Selasa, 15 September 2015

Kalimat indah dari Dr. 'Aidh Al-Qarni:

Kalimat indah dari Dr. 'Aidh Al-Qarni:
نحن لا نملك تغییر الماضي
Kita tidak bisa mengubah yang telah terjadi.
و لا رسم المستقبل
Juga tidak bisa menggariskan masa depan.
فلماذا نقتل انفسنا حسرة
Lalu mengapa membunuh diri kita dengan penyesalan,
على شيئ لا نستطیع تغییره؟
atas apa yang sudah tidak bisa kita ubah?
الحیاه قصیرة كثيرة
Hidup itu singkat sementara targetnya banyak.
فانظر الى السحاب و لا تنظر الى التراب
Maka tataplah awan dan jangan lihat ke tanah .
اذا ضاقت بك الدروب فعلیك بعلام الغیوب و قل الحمدلله على كل شيئ
Apabila anda merasa jalan sudah makin sempit, kembalilah kepada Allah yang Maha Mengetahui hal yang gaib...
Dan ucapkan alhamdulillah (bersyukur) atas apa apa yg tlh qta miliki (qona'ah) maka anda akan merasa cukup.
سفينة (تايتنك) بناها مئات الاشخاص
Kapal Titanic dibuat oleh ratusan orang.
وسفينة ( نوح ) بناها شخص واحد
Sedangkan kapal nabi Nuh dibuat hanya oleh satu orang.
الأولى غرقت والثانية حملت البشرية
Tetapi, Titanic tenggelam. Sedangkan kapal Nabi Nuh menyelamatkan umat manusia.
التوفيق من الله سبحانه وتعالى
Taufik hanya dari Allah swt.
نحن لسنا السكان الأصليين لهذا الكوكب الأرض بل نحن ننتمي إلى الجنّة
Kita bukanlah penduduk asli bumi, asal kita adalah surga.
حيث كان أبونا أدم يسكن في البداية لكننا نزلنا هنا مؤقتاً لكي نؤدّي اختبارا قصيرا ثم نرجع بسرعة
Tempat, dimana org tua kita, Adam, tinggal pertama kali...
Kita tinggal di sini hanya untuk sementara. Untuk mengikuti ujian lalu segera kembali.
فحاول أن تعمل ما بوسعك لتلحق بقافلة الصالحين التي ستعود إلى وطننا الجميل الواسع و لا تضيع وقتك في هذا الكوكب الصغير
Maka berusahalah semampumu, untuk mengejar kafilah orang-orang shalih, yang akan kembali ke tanah air yang sangat luas, di akhirat sana...
Jangan sia-siakan waktumu di planet kecil ini!
الفراق: ليَس السفِر، ولا فراق الحب، حتىّ الموت ليس فراقاْ سنجتمَع في الآخره الفراق هو: أن يكون أحدنا في الجنه والآخر في النار
Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan yang jauh
Atau karena ditinggal orang tercinta...
Bahkan, kematian pun bukanlah perpisahan, sebab kita akan bertemu lagi di akhirat Perpisahan adalah ketika satu diantara kita masuk surga, sedang yang lainnya terjerembab ke neraka.
جعلني ربي واياكمَ من سكان جنته
Semoga Allah menjadikan aku dan kita semua menjadi penghuni surgaNya.

Saudi yang dicaci Saudi yang baik hati

Intermezo siang :

✏✏✏ Saudi yang dicaci Saudi yang baik hati

✒✒Arab Saudi, banyak orang di negeri ini yang menjuluki negeri "Wahabi". Bahkan gerakan "Anti-Arab" pun akhir-akhir ini marak di negeri ini dan yang "Berbau Arab" ramai-ramai berusaha diganti dengan istilah "Nusantara".

"Wahabi" - "Onta" - "Arab" pun jadi sasaran bully dan caci maki.

Tapi, ternyata betapa mulianya Raja "Wahabi" Arab Saudi:

(1) Menghormati tamu "Nusantara" dengan penghormatan luar biasa

"Kehangatan pemerintah Kerajaan Arab Saudi saat menyambut kedatangan saya dan rombongan, jamuan makan siang kenegaraan merupakan penghormatan paripurna kepada bangsa Indonesia." Tulis Presiden Joko Widodo di laman facebooknya (12/9/2015).

(2) Memberi anugerah Medali Kehormatan

"Penganugerahan Star of the Order of King Abdulaziz Al-Saud Medal dari Kerajaan Arab Saudi kepada saya merupakan apresiasi yang luar biasa bagi persahabatan dua bangsa, dua negara. Saya merasa terhormat, sebab penghargaan tertinggi tersebut pernah diberikan pada Presiden Obama, Perdana Menteri Cameron dan Shinzo Abe." Kata Presiden Joko Widodo, ditulis di laman resmi facebooknya itu.

(3) Memberi Tambahan Kuota Haji

Permintaan Jokowi Dikabulkan Raja Saudi, Kuota Haji Ditambah

Indonesia dipastikan mendapatkan tambahkan kuota haji. Permintaan penambahan kuota haji yang disampaikan Presiden Joko Widodo di Jeddah, Arab Saudi, pada Sabtu 12 September 2015 diterima oleh Raja Arab Saudi. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi memberikan kuota haji tambahan untuk Indonesia sebanyak 10.000 orang.

(http://m.news.viva.co.id/news/read/673423-permintaan-jokowi-dikabulkan-raja-saudi--kuota-haji-ditambah)

(4) Membantu Kebutuhan Pembangunan Indonesia

APBN Tak Cukup, Jokowi Minta Arab Saudi Danai Proyek Infrastruktur

Presiden RI Joko Widodo mengakui anggaran pemerintah tak cukup untuk mendanai beragam proyek infrastruktur yang kini sedang digeber pemerintahahannya. Untuk itu, Jokowi meminta partisipasi investor Arab Saudi agar dapat terlibat menanamkan modalnya mendanai proyek di Indonesia.

"Perlu saya sampaikan Indonesia saat ini berkonsentrasi pada pembangunan infrastruktur baik berupa 24 pelabuhan laut, 15 airport baru, jalan tol 1.000 km, jalan antarprovinsi 2.600 km, dam ada 49 dan pembangkit listrik ada 35.000 MW dan juga kita kembangkan transportasi massal di 23 kota-kota besar, tentu anggaran belanja negara kita tidak cukupi bangun ini karena itu kita undang investor terutama dari saudara kami Saudi Arabia," kata Kepala Negara.

(http://ekonomi.rimanews.com/investasi/read/20150913/234021/APBN-Tak-Cukup-Jokowi-Minta-Arab-Saudi-Danai-Proyek-Infrastruktur)

***

Nah, jadi... Tirulah Wahabi, walau dicaci maki tapi tetap hormati tamu, kasih medali, kasih tambahan kuota haji, plus kasih utangan membantu pembangunan. Kurang baek apalagi coba.

Makanya kalo ente ditereakin "Wahabi!" "Onta Arab!", jangan pada sensi. Barangkali mereka pengen pinjem utang atau perlu bantuan :)

Copas dari WA MULTAQOD DUAT

Senin, 14 September 2015

INSPIRASI!!!

Romantis Itu....

Oleh : Ustadz Zainal Abidin. Lc

�� INSPIRASI!!! ��

�� _Seorang ibu setengah baya pd sebuah pengajian rutin bertanya kpd ustadnya; "Ustad bgmn membangun romantisme dlm keluarga" pertanyaan yg membuat keringat sang ustad mengalir deras....namun tetap mencoba menjawab;

✅_Romantisme itu....

Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang.. bangun.. saatnya shalat.” 

Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.

✅_Romantis itu…

Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang..” 

Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; dan itu lebih baik dari dunia dan seisinya.

✅_Romantis itu…

Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang... kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”

✅_Romantis itu…

Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”

✅_Romantis itu…

Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. 

“Apapun makanan di rumah makan, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”

✅_Romantis itu…

Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.

✅_Romantis itu…

Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai senyuman. Bertemu saling mendoakan. Istri mencium tangan suami, dan suami mengecup kening istri lalu saling mengecup pipi kanan dan kiri bergantian.

✅_Romantis itu…

Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang melayang.

✅_Romantis itu…

Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menunya sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.

✅_Romantis itu…

Ketika suami istri kompak mengajar anaknya mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggung jawab untuk mencetak generasi Rabbani. 

Kelak, merekalah yang akan mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.

✅_Romantis itu…

Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah. Untuk mengaji, atau aktifitas da'wah. Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya...,

بارك الله فيكم

✏ Ustadz Zainal Abidin, Lc

SAHABAT SETIA

�� SAHABAT SETIA

Abû ath-Thayyib Ash-Sho'lûkî (w. 404 H), pernah berkata :

"إذا كان رضى الخلق معسوراً لايدرك، كان رضى الله ميسوراً لا ُيترك،
إنا نحتاج إلى إخوان العُشرة  لوقت العُسرة"

"Apabila ridha makhluk itu suatu hal yang sulit tidak dapat diraih, maka ridha Allâh itu adalah suatu hal yang mudah yang tdk boleh ditinggalkan.
Sesungguhnya, kami butuh kepada saudara² yang bersahabat di waktu yang sulit."

