Kamis, 10 September 2015

KEUTAMAAN MENGASUH ANAK YATI

������
✌��KEUTAMAAN MENGASUH ANAK YATIM✌��
Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya . (HR. Imam Al-Bukhari).

☝��Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang, yang meyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim.

��Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
�� Makna hadits ini: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

�� Arti “menanggung anak yatim” adalah mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar

��Yang dimaksud dengan anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya sebelum anak itu mencapai usia dewasa

�� Keutamaan dalam hadits ini belaku bagi orang yang meyantuni anak yatim dari harta orang itu sendiri atau harta anak yatim tersebut jika orang itu benar-benar yang mendapat kepercayaan untuk itu

�� Demikian pula, keutamaan ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim yang punya hubungan keluarga dengannya atau anak yatim yang sama sekali tidak punya hubungan keluarga dengannya

�� INFO PENTING... ❗❗❗
-------------------------------------
���� PENERIMAAN ANAK YATIM ����
LEMBAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK (LKSA)
BINA INSAN MULIA TEGAL

��Jalan Raya Bogares Desa Bogares Kidul RT 27 / RW IV Kec. Pangkah Kab. Tegal.
☎Contak Person : +62 818 0397 3533,  +62 8564 0864 100
��Email : binainsanmuliategal@gmail.com
-------------------------------------

�� SELAYANG PANDANG ��
Yayasan Bina Insan Mulia adalah lembaga berbadan hukum yang terdaftar pada notaris Tardi Juniarto, SH, M.Kn Nomor 1 yang disahkan oleh Kementrian Hukum dan Hak Asasi manusia dengan Nomor : AHU-06251.50.10.2014

Salah satu amal usaha yang dilaksanakan adalah dengan mendirikan Lembaga Kesekahteraan Sosial Anak (LKSA) yang dahulu bernama Panti Asuhan.

LKSA Bina Insan Mulia tidak hanya menjadi tempat tinggal, tapi menjadi cita-cita, harapan dan penyaluran potensi bagi anak-anak yatim, baik dari segi material, non material maupun emosional.  Melalui pendidikan dan pembinaan yang berkualitas, kami membantu untuk mewujudkan harapan dan cita-cita mereka.

Selain pendidikan, berbagai kegiatan di luar sekolah pun diselenggarakan demi menunjang kreativitas mereka, agar mandiri, baik kegiatan yang menyangkut dirinya dan yang menyangkut lembaga secara umum dan menjadi tanggung jawab mereka masing-masing seperti ketrampilan, entrepreaneur dan lainnya.

Penguatan Spiritual sangat diperlukan oleh anak-anak terutama Tahfidzul Qur’an,  untuk membentuk pondasi mereka menghadapi dunia global, kami membimbing dan mendampingi mereka di lembaga ini.

�� VISI ��
•Membentuk generasi yang terdidik, berakhlak mulia, beriman dan bertakwa kepada Allah Ta’ala yang bermanfaat bagi agama, masyarakat dan Negara Indonesia
•Membantu mewujudkan kesejahteraan sosial dan pelayanan kesehatan bagi anak yatim

�� MOTO ��
“Mencerdaskan Bangsa dengan Ilmu, Iman dan Takwa”

�� PERSYARATAN
1.Sehat Jasmani dan rohani
2.Khusus Laki-Laki (Berdomisili Khusus Pulau Jawa)
3.Usia SD
4.Bersedia mengikuti peraturan asrama
5.Lulus tes seleksi
6.Melengkapi berkas administrasi sebagai syarat mengikuti test yang terdiri dari :
a. Mengisi formulir pendaftaran
b. Foto copy akta lahir
c. Foto copy Kartu Keluarga
d. Foto copy KTP Orang tua / wali
e. Pas Foto ukuran 3x4 (3 Lembar) dan 4x6 (3 Lembar)
f. Fotocopy buku laporan pendidikan (rapor)
g. Surat persetujuan orang tua
h. Menyerahkan surat keterangan kematian ayah dari kelurahan

�� WAKTU PENDAFTARAN
1. Pendaftaran setiap hari Senin s.d. Sabtu
2. Jam kerja ( 08.00 – 14.00 ) WIB
3. Pendaftaran ditutup jika telah terpenuhi kuota

�� TEMPAT PENDAFTARAN
Kantor Sekertariat LEMBAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK (LKSA) BINA INSAN MULIA
Jalan Raya Bogares Desa Bogares Kidul RT 27 / RW IV Kec. Pangkah Kab. Tegal.
☎ Telp : +62 818 0397 3533, +62 8564 0864 100
�� binainsanmuliategal@gmail.com

�� MATERI TES
1. Membaca Al Qur’an
2. Pengetahuan dasar islam
3. Wawancara orangtua / wali santri
4. Pemerikasaan kesehatan

�� AGENDA SANTRI
03.30 – 04.00 Bangun tidur dan Persiapan shalat sunnah
04.00 – 05.00 Shalat shubuh
05.00 – 06.00 Halaqoh Al Qur’an
06.00 – 07.10 Kebersihan, mandi, makan pagi
07.10 – 12.00 Kegiatan belajar kurikuler
12.00 – 13.15 Shalat dzuhur dan makan siang
13.15 – 16.00 Istirahat dan Sholat ashar
16.00 – 17.00 Kegiatan belajar ekstrakurikuler
17.00 – 18.15 Mandi dan Sholat maghrib
18.15 – 19.30 Halaqoh Al Qur’an
19.30 – 20.00 Sholat Isya dan Makan malam
20.00 – 21.00 Mentoring, kunjungan perpustakaan & belajar mandiri
21.00 – 03.30 Istirahat malam

⛅ FASILITAS :
1. Masjid
2. Aula
3. Asrama
4. Klinik Kesehatan
5. Lokal Belajar
6. Perpustakaan
7. Majalah Dinding
8. Lapangan bermain
9. Tempat Bermain
10. Wisma Tamu

�� KURIKULUM
Kurikulum yang dikembangkan adalah kurikulum Kementrian Agama yang disesuaikan dengan visi, misi dan tujuan lembaga dengan menitik beratkan kepada hafalan Al Qur’an, penguasaan ‘ilmu-‘ilmu syar’i dan bahasa Arab

�� KOMPETENSI LULUSAN
Dengan mengikuti semua program dan kegiatan yang dirancang, diharapkan lulusan memiliki kompetensi sebagai berikut :
1. Berakidah dan bermanhaj Ahlussunnah wal Jama’ah
2. Memahami dasar-dasar ‘ilmu syar’i dengan kaidah-kaidah yang benar
3. Hafal Al Qur’an 10 Juz
4. Memiliki kecakapan hidup (life skill) sebagai bekal pengembangan

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
GRATIIIS 100 % SELAMA PENDIDIKAN
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

�� Harap Share Info Ini...
�� Semoga Allah Ta'ala membalas kebaikan antum dg kebaikan yg banyak,, Aamiin
Jazakumullah khoiran...
Barakallahufiikum...

Kelezatan dalam Tholibul

✏✏✏...Kelezatan dalam Tholibul Ilmi  

✒...Bagaimana kesungguhan Para Salaf dalam menuncari Ilmu sungguh menakjubakan bagi mereka yang meniti jalan mereka.
Lapar dan dahaga Mereka, Ulama Salaf dalam menuntut Ilmu menunjukkan kesunguhan dan kesabaran dalam menempuh jalan ini.
Mereka ingin mendapatkan kebaikan tholibul ilmi sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasululloh.  

