat juga kajian rutin, misalnya rutin setiap pekan terlebih terkurikulum membahas kitab tertentu sampai tuntas.

Beberapa Fenomena yang dinasehatkan oleh ustadz, agar kita menjauhinya (nasehat bagi yang sudah lama “ngaji”):
1. Sudah lama “ngaji” tapi jarang atau tidak pernah ikut pengajian rutin pekanan walaupun hanya sekali seminggu. Misalnya membahas kitab tauhid sampai selesai.

2. Kalau ada ustadz atau ulama ternama/terkenal datang, baru ikut kajian akbar dengan jumlah peserta yang banyak (inipun semoga ikhlas, bukan sekedar untuk kopdar, jualan, bisnis apalagi “cuci mata”). kalau tidak ada maka tidak kajian dan menuntut ilmu

3. Belajar agama sistem “semau gue”, sudah hanya tematik saja, itupun kalau senang sama ustadz dan ulama tertentu saja. Kalau bukan ustadz idolanya, agak malas. Atau kalau tema yang tidak ia terlalu senangi, maka tidak datang kajian.

Perlu diingat bahwa belajar agama itu sama dengan belajar ilmu dunia yang lainnya:

-Jika mau masuk Fakultas Kedokteran misalnya, perlu belajar kan? Masuk surga juga perlu belajar

-Belajar di kedokteran (misalnya), belajarnya dengan kurikulum mulai dari hal yang dasar. Maka sama belajar agama terkurikulum mulai belajar dari yang dasar semisal Tauhid-Aqidah dasar, fikh keseharian.

-Jika kuliah dikedokteran tidak ikut rutin kuliah atau bolong-bolong kuliah tentu kurang baik. Nah, begitu juga belajar agama, hanya belajar ketika ada kajian tematik saja, tentu hasilnya kurang maksimal.

-Jika kita belajar matematika tidak dari dasar, kemudian hanya ikut workshop tertentu saja (tematik), tentu sangat susah dan tidak menarik belajar dan menyelesaikan soal matematika. Tetapu bagi mereka yang menguasai dari dasar sanga menarik matematika. Soal terasa sebagai “makanan” yang siap dilahap dan merupakan tantangan.

Begitu juga belajar agama, jika belajarnya hanya kajian tematik saja (ingat ini bagi mereka yang sudah lama ngaji). Tentu hasilnya tidak maksimal dan tentu “kurang” terasa nikmatnya beragama dan “surga dunia”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

أن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة

“Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga di akhirat.”[1]

Tentu saja surga di dunia itu adalah kebahagiaan dengan petunjuk agama yang benar.

Hendaknya kita sebagai seorang muslim, apalagi yang notabenernya sudah lama “ngaji”

1. Belajar agama secara ta’shili(bertahap dan terkurikulum), tetapi istiqamah meskipun hanya seminggu sekali (masa’ sih untuk belajar agama benar-benar tidak ada waktu luang??) karena bisa jadi ada yang punya kesibukan dan amanah yang lebih penting. Jika bisa lebih dari sekali seminggu bahkan bisa mengatur waktu maka bisa lebih banyak

2. Belajar agamanya hendaknya dengan kitab/kurikulum dan bukan HANYA kajian tematik, atau kajian rutin tetapi tidak istiqamah.Bukan belajar “semau gue”, mau datang kajian bisa, tidak datang juga tidak masalah, belajar agama juga tidak sistematis atau belajar secara ta’siliy [belajar dari dasar] sehingga belajar agama terkesan berat dan membosankan dan tentu bukan ketenangan yang didapat.

3. Istiqamah ketika kajian rutin, tidak loncat-loncat pembahasannya dari kitab satu ke kitab yang lainnya. Sabar dalam menuntut ilmu agama.

Syaikh Muhammad Shalih bin Al-‘Utsaimin rahimahullahu berkata mengenai hal ini,

ألا يأخذ من كل كتاب نتفة، أو من كل فن قطعة ثم يترك؛ لأن هذا الذي يضر الطالب، ويقطع عليه الأيام بلا فائدة، فمثلاً بعض الطلاب يقرأ في النحو : في الأجرومية ومرة في متن قطر الندي، ومرة في الألفية. ..وكذلك في الفقه: مرة في زاد المستقنع، ومرة في عمدة الفقه، ومرة في المغني ، ومرة في شرح المهذب، وهكذا في كل كتاب، وهلم جرا ، هذا في الغالب لا يحصلُ علماً، ولو حصل علماً فإنه يحصل مسائل لا أصولاً

“Janganlah mempelajari buku sedikit-sedikit, atau setiap cabang ilmu sepotong-sepotong kemudian meninggalkannya, karena ini membahayakan bagi penuntut ilmu dan menghabiskan waktunya tanpa faidah,

misalnya:
sebagian penuntut ilmu memperlajari ilmu nahwu, ia belajar kitab Al-Jurumiyah sebentar kemudian berpindah ke Matan Qathrun nadyi kemudian berpindah ke Matan Al-Alfiyah..

Demikian juga ketika mempelajari fikih, belajar Zadul mustaqni sebentar, kemudian Umdatul fiqh sebentar kemudian Al-Mughni kemudian Syarh Al-Muhazzab, dan seterusnya.

Cara seperti Ini umumnya tidak mendapatkan ilmu, seandainya ia memperoleh ilmu, maka ia tidak memperoleh kaidah-kaidah dan dasar-dasar.”[2]

4. Sebagaimana kita bersusah payah dan bersabar belajar , menghapal dan memahami untuk ilmu dunia dan agar sukse ilmu dunia. Begitu juga dengan ilmu agama dan untuk masuk surga.

Yang namanya belajar baik ilmu dunia maupun akhirat tentu bersabar dan butuh perjuangan. Terlebih lagi ilmu agama yang mungkin tidak ada/sedikit  “keuntungan dunia” bagi sebagian orang yang kurang imannya.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

لا يطلب هذا العلم من يطلبه بالتملل وغنى النفس فيفلح، ولكن من طلبه بذلة النفس، وضيق العيش، وخدمة العلم، أفلح

“Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanya kemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”[3]

 

Yahya bin Abi Katsir rahimahullahberkata,

ولا يستطاع العلم براحة الجسد

“Ilmu tidak akan diperoleh dengantubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh)”[4]

 

@Laboratorium Klinik RSUP DR Sardjito, Yogyakarta tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com
 

[1] Al-wabilush shayyib hal 48, Darul Hadits, Koiro, cet. III, Syamilah

[2] Kitabul ‘ilmi syaikh ‘Utsaimin hal. 39, Darul Itqaan, Iskandariyah

[3]  Tadribur Rawi 2/584, Darut Thayyibah, Syamilah

[4] Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi  I/348 no.553, Darul Ibnu Jauzi, cet.I, 1414 H, syamilah

http://muslimafiyah.com/kajian-tematik-akbar-mengundang-ustadzulama-ternama-dan-pengajian-rutin.html