Karena itulah, salah seorang salaf dahulu pernah mengatakan :

مودة الصديق تظهر وقت الضيق
Kesetiaan sahabat itu akan tampak di saat kesulitan

خير الصديق من يدلك على الخير
Sebaik-baik sahabat adalah yang mengarahkanmu kepada kebaikan

ومن أعانك على الشر ظلمك
Dan seseorang  yang  menolongmu di dalam keburukan maka sejatinya dia telah menzhalimimu

Inilah sahabat setia...
صديقك من صدقك لا من صدّقك
Sahabatmu adalah yg berbuat benar kpd mu, bukan yg selalu membenarkanmu

Sahabat sejati itu,
1⃣ Yang dia menginginkan dirimu berada di sampingnya, agar bisa berjalan bersama.
2⃣ Yang dia tidak ingin kau berada di belakangnya, karena takut kau tertinggal.
3⃣ Yang dia tidak ingin kau berada di depannya, sampai dia yakin bahwa jalan di depanmu aman.
4⃣ Yang tahu sifat baikmu dan ia memuji dan memeliharanya.
5⃣ Yang tahu sifat burukmu, namun ia tetap menyayangimu dan meluruskanmu.
6⃣ Yang menemanimu  di kala senang dan susah
7⃣ Yang menolongmu di saat kau berbuat kebajikan, dan mencegahmu di saat berbuat keburukan
8⃣ Yang ucapannya di depan dan belakangmu tidak berbeda
9⃣ Yang senantiasa mengharapkan kebaikan bagimu sebagaimana dia mengharapkan kebaikan untuk dirinya sendiri

����������������������

✏ Oleh: Ust. Abu Salma Muhammad hafidzahullah

�� @abinyasalma

---------------------
♻ Silsilah nasihat ke - 107
�� Broadcast WA Dakwah Jalyat Unaiza_Indo
�� Ikuti di no: +966509273346

SEPUTAR HUKUM QURBAN / UDHHIYAH FIQIH QURBAN

Taushiyah ke 209, Ahad 29 Dzulqa'dah 1436 / 13 September 2015

SEPUTAR HUKUM QURBAN / UDHHIYAH
FIQIH QURBAN

Oleh: Abdullah Saleh Hadrami

Definisi

Udhhiyah / Qurban adalah hewan yang disembelih pada hari Idul Adha (10 Dzulhijjah) sampai akhir hari- hari Tasyriq (13 Dzulhijjah) dengan tujuan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah .

Hukum Berqurban

Allah Ta’aala mensyariatkan berqurban dalam firmanNya:
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berqurbanlah. ”
(QS. Al-Kautsar: 2).

Hukumnya adalah sunnah muakkadah bagi yang mampu, sebagaimana Nabi Muhammad –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam berqurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Hewan Yang Diqurbankan

Hewan yang dikurbankan adalah unta, sapi dan kambing dan hendaklah telah berumur minimal:
Unta 5 tahun, Sapi 2 tahun dan Kambing 1 tahun. Para Ulama membolehkan kambing kibas (domba) yang telah berumur 6 bulan asal gemuk dan sehat.

Hendaklah Hewan Qurban Tidak Cacat

Hewan itu harus sehat tidak memiliki cacat, sebab Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda :
“Empat cacat yang tidak mencukupi dalam berqurban: Buta yang jelas, sakit yang nyata, pincang yang sampai kelihatan tulang rusuknya (pincang yang nyata) dan yang kurus sekali . ”
(HR. At-Tirmidzi dll).

Waktu Penyembelihan

Waktu penyembelihan dimulai setelah shalat Idul Adha usai dan berakhir saat tenggelam Matahari akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah).

Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda : “Siapa yang menyembelih sebelum shalat (ied) maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan siapa menyembelih setelah shalat dan khutbah maka sungguh ia telah menyempurnakan qurbannya dan sesuai dengan sunnah.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Juga sabda beliau –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari makan dan minum dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim).

Penyembelihan Qurban

Disunnahkan bagi yang bisa menyembelih agar menyembelih sendiri. Adapun doa yang dibaca saat menyembelih adalah :

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلاَن (……) بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر

“Dengan menyebut nama Allah dan Allah Maha Besar, Yaa Allah ini adalah (qurban) dari si fulan ………(dengan meyebut namanya). Bismillahi Wallahu Akbar.”

Sebagaimana Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam ketika menyembelih qurban, beliau membaca :

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذَا عَنِّي وَعَنْ مَنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

“Dengan menyebut nama Allah dan Allah Maha Besar, Yaa Allah ini adalah (qurban) dariku dan dari siapa yang belum berqurban dari umatku.”(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Sedangkan orang yang tidak bisa menyembelih sendiri hendaklah menyaksikan dan menghadirinya (ketika proses penyembelihan). Seandainya tidak menyaksikan juga tidak mengapa.

Pembagian Daging Qurban

Allah Ta’aala berfirman: “Maka makanlah sebagiannya (dan sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang sengsara lagi fakir.”
(QS. Al-Hajj: 28)

“Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta ) dan orang yang meminta.”
(QS. Al-Hajj: 36).

Berdasarkan kedua ayat tersebut sebagaian Salafush Shaleh lebih menyukai membagi qurban menjadi tiga bagian; sepertiga untuk diri sendiri, sepertiga hadiah untuk orang-orang mampu dan sepertiga lagi shodaqoh untuk fuqara.

--- bersambung ---

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang

Infaq kegiatan dakwah MTDHK bisa disalurkan melalui rekening a/n Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah;

BSM No: 7755555511
BNI No: 0362755494

Semoga Allah beri ganti dengan yang lebih baik dan barokah di dunia dan akhirat.

☝️Kegiatan dakwah dan laporan keuangan ada di website kami www.mtdhk.com.

Untuk berlangganan WA Taushiyah MTDHK ketik "GABUNG" kirim WA (bukan SMS) ke +6283848634832 (Anggota lama tidak perlu mendaftar lagi)

Silahkan disebarkan kiriman ini sebagaimana aslinya tanpa dirubah sedikitpun, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah.. Jazakumulloh khoiro.

Dahsyatnya Dosa Jariyah

������ Dahsyatnya Dosa Jariyah

✒️ Ustadz Oemar Mita Lc

Tahukah kita bahwa diantara ragam dosa dan kemaksiatan, ada dosa yang senantiasa mengalir kepada pelakunya walaupun ia dalam tidur atau bahkan walopun ia sudah meninggal, tapi catatan keburukan dosa dan kemaksiatan masih mengalir ke padanya,- waliyadhu billahi

Ia mengalir layaknya air sungai yang terus mengalir hingga bermuara ke lautan, tak pernah mengering dan tak pernah berhenti, sehingga pelakunya terus mendapatkan siksa atas aliran dosa tersebut.

Inilah dosa yang begitu dahsyat siksanya, siksa pedih yang Alloh timpakan kepadanya berlipat ganda setimpal dengan dosa besar itu.

Inilah dosa jariyah (terus mengalir) yang harusnya setiap hamba Alloh mengetahuinya, bukan untuk mencontohkanya tapi mengetahuinya untuk menghindari musibah dosa itu, maka sebagaimana terdapat pahala jariyah dari anak-anak sholeh, ilmu yang bermanfaat dan shadaqoh jariyah,muncul pula dosa jariyah

Apa sajakah dosa-dosa jariyah itu

1⃣  Orang yang mempelopori perbuatan maksiat.

Mempelopori dalam arti dia melakukan perbuatan maksiat itu di hadapan orang lain, sehingga banyak orang yang mengikutinya. Meskipun dia sendiri tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.”
(HR. Muslim).

Pemikul dosa jariyah ini tak menyuruh orang untuk mencontohnya, tapi dengan ia terang-terangan melakukan kemaksiatan itu diantara keramaian manusia sudah mmbuka pintu dosa itu mengenai dirinya

Karena itulah, anak adam yang pertama kali membunuh, dia dilimpahi tanggung jawab atas semua kasus pembunuhan karena kedzaliman di alam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.”
(HR. Bukhari, Ibn Majah, dan yang lainnya).

Maka termasuk siapapun manusia yang dalam catatan kehidupanya ia memperlihatkan dari contoh-contoh dosa kepada masyarakat sekelilingnya atau kepada karib kerabatnya maka ia akan ditimpa dengan dosa dari orang-orang yang akan mencontoh perbuatan itu.