��Rasululloh صلى الله عليه وسلم bersabda,
من سلك طريقًا يلتمس فيه علمًا سهَّل اللهُ له طريقًا إلى الجنةِ ، و إنَّ الملائكةَ لَتضعُ أجنحتَها لطالبِ العلمِ رضًا بما يصنعُ ، و إنَّ العالمَ لَيستغفرُ له مَن في السماواتِ و من في الأرضِ ، حتى الحيتانُ في الماءِ ، و فضلُ العالمِ على العابدِ كفضلِ القمرِ على سائرِ الكواكبِ ، و إنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ ، إنَّ الأنبياءَ لم يُورِّثوا دينارًا و لا درهمًا ، إنما ورَّثوا العلمَ ، فمن أخذه أخذ بحظٍّ وافرٍ.
“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak." (HR Ahmad (V/196), Abu Dawud, 3641, At-Tirmidzi, 2682, Ibnu Majah, 223 disohihkan Al-Albany)  

��Berikut ini sebagian kisah kesabaran dan  kesungguhan mereka dalam Tholabul ilmi:  

��Nadhr bin Syumail رحمه الله  berkata:
”Seseorang tidak akan mendapatkan kelezatan ilmu, hingga ia merasakan lapar (ketika menuntut ilmu), namun melupakan laparnya.” [At Tadzkiratul Huffadzh, Imam Adz DZahabi ,1/314].  

��Baqi bin Mikhlad Al Andalusy رحمه الله.
Beliau pernah berkeliling ke berbagai negara di dunia dengan hanya berjalan kaki !!!, Beliau berkata,"Sungguh , saya mengetahui seseorang yang ketika menuntut ilmu lewat berhari-hari tidak memiliki makanan, kecuali daun kubis yang sudah terbuang." [Tadzkiratul Huffadzh, Imam Adz Dzahabi  2/630]  

��Ibnu Kharras رحمه الله  berkata:
” Saya minum kencing saya sendiri ketika saya dalam perjalanan menuntut ilmu, hal ini terjadi lima kali !! (seseorang tidak akan meminum kencingnya sendiri kecuali dalam keadaan sangat haus yang haus ini dapat mengakibatkan kematian)”. [Al Ibar Khoiri Man Ghabar, Imam Adz Dzahabi  2/70].  

��Abu Ali Al Hasan bin Ali Al Balkhi رحمه الله  berkata:
” Aku pernah tinggal di Asqolan untuk belajar dari Ibnu Mushahhih dan lainnya. Bekal nafkah saya semakin menipis hingga beberapa hari saya tidak bisa makan. Saya ingin menulis pelajaran, namun tidak bisa (karena perut sangat lapar). Saya kemudian pergi ke toko roti dan duduk di dekat roti tersebut hingga mencium aromanya agar saya punya tenaga. Kemudian Alloh Azza wa Jalla membantu saya." [Tadzkiratul Huffadzh, Imam Adz Dzahabi 4/1173]  

��Imam Abu Hatim Ar Razi رحمه الله .
(Imam dan ulama besar dalam bidang Jarh Wa Ta’dil) pernah bercerita,
”Saya tinggal di bashrah delapan bulan dan kehabisan bekal nafkah. Saya menjual baju saya satu demi satu, hingga tidak punya apa-apa. Saya bersama teman pergi ke rumah Masyayikh (guru) untuk belajar hingga sore hari, kemudian saya pulang kerumah yang sepi untuk minum air karena lapar tidak punya makanan. Saya lakukan hal ini selama dua hari, Pada hari ketiga seorang teman berkata, ” Mari kita pergi ke rumah guru!”, Saya menjawab” Saya lemah dan tidak bisa (berdiri)”, Dia berkata lagi” Kenapa kamu lemah?”, Saya katakan kepadanya” Saya tidak akan merahasiakannya, sudah dua hari saya tidak makan.” Dia berkata,” Saya masih memiliki satu Dinar dan saya berikan kepadamu setengahnya.” [Al Jarh Wat Ta’dil, Imam Abu Hatim Ar Razi]  

��Imam Muhammad bin Thahir Al Maqdisi رحمه الله.
Beliau  menceritakan tentang perjalanan menuntut ilmu dan kesulitan yang beliau alami, beliau berkata,” Saya tinggal di Tunis bersama Abu Muhammad bin Al Haddad, bekal saya semakin menipis hingga tersisa hanya satu dirham. Saat itu saya butuh roti dan kertas untuk menulis pelajaran. Jika dipakai beli kertas maka saya tidak akan makan roti. Kebingungan ini berlanjut hingga tiga hari (antarabeli roti atau beli kertas ), selama itu pula Saya tidak merasakan makanan sama sekali. Pada hari keempat, dalam hati saya berkata, ”Kalau saya punya kertas, maka saya tidak akan bisa menulis karena sangat lapar. Saya taruh uang satu dirham tersebut di mulut dan saya putuskan untuk keluar dan membeli roti. Tiba-tiba tanpa terasa uang satu dirham tersebut tertelan oleh mulut ke dalam perut, kemudian saya tertawa. Abu Thahir mendatangi saya dan bertanya,”Apa yang membuatmu tertawa? Saya menjawab, ”Khoir.”
Beliau meminta saya untuk menceritakannya, namun saya tolak. Ia terus memaksa sehingga saya ceritakan kejadiannya, lalu Beliau mengajak saya ke rumahnya dan memberi saya makanan.” [Tadzkiratul Huffadh, Imam Adz Dzahabi 4/1246]  

��Imam Al Bukhori رحمه الله  berkata,”Saya menemui Adam bin Abi Iyyas di Asqolan untuk belajar darinya. Bekal saya semakin berkurang hingga saya makan rerumputan.”   

��...Semoga Allah menganugerahi kita kelezatan dalam tholabul ilmi, sebagaimana mereka Salaf telah mendapatkannya…!!!  

��Dinukil dari berbagai sumber  

�� Abu Yusuf Masruhin

-----------------
♻ Silsilah nasihat ke - 105
�� Broadcast WA Dakwah Jalyat Unaiza_Indo
�� Ikuti di no: +966509273346

NIKMATNYA MAKSIAT

��BimbinganIslam.com
Senin, 23 Dzulqa'dah 1436 H / 7 September 2015 M
�� Materi Tematik | Nikmatnya Maksiat
�� Ustadz Firanda Andirja,  MA
�� Video Source: http://yufid.tv/ceramah-singkat-nikmatnya-maksiat-ustadz-firanda-andirja-ma/
�� Download Audio: https://www.dropbox.com/s/crl8fqcf5k08bfs/nikmatnya%20maksiat.mp3?dl=0

➖➖➖➖➖➖➖

NIKMATNYA MAKSIAT

بسمــ اللّه الرحمنــ الرحيمـ‍ـ 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن واله

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allãh Subhanahu wa Ta'āla.

Tidak dipungkiri bahwasanya kemaksiatan memang mendatangkan kelezatan.

Oleh karenanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam telah mengisyaratkan hal ini dalam haditsnya:

وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

"Bahwasanya neraka Jahannam diliputi dengan syahwat-syahwat."

(HR. Muslim, dari shahābat Anas bin Mālik radhiyallāhu 'anhu)

Artinya, seseorang kalau ingin masuk ke dalam neraka Jahannam maka dia akan melewati pagar-pagar syahwat tersebut.

Dia akan merasakan kelezatan-kelezatan sehingga akhirnya terjerumus ke dalam neraka Jahannam.

Dan maksiat demikian, mendatangkan kelezatan, semua maksiat secara umum mendatangkan kelezatan.

Zina, mendatangkan kelezatan.

Oleh karenanya orang banyak suka dengan zina.

Minum khamr, mendatangkan kelezatan.

Dan tidak usah jauh-jauh, bahkan ghībah (ngrumpi), menceritakan kejelekan orang lain juga mendatangkan kelezatan.

Sebagai bukti, kita dapati bahwasannya acara-acara ghībah, berita-berita tentang mengungkap aib-aib orang merupakan acara yang disenangi (paling disukai) oleh masyarakat.

Kenapa?

Karena mereka menemukan kelezatan tatkala menghadiri acara-acara ghībah.

Demikian juga orang yang berghībah ria.

Anda sendiri kalau seandainya terjerumus dalam ghībah, anda sedang mengghībahi orang lain, anda akan merasakan kelezatan tatkala sedang mengghībah.

Namun lihatlah, setelah maksiat apa yang terjadi?

Kelezatan tersebut...., TELAH SELESAI.