PENTINGNYA KAJIAN RUTIN

# Kajian TEMATIK Akbar Mengundang Ustadz/Ulama Ternama dan Pengajian RUTIN

-Alhamdulillah kita sangat gembira mulai banyak kajian akbar yang menunjukkan antusias beragama yang tinggi, ini cocok untuk me-recharge keimanan dan ilmu serta dakwah bagi kaum muslimin

-Tetapi bagi yang sudah "lama ngaji" sebaiknya jangan menuntut ilmu dengan datang kajian TEMATIK saja, bahkan mulai meninggalkan kajian RUTIN dgn kurikulum ringan walaupun seminggu sekali membahas kitab tertentu

Alhamdulillah kita sangat bergembira dan senang dengan semakin banyaknya kajian-kajian besar semacam tabligh akbar yang kami rasa semakin sering intensitasnya. Kita juga sangat bergembira jika ada ustadz atau ulama ternama dengan ilmunya yang masyaAllah serta akhlaknya yang bisa menjadi panutan, datang memberikan ilmu dan contoh akhlak mulia walaupun sebentar.

Intinya kita sangat bergembira bisa melihat langsung sosok dan teladan yang selama ini mungkin kita hanya membaca bukunya, mendengar kajiannya atau hanya menonton videonya. Jika dibandingkan dahulunya, bisa dibilang agak jarang kajian akbar dengan mengundang ustadz atau ulama ternama.

Memang pengajian akbar seperti ini sangat bagus. Sebuah taman surga dunia, rekreasi me-rechargekeimanan (asalkan niatnya ikhlas, bukan sekedar untuk kopdar, jualan, bisnis apalagi “cuci mata”). Sangat bagus juga bagi mereka yang baru mengenal hidayah dan bagi orang awam.

Tetapi yang perlu diperhatikan adalah bagi mereka yang sudah lama mendapat hidayah menuntut ilmu (udah ngaji beberapa tahun). Sebaiknya belajar agama jangan hanya pengajian akbar saja yang umumnya hanya TEMATIK, tetapi ingat juga kajian rutin, misalnya rutin setiap pekan terlebih terkurikulum membahas kitab tertentu sampai tuntas.

Beberapa Fenomena yang dinasehatkan oleh ustadz, agar kita menjauhinya (nasehat bagi yang sudah lama “ngaji”):
1. Sudah lama “ngaji” tapi jarang atau tidak pernah ikut pengajian rutin pekanan walaupun hanya sekali seminggu. Misalnya membahas kitab tauhid sampai selesai.

2. Kalau ada ustadz atau ulama ternama/terkenal datang, baru ikut kajian akbar dengan jumlah peserta yang banyak (inipun semoga ikhlas, bukan sekedar untuk kopdar, jualan, bisnis apalagi “cuci mata”). kalau tidak ada maka tidak kajian dan menuntut ilmu

3. Belajar agama sistem “semau gue”, sudah hanya tematik saja, itupun kalau senang sama ustadz dan ulama tertentu saja. Kalau bukan ustadz idolanya, agak malas. Atau kalau tema yang tidak ia terlalu senangi, maka tidak datang kajian.

Perlu diingat bahwa belajar agama itu sama dengan belajar ilmu dunia yang lainnya:

-Jika mau masuk Fakultas Kedokteran misalnya, perlu belajar kan? Masuk surga juga perlu belajar

-Belajar di kedokteran (misalnya), belajarnya dengan kurikulum mulai dari hal yang dasar. Maka sama belajar agama terkurikulum mulai belajar dari yang dasar semisal Tauhid-Aqidah dasar, fikh keseharian.

-Jika kuliah dikedokteran tidak ikut rutin kuliah atau bolong-bolong kuliah tentu kurang baik. Nah, begitu juga belajar agama, hanya belajar ketika ada kajian tematik saja, tentu hasilnya kurang maksimal.

-Jika kita belajar matematika tidak dari dasar, kemudian hanya ikut workshop tertentu saja (tematik), tentu sangat susah dan tidak menarik belajar dan menyelesaikan soal matematika. Tetapu bagi mereka yang menguasai dari dasar sanga menarik matematika. Soal terasa sebagai “makanan” yang siap dilahap dan merupakan tantangan.

Begitu juga belajar agama, jika belajarnya hanya kajian tematik saja (ingat ini bagi mereka yang sudah lama ngaji). Tentu hasilnya tidak maksimal dan tentu “kurang” terasa nikmatnya beragama dan “surga dunia”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

أن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة

“Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga di akhirat.”[1]

Tentu saja surga di dunia itu adalah kebahagiaan dengan petunjuk agama yang benar.

Hendaknya kita sebagai seorang muslim, apalagi yang notabenernya sudah lama “ngaji”

1. Belajar agama secara ta’shili(bertahap dan terkurikulum), tetapi istiqamah meskipun hanya seminggu sekali (masa’ sih untuk belajar agama benar-benar tidak ada waktu luang??) karena bisa jadi ada yang punya kesibukan dan amanah yang lebih penting. Jika bisa lebih dari sekali seminggu bahkan bisa mengatur waktu maka bisa lebih banyak

2. Belajar agamanya hendaknya dengan kitab/kurikulum dan bukan HANYA kajian tematik, atau kajian rutin tetapi tidak istiqamah.Bukan belajar “semau gue”, mau datang kajian bisa, tidak datang juga tidak masalah, belajar agama juga tidak sistematis atau belajar secara ta’siliy [belajar dari dasar] sehingga belajar agama terkesan berat dan membosankan dan tentu bukan ketenangan yang didapat.

3. Istiqamah ketika kajian rutin, tidak loncat-loncat pembahasannya dari kitab satu ke kitab yang lainnya. Sabar dalam menuntut ilmu agama.

Syaikh Muhammad Shalih bin Al-‘Utsaimin rahimahullahu berkata mengenai hal ini,

ألا يأخذ من كل كتاب نتفة، أو من كل فن قطعة ثم يترك؛ لأن هذا الذي يضر الطالب، ويقطع عليه الأيام بلا فائدة، فمثلاً بعض الطلاب يقرأ في النحو : في الأجرومية ومرة في متن قطر الندي، ومرة في الألفية. ..وكذلك في الفقه: مرة في زاد المستقنع، ومرة في عمدة الفقه، ومرة في المغني ، ومرة في شرح المهذب، وهكذا في كل كتاب، وهلم جرا ، هذا في الغالب لا يحصلُ علماً، ولو حصل علماً فإنه يحصل مسائل لا أصولاً

“Janganlah mempelajari buku sedikit-sedikit, atau setiap cabang ilmu sepotong-sepotong kemudian meninggalkannya, karena ini membahayakan bagi penuntut ilmu dan menghabiskan waktunya tanpa faidah,

misalnya:
sebagian penuntut ilmu memperlajari ilmu nahwu, ia belajar kitab Al-Jurumiyah sebentar kemudian berpindah ke Matan Qathrun nadyi kemudian berpindah ke Matan Al-Alfiyah..