Sebagai contoh kasus, insan-insan tv media yang memperlihatkan program-program kemaksiatan,lalu kemaksiatan itu ditiru oleh setiap mata yang memandang dan dicontoh oleh mereka, maka aliran dosanya akan mengalir kepada insan yang mempertotonkan kemaksiatan tersebut

Iklan-iklan tv, sinetron yang mengumbar aurat, adegan pacaran yang dilarang serta seremonila mewah yang sarat dosa, maka aliran dosanya tidak terhenti yang mencontoh kemaksiatan itu tapi juga mengalir kepada yang memproduksi acara kemaksiatan itu,waliyadhu billahi

2⃣ Yang mengajarkan ajaran-ajaran sesat dari kesyirikan,kekufuran dan bidah

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.”
(HR. Muslim)

Dari untaian hadits diatas kita mengetahui secara jelas bahwa siapapun manusia yang menyeru kepada setiap kesyirikan, kekufuran dan deretan perilaku bidah maka penyeru atas semua itu mendapatkan limpahan dosa dari yang mengikuti itu semua

Maka semakin menyebar pemikiran sesat itu diantara manusia, maka semakin membanjiri dosa kepada penyerunya, dan semakin hal yang menyimpang menyeruak dianatara manusia akan menyeruak pula pundi-pundi pencetus penyimpangan tersebut,-nasaulullah assalamah wal afiyah

Sungguh tidak ada beban yang paling menyiksa di akherat kecuali adalah beban dosa ketika manusia kelak dihisab oleh Alloh,maka sangat tragis seorang manusia yang tak hanya membawa dosa ia sendiri tapi juga memikul dosa dari orang lain disebabkan dosa jariyah yang ia cetuskan

Semoga Alloh melindungi kita dari segala dosa-dosa jariyah dan menggantinya dengan pahala jariyah

Barokallah fikum
La tansana min duaikum
Jangan lupakan kami dalam doa kebaikanya
Oemar mita

���� Reposted by Group Kajian WA ISLAMADINA (08170071531 & 087782400868)

LURUSKAN DENGAN CARA YANG LURUS

�� BimbinganIslam.com
Sabtu, 28 Dzulqa'dah 1436 H / 12 September 2015 M
�� Materi Tematik | Luruskan Dengan Cara Yang Lurus
�� Ustadz 'Abdullāh Zaen, MA
�� Download Audio: https://www.dropbox.com/s/969cp2939cbddx7/ust.%20abdullah%20zein%20%28luruskan%20dg%20cara%20yg%20lurus%29%20.mp3?dl=0
�� Video Source: https://youtu.be/QZfop44jiAY
➖➖➖➖➖➖➖

LURUSKAN DENGAN CARA YANG LURUS

بسمــ اللّه الرحمنــ الرحيمـ‍ـ 
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد و على آله وصحبه أجمعين أما بعد

Meluruskan dengan cara yang lurus..

Membetulkan dengan cara yang betul..

Membenarkan dengan cara yang benar..

Ini salah satu etika yang amat disayangkan kurang diperhatikan oleh mereka yang ingin ber-amar ma'ruf dan nahi munkar.

Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah pernah menyampaikan nasehatnya:

لِيَكُنْ أَمْرُك بِالْمَعْرُوفِ مَعْرُوْفًا وَلاَ يَكُنْ نَهْيُك عَنْ الْمُنْكَرِ مُنْكَرًا

"Hendaklah engkau ber-amar ma'ruf dengan cara yang ma'ruf dan jangan sampai engkau ber-nahi munkar dengan cara yang mungkar."

Ber-amar ma'ruf, memerintahkan kepada yang baik, bagus tidak ?

Bagus !

Nahi munkar, mencegah dari yang mungkar, bagus tidak ?

Bagus !

Tapi..

CARA-nya perlu diperhatikan.

Jangan sampai kita menyuruh kepada yang baik tetapi caranya tidak baik.

Dan juga jangan sampai kita mencegah dari kemungkaran tapi justru caranya juga mungkar.

Inilah fiqih amar ma'ruf nahi munkar.

Kita perlu ber-amar ma'ruf dan harus bahkan ber-nahi munkar, tetapi kita harus memperhatikan caranya.

Syaikhul Islām, tidak cukup sampai hanya sekedar memberikan teori, tetapi beliau mempraktekkannya.

Pernah suatu saat beliau berjalan beserta murid-muridnya.

Ketika memulai berjalan, beliau melewati segerombolan orang-orang Qatar yang sedang asyik mabuk-mabukan.

Kemudian Syaikhul Islām lewat begitu saja tanpa ber-amar ma'ruf atau ber-nahi munkar, tanpa mencegah (mengingkari) perbuatan-perbuatan mungkar tersebut (minum minuman keras, mabuk-mabukan)..mungkar!

Setelah lewat, murid-muridnya bertanya:

"Wahai guru, bukankah engkau melihat adanya kemungkaran tadi?"

Syaikh: "Ya saya melihat."

Murid: "Bukankah itu kemungkaran?"

Syaikh: "Betul, itu kemungkaran."

Murid: "Terus kenapa engkau tidak ingkari? Bukankah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ

"Barangsiapa yang melihat kemungkaran hendaklah dia merubahnya."

(HR. Muslim no. 49 dari Abū Sa'īd Al-Khudriy)

Bukankah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan seperti itu?"

Apa kata Syaikhul Islām-seorang yang bijak ?

Beliau mengatakan:

"Wahai murid-muridku, mereka sedang mabuk-mabukan, mereka sedang minum minuman keras dalam keadaan tidak sadar.

Kira-kira kalau misalnya saya tegur mereka, saya larang mereka saat itu juga..

Apa kira-kira yang akan timbul?

Mereka akan marah..

Terus kalau mereka marah, mereka akan ngapain ?

Kalau mereka marah, ketahuilah wahai murid-muridku, mereka akan membunuhi kaum Muslimin."

Lalu kata beliau: "Nah, murid-muridku, lebih parah mana kemungkaran antara mabuk-mabukan yang itu kaitannya dengan mereka dengan membunuh yang kaitannya nyawa, lebih munkar mana?"

Sang muridpun mereka berpikir, duduk terpekur sambil berkata:

"Ya jelas, wahai guru, yang lebih mungkar adalah membunuh."

Nah !

Kata Syaikhul Islām:

"Jangan sampai kita itu ber-nahi munkar mencegah kemungkaran kemudian menimbulkan kemungkaran yang lebih besar."

Ini adalah pelajaran yang sangat berharga yang diajarkan oleh salah seorang ulama Islam yang sangat tersohor, Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Maka sebelum anda ber-amar ma'ruf nahi munkar, perhatikan cara anda..

Jadikanlah amar ma'ruf anda dengan cara yang ma'ruf..

Dan jangan sampai nahi munkar anda dengan cara yang mungkar.

Selamat mencoba !

والله تعالى أعلم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________________
♻ PROGRAM TEBAR QURBAN
CINTA SEDEKAH dan Group Bimbingan Islam

▪Paket Sapi A 19.250.000
Untuk 7 orang @Rp. 2.750.000
▪Paket Sapi B 15.750.000
Untuk 7 Orang @Rp. 2.250.000
▪Kambing A Rp. 2.500.000
▪Kambing B Rp. 2.300.000
▪Kambing C Rp. 2.100.000

SALURKAN Qurban anda melalui:
�� Rek. Bank Muamalat
Cab. Cibubur No Rek 3310004579
a.n. Cinta Sedekah

�� Konfirmasi
SMS ke 0878 8145 8000
Dengan format: Nama#Domisili#PaketQurban#JumlahTransfer
Contoh:
Musa#Yogyakarta#2 Paket Kambing A#5.000.000
Isa#Solo#1/7 Paket Sapi B#2.250.000

�� www.cintasedekah.org
�� Fb: Cinta Sedekah

SHALAT DAN WAKTU SHALAT FARDHU

�� BimbinganIslam.com
Jum'at, 27 Dzulqa'dah 1436 / 11 September 2015
�� Ustadz Fauzan ST, MA
�� Matan Abū Syujā' | Kitāb Shalāt
�� Kajian 30 | Pengertian Shalāt Dan Waktu Shalāt Fardhu
⬇ Download audio:
https://drive.google.com/file/d/0B1e0BM9z9hzYOEdsc2xFX21PU1k/view?usp=docslist_api
➖➖➖➖➖➖➖

SHALAT DAN WAKTU SHALAT FARDHU

بسمــ اللّه الرحمنــ الرحيمـ‍ـ 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد

Para Sahabat Bimbingan Islam yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Pada halaqah yang ke-30 ini kita akan memasuki pembahasan di dalam Fiqh Shalāt dalam Kitāb Matan Abū Syujā'.

قال المصنف:
((كتاب الصلاة))

((Pembahasan Kitāb Shalāt))

■ Shalāt secara bahasa adalah اَلدُّعَاءُ (do'a).

Firman Allāh Ta'āla:

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ 

"Dan do'akanlah mereka (karena) sesungguhnya do'amu membuat mereka tenang."

(At-Taubah 103)

Kemudian dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim:

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ, فإن كان صائما فليصل 

"Apabila salah seorang dari kalian diundang (maksudnya diundang makan) maka datangilah, apabila dia berpuasa do'akanlah."

Di dalam kamus, makna shalāt, selain juga dia maknanya adalah do'a, ada makna yang lain yaitu:

• rahmah
• istighfar (mohon ampun)
• ujian Allāh kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Maka ini tergantung kepada konteks dari kalimat yang ada pada kalimat shalāt (maknanya sesuai dengan konteks kalimatnya).

■ Shalāt secara istilah adalah:

أقوال وأفعال مخصوصة مفتتحة بالتكبير ومختتمة بالتسليم

"Perkataan dan perbuatan yang khusus (sudah diatur tata caranya di dalam syari'at), yang dibuka dengan takbir dan ditutup dengan salam."