Yang tersisa hanyalah HISAB...., akan di HISAB oleh Allãh Subhanahu wa Ta'āla.

Yang tersisa hanyalah,

KEGELISAHAN...
GUNDAH  GULANA...
KEKHAWATIRAN...
KETIDAKTENANGAN.

Dan ini dirasakan oleh setiap pelaku maksiat, tidak bisa dipungkiri juga hal ini.

Orang yang ber-ZINA tatkala ber-ZINA, memang dia merasakan kelezatan ber-ZINA.

Namun setelah selesai ber-ZINA, fithrahnya akan bicara bahwasanya dia tahu bahwa posisinya salah.

Akan timbul kegelisahan, akan timbul kekhawatiran dan ketakutan.

Ini menunjukkan bahwasanya kelezatan maksiat hanya bersifat sementara.

KAPAN...?

"TATKALA dIA BERMAKSIAT".

Setelah dia selesai bermaksiat, kelezatannya akan hilang.

Orang berghībah, tatkala dia sedang berghībah maka dia akan merasakan kelezatan.

Namun setelah ia selesai meng ghibah, coba cek hatinya.

Hatinya akan terasa KERAS..
Hatinya akan terasa KAKU.

KENAPA....?

Kelezatan ghībah telah selesai, yang tinggal hanyalah PENDERITAAN.

Demikian juga orang yang minum khamr, tatkala dia minum khamr dia merasa lezat.

Namun setelah selesai minum khamr yang ada hanya kegelisahan.

Maka dia ingin mencari kelezatan berikutnya.

Sehingga maksiat tadi menjerumuskan dia ke maksiat berikutnya.

KENAPA....?

Dia ingin mencari kelezatan yang telah hilang tersebut.

"KELEZATAN YANG BERSIFAT SEMENTARA".

Hal ini berbeda dengan KEIMANAN.

Kelezatan yang ditimbulkan KEIMANAN, kalau kita katakan itu adalah "KEBAHAGIAAN".

Kebahagiaan adalah kelezatan yang Allãh masukkan ke dalam hati seseorang.

Berbeda dengan kelezatan maksiat yang hanya bersifat jasadiyyah (berkaitan dengan jasad saja), tetapi kebahagiaan karena iman masuk ke dalam hati.

Kata Allãh Subhanahu wa Ta'āla:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allãh. Hanya dengan mengingat Allãhlah hati -hati akan menjadi tenang."

(QS. Ar-Ra'd ayat 28)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ الإيمانِ : مَنْ رَضِيَ بالله ربًّا، وبالإسلام دينًا، وبمحمَّدٍ رَسُولاً 

"Telah merasakan kenikmatan iman orang yang ridha bahwasannya Allãh adalah Tuhannya, Islam adalah agamanya dan Nabi Muhammad adalah Nabinya."

(HR. Muslim)

Yaitu kenikmatan yang masuk dalam hati, yang dia bawa kemana-mana kenikmatan tersebut, bukan bersifat sementara.

Dimanapun dia berada kebahagiaan tersebut akan menyertainya.

Sebagai ilustrasi kita perhatikan dua model orang;

Yang pertama dia melakukan hubungan seksual dengan cara yang syar'i.

Adapun yang kedua melakukan hubungan seksual dengan cara yang haram.

Yang melakukan hubungan seksual dengan cara yang haram (zina), tatkala berzina dia benar merasakan kelezatan.

Akan tetapi tatkala syahwatnya telah dia tumpahkan, apa yang tersisa dalam hatinya...?

Kegelisahan...

Dan ini pasti ia rasakan, dirasakan oleh setiap pezina.

Dia merasakan ada kegelisahan, dia merasakan ada kesalahan, dia merasakan ada kekeringan dalam hatinya.

Kemudian, seorang berzina dengan seorang wanita, setelah itu dia campakkan wanita tersebut sebagaimana anjing jantan tatkala mengawini anjing betina.

Setelah selesai anjing jantan tersebut mengawini anjing betina tersebut ditinggalkannya anjing betina tersebut.

Berbeda tatkala seseorang melakukan hubungan seksual dengan istrinya karena Allãh Subhanahu wa Ta'āla, sesuai dengan syariat.

Maka apa yang ditimbulkan?

Yang ditimbulkan adalah KEBAHAGIAAN.

Kebahagiaan timbul setelah dia berhubungan dengan istrinya.

Tatkala ia berhubungan dengan istrinya ia merasakan kelezatan dan setelah berhubungan ada kebahagiaan, dia semakin cinta pada istrinya, dia semakin sayang pada istrinya, dia merasa ada pahala yang Allãh berikan kepada dirinya.

Bukankah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:

 وَفِي بِضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ 

Sesungguhnya tatkala anda berhubungan dengan istrimu ada shadaqah, ada nilai pahala.

(HR. Muslim no. 2376)

Ada pahala di dalamnya.

Oleh karenanya kaum muslimin yang dirahmati Allãh Subhanahu wa Ta'āla,
Tatkala anda berbuat maksiat memang anda merasakan KELEZATAN...

Namun, ingatlah kelezatan tersebut hanyalah SEMENTARA.

Dan setelah pergi kelezatan tersebut akan ada kegelisahan, akan ada kekeringan dalam hati anda, akan ada gundah gulana dan setelah itu anda akan dihisab Allãh Subhanahu wa Ta'āla.

Jika anda ingin BAHAGIA maka TAQWA lah kepada Allãh Subhanahu wa Ta'āla, melaksanakan ketaatan maka kebahagiaan tersebut akan selalu ada di hati anda

والله تعالى أعلم بالصواب

__________________________
♻ PROGRAM TEBAR QURBAN
CINTA SEDEKAH dan Group Bimbingan Islam

▪Paket Sapi A 19.250.000
Untuk 7 orang @Rp. 2.750.000
▪Paket Sapi B 15.750.000
Untuk 7 Orang @Rp. 2.250.000
▪Kambing A Rp. 2.500.000
▪Kambing B Rp. 2.300.000
▪Kambing C Rp. 2.100.000

SALURKAN Qurban anda melalui:
�� Rek. Bank Muamalat
Cab. Cibubur No Rek 3310004579
a.n. Cinta Sedekah

�� Konfirmasi
SMS ke 0878 8145 8000
Dengan format: Nama#Domisili#PaketQurban#JumlahTransfer
Contoh:
Musa#Yogyakarta#2 Paket Kambing A#5.000.000
Isa#Solo#1/7 Paket Sapi B#2.250.000

�� www.cintasedekah.org
�� Fb: Cinta Sedekah

Tafsir Surat 5 Al-Ma'idah, Ayat 2.

Taushiyah ke 205, Selasa 24 Dzulqa'dah 1436 / 08 September 2015

Tafsir Mudah 100 Ayat Al-Qur'an Seruan Kepada Orang Beriman

Ayat Keduapuluh delapan: Surat 5 Al-Ma'idah, Ayat 2.

Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."

Tafsir Mudah dan Kandungan Ayat:

1. Ayat ini adalah seruan untuk semua orang beriman tanpa pandang suku, ras, warna kulit dan bangsa.
2. Orang beriman adalah orang mengimani semua yang wajib diimani dengan ucapan lisan, keyakinan hati dan pengamalan dengan anggota tubuh. Iman bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah dan bisa berkurang dengan kedurhakaan kepada Allah.
3. Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman dari melanggar syi'ar-syi'ar Allah, yaitu batasan-batasan dan hukum-hukumNya.
4. Diantara yang dilarang oleh Allah adalah melanggar kehormatan bulan-bulan haram, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah berfirman: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." [QS 9 At-Taubah, ayat 36]
5. Dinamakan bulan-bulan haram karena diharamkan berperang dan berbuat kedzaliman di dalamnya. Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa larangan berperang pada bulan-bulan haram ini pada permulaan Islam saja dan kemudian hukumnya di-nasakh atau dihapus.
6. Diantara tujuan berperang dalam Islam adalah untuk menyelamatkan manusia, menegakkan keadilan dan memberantas kedzaliman.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan "Ahlul Qur'an" [Keluarga Al-Qur'an] dan "Shohibul Qur'an"  [Sahabat Al-Qur'an], yang "Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur'an", selalu membaca, memahami dan mengamalkannya sehingga kami menjadi sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat, aamiin..