Demikian juga ketika mempelajari fikih, belajar Zadul mustaqni sebentar, kemudian Umdatul fiqh sebentar kemudian Al-Mughni kemudian Syarh Al-Muhazzab, dan seterusnya.

Cara seperti Ini umumnya tidak mendapatkan ilmu, seandainya ia memperoleh ilmu, maka ia tidak memperoleh kaidah-kaidah dan dasar-dasar.”[2]

4. Sebagaimana kita bersusah payah dan bersabar belajar , menghapal dan memahami untuk ilmu dunia dan agar sukse ilmu dunia. Begitu juga dengan ilmu agama dan untuk masuk surga.

Yang namanya belajar baik ilmu dunia maupun akhirat tentu bersabar dan butuh perjuangan. Terlebih lagi ilmu agama yang mungkin tidak ada/sedikit  “keuntungan dunia” bagi sebagian orang yang kurang imannya.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

لا يطلب هذا العلم من يطلبه بالتملل وغنى النفس فيفلح، ولكن من طلبه بذلة النفس، وضيق العيش، وخدمة العلم، أفلح

“Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanya kemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”[3]

 

Yahya bin Abi Katsir rahimahullahberkata,

ولا يستطاع العلم براحة الجسد

“Ilmu tidak akan diperoleh dengantubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh)”[4]

 

@Laboratorium Klinik RSUP DR Sardjito, Yogyakarta tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com
 

[1] Al-wabilush shayyib hal 48, Darul Hadits, Koiro, cet. III, Syamilah

[2] Kitabul ‘ilmi syaikh ‘Utsaimin hal. 39, Darul Itqaan, Iskandariyah

[3]  Tadribur Rawi 2/584, Darut Thayyibah, Syamilah

[4] Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi  I/348 no.553, Darul Ibnu Jauzi, cet.I, 1414 H, syamilah

http://muslimafiyah.com/kajian-tematik-akbar-mengundang-ustadzulama-ternama-dan-pengajian-rutin.html

Jumat, 18 September 2015

SEMANGAT MENCARI NAFKAH

✔️ SEMANGAT MENCARI NAFKAH

Nafkah kepada keluarga lebih afdhol dari sedekah tathowwu’ (sunnah)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim no. 995)

Imam Nawawi membuat judul untuk hadits ini, “Keutamaan nafkah bagi keluarga dan hamba sahaya, serta dosa bagi orang yang melalaikan dan menahan nafkahnya untuk mereka”. Dalam Syarh Muslim (7: 82), Imam Nawawi mengatakan, “Nafkah kepada keluarga itu lebih afdhol dari sedekah yang hukumnya sunnah”

Memperhatikan nafkah keluarga akan mendapat penghalang dari siksa neraka.

‘Adi bin Hatim berkata

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Selamatkanlah diri kalian dari neraka walau hanya melalui sedekah dengan sebelah kurma”
(HR. Bukhari no. 1417)

So, jangan malas tuk mencari nafkah halal bagi keluarga, pahalanya sangat besar in syaa Allah.
Semangaat...

Barakallah fiikum.

�� Repost dari WA grup Islamadina "Pengusaha Muslim" 08778 2400 868, silahkan dibagi.

BAHAYA BERHUTANG DI DUNIA DAN AKHIRAT

✔️ BAHAYA BERHUTANG DI DUNIA DAN AKHIRAT.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Di dalam kehidupan sehari-hari ini, kebanyakan manusia tidak terlepas dari yang namanya hutang piutang.
Sebab di antara mereka ada yang membutuhkan dan ada pula yang dibutuhkan.

Demikianlah keadaan manusia sebagaimana Allah tetapkan, ada yang dilapangkan rezekinya hingga berlimpah ruah dan ada pula yang dipersempit rezekinya, tidak dapat mencukupi kebutuhan pokoknya sehingga mendorongnya dengan terpaksa untuk berhutang atau mencari pinjaman dari orang-orang yang dipandang mampu dan bersedia memberinya pinjaman.

Dalam ajaran Islam, hutang-piutang adalah termasuk muamalah yang dibolehkan, tapi diharuskan untuk ekstra hati-hati dalam menerapkannya.

Karena hutang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga, dan sebaliknya jg bisa menjerumuskan seseorang ke dalam api neraka.

BAHAYA BERHUTANG SAMPAI MATI:

Meskipun berhutang itu boleh, hanya saja Islam menyuruh umatnya agar menghindari hutang semaksimal mungkin jika ia mampu membeli brg kebutuhannya dengan tunai atau ia tidak dalam keadaan kesempitan ekonomi.

Karena menurut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hutang itu dapat menimbulkan pengaruh buruk dan bencana bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Diantaranya :

1. Hutang merupakan penyebab kesedihan di malam hari, dan kehinaan di siang hari.

2. Hutang dapat membahayakan akhlaq. Maksudnya dapat menimbulkan perilaku yang buruk bagi orang yang suka (hoby) berhutang, seperti suka berdusta dan ingkar janji.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (yang artinya): “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Al-Bukhari).

3. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menolak mensholatkan jenazah seseorang yang diketahui masih memiliki hutang dan tidak meninggalkan harta untuk melunasinya.

4. Tanggungan Hutang Yang Dibawa Mati Tidak Akan Diampuni Oleh Allah Pada Hari Kiamat.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

“Semua dosa orang yang mati syahid Akan diampuni (oleh Allah), kecuali hutangnya.” (HR. Muslim III/1502 no.1886, dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu).

Dan juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah pernah berdiri di tengah-tengah para sahabat, lalu Beliau mengingatkan mereka bahwa Jihad di jalan Allah dan iman kepada-Nya adalah amalan yang paling afdhol (utama).

Kemudian berdirilah seorang sahabat, lalu bertanya :
“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terhapus dariku?”
Maka jawab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadanya: “Ya, jika engkau gugur di jalan Allah dalam keadaan sabar mengharapkan pahala, maju pantang melarikan diri.”
Kemudian Rasulullah bersabda: “Kecuali hutang (tidak akan diampuni/dihapuskan oleh Allah, pent), karena sesungguhnya Jibril ’alaihissalam menyampaikan hal itu kepadaku.” (HR. Muslim III/1501 no: 1885, At-Tirmidzi IV/412 no:1712, dan an-Nasa’i VI: 34 no.3157. dan di-shohih-kan oleh syaikh Al-Albani dalam Irwa-ul Ghalil no: 1197).

5. Orang Yang Mati Dalam Keadaan Memiliki Hutang Akan Terhalang Dan Tertunda Dari Masuk Surga.

Hal ini berdasarkan hadits shohih yang diriwayatkan dari Tsauban, mantan budak Rasulullah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

« مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ »

“Brgsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya (baca: meninggal dunia) dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya ia akan masuk surga, yaitu:

(1) Bebas dari sombong,
(2) Bebas dari khianat, dan
(3) Bebas dari tanggungan HUTANG.”