Kemudian disini, Mushannif memulai pembahasan yang pertama yaitu tentang waktu shalat.

قال المصنف:
((الصلوات المفروضة خمس))  

((Shalāt yang wajib ada 5 waktu))

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

"Sesungguhnya waktu-waktu shalāt itu sudah ditetapkan bagi orang-orang yang beriman."

(An-Nisā 103)

Di dalam hadīts Isrā dan Mi'rāj yang cukup panjang, disana dijelaskan tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam Isrā dan Mi'rāj Beliau berkata :

فَفَرَضَ اللّه عَلَى أُمَّتِيْ خَمْسِينَ صَلَاةً 

"Maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla mewajibkan shalāt atas umatku 50 waktu shalāt."

Kemudian sampai pada sabda Beliau:

فَرَاجَعْتُهُ فَقَالَ هِيَ خَمْسٌ وَهِيَ خَمْسُونَ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ

Tatkala Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam meminta keringanan kepada Allāh sampai Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengubah dari 50 waktu shalāt menjadi 5 waktu shalāt.

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun masih kembali untuk meminta keringanan.

Maka kata Beliau:

فَرَاجَعْتُهُ

"Maka sayapun kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Maka Allāh Ta'āla berfirman:

هِيَ خَمْسٌ وَهِيَ خَمْسُونَ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ

"Dia adalah 5 waktu shalāt akan tetapi pahalanya sama dengan 50 waktu shalāt. Keputusan tersebut tidak berubah lagi di sisiKu."

(HR. Bukhāri dan Muslim)

Kemudian disini Penulis memulai dari penjelasan waktu shalāt Zhuhur.

قال المصنف:
((الظهر وأول وقتها زوال وقتها زوال الشمس وآخره إذا صار ظل كل شيء مثله بعد ظل الزوال))

((Shalāt Zhuhur awal waktunya adalah tatkala tergelincirnya matahari dan batas akhirnya adalah tatkala panjang bayangan sama seperti aslinya-setelah tergelincir matahari))

Dalilnya adalah salah satu hadīts yang menjadi pegangan didalam waktu-waktu shalāt.

Hadīts dari Abū Mūsā Al-Asy'ariy yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menjelaskan tentang waktu-waktu shalāt secara keseluruhan.

َعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّهُ أَتَاهُ سَائِلٌ يَسْأَلُهُ عَنْ مَوَاقِيت الصَّلَاةِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا

Dari Abū Mūsā Al-Asy'ari, dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya datang seseorang yang bertanya kepada Beliau tentang waktu-waktu shalāt, namun Beliau tidak menjawab sedikitpun.

فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ انْشَقَّ الْفَجْرُ وَالنَّاسُ لَا يَكَادُونَ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْض

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun keesokan harinya menunaikan shalāt Fajr manakala Fajr terbelah (manakala datang waktu Fajr).

Dan masing-masing orang pada saat itu tidak mengetahui satu sama lain karena masih gelap.

Karena pada saat itu tidak ada lampu dan juga di sini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ingin menjawab pertanyaan orang tersebut tentang waktu-waktu shalāt dengan praktek.

ثم أمره فاقام بالظهر حين زَالَتْ الشَّمْسُ وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدْ انْتَصَفَ النَّهَارُ وَهُوَ كَانَ أَعْلَمَ مِنْهُمْ

Kemudian, Beliau pun memerintahkan dan Beliau melaksanakan shalāt Zhuhur pada saat matahari mulai tergelincir.

Dan orang yang berkata, dia mengatakan bahwasanya hari sudah pertengahan (tengah hari) dan dia adalah orang yang paling mengetahui waktu di antara mereka.

ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْعَصْرِ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ

Kemudian Beliaupun memerintahkannya untuk menegakkan shalāt 'Ashar.

Dan Beliau melaksanakan shalāt 'Ashar sementara matahari masih tinggi.

ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْمَغْرِبِ حِينَ وَقَعَتْ الشَّمْس

Kemudian Beliau memerintahkannya dan menunaikan shalāt Maghrib pada saat matahari mulai jatuh (mulai tenggelam).

ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ

Kemudian Beliaupun memerintahkan dan menunaikan shalāt 'Isyā' pada saat syafaq telah hilang (syafaq adalah warna kemerahan yang ada di langit).

ثُمَّ أَخَّرَ الْفَجْرَ مِنْ الْغَدِ حَتَّى انْصَرَفَ مِنْهَا وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدْ طَلَعَتْ الشَّمْسُ أَوْ كَادَتْ

Kemudian Beliau pada keesokan harinya mengakhirkan shalāt Fajr dan manakala Beliau meninggalkan mereka, seseorang berkata:

"Telah terbit matahari atau hampir terbit matahari".

ثُمَّ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى كَانَ قَرِيبًا مِنْ وَقْتِ الْعَصْرِ بِالْأَمْسِ

Kemudian Beliau mengakhirkan shalāt Zhuhur sampai waktu dekat dengan waktu 'Ashar yang dilakukan pada hari yang kemarin.

ثُمَّ أَخَّرَ الْعَصْرَ حَتَّى انْصَرَفَ مِنْهَا وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدْ احْمَرَّتْ الشَّمْس

Kemudian Beliau mengakhirkan waktu 'Ashar sampai tatkala Beliau meninggalkan mereka, orang-orangpun mengatakan (ada yang berkata):

"Matahari telah kemerah-merahan."

ثُمَّ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى كَانَ عِنْدَ سقوطِ الشَّفقِ

Kemudian mengakhirkan shalāt Maghrīb sampai syafaq mulai hilang.

ثم أخَّرَ العِشاءَ حتى كان ثُلُثُ اللَّيلِ الأوَّلُ

Kemudian Beliau mengakhirkan shalāt 'Isyā' sampai akhir dari sepertiga malam yang pertama.

ثم أصبح فدَعَا السائلَ، فقال: الوقتُ بين هذَينِ

Kemudian Beliaupun keesokan harinya memanggil orang yang bertanya tadi maka Beliau bersabda bahwasanya waktu shalāt adalah antara 2 waktu tadi.

Inilah yang bisa kita sampaikan pada pertemuan kali ini.

Dan in syā Allāh akan dilanjutkan dengan waktu-waktu shalāt dan beberapa catatan pada pertemuan berikutnya, bi idznillāh.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
و آخر دعونا عن الحمد لله رب العالمين
__________________________
♻ PROGRAM TEBAR QURBAN
CINTA SEDEKAH dan Group Bimbingan Islam

▪Paket Sapi A 19.250.000
Untuk 7 orang @Rp. 2.750.000
▪Paket Sapi B 15.750.000
Untuk 7 Orang @Rp. 2.250.000
▪Kambing A Rp. 2.500.000
▪Kambing B Rp. 2.300.000
▪Kambing C Rp. 2.100.000

SALURKAN Qurban anda melalui:
�� Rek. Bank Muamalat
Cab. Cibubur No Rek 3310004579
a.n. Cinta Sedekah

�� Konfirmasi
SMS ke 0878 8145 8000
Dengan format: Nama#Domisili#PaketQurban#JumlahTransfer
Contoh:
Musa#Yogyakarta#2 Paket Kambing A#5.000.000
Isa#Solo#1/7 Paket Sapi B#2.250.000

�� www.cintasedekah.org
�� Fb: Cinta Sedekah

YA'JŪJ DAN MA'JŪJ (BAGIAN 2)