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

���� WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang ����

�� Infaq kegiatan dakwah MTDHK bisa disalurkan melalui rekening a/n Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah;

�� BSM No: 7755555511
�� BNI No: 0362755494

���� Semoga Allah beri ganti dengan yang lebih baik dan barokah di dunia dan akhirat.

☝��️Kegiatan dakwah dan laporan keuangan ada di website kami www.mtdhk.com.

�� Untuk berlangganan WA Taushiyah MTDHK ketik "GABUNG" kirim WA (bukan SMS) ke +6283848634832 (Anggota lama tidak perlu mendaftar lagi)

�� Silahkan disebarkan kiriman ini sebagaimana aslinya tanpa dirubah sedikitpun, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah.. Jazakumulloh khoiro.

YA' JŪJ & MA'JŪJ (BAG 1)

�� BimbinganIslam.com
Selasa, 24 Dzulqa'dah 1436 H / 8 September 2015 M
�� Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
�� Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
�� Halaqah 20 | Ya'jūj dan Ma'jūj (bag 1)
⬇ Download Audio |
https://www.dropbox.com/s/nrqb3xqevkjg3d4/Halaqah%2020.%20Ya%20juj%20dan%20Ma%20juj%20%28bag%201%29%281%29.mp3?dl=0
~~~~~~~

YA' JŪJ & MA'JŪJ (BAG 1)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang:

'Ya'jūj dan Ma'jūj Bagian 1"

Ya'jūj dan Ma'jūj adalah nama dua umat manusia keturunan Nabi Ādam 'alayhissalām.

Mereka sudah ada di zaman Dzulqarnain dan membuat kerusakan di muka bumi.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan rahmat-Nya telah melindungi manusia dari mereka.

Dzulqarnain telah membuat dinding raksasa dari besi dan tembaga untuk mencegah mereka keluar sampai waktu yang ditentukan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Di dalam hadist yang shahīh yang diriwayatkan oleh Ibnu Mājah rahimahullāh:

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan bahwasanya Ya'jūj dan Ma'jūj menggali setiap hari dan berusaha untuk keluar.

Ketika hampir mereka melihat sinar matahari maka sebagian mereka mengatakan:

"Kembalilah kalian, besok kita akan menggali kembali."

Dan mereka tidak mengatakan “in syā Allāh”.

Maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengembalikan galian mereka seperti sedia kala seakan-akan belum mereka gali.

Demikian setiap hari sampai ketika sudah waktunya mereka keluar.

Sebagian mereka mengatakan setelah selesai menggali:

"Kembalilah kalian, besok in syā Allāh kita akan mengali lagi."

Maka pada esok harinya mereka mendapatkan galian mereka dan akhirnya merekapun bisa keluar.

Suatu hari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah mengabarkan bahwa di zaman Beliau, dinding tersebut telah terbuka sedikit seperti lingkaran yang dibentuk ibu jari dengan jari telunjuk.

(HR. Bukhāri)

Kalau sudah mendekat hari kiamat maka dinding tersebut akan hancur dan merekapun akan keluar.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا (٩٨) وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ ۖ (٩٩)

(Dzulqarnain berkata) : "Apabila datang janji Rabbku maka Rabbku akan menghancur leburkan dinding tersebut." Maka kami akan biarkan mereka pada hari itu bercampur antara satu dengan yang lain.

(QS. Al-Kahfi 98-99)

Dan mereka akan dengan cepat keluar sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla :

حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ

“Hingga apabila dibuka Ya'jūj dan Ma'jūj dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi”.

(QS. Al-Anbiyā 96)

Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah menjadikan keluarnya Ya'jūj dan Ma'jūj sebagai salah satu tanda-tanda besar dekatnya Hari Kiamat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

'Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Ditranskrip oleh:
Tim Transkrip BiAS
➖➖➖➖➖➖➖

PILIHAN ALLÄ€H YANG TERBAIK

BimbinganIslam.com
Rabu, 25 Dzulqa'dah 1436 H / 9 September 2015 M
Materi Tematik | Pilihan Allāh Yang Terbaik
Ustadz Firanda Andirja,  MA
▶ Download Audio: https://drive.google.com/file/d/0B1e0BM9z9hzYb3ZmVFNkZ2ZFUms/view?usp=docslist_api
Video Source: http://yufid.tv/kisah-kisah-menakjubkan-pilihan-allah-yang-terbaik-ustadz-firanda-andirja-ma/
➖➖➖➖➖➖➖

PILIHAN ALLĀH YANG TERBAIK

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Yang terbaik adalah pilihan Allāh, الْخَيْرُ خِيْرَةُ اللّهِ (al khayr khīratullāh)

Sesunguhnya yang lebih mengetahui tentang kemaslahatan kita adalah Pencipta kita.

Dialah yang telah menciptakan kita dan mengetahui apa yang terbaik buat kita.

Yang mengetahui hal yang ghāib tentang masa depan, Dialah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

أَلاَ يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ

"Tidakkah yang menciptakan lebih mengetahui tentang apa yang Dia ciptakan?

Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui."

(QS. Al-Mulk: 14)

Kita terkadang berencana, menurut perasaan & perkiraan kita, ada sesuatu yang kita anggap terbaik bagi kita sehingga kita berusaha untuk meraihnya.

Namun setelah berusaha ternyata gagal, tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan.

Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita yang membuyarkan cita-cita kita.

Namun ingatlah ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Jika seorang hamba telah berusaha dan telah berdo'a, maka yakinlah apa yang Allāh takdirkan itulah yang terbaik bagi dia.

Kenapa?

الْخَيْرُ خِيْرَةُ اللّهِ

(al-khayr khīratullāh),
"Yang terbaik adalah yang pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qurān :

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allāh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Dalam ayat yang lain kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

"Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allāh menjadikan padanya kebaikan yang banyak."

(QS. An-Nisā 19)

Bisa jadi kalian membenci istri-istri kalian, akan tetapi dibalik kebencian kalian, Allāh menghadirkan banyak kebaikan (shālihāh).

Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah memberikan beberapa contoh dalam Al-Qurān tentang pilihan Allāh adalah yang terbaik yang terkadang di luar imajinasi, perkiraan atau khayalan kita.

Contohnya seperti kisah Nabi Yūsuf 'alayhissalām.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan dalam Al-Qurān tentang kisah Nabi Yūsuf yang sangat luar biasa.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ أَحۡسَنَ ٱلۡقَصَصِ

"(Wahai Muhammad) Kami kisahkan kepada engkau kisah yang terbaik."

(QS. Yusuf: 3)

Kisah siapa?

Kisah Nabi Yūsuf yang penuh dengan perkara yang menakjubkan.

Bagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan anugerah kepada Nabi Yūsuf dalam bentuk ujian-ujian.

Oleh karenanya kata para ulama, diantaranya Ibnul Qayyim rahimahullāh, terkadang Allāh berikan anugrah & karunia dalam bentuk ujian.

Dan ini yang pernah dialami oleh Nabi Yūsuf 'alayhissalām.

Kita tahu bagaimana Nabi Yūsuf akhirnya menjadi seorang Al-'Azīz, seorang mentri yang mulia, yang dimuliakan, yang dihormati oleh penduduk negri Mesir.

Bagaimana ceritanya Nabi Yūsuf 'alayhissalām bisa menjadi seorang yang mulia?

Ternyata dengan berbagai macam ujian. Dari awal ujian Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah sebutkan dalam kisah Surat Yūsuf.

• Ujian Pertama•

Tatkala saudara-saudara Nabi Yūsuf hasad kepada Nabi Yūsuf, kemudian mereka melemparkan ke dalam sumur, ini ujian pertama, namun Nabi Yusuf sabar menghadapinya.

Dipisahkan dari ayahnya, Nabi Ya'qūb 'alayhissalām yang sangat mencintai Nabi Yūsuf.

Sehingga membuat sedih sang ayah dan juga Nabi Yūsuf 'alayhissalām.