(HR. Ibnu Majah II/806 no: 2412, dan At-Tirmidzi IV/138 no: 1573. Dan di-shohih-kan oleh Syeikh Al Albani)

( AD-DIINU AN-NASHIIHAH )

Barakallah fiikum.

�� Repost dari WA grup Islamadina "Pengusaha Muslim" 08778 2400 868, silahkan berbagi.

Kamis, 17 September 2015

MENCONTEK SPIRITUALITAS GOOGLE

MENCONTEK SPIRITUALITAS GOOGLE

By Rio Beni Arya

Jadi…kenapa sebenarnya Google tidak membuat sebuah teknologi PC (Personnal Computer) atau membuat sebuah Operating System untuk sebuah PC atau Laptop? Saya bertanya tentang itu kepada seorang rekan saya yang kebetulan dulu pernah bekerja di Nokia. Saat dia masih di negara asalnya, China.

Mengetahui fakta bahwa rekan saya ini dulunya pernah bekerja di NOKIA, pembicaraan kami sepanjang jalanan dari Balikpapan menuju Kutai Kartanegara pagi itu diwarnai dengan diskusi ngalor ngidul, dimulai dari kenapa NOKIA tidak memasang Android pada Operating Systemnya, kenapa malah Windows Mobile? Lalu cerita tentang kebangkrutan NOKIA, lalu menyambar pada cerita tentang raksasa teknologi Google.

Banyak hal menarik yang dia ceritakan mengenai Google, tetapi satu hal mengenai pertanyaan saya di atas tadilah yang kemudian menjadi tema menarik kami sepanjang perjalanan.

Kenapa Google tidak membuat Operating System sendiri untuk sebuah PC atau LAPTOP, atau kenapa malah Google tidak merambah bisnis PC?

Lalu rekan saya ini menjelaskan dalam bahasa inggris yang pekat dengan logat China-nya. Ini saya baru tahu sekarang. Menurut dia, ada dua pendekatan besar dalam dunia teknologi komputer.

Pendekatan pertama, adalah golongan yang percaya bahwa trend di masa depan adalah personnal computer. Maksudnya, di masa depan, sebuah komputer haruslah menjadi semakin canggih, semakin complicated, dan mempunyai resource atau kemampuan perangkat yang semakin hebat. Apa sebab, sebabnya adalah sebuah aplikasi akan semakin canggih dan untuk menjalankannya butuh resource dan kemampuan dahsyat. Pada golongan inilah berada IBM dan kawan-kawannya.

Pada sisi yang berseberangan, adalah ORACLE. Yang berpendapat bahwa bukan sebuah PC yang harus menjadi semakin kompleks, melainkan sebuah server. Server, haruslah sangat digdaya, sedangkan sebuah PC atau LAPTOP hanya menjadi corong input dan display dari data yang diolah server. Tetapi, sebuah PC itu bisa tersambung ke server.

Tak ingin berpanjang lebar menceritakan tentang teknologi yang saya sendiri tak paham benar, tetapi ide itulah yang ternyata kemudian dipakai oleh Google.

Google tak membuat PC, juga tak terlalu getol membuat operating system, karena Google percaya, bahwa trend masa mendatang adalah CLOUD COMPUTING, dimana orang-orang akan semakin tergantung kepada server.

Sederhananya, seseorang hanya butuh komputer atau perangkat dengan kemampuan kelas medium, asalkan bisa input data, dan bisa display, dan ini yang paling penting “Terhubung dengan internet”.

Maka kita cobalah lihat semua produk Google. Ada Google maps. Google satelite. Google sky. Street view. Dan segala macam produk Google lainnya kesemuanya bisa dijalankan pada komputer kelas menengah, atau rendah, asalkan punya network yang kencang. Dan Google membuat browser hebat untuk menjadi corong display dan inputnya, yaitu Chrome.

Coba kita bayangkan, seandainya, semua kemampuan google maps, semua bank data Google maps, semua kecanggihan grafik Google maps itu harus disimpan pada sebuah PC, kita butuh PC seberapa dahsyat? PC kelas rendah sampai menengah tak akan sanggup menjalankan aplikasi itu. Tetapi, karena segala perhitungan dan algoritma google maps dijalankan oleh server, dan PC hanya menjadi display saja lewat browser, maka aplikasi yang sejatinya begitu kompleks itu terasa sangat ringan. Bahkan handphone bisa membukanya. Sekali lagi, hanya jika kita punya koneksi internet yang cepat dan stabil.

Wah, ini hal yang sangat menarik dan membuka mata saya. Saya mengucapkan terimakasih kepada rekan saya itu. Lalu tiba-tiba saya terfikir tentang sesuatu.

“You know what,” Saya sampaikan padanya, bahwa saya teringat tentang sebuah wejangan yang hampir analog dengan cerita dia barusan.

Sepertinya, saya tahu bagaimana mengaplikasikan strategi Google dalam kehidupan sehari-hari.

Rekan saya itu tertarik dan bertanya, bagaimana caranya?

Saya katakan padanya. Kita ini, setiap hari berhadapan dengan berbagai macam masalah dan perhitungan yang sangat kompleks. Masalah pekerjaan. Masalah rumah tangga. Masalah ekonomi. Dan segala macam masalah.
Dan pendekatan kita dalam mengatasi masalah itu selama ini adalah seperti golongan IBM yang merasa harus mengatasi segala masalahnya sendiri.

Akibatnya, kita harus memiliki PC yang demikian kompleks. Kita membebani diri kita sendiri. Sedangkan, hampir kita bisa katakan bahwa mungkin lebih dari sembilan puluh sembilan persen kejadian di dalam hidup ini tak bisa kita kontrol sama sekali, dan setiap kejadian akan berkelindan dengan kejadian lainnya yang saling mempengaruhi dalam hidup ini.

Jika kita ingin menghadapi semua masalah dengan perhitungan kita sendiri, maka kita bisa gila dan depresi. Apa pasal? Perhitungannya luar biasa kompleks.

Maka sebaiknya, kita tiru google. Sebenarnya kita hanya perlu kemampuan input data, dan kemampuan untuk display saja. Selebihnya, biarkan kalkulasinya dijalankan oleh server. Yang Maha Kuasa. Maka hidup kita akan menjadi lebih ringan.

Saya jadi teringat kembali dengan salah satu kutipan bijak dari aforisma Al-Hikam. “istirahatkan dirimu dari tadbir” kata Sang Bijak Ibnu Athoillah.

Apa itu tadbir? Tadbir adalah memastikan hasil usaha. Menghitung-hitung seandainya saya melakukan aksi begini, maka hasilnya PASTI begini.

Just do your part. Input datanya. Dan selebihnya biarkan Sang Maha Server –meski kita tahu tak ada umpama bisa menjelaskannya– yang mengaturnya.