�� BimbinganIslam.com
Kamis, 26 Dzulqa'dah 1436 H / 10 September 2015 M
�� Ustadz Abdullāh Roy, MA
�� Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
�� Halaqah 21 | Ya'jūj dan Ma'jūj (bagian 2)
⬇ Download Audio
https://drive.google.com/file/d/0B1e0BM9z9hzYdmlCeWtJcS1sY2s/view?usp=docslist_api
~~~~~~~~~~~~~~~

YA'JŪJ DAN MA'JŪJ (BAGIAN 2)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-21 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang "Ya'jūj dan Ma'jūj bagian yang ke-2."

Ya'jūj dan Ma'jūj keluar setelah binasanya Dajjāl.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mewahyukan kepada Nabi 'Īsā 'alayhissalām:

إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لَا يدَان لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ ، فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ

“Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hambaKu (yaitu Ya'jūj dan Ma'jūj) yang tidak seorang pun bisa melawan mereka.

Maka kumpulkanlah hamba-hambaKu (yaitu kaum muslimin) ke gunung Thūr.”

(HR. Muslim )

Jumlah mereka sangat banyak.

Ketika orang-orang yang ada di bagian depan melewati sebuah sungai dan meminumnya maka yang berada di akhir tidak mendapatkan air tersebut dan mengatakan:

"Dahulu di sini ada airnya." (HR. Muslim)

Manusia lari dari Ya'jūj dan Ma'jūj dan bersembunyi di benteng-benteng mereka.

Setelah banyak membuat kerusakan di muka bumi maka Ya'jūj dan Ma'jūj berkata:

"Kita telah membunuh penduduk bumi maka marilah kita  membunuh penduduk langit."

Mereka pun mengarahkan anak panah mereka ke langit, kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengembalikan anak panah mereka tersebut ke bumi dalam keadaan berlumuran darah.

Mereka pun mengatakan:

"Kita telah mengalahkan penduduk langit."

(Hadits shahīh, riwayat Tirmidzi dan Ibnu Mājah)

Ya'jūj dan Ma'jūj mengepung Nabi 'Īsā 'alayhissalām salam dan para sahabatnya di gunung Thūr.

Akhirnya beliau berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka Allāh menurunkan ulat di leher-leher Ya'jūj dan Ma'jūj, meninggal lah mereka dalam satu waktu.

Kemudian turunlah Nabi 'Īsā 'alayhissalām dan pengikutnya dan mereka tidak mendapatkan satu jengkal tanah kecuali di situ ada bangkai Ya'jūj dan Ma'jūj.

Mereka pun meminta kepada Allāh supaya Allāh Subhānahu wa Ta'āla membersihkan.

Akhirnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengirimkan burung yang membawa bangkai-bangkai mereka.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla menurunkan hujan yang membersihkan bumi.

(Hadits shahīh, riwayat Muslim)

Dalam hadits shahīh yang lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Mājah, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :

“Kaum muslimin akan menggunakan bekas busur, anak panah dan tameng kayu Ya'jūj dan Ma'jūj sebagai kayu bakar selama tujuh tahun.”

Ini menunjukkan banyaknya jumlah Ya'jūj dan juga Ma'jūj.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

'Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Ditranskrip oleh:
Tim Transkrip BiAS
➖➖➖➖➖➖➖

bolehkah seorang wanita menawarkan dirinya kepada lelaki untuk menikahinya?

Ustadz, bolehkah seorang wanita menawarkan dirinya kepada lelaki untuk menikahinya?? Syukron

Jawab: Al-Imam Al-Bukhari dalam shahihnya, "Kitaabun Nikaah", meletakkan satu bab khusus yang berjudul:

باب عرض المرءة نفسها على الرجل الصالح

"Bab Seorang Wanita Menawarkan Dirinya Kepada Lelaki yang Shaalih"

Judul bab yang diletakkan oleh Al-Imam Al-Bukhari di atas bukanlah sembarang judul. Akan tetapi itu merupakan cerminan fiqh (pemahaman) beliau setelah menelaah berbagai riwayat secara ilmiyyah. 

Kemudian beliau menyampaikan riwayat Sa’iid Al-Bunaani, ia berkata, “Dahulu aku bersama Anas dan ada anak perempuannya di sisi beliau. Anas berkata, “Datang seorang perempuan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengatakan, “Wahai Rasulullah apakah engkau berhajat untuk menikah denganku?”. Anak perempuan Anas berkata, “Betapa kurang rasa malunya! (sambil menyebutkan ungkapan tidak senang). Lantas Anas berkata, “Dia lebih baik darimu, dia menginginkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka dia menawarkan dirinya kepada beliau."

Maka diperbolehkan seorang wanita menawarkan dirinya kepada lelaki yang baik agamanya dan dikenal keshalihannya. Hal itu bukanlah aib, yang tercela bila ia melakukan itu karena semata-mata orientasi dunia sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Imam Al-'Aini dan para Ulama lainnya, wa billaahit tawfiq.

Fikri Abul Hasan
WhatsApp | المدرسة السلفية

♻Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi
��Grup WA & TG Dakwah Islam
��Subscribe @DakwahIslamBot

Share yuk semoga teman anda mendapat faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka pintu amal kebaikan bagi anda. َآمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِين.

#DakwahSunnah
#SyiahBukanIslam
#IndonesiaBertauhid

Hukum Thawaf dengan Sekuter Elektrik (segway board)

Hukum Thawaf dengan Sekuter Elektrik (segway board)

Bagaimana hukum thawaf menggunakan segway board, semacam sekuter elektrik? Ada rekaman video orang thawaf dengan menggunakan alat semacam ini, dan sempat ramai di kalangan netizen.. bahkan diangkat di beberapa media massa, dg kritik kpd ulama saudi yang mendiamkan keadaan ini. Mohon pencerahannya..

Jawaban:

Untuk kesekian kalinya kita mengingatkan sebuah pepatah yang mengatakan,

الناس أعداء ما جَهلوا

“Manusia akan memusuhi sesuatu yang tidak dia kenal.”

Orang indonesia menyebutnya, tak kenal maka tak sayang. Karena jiwa kita bisa berinteraksi akrab dengan sesuatu yang telah dia kenal.

Dalam al-Quran Allah menyinggung kebiasaan buruk ini. Allah menceritakan keadaan orang kafir yang membantah nabi mereka. Karena mereka tidak kenal dengan kebenaran ajaran nabinya. Allah menngatakan,

وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

“Karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama.” (QS. al-Ahqaf: 11).

Pada saat orang kafir mendengar ajakan dan dakwah nabi mereka, mereka menyalahkannya dan menuduhnya pendusta, memalsu wahyu, dst. Tentu saja yang bermasalah bukan dakwah nabinya, namun kebodohan orang kafir tentang kebenaran, lantaran mereka tidak mendapatkan petunjuk tentang itu, lalu mereka mengingkarinya.

Sayangnya kebiasaan jahiliyah semacam ini, terkadang ditiru sebagian kaum muslimin. Terutama mereka yang berjiwa sensitif di dunia maya. Lempar komentar buang muka, yang penting kan tidak sama-sama kenal.

Dua Pesan

Izinkan saya menyamaikan dua pesan kepada pembaca konsultasi syariah. Semoga pesan ini bermanfaat selama anda berselancar di dunia maya,

Pertama, jangan komentar ketika tidak tahu.

Terutama orang yang gatal dengan komentar. Tidak tahu, menjadi pemicu terbesar orang nekat berkomentar miring. Saling mencela, menghina, memaki, atau memotivasi untuk menolak kebenaran, membela kebatilan.

Seharusnya kita berfikir, tidak ada istilah gratis untuk setiap komentar yang kita cantumkan. Semua akan dipertanggung jawabkan di akhirat.

Barangkali saat ini kita tidak pernah merasa komentar itu akan menjadi masalah besar bagi kita. Tapi kita tidak boleh merasa aman, bisa jadi yang saat ini tidak terbayang, ternyata Allah wujudkan di akhirat sebagai tumpukan dosa yang sangat besar,

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ

“Lalu itampakkan dengan jelas bagi mereka, azab dari Allah yang belum pernah mereka bayangkan.” (QS. az-Zumar: 47)

Muhammad bin al-Munkadir – ulama besar zaman tabiin – pernah mengalami ketakutan ketika sakit. Ketika beliau ditanya sebabnya, beliau menjawab,

أخاف آية من كتاب الله “وبدا لهم من الله ما لم يكونوا يحتسبون” فأنا أخشى أن يبدو لي ما لم أكن أحتسب

Saya takut ayat Allah yang menyatakan, “Lalu itampakkan dengan jelas bagi mereka, azab dari Allah yang belum pernah mereka bayangkan”, Saya takut, jangan-jangan ditampakkan dosa yang belum pernah terbayang olehku.

Kedua, jangan pernah mengambil kesimpulan masalah agama dari media massa

Mereka bukan tempat belajar. Masih sangat rentan dengan wartawan asmuni (asal muni), yang penting memenuhi target berita dan tulisan. Terlebih untuk media berwawasan liberal, mereka buat itu berita sebagai sarana untuk menyudutkan kaum muslimin. Tentu saja tidak lepas dari pemlintiran dan penyelewengan fakta.