Ayah yang mencintai, mengayomi dan membelanya selama ini harus terpisah dari dia, diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dilemparkan ke dalam sumur.

Tapi ternyata ini adalah anugerah tetapi memang ceritanya harus berupa ujian-ujian .

• Ujian Kedua •

Kemudian yang kedua, setelah itu Nabi Yūsuf diselamatkan oleh orang yang datang dan lewat ingin mengambil air dari sumur, mereka melihat Nabi Yusuf.

Bukannya Nabi Yusuf diselamatkan kemudian dibebaskan, malah dijadikan budak untuk dijual.

Bayangkan, seorang yang merdeka dijadikan budak, jadi barang dagangan untuk dijual.

Ini musibah kedua yang dialami Nabi Yūsuf 'alayhissalām.

Akan tetapi ternyata, justru tatkala Nabi Yūsuf menjadi budak inilah merupakan langkah menuju kebahagiaan.

Nabi Yūsuf dibeli oleh pembesar negri Mesir, kemudian dirawat di istana mereka, akhirnya tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan.

• Ujian Ketiga •

Kemudian Nabi Yūsuf dirayu oleh sang permaisuri yang mengajaknya berzina.

Nabi Yūsuf 'alayhissalām menolak dan akhirnya dipenjara, ini ujian berikutnya.

Bayangkan, ujian setelah ujian.

Nabi Yūsuf bersabar dalam penjara tersebut dan tidak lama kemudian datanglah dua orang yang ingin ditafsirkan mimpinya.

Setelah menafsirkan mimpi ke-2 orang tersebut, kemudian Nabi Yūsuf mengatakan bahwa salah satunya akan dibunuh dan yang lain akan selamat akan menjadi pelayan sang raja dan akan menuangkan minuman bagi sang raja.

Kemudian, kata Nabi Yusuf kepada salah seorang penghuni penjara yang menurut beliau akan selamat:

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ

"Jangan lupa kau sebut-sebut kebaikanku di sisi tuanmu (raja)."

(QS. Yūsuf : 42)

Apa maksud Nabi Yūsuf 'alayhissalām?

Agar jika sang raja tahu bahwasanya Nabi Yūsuf adalah seorang yang shālih yang bisa menafsirkan mimpi maka Nabi Yūsuf akan dibebaskan dari penjara.

Akan tetapi apa kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla?

فَأَنسَٮٰهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ ذِڪۡرَ رَبِّهِ

"Maka syaithān menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yūsuf) kepada tuannya."

(QS. Yūsuf : 42)

Ternyata Allāh mentaqdirkan lain, orang yang telah selamat ini lupa untuk menyebutkan kebaikan-kebaikan Nabi Yūsuf di sisi sang raja.

Akhirnya bertambah lagi bertahun-tahun Nabi Yūsuf harus dipenjarakan karena orang itu lupa.

Subhanallāh, ini musibah dan ditambah dengan musibah, karena kelupaan orang tersebut.

Akan tetapi ternyata Allāh punya skenario/cerita yang lain, ternyata kelupaan orang ini adalah anugerah.

Sampai kapan?

Sampai akhirnya sang raja sendiri yang bermimpi.

Di dalam mimpinya, dia melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus dan ada sunbulat (bulir gandum) yang kering dan sunbulat yang hijau.

Sang raja akhirnya bertanya:

"Siapakah yang bisa menfasirkan mimpiku?"

Ternyata tidak ada yang mampu. Tatkala itu ingatlah pelayan raja yang telah dibebaskan dari penjara.

Kata Allāh:

وَٱدَّكَرَ بَعۡدَ أُمَّةٍ أَنَا۟ أُنَبِّئُڪُم بِتَأۡوِيلِهِۦ فَأَرۡسِلُونِ

"Aku akan memberitakan kepadamu tentang|orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)."

(QS. Yūsuf : 45)

Ternyata Allāh menjadikan orang ini baru ingat tatkala sang raja yang bermimpi langsung.

Maka kemudian Nabi Yūsuf 'alayhissalām menafsirkan mimpi sang raja, baru ketahuanlah bahwa Nabi Yūsuf 'alayhissalām adalah orang yang hebat.

Maka akhirnya Nabi Yūsuf diangkat menjadi seorang mentri yang mulia.

Lihatlah berbagai macam ujian yang dihadapi Nabi Yūsuf, ternyata semua itu kesimpulannya adalah anugrah/karunia.

Allāh ingin mengangkat Nabi Yūsuf menjadi seorang raja, bahkan bukan cuma itu, akhirnya Nabi Yūsuf bisa mendatangkan ayah dan keluarganya untuk dipindahkan ke Mesir, dari kehidupan yang sulit menjadi kehidupan yang lapang.

Ini adalah anugerah yang luar biasa, akan tetapi ceritanya tidak seperti yang kita bayangkan.

Tidak semua anugerah datang dalam keadaan penuh kenikmatan.

Anugrah yang dialami oleh Nabi Yūsuf ternyata malah melewati berbagai macam ujian.

Oleh karenanya, jika kita terkena musibah dan jika kita sudah berusaha dan berdo'a ternyata ada sesuatu hal yang membuyarkan cita-cita kita, tidak sesuai dengan keinginan kita, maka yakinlah bahwa di balik segala sesuatu pasti ada hikmahnya.

Terkadang hikmah tersebut Allāh buka seketika itu juga atau terkadang setelah bertahun-tahun atau bahkan terkadang tersembunyi tidak ada yang tahu, hanya Allāh akan tampakkan di akhirat kelak.
Allāh menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya.
_______________
[Bagian 1 dari 2]

Dan di akhir dari apa yang saya sampaikan ini, ada suatu ilustrasi yang disebutkan dalam sebagian kisah.

Hanya sekedar ilustrasi, kita tidak tahu tentang kebenaran kisah ini.

Tentang seorang raja dengan seorang menteri.

Menterinya ini senantiasa berkata:

الْخَيْرُ خِيْرَةُ اللّهِ

"Al-khayr khīratullāh", yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Setiap ada orang yang terkena musibah maka diapun mendatangi dan menasihati dengan mengatakan:

"Yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Suatu saat sang raja terkena musibah, jarinya terpotong (terputus).

Maka datanglah sang menteri dengan penuh semangat mengatakan:

"Wahai Sang Raja, yang terbaik adalah pilihan Allāh, jarimu yang terputus itu adalah yang terbaik."

Maka sang raja pun tersinggung dan marah, dia mengatakan:

"Jari saya putus ini yang terbaik? Penjarakan orang ini."

Akhirnya sang menteri pun dipenjarakan.

Tatkala sang menteri dipenjara dengan mudah dia berkata, "Yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Ternyata benar.

Suatu saat sang raja keluar bersama anak buahnya dalam rangka berburu atau suatu keperluan.

Mereka terjebak pergi ke tempat yang jauh dan ditangkap oleh orang-orang penyembah dewa atau ruh.

Kemudian mereka disembelih satu persatu untuk tumbal bagi tuhan mereka.

Ketika giliran sang raja mereka dapati jarinya putus, cacat, dan mereka mengatakan bahwa orang ini tidak pantas untuk diserahkan bagi dewa mereka.

Akhirnya dibebaskanlah sang raja dan tatkala itu sang raja pun sadar bahwa yang dikatakan sang mentri betul.

Jari yang putus merupakan kebahagiaan, anugrah, sehingga ia tidak jadi dibunuh.

Dia pulang dengan begitu semangat kemudian membebaskan sang menteri dan berkata:

"Benar perkataanmu, yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Namun sang raja bertanya:

"Kenapa kau (menteri) ketika dipenjara mengatakan bahwa yang terbaik adalah pilihan Allāh? Apa kebaikan engkau dipenjara?"

Kata sang menteri:

"Seandainya saya tidak dipenjara maka saya pun akan berburu dengan engkau, ditangkap dan akan disembelih oleh mereka, oleh karenanya saya dipenjara adalah yang terbaik."

Demikianlah, semoga kita senantiasa berhusnuzhan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Setelah kita berusaha dan berdo'a, yakinlah bahwa segala ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah yang terbaik.

والله تعالى أعلم بالصواب
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

[Bagian 2 dari 2 - habis]
__________________________
♻ PROGRAM TEBAR QURBAN
CINTA SEDEKAH dan Group Bimbingan Islam

▪Paket Sapi A 19.250.000
Untuk 7 orang @Rp. 2.750.000
▪Paket Sapi B 15.750.000
Untuk 7 Orang @Rp. 2.250.000
▪Kambing A Rp. 2.500.000
▪Kambing B Rp. 2.300.000
▪Kambing C Rp. 2.100.000

SALURKAN Qurban anda melalui:
�� Rek. Bank Muamalat
Cab. Cibubur No Rek 3310004579
a.n. Cinta Sedekah

�� Konfirmasi
SMS ke 0878 8145 8000