Satu hal saja yang harus kita benar-benar jaga, yaitu “network”, koneksi yang sangat kencang dan stabil pada Sang Maha Server.

Alim Adalah

[������ Alim Adalah Seorang Yang Telah Mengamalkan Ilmunya �� ]

Kalau seorang hamba tulus dalam beribadah dengan ikhlas kepada Allah dan tidak berniat mencari pujian manusia niscaya dia akan berjuang menundukkan hawa nafsunya di kala sendirian sebagaimana ketika dia bersama dengan orang-orang.

Dengan demikian, dia akan menjadi sosok ahli ilmu yang sejati, yang merasa takut kepada Allah ketika bersama orang lain maupun ketika sepi dan sendiri.

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Seorang yang berilmu masih terus disebut sebagai orang bodoh sampai beramal dengan ilmunya. Apabila dia telah mengamalkannya maka barulah dia menjadi orang yang alim.”

(HR. Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Iqtidha’ al-Ilmi al-’Amala)

Oleh : Pusat Buku Sunnah

�� Share yuk mudah2an menjadi pembuka pintu kebaikan bagi sodara anda dan pahala yang semisal bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan
__________________________
Smoga bermanfaat
������������������

Sholat sunnah

RENUNGAN PKM (290)
4 DZULHIJJAH 1436.
QS: AL-HAJJ: 77.
MEMPERBANYAK SHALAT SUNNAH.
Allahu Akbar. Allahu Akbar.
LA ILAHA ILLALLAH.
Allahu Akbar. Allahu Akbar.
Walillahil Hamd.
Shalat sunnah adalah pelengkap shalat wajib.
Shalat sunnah adalah ikhtiar mulia untuk mendapatkan Cinta Allah.
Shalat sunnah adalah mujahadah untuk meraih Syurga.
Shalat sunnah rawatib secara rutin jaminannya ialah istana di Syurga.
Shalat tahajjud adalah shalat sunnah termulia.
Shalat Isyraq berpahala sama dengan pahala haji dan umrah.
Shalat dua rakaat sebelum shalat subuh, lebih baik dari dunia dengan semua isinya.
Shalat dhuha itulah shalatnya hamba yang bertaubat, berpahala sama dengan bersedekah melalui semua persendian dalam tubuh kita.
Shalat dua rakaat setiap selesai berwudhu' itulah amal unggulan Bilal bin Rabah Radhiyallahu 'Anhu.
Shalat sunnah itu ilmu dan cinta.
BERSAMA KITA SEMAKIN MENCINTAI SHALAT SUNNAH SESUAI SUNNAH.

Rabu, 16 September 2015

Cara gila jadi Pengusaha

Tulisan Much Nasrulloh Al-Jufri

Mentor bisnis saya, yaitu Bapak Purdi E. Chandra, owner Primagama Group, dulu sering menyelenggarakan seminar wirausaha dengan tema yang cukup fenomenal dan kontroversial, yaitu:
"CARA GILA JADI PENGUSAHA" Ribuan pengusaha Indonesia berhasil dicetak oleh beliau, seperti yang terkenal diantaranya adalah Ippho Santosa, Miming Pangarah, Rully Kustandar, Roy Shakti, dan banyak lagi.

Didalam seminar itu, salah satu yang beliau dorong dan anjurkan adalah utang bank. Ada satu kata-kata yang masih saya ingat betul dan saya yakini kebenarannya dulu, yakni "Hutang Itu Mulia".

Gimana ga mulia, tiap bulan kita ngasih uang ke bank, kasih angsuran dan bunga. Khan yang memberi lebih mulia dari yang menerima. Hmmm, masuk akal menurut saya waktu itu.

Tapi, pengalaman mengajarkan lain. Ternyata Riba itu menyengsarakan hidup saya, merendahkan saya di mata keluarga, dan menghinakan saya dihadapan masyarakat.

Lebih dari 13 tahun saya terjerat riba, yang akhirnya saya pun cabut dan komitmen untuk lepas dari riba.
Diluar dugaan, tidak lama kemudian, mentor bisnis saya Bapak Purdi E. Chandra ternyata juga mendeklarasikan taubat riba, bisa dilihat videonya: https://youtu.be/5aTQ3OJBs1w

Banyak pengusaha-pengusaha pemula yang masih bersikeras, tanpa bank mereka tidak bisa berkembang.
Tanpa bank, darimana mereka mendapatkan modal.
Tanpa bank, bagaimana bisnis mereka bisa diselamatkan.

Kalau ingat mereka yang ngeyel2 ini, saya seperti bercermin dan melihat diri saya sendiri beberapa tahun yang lalu. Tanpa bank, gimana bisnis saya bisa berkembang, atau minimal masih bertahan.

Akhirnya, setelah saya taubat riba, justru yang terjadi, bisnis saya melesat. Saya membangun proyek property yang pendanaanya tidak dari bank dan skema kredit/KPR-nya juga tanpa bank.

Di bulan pertama jualan property, saya berhasil menjual 23 unit property yang menghasilkan profit Rp. 3,5 Miliar, dan dalam setahun aset property saya meningkat menjadi Rp, 10 Miliar. Saat ini proses pengembangan property lagi senilai Rp. 40 Miliar. Dan semuanya, enaknya, ga perlu ngemis-ngemis minta diutangin bank.

Guru saya Bapak Heppy Trenggono, terjebak utang Rp. 63 Miliar. Begitu taubat riba, dan transaksi bisnis pertama tanpa riba tanpa utang yang beliau bukukan adalah Rp. 500 miliar, dan sekarang perkebunan sawitnya yang diperoleh dengan tanpa riba mencapai aset Rp. 6 Triliun rupiah dibawah bendera PT. Balimuda Group. Beliau mendirikan IIBF (Indonesia Islamic Business Forum), merupakan wadah untuk menggembleng ribuan pengusaha2 pejuang anti riba.

Sahabat saya Tanto Abdurrahman dari Yogyakarta, ketika berumur 23 tahun sudah terlibat riba Rp. 53 miliar. Begitu taubat riba, sekarang beliau memiliki berbagai usaha seperti pertambangan, tambak, percetakan, Biro haji Umroh, dll. Beliau sekarang juga mengelola 32 pondok pesantren takhfidz qur'an dengan ribuan santri.

Ada lagi, mas Saptuari Sugiharto dari Jogja pemilik Waralaba Kedai Digital, Pemenang Wirausaha Muda Mandiri, pengusaha muda, penulis buku, dan trainer bisnis yang sudah sangat terkenal diseluruh Indonesia, juga sekarang menjadi pejuang anti riba yang tidak kenal lelah.

Ada lagi Bapak Samsul Arifin SBC, seorang mantan CEO perusahaan multinasional, melalui berbagai seminar wirausaha dengan tagline‪#‎PengusahaTanpaRiba‬ berhasil menggebrak dan menyadarkan ribuan pengusaha2 Indonesia untuk cabut dari riba selamanya.