Kecuali jika anda bersedia untuk mengikuti rujukan yang keliru,

وَمَنْ يَكُنِ الْغُرَابُ لَهُ دَلِيْلاً

يَمُرُّ بِهِ عَلَى جِيَفِ الْكِلاَبِ

Barangsiapa yang burung gagak sebagai petunjuk jalannya

Pasti dia akan mengantarkan jalan melewati bangkai-bangkai anjing. (Al-Mustathraf 1/79)

Dari mana media massa itu tahu kalau ulama saudi mendiamkannya??

Apakah mereka merasa lebih sensitif dalam masalah ibadah dari pada ulama?

Andai orang yang minim pengetahuan agama itu diam, niscaya kebodohannya tidak akan terbongkar,

كم جاهل متواضع ستر التواضع جهله

‘Betapa banyak orang bodoh yang rendah hati, sehingga kerendahan hatinya menutupi kebodohannya’

Hukum Thawaf dengan Segway (Sekuter Elektrik)

Mengenai thawaf dengan segway, telah lama ulama membahasnya. Karena ini tidak berbeda dengan hukum thawaf di atas hewan tunggangan.

Ulama telah membahas masalah ini, hukum thawaf di atas kendaraan.

Sebelumnya kita sebutkan beberapa hadis yang menceritakan hal ini,

Pertama, hadis dari Abu Thufail, Amir bin Watsilah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

رَأَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَطُوفُ بِالْبَيْتِ عَلَى رَاحِلَتِهِ يَسْتَلِمُ الرُّكْنَ بِمِحْجَنِهِ ثُمَّ يُقَبِّلُهُ

Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam thawaf di atas tunggangannya. Beliau menyentuh ruku hajar aswad dengan tongkatnya, lalu beliau menciium tongkat itu. (HR. Ahmad 23798, Abu Daud 1881, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kedua, hadis dari Jabir bin Abdillahradhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

طَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِالْبَيْتِ، وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، لِيَرَاهُ النَّاسُ وَلِيُشْرِفَ، وَلِيَسْأَلُوهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammelakukan thawaf di ka’bah ketika haji wada’ di atas tunggangannya. Beliau juga melakukan sai antara shafa dan marwah di atas tunggangan, agar dilihat banyak orang, beliau tampakan dirinya agar mereka bertanya kepada beliau. (HR. Ahmad 14415 dan Muslim 3134)

Ketiga, hadis dari Ummu Salamahradhiyallahu ‘anha, bahwa beliau mengalami sakit ketika haji. Kemudian beliau bertanya kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallammenyuruhnya,

طُوفِي مِنْ وَرَاءِ النَّاسِ وَأَنْتِ رَاكِبَةٌ

“Lakukanlah thawaf di belakang jamaah sambil naik tunggangan.” (HR. Ahmad 26485, Bukhari 464, dan Muslim 3137).

Keempat, hadis dari Ibnu Abbasradhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- طَافَ فِى حَجَّةِ الْوَدَاعِ عَلَى بَعِيرٍ يَسْتَلِمُ الرُّكْنَ بِمِحْجَنٍ

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan thawaf ketika haji wada’ di atas onta beliau. Beliau menyentuh hajar aswad dengan tongkatnya. (HR. Muslim 3132, Nasai 2967 dan yang lainnya.)

Berdasarkan beberapa hadis di atas, kita akan sebutkan kesimpulan ulama,

Pertama, mereka sepakat bahwa orang sakit atau memiliki udzur, boleh thawaf di atas kendaraan, tunggangan, kursi roda atau alat lainnya.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

لا خلاف بين الفقهاء في صحة طواف الراكب إذا كان له عذر

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang keabsahan thawaf di atas kendaraan bagi yang memiliki udzur. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 23/123).

Mereka berdalil dengan hadis Ummu Salamah yang disarankan oleh Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam untuk thawaf dengan naik hewan tunggangan, karena sakit.

Termasuk udzur adalah adanya kebutuhan dan maslahat besar dengan naik kendaraan ketika thawaf. Sebagaimana yang dilakukan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang diceritakan sahabat Jabir. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam thawaf dan sai di atas kendaraan, agar beliau bisa dilihat banyak orang sehingga mereka mengetahui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya kepada beliau tentang masalah agama.

Kedua, ulama berbeda pendapat mengenai hukum thawaf di atas kendaraan bagi yang tidak memiliki udzur.

Pendapat pertama, thawaf wajib dilakukan dengan jalan kaki bagi yang mampu dan tidak ada udzur

Ini pendapat Hanafiyah, Malikiyah, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

وذهب الحنفية والمالكية وأحمد في إحدى الروايات عنه، إلى أن المشي في الطواف من واجبات الطواف، فإن طاف راكبا بلا عذر وهو قادر على المشي وجب عليه دم

Hanafiyah, Malikiyah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad menyatakan pendapat bahwa berjalan merupakan bagian kewajiban dalam thawaf. Jika ada orang yang thawaf di atas kendaraan tanpa udzur, dan dia mampu berjalan, maka wajib bayar dam.

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

Alasan pertama,  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan thawaf dengan shalat. Seagaimana orang shalat fardhu harus dilakukan sambil berdiri, thawaf juga harus dilakukan dengan jalan kaki.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ بِمَنْزِلَةِ الصَّلاَةِ

“Thawaf di ka’bah itu seperti shalat.” (HR. Hakim 2/267 dan dishahihkan ad-Dzahabi)

Alasan kedua, bahwa thawaf adalah ibadah yang terkait dengan ka’bah. Sehingga tidak boleh dilakukan di atas kendaraan, tanpa udzur seperti shalat. Ketika dilakukan di atas kendaraan, ada yang kurang dalam thawafnya, sehingga harus ditutupi dengan bayar dam.

Hanya saja, menurut hanafiyah, ada sedikit beda, thawaf di atas kendaraan tanpa udzur, wajib diulang jika masih di Mekah dan wajib bayar dam jika sudah pulang.

Pendapat kedua, thawaf di atas kendaraan tanpa udzur hukumya sah dan tidak wajib bayar dam.

Ini merupakan pendapat Syafiiyah dan Imam salah satu riwayat. Hanya saja Imam as-Syafii memakruhkan, jika hewan tunggangan yang dibawa bisa mengotori masjidil haram.

Dalam Hasyiyah al-Qolyubi dinyatakan,

ولو طاف راكبا بلا عذر جاز بلا كراهة .قال الإمام : وإدخال البهيمة التي لا يؤمن تلويثها المسجد مكروه

Orang yang thawaf dengan berkendaraan tanpa udzur, hukumnya boleh dan tidak makruh. Imam as-Syafii mengatakan, “Membawa hewan tunggangan yang bisa mengotori masjid, makruh.” (Hasyiyah al-Qolyubi wa Umairah, 6/57)

Alasan pendapat ini,

Alasan pertama, hadis Ibnu Abbasradhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan thawaf di atas onta beliau dan hadis jabir dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenampakkan dirinya di hadapan banyak sahabat, bahwa beliau thawaf dan sai di atas tunggangan beliau.

Alasan kedua, bahwa Allah perintahkan manusia untuk melakukan thawaf, tanpa menjelaskan tata caranya.

Allah berfirman,

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Lakukanlah thawaf di rumah tua (ka’bah)”. (QS. al-Hajj: 29)

Ulama syafiiyah menjelaskan bahwa perintah mutlak (tanpa batasan). Artinya, dilakukan dengan cara bagaimanapun statusnya sah. Karena inti dari thawaf adalah mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali, dengan niat ibadah. Sementara kita tidak boleh memberikan batasan mengenai tata cara thawaf, tanpa dalil.

Alasan ketiga, bahwa yang dimaksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Thawaf itu seperti shalat” maksudnya adalah thawaf harus dilakukan dalam kondisi suci dari hadats besar dan kecil, seperti orang yang shalat. Sehingga tidak ada hubungannya dengan berjalan dan berkendaraan.

(al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 23/124)

Berdasarkan keteranan di atas,insyaaAllah pendapat yang lebih kuat adalah thawaf dengan menggunakan sekuter listri hukumnya boleh, selama tidak mengganggu orang lain dan tidak mengotori masjid.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Gupak Pulute, Ora Mangan Nangkane

Gupak Pulute, Ora Mangan Nangkane

Alhamdulillâh, wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillah…

Kalau diterjemahkan secara harfiah, pepatah jawa di atas artinya: terkena getahnya (pulut) tidak makan nangkanya. Pada masa nangka belum dijual di supermarket dalam kemasan “siap makan”, jika kita ingin makan nangka maka harus berjuang dulu. Membuka buahnya yang besar, kemudian melepas isi yang dapat kita makan. Kita tidak akan pernah makan nangka tanpa “gupak pulut”nya dulu. Adapun membersihkan “pulut” (getah) harus pakai minyak kelapa, kemudian dibilas pakai sabun.

Adapun secara luas, pepatah Jawa ini ingin menunjukkan sebuah peristiwa atau kiasan yang menggambarkan akan kesialan seseorang, karena iatidak menikmati hasil pekerjaannya, tetapi justru menerima resiko buruknya.