Dengan format: Nama#Domisili#PaketQurban#JumlahTransfer
Contoh:
Musa#Yogyakarta#2 Paket Kambing A#5.000.000
Isa#Solo#1/7 Paket Sapi B#2.250.000

�� www.cintasedekah.org
�� Fb: Cinta Sedekah

Rabu, 09 September 2015

Puasa Arafah Menghapuskan Dosa 2 Tahun

��bismillah

Puasa Arafah Menghapuskan Dosa 2 Tahun

Hari Arafah -9 Dzulhijjah- adalah hari yang mulia saat di mana datang pengampunan dosa dan pembebasan diri dari siksa neraka. Pada hari tersebut disyari’atkan amalan yang mulia yaitu puasa. Puasa ini disunnahkan bagi yang tidak berhaji.

Puasa Arafah adalah amalan yang disunnahkan bagi orang yang tidak berhaji. Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.
Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (6: 428) berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi’ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl.”

Ibnu Muflih dalam Al Furu’ -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, “Disunnahkan melaksanakan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.”

Adapun orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah.

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ
“Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123).

عَنْ مَيْمُونَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِى صِيَامِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ عَرَفَةَ ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِحِلاَبٍ وَهْوَ وَاقِفٌ فِى الْمَوْقِفِ ، فَشَرِبَ مِنْهُ ، وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ
“Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Bukhari no. 1989 dan Muslim no. 1124).

Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dosa kecil.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51) Sedangkan jika melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni karena hadits di atas sifatnya umum. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 7: 498-500).

Setelah kita mengetahui hal ini, tinggal yang penting prakteknya. Juga jika risalah sederhana ini bisa disampaikan pada keluarga dan saudara kita yang lain, itu lebih baik. Biar kita dapat pahala, juga dapat pahala karena telah mengajak orang lain berbuat baik. “Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah (harta amat berharga di masa silam, pen).” (Muttafaqun ‘alaih). “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim).

Semoga Allah beri hidayah pada kita untuk terus beramal sholih.

Ref : rumaysho.com

Bolehkah Puasa Arafah dan Puasa Awal Dzulhijjah Namun Masih Memiliki Utang Puasa?

��bismillah

Bolehkah Puasa Arafah dan Puasa Awal Dzulhijjah Namun Masih Memiliki Utang Puasa?

Bolehkah melakukan puasa awal Dzulhijjah namun masih memiliki utang puasa (qadha puasa)? Termasuk pula apakah boleh melakukan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah sedangkan masih memiliki utang puasa?

Para fuqoha berselisih pendapat dalam hukum melakukan puasa sunnah sebelum melunasi qadha’ puasa Ramadhan.

Para ulama Hanafiyah membolehkan melakukan puasa sunnah sebelum qadha’ puasa Ramadhan. Mereka sama sekali tidak mengatakannya makruh. Alasan mereka, qadha’ puasa tidak mesti dilakukan sesegera mungkin.

Ibnu ‘Abdin mengatakan, “Seandainya wajib qadha’ puasa dilakukan sesegera mungkin (tanpa boleh menunda-nunda), tentu akan makruh jika seseorang mendahulukan puasa sunnah dari qadha’ puasa Ramadhan. Qadha’ puasa bisa saja diakhirkan selama masih lapang waktunya.”

Para ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat tentang bolehnya namun disertai makruh jika seseorang mendahulukan puasa sunnah dari qadha’ puasa. Karena jika melakukan seperti ini berarti seseorang mengakhirkan yang wajib (demi mengerjakan yang sunnah).

Ad Dasuqi berkata, “Dimakruhkan jika seseorang mendahulukan puasa sunnah padahal masih memiliki tanggungan puasa wajib seperti puasa nadzar, qadha’ puasa, dan puasa kafaroh. Dikatakan makruh baik puasa sunnah yang dilakukan dari puasa wajib adalah puasa yang tidak begitu dianjurkan atau puasa sunnah tersebut adalah puasa yang amat ditekankan seperti puasa ‘Asyura’, puasa pada 9 Dzulhijjah. Demikian pendapat yang lebih kuat.”

Para ulama Hanabilah menyatakan diharamkan mendahulukan puasa sunnah sebelum mengqadha’ puasa Ramadhan. Mereka katakan bahwa tidak sah jika seseorang melakukan puasa sunnah padahal masih memiliki utang puasa Ramadhan meskipun waktu untuk mengqadha’ puasa tadi masih lapang. Sudah sepatutnya seseorang mendahulukan yang wajib, yaitu dengan mendahulukan qadha’ puasa. Jika seseorang memiliki kewajiban puasa nadzar, ia tetap melakukannya setelah menunaikan kewajiban puasa Ramadhan (qadha’ puasa Ramadhan). Dalil dari mereka adalah hadits Abu Hurairah,

من صام تطوّعاً وعليه من رمضان شيء لم يقضه فإنّه لا يتقبّل منه حتّى يصومه

“Barangsiapa yang melakukan puasa sunnah namun masih memiliki utang puasa Ramadhan, maka puasa sunnah tersebut tidak akan diterima sampai ia menunaikan yang wajib.” Catatan penting, hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).[1] Para ulama Hanabilah juga mengqiyaskan (menganalogikan) dengan haji. Jika seseorang menghajikan orang lain (padahal ia sendiri belum berhaji) atau ia melakukan haji yang sunnah sebelum haji yang wajib, maka seperti ini tidak dibolehkan.

✅Jika Merujuk pada Dalil

Dalil yang menunjukkan bahwa terlarang mendahulukan puasa sunnah dari puasa wajib adalah hadits yang dho’if sebagaimana diterangkan di atas.

Dalam mengqadha’ puasa Ramadhan, waktunya amat longgar, yaitu sampai Ramadhan berikutnya. Allah Ta’ala sendiri memutlakkan qadha’ puasa dan tidak memerintahkan sesegera mungkin sebagaimana dalam firman-Nya,

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185).

Begitu pula dapat dilihat dari apa yang dilakukan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ
“Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqadha’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)

Sebagaimana pelajaran dari hadits ‘Aisyah yang di mana beliau baru mengqadha’ puasanya saat di bulan Sya’ban, dari hadits tersebut Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh mengakhirkan qadha’ puasa lewat dari Ramadhan berikutnya.” (Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, 4: 191)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan menyegerakan mengqadha’ puasa Ramadhan. Jika ditunda, maka tetaplah sah menurut para ulama muhaqqiqin, fuqaha dan ulama ahli ushul. Mereka menyatakan bahwa yang penting punya azam (tekad) untuk melunasi qadha’ tersebut.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 23).
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Inilah pendapat terkuat dan lebih tepat (yaitu boleh melakukan puasa sunnah sebelum qadha’ puasa selama waktunya masih lapang, pen). Jika seseorang melakukan puasa sunnah sebelum qadha’ puasa, puasanya sah dan ia pun tidak berdosa. Karena analogi (qiyas) dalam hal ini benar. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang sakit atau dalam keadaan bersafar (lantas ia tidak berpuasa), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185). Dalam ayat ini dikatakan untuk mengqadha’ puasanya di hari lainnya dan tidak disyaratkan oleh Allah Ta’ala untuk berturut-turut. Seandainya disyaratkan berturut-turut, maka tentu qadha’ tersebut harus dilakukan sesegera mungkin. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masalah mendahulukan puasa sunnah dari qadha’ puasa ada kelapangan.” (Syarhul Mumthi’, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 6: 448).