Masih banyak orang-orang hebat yang sekarang menjadi pejuang-pejuang anti riba.

Masih ragu, bisnis tanpa utang bank itu bisa?
Masih memilih menggantungkan nasibmu pada utang bank?
Silakan, itu hak anda. Silakan nikmati saja hari-hari melihat kalender, menghitung hari jatuh tempo angsuran.

Mengingat ketika saya dibangkrutkan 12 kali karena riba, saya sangat bersyukur sekali, ini tandanya Alloh masih sayang dengan saya. Dikasih waktu untuk sadar dan bertaubat. Mungkin kalau tidak dibikin bangkrut, saya akan terlena hidup dari riba, dan mati menanggung riba.

Jadi anda yang saat ini sedang bangkrut karena riba, lihat sisi positifnya, anda sedang diselamatkan Alloh, agar tidak semakin jauh terjebak riba. Anda sedang dipanggil untuk mendekat kepadaNYA. Ingat, ini cara Alloh menyayangimu.

Anda yang usahanya lancar karena riba, silakan introspeksi diri, didalam keharaman tapi bisnis anda dilancarkan. Apakah ini tanda-tanda Alloh sudah mengabaikanmu? Jangan-jangan Alloh sudah tidak mencintaimu?

Ingat sajalah Firman Alloh SWT: “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Qiyamah: 36)

Iya, semua ada pertanggung jawabannya. Jangan anda kira, Alloh akan lupa menghisab, menghitung dan memberikan balasan untuk setiap rupiah uang riba yang kau makan beserta anak dan istrimu.

Jika peringatan ini telah sampai kepadamu dan kau memilih untuk menolaknya, silakan saja. Tapi ingatlah ketika Rosululloh SAW bersabda: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)

Mungkin ada yang menolak dengan mengatakan:"Negara aja punya utang, ratusan juta orang juga punya utang!"

Ingatlah, banyak orang yang melakukan bukan menjadi dasar bahwa hal tersebut adalah kebenaran. Ibarat seluruh manusia di dunia melakukan riba, maka tidak akan menjadikan riba itu menjadi halal untukmu.

Alloh telah memperingatkan:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am: 116)

Jadi, silakan! Apakah anda akan mengikuti kebanyakan orang yang setuju dengan sistem ribawi? Ataukah anda memilih kembali ke jalan yang Alloh Ridhoi.

Semoga Bermanfaat dan barokah.

HUKUM MEMPERBANYAK UDHIYYAH (HEWAN QURBAN) DALAM SATU RUMAH

��⚡ HUKUM MEMPERBANYAK UDHIYYAH (HEWAN QURBAN) DALAM SATU RUMAH

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah

………………………………………

❓❓ "Apakah termasuk sunnah memperbanyak udhiyyah(hewan qurban) dalam satu rumah?"

�� Jawab :
"Yang sunnah adalah TIDAK BERMEGAH-MEGAHAN dalam udhiyyah dengan banyaknya jumlah. Karena ini termasuk BERLEBIHAN.

Karena di kalangan sebagian manusia sekarang: kamu dapati seorang suami menyembelih qurban untuk dirinya dan keluarganya sebagaimana dulu dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, demikian juga Salafush Shalih juga melakukan itu.

�� Namun kemudian istrinya mengatakan, "aku juga ingin berqurban sendiri."
Anak perempuannya juga mengatakan, "Aku juga ingin berqurban."
Saudari perempuannya juga mengatakan, "Aku juga ingin berqurban."
�� Sehingga terkumpullah banyak hewan qurban dalam satu rumah.

����⭕ ini menyelisihi apa yang diamalkan oleh para Salafush Shalih.
Karena makhluk termulia Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam tidaklah berqurban kecuali seekor kambing diperuntukkan bagi beliau dan keluarganya.
����  Sebagaimana yang sudah diketahui, bahwa beliau memiliki sembilan isteri, yakni berarti ada sembilan rumah.
�� MESKIPUN DEMIKIAN, BELIAU TIDAKLAH BERQURBAN KECUALI SEEKOR KAMBING diperuntukkan bagi beliau dan keluarganya. kemudian beliau berqurban seekor lagi, diperuntukkan bagi umatnya.

�� Demikian pula dulu di kalangan para sahabat pun, seseorang berqurban dengan seekor kambing diperuntukkan baginya keluarganya.

⚠ Maka apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang pada hari ini, maka itu adalah PEMBOROSAN.
�� Kami katakan kepada mereka yang berqurban dengan cara tersebut: 'jika kalian memiliki kelebihan uang, maka di sana masih banyak kaum muslimin di muka bumi yang sangat membutuhkannya.'

�� dari Silsilah Liqa Al-Bab al-Maftuh, Al-Imam Al-'Utsaimin, kaset no 92.

----------------------
���� Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

SUNNAH YANG TERABAIKAN DI BULAN DZULHIJJAH

SUNNAH YANG TERABAIKAN DI BULAN DZULHIJJAH

Sahabat fillah..
Memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid merupakan amalan yang sangat dianjurkan pada 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan hadits yg diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

“Tidak ada hari-hari yg lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yg sepuluh (sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari itu.” (HR. Ahmad. Sanad hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Ahmad Syakir).

Imam Bukhari mengatakan, "Dahulu Umar -radhiallahu anhu- mengumandangkan takbir di dalam kemahnya saat berada di Mina, lalu penghuni masjid mendengarnya, mereka pun bertakbir, dan orang-orang dipasar pun ikut bertakbir hingga Mina dipenuhi oleh gema takbir"

Alangkah indahnya nuansa Dzulhijjah di zaman itu. Namun sangat disayangkan, amalan penuh berkah itu kini perlahan mulai hilang & terabaikan. Tidak hanya orang awam, bahkan sebagian orang sholeh pun seringkali lalai darinya, sangat jauh berbeda dengan kondisi pada zaman salafussholeh dulu. Oleh karena itu, mari bersama menghidupkan kembali sunnah yang mulia ini.

Catatan:

Disunnahkan untuk mengeraskan takbir, baik di jalanan, di pasar-pasar, dan diatas pembaringan sebagaimana praktek salafussholeh.

Berikut ini beberapa bentuk lafdz takbir yang disunnahkan:

1. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Kabiiran
2. Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.
3. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaaha illa lahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Wallahu a'lam
_________________
Madinah 1 Dzulhijjah 1436 H
ACT El-Gharantaly

✒Oleh Al-Ustâdz Aan Chandra Thalib El-Gharantaly Hafizhahullâh
��BBM Broadcast Al-Ustâdz Aan Chandra Thalib El-Gharantaly Hafizhahullâh

♻Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi
��Grup WA & TG Dakwah Islam
��TG Bot : @DakwahIslamBot

Share yuk semoga teman anda mendapat faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka pintu amal kebaikan bagi anda. َآمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِين.