Dalam konteks keagamaan, contoh manusia tersebut dalam pepatah di atas banyak. Mengenai masalah puasa misalnya, Rasulullahshallallahu’alaihiwasallam menerangkan,

“رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ”

“Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga”. HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Al-Hakim menilainya sahih..

Walaupun mereka telah letih berpuasa, namun ternyata bukan buah manis pahala yang didapatkannya! Hal itu dikarenakan antara lain, mereka tidak ikhlas dalam puasanya, atau tidak memenuhi rukun dan syaratnya.

Contoh lain yang tidak kalah maraknya di masyarakat adalah menjalankan amalan yang tidak diajarkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.Sekalipun amalan tersebut berat, panjang dan telah membudaya dengan luas. Alih-alih meraih pundi-pundi pahala, malah justru mereka terancam dengan siksaan di neraka kelak.

Allah ta’ala menegaskan,

“هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ (1) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (2) عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4)”.

Artinya: “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari kiamat? Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk hina. (Padahal) mereka beramal berat lagi kepayahan. Mereka memasuki api yang sangat panas (neraka)”. QS. Al-Ghasyiyah (88): 2-4.

Dalam Tafsîr at-Tustury dijelaskan bahwa orang-orang yang bernasib sial yang dimaksud di dalam ayat-ayat di atas, adalah mereka yang menjalankan amalan yang tidak ada tuntunannya.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga telah mengingatkan,

“مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ”.

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak”. HR. Muslim dari Aisyahradhiyallahu’anha.

Maka, hendaknya kita berhati-hati dalam beramal. Jangan sekedar memperhatikan kuantitasnya saja. Namun jadikanlah kualitas amalan sebagai prioritas kita. Dalam arti amalan tersebut diusahakan harus ikhlas karena Allah semata dan sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Bila tidak, bersiap-siaplah untuk ’gupak pulute, ora mangan nangkane’!

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

Amalan yang Pahalanya Mengalir Sampai Hari

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

����Amalan yang Pahalanya Mengalir Sampai Hari ����Kiamat

☑#  Ilmu yang disebarluaskan.

Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui pendidikan ceramah, dakwah dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah menulis buku, artikel dan pesan-pesan yang bermanfaat yang bisa kita sebarkan melalui media-media yang ada seperti media sosial dan lain sebagainya.

☑#  Anak soleh yang ditinggalkan.

Didiklah anak mu menjadi anak yang soleh, karena Anak yang soleh akan selalu berbuat kebaikan di dunia dan selalu mendo'akan orangtuanya.

☑#  Membangun rumah Allah

"Barangsiapa yang membangunkan sebuah masjid kerana Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di syurga." (Bukhari dan Muslim)

☑#  Harta yang disedekahkan di jalan Alloh.

Janganlah bakhil untuk bersedekah. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.
Demikian beberapa amalan yang pahalanya akan terus mengalir bagi yang mengamalkannya. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk mengamalkan hal-hal tersebut. Amiin.

�� Mohon disebarkan. Semoga bermanfaat, wallahu ta’ala a’lam.��
______________
��Pesan ini disebarkan oleh:
♻ Tim Dakwah WhatsApp Al-Hisbah
�� Untuk berlangganan, caranya ��

✅ Simpan nomor WA Al-Hisbah +6283811888118 ke kontak Anda.
✅ Ketik �� L/P<spasi>Kota<spasi>Nama
✅ Contoh �� L Jakarta Abdurrahman
✅ Kirim ke nomor tersebut.
��Atau invite pin BBM 545FFDA2

Hadist Adzan saat bayi lahir

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Ada sebuah hadis yang disandarkan kepada Rasulllahshallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mengadzani atau iqamah bayi yang banyak tersebar dan diamalkan oleh masyarakat nusantara. Namun hadis ini diragukan oleh para ulama mengenai keshahihannya. Berikut pembahasannya:

“Barang siapa yang kelahiran anak, lalu adzan di telinga kanannya dan iqomat di telinga kirinya, maka setan tidak akan membahayakannya.”

Derajat hadis : Palsu

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la (6780), Ibnu Sunni (623), Ibnu Adi (7:2656), Baihaqi dalam Syu’ab (8619), dan Ibnu Asakir (57:280), dari Yahya bin Ala, dari Marwa bin Salim, dari Tholhah bin Ubaidillah, dari Husain secara marfu'.

Sisi kelemahannya adalah Yahya bin Ala’ yang dituduh para ulama sebagai pemalsu hadis. Juga Marwan bin Salim, seorang yang tertuduh berdusta dan hadisnya sangat munkar sekali. Oleh karena itu, hadis ini dilemahkan oleh Ibnu Adi, Baihaqi, dan Al-Haitsami, serta dianggap palsu oleh Al-Munawi dan Al-Albani.

Yang mirip juga dengan hadis ini adalah:

“Dari Abu Rofi’ maula Rasulullah berkata, “Saya melihat Rasulullah shalallahu ''alaihi wa sallam adzan sebagaimana untuk shalat di telinga Hasan bin Ali saat dilahirkan oleh Fathimah.”

Derajat: Lemah

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq (7986), Ahmad (6:90), Abu Dawud (5105), Tirmidzi (1514), dan lainnya. Sisi kelemahan hadis ini adalah Ashim bin Ubaidillah, orang yang lemah. Inilah cacat hadis ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hibban, Baihaqi, Mundziri, Adz-Dzahabi, Ibnu Turkumani, dan Al-Albani.

Oleh karena itu, apa yang dikatakan oleh Imam Tirmidzi sebagai hadis hasan dan Imam Hakim berkata bahwa sanadnya shahih, yang benar adalah tidak hasan dan tidak shahih.

(Lihat Takhrij Adzkar, Hal. 512)

Sumber: Hadis Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia, Ahamad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Pustaka Al Furqon, Cetakan: III 1430 H.

MENGENAL SYAIKH IBNU BAZ ULAMA DARI HIJAZ

MENGENAL
SYAIKH IBNU BAZ
ULAMA DARI
HIJAZ
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata
kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya kalian
sekarang ini berada di masa para ulamanya
masih banyak dan tukang ceramahnya sedikit.
Dan akan datang suatu masa setelah kalian
dimana tukang ceramahnya banyak namun
ulamanya amat sedikit.” ( Qowa’id fi at-Ta’amul
ma’al ‘Ulama , hal. 40).
Apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud sama sekali
tidak meleset. Sekarang kita berada di zaman
yang beliau katakan itu. Ulamanya sedikit dan
para penceramah (orang yang pandai
berbiacaranya) banyak. Sedikitnya ulama tentu
memiliki dampak besar terhadap umat. Dalam
keadaan tersebut penyebaran ilmu tentu berbeda
dengan ketika ulama banyak. Keadaan demikian
diperburuk dengan pembunuhan karakter
terhadap para ulama. Sehingga kaum muslimin
semakin bingung, ulama mana yang harus
mereka teladani. Kian beratlah ujian. Ujian
memilih ulama rabbani yang bisa membimbing
kita pada jalan kebenaran.
Di antara ulama rabbani yang membimbing umat
adalah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
rahimahullah. Atau yang sering disebut dengan
Syaikh Ibnu Baz. Sedikit tentang akhlak beliau
telah pembaca simak di artikel Mencuri di Rumah
Seorang Mufti . Kisah akhlak yang mengagumkan.
Yang menimbulkan keingintahuan tentang
siapakah mufti yang mulia itu.
Siapakah Ibnu Baz?
Beliau adalah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.
Dilahirkan di bulan Dzul Hijjah tahun 1330 H, di
Kota Riyadh. Syaikh Ibnu Baz terlahir dalam
keadaan sehat dan normal. Kemudian pada tahun
1346 H, pandangannya mulai rabun. Dan pada
tahun 1350 H, beliau mengalami kebutaan secara
total. Abdul Aziz kecil telah menghafalkan
Alquran secara sempurna sebelum ia menginjak
usia baligh ( Jawanib min Sirati al-Imam Abdul Aziz
bin Baz oleh Muhammad al-Hamd, Hal. 33).
Kiranya inilah jalan hidup para ulama. Mereka
membuka pintu ilmu dan hikmah dengan
menghafalkan Alquran sedari kecil.
Semangat Ibnu Baz dalam mempelajari agama
sudah muncul sejak kecil. Di masa kanak-
kanaknya, ia telah belajar kepada para ulama
besar di Kerajaan Arab Saudi. Di antara guru-
gurunya adalah:
Syaikh Muhammad bin Abdul Lathif bin
Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin
Abdul Wahhab,
Syaikh Shaleh bin Abdul Wahhab,
Syaikh Saad bin Hamd bin Athiq,
Syaikh Hamd bin Faris,
Syaikh Muhammad bin Ibrahim alu asy-Syaikh.