Kesimpulannya, masih boleh berpuasa Arafah maupun berpuasa sunnah di awal Dzulhijjah meskipun memiliki utang puasa (qadha puasa). Asalkan yang punya utang puasa tersebut bertekad untuk melunasinya. Wallahu Ta’ala a’lam.
Hanya Allah yang memberi taufik.

Ref: rumaysho.com

[1] HR. Ahmad 3/352. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Lahi’ah dan dinilai dho’if, dan di dalamnya ada perowi yang matruk (Lihat Al Mughni, Ibnu Qudamah, Darul Fikr, 3/86). Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah wal Mawdhu’ah (2/235) mengatakan bahwa hadits ini dho’if. Begitu pula hadits ini didho’ifkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam takhrij Musnad Imam Ahmad (3/352).

Hukum Puasa Tarwiyah

��bismillah

Hukum Puasa Tarwiyah

Adakah tuntunan puasa hari tarwiyah? Hari tarwiyah yaitu tanggal 8 Dzulhijjah.

Dalil Anjuran Puasa Tarwiyah

Dalil yang menjadi pegangan anjuran puasa tarwiyah, 8 Dzulhijjah,

صوم يوم التروية كفارة سنة وصوم يوم عرفة كفارة سنتين (أبو الشيخ ، وابن النجار عن ابن عباس)
“Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah) akan mengampuni dosa dua tahun.” Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu An Najjar dari Ibnu ‘Abbas.

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih.[1] Asy Syaukani mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih dan dalam riwayatnya ada perowi yang pendusta.[2] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).[3]
Jika hadits di atas adalah dho’if (lemah), maka berarti tidak boleh diamalkan dengan sendirinya.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak boleh bersandar pada hadits-hadits dho’if (lemah) yang bukanlah hadits shahih dan bukan pula hadits hasan. Akan tetapi, Imam Ahmad bin Hambal dan ulama lainnya membolehkan meriwayatkan hadits dho’if dalam fadhilah amal selama tidak diketahui hadits tersebut shahih atau hadits tersebut bukan diriwayatkan oleh perowi pendusta. Namun boleh mengamalkan isinya jika diketahui ada dalil syar’i yang mendukungnya. Jika haditsnya bukan diriwayatkan oleh perowi yang pendusta, boleh jadi pahala yang disebutkan dalam hadits tersebut benar.

Akan tetapi, para ulama katakan bahwa tidak boleh menyatakan wajib atau sunnah pada suatu amalan dengan dasar hadits dho’if. Jika ada yang mengatakan bolehnya, maka dia telah menyelisihi ijma’ (kata sepakat para ulama).” (Al Majmu’ Al Fatawa, 1: 250-251)

Masih Bisa Berpuasa Tanggal 8 Dzulhijjah Jika ….

Masih bisa berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah namun bukan berdasarkan hadits yang penulis sebutkan di atas, namun karena mengingat keutamaan beramal di awal Dzulhijjah dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan yang dikerjakan saat itu.

Ditambah ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat untuk berpuasa pada tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ  وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim).

Mengenai hadits ini, Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sepuluh hari awal Dzulhijjah seluruhnya adalah hari yang mulia dan dimuliakan, di dalamnya dilipatgandakan (pahala) amalan dan disunnahkan bersungguh-sungguh ibadah pada waktu tersebut.” (Al Mughni, 4: 443).

Yang menjadi dalil keutamaan puasa pada awal Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kata Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah bahwa di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 459.

Lebih-lebih puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah punya keutamaan yang besar daripada puasa awal Dzulhijjah lainnya. Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)
Semoga bermanfaat.

Referensi:
1- Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan tahun 1432 H.
2- Latho-itul Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, terbitan Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.
3- Majmu’atul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibni Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H.

Ref ; rumaysho.com

[1] Lihat Al Mawdhu’at, 2/565, dinukil dari http://dorar.net
[2] Lihat Al Fawa-id Al Majmu’ah, hal. 96, dinukil dari http://dorar.net
[3] Lihat Irwa’ul Gholil no. 956

MENCARI NAFKAH

Assalamu'alaikum..
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Renungan Untuk para pencari nafkah keluarga :

"Mungkin kau tak tahu dimana rizqimu. Tapi rizqimu tahu dimana engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.

Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.

Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya. (HR. Abu Zar dan Al Hakim)

Tugas kita bukan mengkhawatirkan rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban "Dari Mana" & "Untuk Apa" atas tiap karuniaNya.

Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya (mati).

Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.

Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat & berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.

Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki Ismail, bayinya!!

Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan. Ia kejutan untuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugas kita cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.

Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalanNya, "Buat apa?"

Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua hanya "hak pakai" yang halalnya akan dihisab & haramnya akan di'adzab.

Dengan itu kita mohon "Ihdinash Shirathal Mustaqim"; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat. Bukan jalannya orang yg terkutuk apalagi jalan orang yang tersesat.

Maka segala puji hanya bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah maka kesempurnaan menjadi paripurna".

Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Ad-Dailami)

Bagikan inspirasi ini agar semakin banyak para pencari nafkah yang tersadarkan pentingnya ketaatan....

PINTU KEBAIKAN

✔️ PINTU KEBAIKAN

Abu Dzar berkata, "Bahwasanya orang-orang dari kalangan para sahabat Rasulullah pernah datang menemui beliau.

Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memiliki banyak pahala, mereka shalat seperti kami, mereka berpuasa seperti kami, dan mereka bersedekah dengan harta mereka.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

"Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu bagi kalian untuk bersedekah?. Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahmid adalah sedekah, perintah kepada kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemunkaran adalah sedekah. Dan dalam jima’ (melakukan hubungan intim dengan istrimu) pun ada sedekah."

Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah jika seseorang melampiaskan syahwatnya kepada istrinya bisa mendapatkan pahala?.

Rasulullah menjawab, "Bagaimana menurutmu jika disalurkan kepada yang haram, apakah ia berdosa?. Begitu pula jika dia disalurkan pada yang halal dia akan mendapat pahala." (HR. Muslim, No. 2376)

Dalam hadis ini terdapat bukti bahwa amalan mubah (yang diperbolehkan) bisa menjadi suatu bentuk ketaatan bila disertai dengan niat tulus ikhlash.

Maka, jima’ (hubungan intim) pun bisa menjadi bentuk ibadah bila diniatkan untuk menunaikan hak istri dan mempergaulinya dengan ma’ruf (secara patut) seperti perintah Allah, atau mengharap anak yang shaleh atau untuk menjaga kehormatan diri atau menjaga kehormatan istri sehingga tercegah dari melihat atau berfikir yang diharamkan atau dari berkeinginan untuk melakukan perkara yang haram; atau maksud-maksud lain yang terpuji.

(Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Maryi an-Nawawi, “ al-Minhaj Syarah Shahih Muslim bin al-Hajjaj” , 7/92)

�� Reposted dari WA grup Islamadina "Keluarga Muslim" 08778 2400 868, silahkan share, silahkan bergabung.

SAKIT DALAM PANDANGAN ISLAM

[11:37 pagi 04/09/2015] ‪+62 813-3480-6875‬: Sekedar berbagi, begini lah Islam memandang
�� S A K I T ��

✅ Sakit itu "Zikrullah".
Mrk yg menderitanya akan lebih sering berdzikir, menyebut Asma Δllαħ dibandingkan  ketika dlm sehatnya.

✅ Sakit itu "Istighfar".
Dosa2 akan mudah teringat, jk sakit.
Shg lisan terbimbing utk memohon ampun.

✅ Sakit itu "Tauhid".
Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibah yg akan terus diucapkan?

✅ Sakit itu "Muhasabah".
Kita jk sakit akan punya lebih banyak wkt utk merenungi diri dlm sepi, menghitung2 bekal kembali ke akhirat?

✅ Sakit itu "Jihad".
Kita ketika sakit tak boleh menyerah kalah, diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhan.

✅ Bahkan sakit itu "Ilmu".
Bukankah ketika sakit, kita akan memeriksa, berkonsultasi & pd akhirnya merawat diri utk berikutnya dan punya ilmu utk tdk mudah kena sakit?

✅ Sakit itu "Nasihat".
Yg sakit mengingatkan si sehat utk jaga diri. Yg sehat menghibur yg sakit agar mau bersabar.
Δllαħ cinta dan sayang keduanya.

✅ Sakit itu "Silaturrahim".
Saat jenguk, bukankah keluarga yg jarang bertemu akhirnya datang membezoek, penuh senyum dan rindu mesra?
Krn itu pula sakit adalah perekat ukhuwah.

✅ Sakit itu "Penggugur Dosa".
Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia,
Anggota badan yg sakit dinyerikan dan dicuciNya.

✅ Sakit itu "Mustajab Do'a".
Imam As-Suyuthi keliling kota mencari org sakit lalu minta dido'akan oleh yg sakit.

✅ Sakit itu salah satu keadaan yg "Menyulitkan Syaitan".
Diajak maksiat tak mampu - jadi, tak mau. Ingat dosa.. lalu menyesali.. kemudian diampuni.

✅ Sakit itu membuat "Sedikit tertawa dan banyak menangis".
Satu sikap ke-Insyaf-an yg disukai Nabi & para makhluk langit.

✅ Sakit meningkatkan kualitas "Ibadah".
Rukuk - Sujud lebih khusyuk,
Tasbih - Istighfar lebih sering,
Bermunajat - Do'a jadi lebih lama.

✅ Sakit itu memperbaiki "Akhlak".
Kesombongan terikikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut & Tawadhu'.

✅~ Dan pd akhirnya "SAKIT" membawa kita utk sll ingat "KEMATIAN"

Sυbħαπαllαħ...
والله أعلم بالصواب
������������������
[11:56 pagi 04/09/2015] ‪+62 813-3480-6875‬: SECERCAH NASIHAT UNTUK ANDA WAHAI PARA DOKTER

Oleh
Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman

Termasuk nikmat Allah atas para hamba-Nya adalah Allah mengajarkan dan melebihkan sebagian orang dalam bidang kedokteran. Mereka membantu orang yang sakit dan menjadi sebab setelah Allah dalam menyembuhkan orang sakit. Berikut ini secercah nasihat yang ingin kami sampaikan kepada segenap saudaraku para dokter, sebagai peringatan dan nasihat dalam kebaikan. Terimalah nasihat sederhana ini dari saudaramu yang tidak menghendaki kecuali kebaikan. Terimalah dengan hati yang lapang, semoga Allah menunjuki kita semua ke jalan yang lurus.

PERTAMA : ALLAH TELAH MELEBIHKANMU
Wahai saudaraku para dokter –semoga Allah menjagamu-. Anda telah diberi nikmat oleh Allah dengan nikmat yang banyak. Salah satunya adalah Allah telah memilihmu untuk menjadi dokter. Keahlian ini tidak dimiliki oleh semua orang. Maka bersyukurlah atas nikmat yang besar ini. Jangan lupa diri. Ingatlah ilmu pengetahuan yang kita miliki adalah pemberian Allah. Tidaklah kita ingat bahwa dahulu kita tidak mengetahui apa pun? Allah berfirman.

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“Dan Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu” [An-Nisa : 113]

Allah berfiman pula

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” [An-Nahl : 78]

Jadi, ilmu kedokteran yang anda –para dokter- miliki adalah pemberian Allah, maka syukurilah dengan cara menggunakan nikmat ilmu tersebut dalam kebaikan.

KEDUA : NIAT YANG SHALIH
Wahai saudaraku para dokter…. Niatkan ketika anda menjalankan tugas dan mengobati untuk mencari pahala dari Allah, jangan semata-mata hanya rutinitas tugas atau ingin meraih rizki yang melimpah. Niatkan dari tugas mulia ini untuk berbuat baik kepada sesama kaum muslimin, jangan tergambar hanya untuk urusan dunia. Ingatlah, tugasmu sangat mulia. Ikhlas dalam beramal. Akan tetapi, hal itu bukan berarti tidak boleh mengambil upah dalam mengobati. Ambillah honor atau pemberian orang yang sakit, tetapi ingat, jangan membebani hingga si pasien merasa berat. Berilah keringanan kepada saudaramu yang sedang tertimpa musibah, insya Allah ganjaran yang anda dapat akan lebih besar. Allah berfirman.

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” [Al-Baqarah : 199]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ نَفَّسَ مُسلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الذُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُربَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِى الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) atas orang yang kesulitan, maka Allah memudahkan atasnya di dunia dan akhirat” [1]

Demikian pula hendaklah anda amanah dalam menjalankan tugas mulia ini. Jangan mengatakan kepada pasien harus beli ini dan itu padahal tidak dibutuhkan, atau memberi resep obat mahal yang tidak dibutuhkan demi melariskan apotek tempat tugasmu. Takutlah kepada Allah dari dusta ketika bertugas. Bantulah saudaramu sebelum Allah mencabut kenikmatan ini darimu

KETIGA : KERJAKAN SHALAT KETIKA TIBA WAKTUNYA
Termasuk bentuk syukurmu kepada Allah adalah apabila adzan telah berkumandang maka bersegeralah berangkat shalat. Jangan akhirkan shalat, karena anda adalah teladan bagi orang-orang yang disekitarmu. Apabila amalan yang sedang anda kerjakan di rumah sakit sangat mendesak, seperti sedang operasi pasien dan tidak bisa menundanya, maka tidaklah mengapa anda mengakhirkan shalat hingga tugasmu selesai, setelah itu bersegeralah shalat. Allah berfirman.

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'” [Al-Baqarah : 238]

KEEMPAT : BELAJAR ILMU AGAMA
Saudaraku, sang dokter..
Mungkin anda sering mendapati pasienmu tidak paham bagaimana tata cara berwudhu dan shalatnya orang yang sedang sakit. Maka tugasmu untuk mengajari mereka, membimbing mereka bagaimana tetap beribadah ketika sakit. Kewajibanmu wahai para dokter untuk belajar ilmu agama, agar anda bisa mengarahkan pasien ke jalan yang benar dan beribadah dengan benar pula.

KELIMA : JANGAN BERDUA-DUAAN DENGAN WANITA YANG BUKAN MAHRAM.
Saudaraku, sang dokter…
Terkadang pasienmu adalah seorang wanita. Apabila anda bisa mencari dokter wanita yang bisa menanganinya maka itulah yang seharusnya. Akan tetapi, jika tidak ada maka tetaplah anda menanganinya dengan didampingi mahram si pasien. Jangan hanya berdua-duan dengan pasien wanitamu, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْمَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya” [2]

Apabila mahram si pasien wanita tidak ada, dan tidak ada pula dokter wanita yang lain, maka tetaplah anda mengobati sewajarnya dengan tetap menjaga rasa takut kepada Allah. Obatilah seperlunya, jangan tambahi dengan obrolan yang keluar batas.

KEENAM : MEMBUKA AURAT WANITA?
Nasihatku selanjutnya, apabila kondisimu terpaksa dan menuntut membuka aurat pasien wanitamu, maka bukalah aurat tempat yang sakit yang perlu diobati saja, jangan berlebih-lebihan. Ini dibolehkan karena termasuk kondisi darurat. Dan darurat itu diukur sekedarnya saja, apabila telah selesai maka tutuplah kembali. Takutlah selalu kepada Allah