#DakwahSunnah
#SyiahBukanIslam
#IndonesiaBertauhid

Tidak Boleh Menyebut Orang Tua, Ulama, Guru dengan Namanya Saja

Tidak Boleh Menyebut Orang Tua, Ulama, Guru dengan Namanya Saja
------------------------------------------------

Ini salah satu adab yang diajarkan dalam Islam dan diajarkan oleh ulama kita saat menyebut nama orang tua maupun guru atau ahli ilmu (Syaikh, Ulama, Ustadz, Kyai, dan semacam itu), tidak boleh menyebut dengan nama mereka saja. Baiknya disertakan dengan panggilan Imam, Syaikh, Ustadz, Kyai, Ayah, Ibu, dan seterusnya. Panggilan tersebut disesuaikan dengan panggilan di tengah masyarakat yang dianggap santun.

Imam Nawawi rahimahullah menerangkan:

Disunnahkan bagi anak, murid, atau seorang pemuda ketika menyebut ayahnya, guru dan tuannya agar tidak dengan menyebut nama saja.

Diriwayatkan dalam Kitab Ibnu As-Sunni, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan jalan di depannya, jangan membantahnya, jangan duduk sebelum ia duduk, jangan memanggilnya cuma dengan namanya saja.” Yang dimaksud jangan membantah adalah membantah orang tua ketika orang tua mengingatkan keras atau mengajari adab pada kita.

Dari ‘Abdullah bin Zahr, ia berkata, “Termasuk durhaka pada orang tua adalah engkau memanggil orang tua dengan namanya saja dan engkau berjalan di depannya.” (Al-Majmu’, 8: 257)

Termasuk dalam hal ini adalah adab ketika bergaul dengan yang lebih tua. Kalau di tempat kita biasa memanggil dengan panggilan “mas” atau “bang” atau “kang”, maka jangan hanya dipanggil dengan namanya saja. Itu bagian dari adab. Ini adalah adat ketimuran kita yang bisa dilestarikan dan tak dilarang oleh Islam.

Ibnu Taimiyah berkata,

وَالْأَصْلُ فِي الْعَادَاتِ لَا يُحْظَرُ مِنْهَا إلَّا مَا حَظَرَهُ اللَّهُ

“Hukum asal adat (kebiasaan masyarakat) adalah tidaklah masalah selama tidak ada yang dilarang oleh Allah di dalamnya” (Majmu’ah Al-Fatawa, 4: 196).

Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Sore hari, 23 Dzulqa’dah 1436 H, 4: 51 PM, di Bale Ayu Imogiri Timur

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom

LUASNYA SURGA

��BimbinganIslam.com
Senin, 30 Dzulqa'dah 1436 H / 14 September 2015 M
�� Materi Tematik
�� Ustadz Firanda Andirja,  MA
�� Luasnya Surga
https://www.dropbox.com/s/8jyh7zn8q5ik6i6/luasnya%20surga.mp3?dl=0
�� Video Source: http://yufid.tv/ceramah-singkat-luasnya-surga-ustadz-firanda-andirja-ma/
➖➖➖➖➖➖➖

LUASNYA SURGA

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam Al Qurān:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

"Dan bersegeralah kalian kepada ampunan Allāh dan bersegeralah kalian menuju surga Allāh yang luasnya seluas langit dan bumi yang Allāh siapkan bagi orang-orang yang bertaqwa."

(QS. Ali Imran : 133)

Allāh mengatakan, "Surga yang luasnya seluas langit dan bumi," namun kalau kita perhatikan dalam bahasa Arab sebagaimana dijelaskan sebagian ahli tafsir, Allāh dalam ayat ini menggunakan kalimat wal ardh (وَالْأَرْض) dan ardh (الأرض) artinya lebar.

Kalau kita terjemahkan secara "leterlek" artinya:

"Bersegeralah menuju surga Allāh yang lebarnya selebar langit dan bumi."

Nah, kalau disebut lebarnya sudah seperti langit dan bumi, bagaimana lagi dengan panjangnya?

Oleh karenanya sebagian ulamaa mengatakan, "Surga itu lebih luas daripada langit dan bumi."

Allāh menyebutkan tentang langit dan bumi sebagai pendekatan saja karena itulah yang bisa kita saksikan; bumi dan langit.

Akan tetapi sebenarnya surga lebih luas daripada langit dan bumi.

Kalau seandainya surga itu luasnya seperti langit, maka itu sudah sungguh luar biasa.

Langit adalah makhluk yang paling besar yang bisa kita lihat dengan mata kita.

Ada makhluq-makhluq yang lebih besar daripada langit, seperti: 'Arsy Allāh, Kursi Allāh, akan tetapi tidak bisa kita lihat, yang bisa kita lihat dengan mata kita adalah langit.

Kita lihat begitu luas, yang ada di atas kita.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan tentang dahsyatnya penciptaan langit.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

أَأَنتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا

"Apakah kalian penciptaannya lebih hebat ataukah langit yang Kami ciptakan?"

(QS. An-Nāziāt : 27)

Langit lebih hebat, langit lebih besar dan lebih luas daripada manusia.

Dalam ayat yang lain, kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

"Dan langit yang Kami bangun dengan kekuatan Kami dan sungguh Kami meluaskan langit tersebut (sungguh luas langit ini)."

(Adz-Dzāriyāt : 47)

Kita tahu dalam langit ada matahari, rembulan, bintang-bintang, planet-planet, galaksi-galaksi. Kita tidak tahu mana pangkal dari langit tersebut dan mana ujung langit tersebut .

Kalau seandainya surga ini seluas langit maka sudah sangat luas. Bagaimana lagi kalau ternyata lebih luas daripada langit ?

Oleh karenanya ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, saya akan sebutkan suatu hadist yang menggambarkan tentang luasnya surga.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda dalam suatu hadist :

إنِّى لأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى. فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ – قَالَ – فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا

"Sungguh aku mengetahui seorang yang paling terakhir keluar dari neraka jahannam dan seorang yang paling terakhir masuk ke dalam surga."

Dalam hadist ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan tentang orang yang paling rendah di surga.

Kita ingin tahu seluas apakah kapling yang Allāh berikan kepada penghuni surga yang paling rendah ini.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan, "Dialah orang yang paling terakhir keluar dari neraka jahanam dan dialah orang terakhir yang masuk surga."

Dalam riwayat, kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

فهو يمشي مرة ويكبو مرة

"Terkadang dia berjalan dan terkadang dia tersungkur di atas wajahnya."

Dalam riwayat yang lain yahbu (يحبو: merangkak) baru keluar dari neraka jahanam.

Tatkala dia keluar dia berkata:

تَبَارَكَ الَّذِي نَجَّانِي مِنْكِ لَقَدْ أَعْطَانِي اللَّهُ شَيْئًا مَا أَعْطَاهُ أَحَدًا مِنَ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ

"Sungguh, Maha Suci Allāh yang telah menyelamatkan aku dari engkau wahai neraka. Sungguh, Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah memberikan kepadaku suatu kenikmatan yang tidak pernah Allāh berikan kepada seorangpun, al-awwalīn wal ākhirīn, seorangpun tidak pernah diberikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Sungguh bahagia tatkala dia diselamatkan dari neraka jahanam.