Ibnu Baz hadir di majelisnya setiap pagi dan sore
dan mempelajari banyak cabang ilmu syariat
sejak tahun 1347 H-1357 H.
Syaikh Saad Waqqash al-Bukhari sebagai guru
tajwidnya.
Ilmu Yang Dihiasi Akhlak Mulia
Sudah selayaknya orang yang berilmu itu memiliki
akhlak yang mulia. Akhlak yang terbimbing dari
apa yang sudah diketahuinya. Demikian pula
dengan Ibnu Baz rahimahullah. Beliau dikenal
dengan kelemah-lembutannya. Mudah tersentuh
hatinya dan meneteskan air mata saat
mendengar bacaan Alquran. Mendengar hadits-
hadits Nabi ﷺ . Mendengar kisah-
kisah kehidupan para ulama. Mendengar kabar
tentang kaum muslimin. Atau bahkan mendengar
sebuah syair.
Ilmunya tidak ia gunakan untuk mendebat orang
yang berilmu dan para guru. Ia adalah seorang
yang sangat rendah hati. Walaupun
kedudukannya tinggi. Seorang yang tenang dan
tidak tergesa-gesa dalam bersikap dan
mengambil keputusan. Ia dikenal sebagai seorang
yang dermawan dalam harta, waktu, ilmu,
kebaikan, dan pertolongan. Tentu tidak mungkin
tulisan singkat ini menguraikan contoh dari
masing-masing sifat tersebut.
Daya ingatnya sangat kuat. Semakin bertambah
usia, makin kuat pual hafalannya. Di antara ciri
orang besar dan sukses adalah mereka memiliki
semangat dan ketekunan yang luar biasa. Sifat
itu pula yang dimiliki Syaikh Ibnu Baz. Ia
senantiasa menjadi penengah dalam banyak
permasalahan. Karena ia dikenal adil, bijak, dan
sangat teguh memegang prinsip kebenaran.
Dengan padatnya kegiatan, Syaikh tetaplah
seseorang yang menepati janjinya.
Berkhdimat Kepada Umat
Pada tahun 1357-1371 H, Syaikh Ibnu Baz diberi
amanah oleh kerajaan sebagai imam dan khotib
di Kota al-Kharj. Di sana juga beliau memiliki
majelis pengajian 5 hari sepekan. Hanya hari
Selasa dan Jumat saja tidak ada majelis beliau.
Kemudian beliau pindah ke Kota Riyadh pada
tahun 1372 H. Di ibu kota kerajaan ini beliau
mengajar di Ma’had ar-Riyadh al-Ilmi. Perhatian
beliau terhadap perkembangan ilmu agama di
Riaydh sangatlah besar. Beliau mengembangkan
halaqah belajar di al-Jami al-Kabir di Riyadh.
Pada tahun 1381 H, beliau diangkat menjadi
wakil rektor Universitas Islam Madinah.
Kemudian menjadi rektor pada tahun 1390-1395
H. Dan beliau menginisiasi halaqah belajar di
Masjid Nabawi ( Jawanib min Sirati al-Imam Abdul
Aziz bin Baz , Hal. 45-48).
Dengan keterbatasannya, beliau tetap
menunaikan haji. Rukun Islam yang kelima itu
beliau laksanakan sebanyak 42 kali dalam
hidupnya. Haji pertama dilaksanakan pada tahun
1349 H. Setelah itu dilaksanakan empat kali haji
tidak berturut-turut. Berikutnya, 37 kali haji
dilaksanakan secara berturut-turut. Antara tahun
1372-1418 H ( Jawanib min Sirati al-Imam Abdul
Aziz bin Baz , Hal. 113).
Di dunia akademik modern, kita menyaksikan
biasanya seseorang hanya mengambil satu
bidang kajian khusus untuk ia dalami. Karenanya,
ketika ia berbicara tentang bidang kajiannya, ia
akan terlihat sangat mumpuni. Namun jika
berbicara di luar bidangnya, ia sama seperti
orang awam lainnya atau hanya mengetahui
secara general saja. Adapun Syaikh Ibnu Baz,
beliau pakar dalam banyak cabang ilmu agama.
Ketika Syaikh Ibnu Baz berbicara dalam satu
cabang di antara cabang-cabang ilmu agama,
maka orang yang mendengarnya akan
menyangka ia memiliki spesialisasi di bidang
tersebut. Namun ternyata hal itu sama ketika
beliau berbicara di cabang ilmu yang lain. Ketika
ia berbicara tentang hadits; pengenalan tentang
rijalul hadits dan rawi-rawinya, tentang shahih
dan dhaif-nya, orang akan menyangkanya sebagai
ahli hadits. Ketika beliau berbicara tentang
akidah, maka orang menyangka dialah pakarnya.
Demikian juga dalam ilmu tafsir, fikih, dan yang
lainnya. Para pendengar akan dibuat kagum akan
kedalaman ilmunya.
Warisan Ibnu Baz
Syaikh Ibnu Baz banyak mewariskan karya ilmiah.
Ada yang dalam bentuk tulisan. Ada pula dalam
bentuk rekaman ceramah dan seminar. Karya
tulis Syaikh Ibnu Baz adalah hasil transkrip dari
ceramah-ceramah atau ucapan yang beliau
diktekan kepada murid-muridnya.
Karya-karya beliau sangat menekankan koreksi
ritual ibadah. Karena tidak kita pungkiri, banyak
praktik-praktik ibadah yang menyelisihi tuntuntan
Rasulullah ﷺ. Seperti bagaimana
haji dan umrah yang sesuai dengan tuntunan
sunnah Rasulullah ﷺ. Tentang
bagaimana shalat sesuai bimbingan Nabi
ﷺ . Tentang bagaimana puasa dan
zakat. Beliau juga memiliki kumpulan fatwa yang
telah dikumpulkan oleh Muhammad bin Saad asy-
Syuwai’ir dalam 18 jilid tebal.
Beliau juga memiliki perhatian besar dengan
akidah yang shahih. Berpegang kepada Sunnah
dan memperingatkan masyarakat dari bahaya
bid’ah. Kemudian tentang dakwah dan akhlak.
Tentang hijab dan nikah. Memperingatkan
buruknya fanatisme kearaban. Tentang jihad di
jalan Allah, dll.
Kasih Sayang Sesama Muslim
Terlalu banyak kisah-kisah betapa kasihnya
Syaikh Ibnu Baz terhadap umat Islam di belahan
dunia. Bahkan tidak jarang orang-orang yang
telah berputus asa di negerinya, mengirim surat
ke Arab Saudi, kepada Syaikh Ibnu Baz, untuk
memohon bantuan. Tidak hanya dari negara
Arab. Surat permohonan tersebut juga datang
dari negeri-negeri di Asia Tenggara.
Mungkin orang mengira, karena Syaikh Ibnu Baz
adalah tokoh dakwah salaf di masa sekarang,
beliau tidak peduli dengan tokoh-tokoh
pergerakan. Beliau memang tegas dalam hal-hal
yang menyelisihi sunnah, namun beliau juga
memegang teguh prinsip persaudaraan dan kasih
sayang sesama muslim. Mungkin tidak banyak
yang tahu kalau Syaikh Ibnu Baz meminta
pemerintah Mesir untuk tidak menghukum mati
Sayid Qutb rahimahullah.
Syaikh Muhammad Majdzub –salah seorang
ulama Maroko- mengisahkan tentang kemarahan
Syaikh Ibnu Baz kepada pemerintah Mesir yang
memvonis mati Sayid Qutb. Beliau mengirim
surat kepada pemerintah Mesir agar
membatalkan vonis tersebut. Ia menyebut Sayid
Qutb adalah saudaranya. Beliau menutup
suratnya dengan mencantumkan ayat:
ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻘْﺘُﻞْ ﻣُﺆْﻣِﻨًﺎ ﻣُﺘَﻌَﻤِّﺪًﺍ
ﻓَﺠَﺰَﺍﺅُﻩُ ﺟَﻬَﻨَّﻢُ ﺧَﺎﻟِﺪًﺍ ﻓِﻴﻬَﺎ
ﻭَﻏَﻀِﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻟَﻌَﻨَﻪُ ﻭَﺃَﻋَﺪَّ
ﻟَﻪُ ﻋَﺬَﺍﺑًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang
mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah
Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka
kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan
azab yang besar baginya.” (QS:An-Nisaa | Ayat:
93) ( Ulama wa Mufakkirun Araftuhum oleh
Muhammad Majdzub, 1: 77-106).
Namun sayang, ulama Rabbani ini tidak dibiarkan
populer dan mendapatkan hati di masyarakat.
tidak sedikit media yang berusaha membunuh
karakter beliau. Baik media Islam apalagi media
non-Islam. Dan masih banyak kisah-kisah lainnya
tentang hubunga beliau bersama tokoh-tokoh
dakwah lainnya. Karena itu, pujian terhadap
beliau datang dari lawan apalagi kawan. Orang-
orang yang berbeda pemikiran dan jalan
dakwahnya pun tidak sedikit yang datang kepada
beliau untuk berkonsultasi. Masyarakat awam
sangat menghormati dan mendengarkan
pendapatnya. Beliau mendapat tempat di hati
semua kalangan.
Syaikh Abdullah bin Sulaiman al-Mani’
menyatakan Syaikh Ibnu Baz adalah sebaik-baik
hakim. Ia adalah hakim yang adil. Hakim yang
berilmu. Hakim yang diridhai putusannya.
Diterima dan menenangkan masyarakat ( Ulama
wa Mufakkirun Araftuhum oleh Muhammad
Majdzub, 1: 77-106).
Jabatan-jabatan Semasa Hidupnya
Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah menjabat
sebagai ketua Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-
Ifta wa ad-Dakwah wa al-Irsyad. Kemudian
menjabat Grand Mufti Kerajaan Arab Saudi dan
pimpinan Hai-ah Kibar al-Ulama wa Idarah al-
Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta.
Beliau juga adalah pimpinan dan anggota al-
Majlis at-Ta’sisi Li Rabithah al-Alam al-Islami dan
pimpinan Majlis al-A’la al-Alami lil Masajid.
Beliau juga mengemban amanah sebagai ketua
al-Majma’ al-Islami di Mekah al-Mukarrmah dan
anggota majelis tinggi Jami’ah Islamiyah di
Madinah.
Wafatnya Sang Alim
Syaikh Ibnu Baz wafat pada hari Kamis, 27
Muharam 1420 H di usia 80 tahun. Beliau telah
menghabiskan umurnya untuk ilmu, belajar,
mengajar, berbakti kepada Islam dan kaum
muslimin. Semoga Allah memberikan rahmat
yang luas kepada beliau. Dan membalas
kebaikannya dengan sebaik-baik balasan
( Jawanib min Sirati al-Imam Abdul Aziz bin Baz
oleh Muhammad al-Hamd, Hal. 587).
~kisah muslim~