Lalu Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan kepada dia:

"Pergilah engkau dan masuklah engkau ke dalam surga."

Maka dihayalkan bagi dia ternyata surga sudah penuh.

Ini hayalan dia.

Maka dia mengatakan: "Ya Allāh, aku dapati surga sudah penuh."

Padahal belum penuh karena surga sangat luas.

Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkata kepada dia:

"Bagi engkau dunia dan 10 kali lipatnya."

Jadi orang ini adalah orang yang paling rendah di surga , kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

"Ini adalah orang yang paling rendah kedudukannya di surga.

(HR. Bukhari no. 6571, 7511 dan Muslim no. 186, dari Ibnu Mas'ūd radhiyallāhu Ta'āla 'anhu)

Maka ternyata dia mendapatkan kapling seluas bumi dan 10 kali lipat, jadi 11 kali lipat dunia ini.

Sungguh luas kapling yang dia dapatkan. Ini penghuni surga yang paling rendah, bagaimana yang lebih tinggi lagi?

Oleh karenanya ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Surga sangatlah luas. Kalau seorang yang paling rendah dia mendapatkan kapling seluas 11 kali lipat dunia, maka sungguh luar biasa.

Kita bayangkan, tidak usah jauh-jauh kalau dia menjadi penguasa Banjarmasin saja berarti dia sudah hebat, apalagi misalnya dia penguasa Jakarta.

Semuanya tunduk sama dia, semua kapling milik dia, dia bahagianya luar biasa.

Bagaimana kalau penguasa Indonesia?

Bagaimana lagi kalau menjadi Raja Saudi?

Bagaimana tidak bahagia?

Bagaimana lagi kalau raja dunia? Seluruh dunia ini milik dia.

Ini bagaimana lagi kalau sepuluh kali lipat dunia?

Kapling/kerajaannya 10 kali kali lipat dunia, 11 kali kali lipat dunia. Dan tatkala kita mengatakan kapling yang dia miliki 11 kali lipat dunia luasnya, bukan berarti tanah kosong , tidak berisi tidak ada kenikmatan, tidak.

Maksud kita adalah 11 kali lipat dunia luas kaplingannya dan berisi dengan kenikmatan, panorama yang indah, pemandangan yang menyejukkan pandangannya, kelezatan - kelezatan, 11 kali lipat dunia!

Oleh karenanya ini adalah kenikmatan yang luar biasa yang Allāh berikan kepada penghuni surga.

Karenanya, tatkala kita mengetahui surga sangat luas dan penghuni surga paling rendah luar biasa kaplingannya seperti itu, maka kita harus bersemangat untuk masuk surga.

Tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberi motivasi kepada para shahābat dalam perang Badar.

Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

قُومُوا إِلَى جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ. جَنَّةٌعَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ؟ قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : بَخٍ بَخٍ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا يَحْمِلُكَ عَلَى قَوْلِكَ : بَخٍ بَخٍ ؟ قَالَ : لا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلا رَجَاءَ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا ، قَالَ : " فَإِنَّكَ مِنْ أَهْلِهَا " , فَأَخْرَجَ تَمَرَاتٍ مِنْ قَرْنِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ مِنْهُنَّ ، ثُمَّ قَالَ : أَئِنْ أَنَا حَيِيتُ حَتَّى آكُلَ تَمَرَاتِي هَذِهِ إِنَّهَا لَحَيَاةٌ طَوِيلَةٌ ، قَالَ : فَرَمَى بِمَا كَانَ مَعَهُ مِنَ التَّمْرِ ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ .

"Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi."

Maka ada seorang shahābat bernama 'Umair bin Humam Al-Anshāriy radhiyallāhu 'anhu, dia berkata:

Ya Rasūlullāh, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?"

Kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassallam: "Ya"

Maka dia mengatakan: "Bakhin bakhin."

⇒Bakhin bakhin dalam bahasa arab artinya ungkapan untuk menunjukkan kekaguman, seakan-akan dia berkata: "Wow , hebat!"

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata, "Wahai Umayr, apa yang membuat engkau berucap "bakhin bakhin"?"

Kenapa kau kagum, apa yang kau ucapkan menunjukkan engkau takjub.

Kata Umayr bin Humam radiyallahu 'anhu:

"Tidak ada apa-apa ya Rasūlullāh, kecuali hanya aku berharap aku termasuk dari penghuni surga yang luasnya seluas langit dan bumi."

Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Sesungguhnya engkau termasuk penghuni surga."

Maka tatkala dia mendengar vonis dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya dia termasuk penghuni surga , maka diapun mengeluarkan kurmanya. Maka diapun mulai makan dari butiran-butiran kurma dia tersebut.

Kemudian dia berkata:

"Kalau saya harus hidup sampai selesai makan dari kurma ini seluruhnya, maka ini kehidupan yang sangat panjang."

Maka diapun lempar kurmanya, maka diapun segera masuk ke dalam medan pertempuran, akhirnya beliau mati syahid, rahiyallahu Ta'ala anhu.

(HR. Muslim, dari shahābat Anas bin Mālik)

Dan ini menunjukkan bagaimana semangat para shahābat untuk segera masuk surga.

Oleh karenanya ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Jangan terperdaya dengan dunia ini, dunia ini sempit, kemudian kenikmatan yang ada terbatas. Betapapun kenikmatan yang anda lihat, maka itu sangat rendah dibandingkan dengan surga.

Kalau di surga anda menjadi penghuni surga yang paling rendah, minimal anda mendapatkan 11 kali lipat dunia atau 10 kali lipat dunia berisi dengan kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata anda, tidak pernah di dengar oleh telinga anda, bahkan tidak pernah terbetik dalam benak anda.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan kita orang - orang yang bersemangat untuk menuju surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan meraih keridha-anNya.

و صلى الله على نينا محمد و على آله وصحبه وسلم
➖➖➖➖➖
Bismillāhirrahmānirrahīm

Program Tebar Qurban Cinta Sedekah kami tutup hari ini Senin, 30 Dzulqo'dah 1436 H.
Dan kepada shahibul qurban kami mengucapkan  jazākumullāhu khairan,  semoga Allāh Subhānahu wa Ta'ala menerima amalan antum serta memberkahi harta atum.

Data  Tebar Qurban Cinta Sedekah
⏰Update 30 Dzulqa'dah 1436H

Paket Sapi A = 4 ekor
Paket Sapi B = 3 ekor

Paket Kambing A = 46 ekor
Paket Kambing B = 14 ekor
Paket Kambing C = 5 ekor

Jumlah
Sapi 7 ekor
Kambing 65 ekor

�� Untuk data shahibul qurban  http://goo.gl/iLE2UN
➖➖➖➖➖➖➖➖➖