Sabtu, 22 Agustus 2015

Ayah Ibu, Didiklah Aku Seperti Sahabat

�� BimbinganIslam.com
�� Jum'at, 6 Dzulqa'dah 1436H / 21 Agustus 2015M
�� Artikel Tematik | Ayah Ibu, Didiklah Aku Seperti Sahabat
�� Ummu Sholih
~~~~~~~~~~~~~~~

�� Ayah Ibu, Didiklah Aku Seperti Sahabat ��

Dalam sebuah kelas di sebuah sekolah dasar, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya: "Apa cita-cita kalian bila besar nanti?"

Maka, seperti umumnya anak-anak, mereka menjawab ingin menjadi dokter, teknisi, polisi, dan jabatan-jabatan semisalnya, sampai pada seorang murid, ia berkata: "Aku ingin menjadi seperti sahabat nabi, karena ibuku selalu mengatakan bahwa merekalah orang-orang yang dicintai Allah dan RasulNya."
MasyaAllah!

Ayah dan ibu, pernahkah hal itu terbetik di benak anak-anak kita? Menjadi seperti sahabat nabi radhiyallahu 'anhum ajma'in. Atau, anak-anak kita lebih mengenal dan mengidolakan tokoh-tokoh non muslim, orang-orang fasik, atau malah tokoh-tokoh fiksi dan tidak mengenal nama-nama para sahabat Nabi mereka?

Naudzbillah min dzalik. Bila demikian, maka janganlah mengeluh apabila kita melihat banyak anak-anak kaum muslimin yang sangat sulit menerima ajaran Islam, bahkan bangga dengan syiar-syiar kekafiran dan kefasikan, karena mereka telah mengambil panutan yang salah.

Ayah ibu, tidakkah kita merindukan generasi-generasi cemerlang yang membawa kembali kebesaran nama Islam? Kalau begitu, marilah kita buka kembali lembaran sejarah paling gemilang dalam Islam, yaitu sejarah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat beliau radhiyallahu 'anhum, sebagaimana sabda Rasulullah:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shohih diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3651, dan Muslim no. 2533).

Bila kita buka shirah nabawiyah, kita akan temui bahwa sebagian besar sahabat nabi adalah pemuda, bahkan di antara mereka adalah anak-anak.

Ayah ibu, mari kita baca dan kisahkan pada anak-anak kita tentang Ali bin Abi Thalib. Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak, pada usianya 10 tahun.

Usia yang sangat belia, tetapi Ali telah mampu memilih jalan hidupnya sendiri, membedakan yang hak dari yang bathil, melawan tradisi kaum dan keluarganya, tanpa merasa minder karena usianya yang sangat muda. Bandingkan dengan sebagian besar anak-anak zaman ini yang hanya berfikir untuk bermain, sibuk dengan game, play station, atau tontonan hiburan semata.

Betapa cerdasnya Ali kecil, yang telah memilih peribadahan kepada Allah semata dan mengambil Rasulullah sebagai teladannya, sementara lingkungannya adalah penyembah berhala dan penghalang dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Itulah Ali, yang selanjutnya menjadi pemuda gemilang dalam Islam dan dikabarkan oleh Rasulullah sebagai orang  yang mencintai Allah dan RasulNya dan dicintai oleh Allah dan RasulNya..

Atau mari kita kisahkan tentang kepahlawanan Usamah bin Zaid, pemuda kecintaaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang telah dipercaya memimpin pasukan kaum muslimin memerangi pasukan Romawi, saat usianya masih 18 tahun! Sungguh prestasi yang luar biasa.

Dan Usamah pun mampu membuktikan kepercayaan Rasulullah kepadanya dengan membawa kemenangan bagi kaum muslimin, tanpa ada satu korban pun dari kaum muslimin!

Atau tuturkan kepada anak-anak kita tentang Ibnu Abbas, yang dijuluki tintanya umat ini. Tahukah Anda, berapa usianya ketika menjadi sahabat nabi? Kurang dari 13 tahun! Dalam usia yang sangat belia itulah, Ibnu Abbas banyak mengambil hadist dan pelajaran dari Nabi, sehingga setelah Nabi wafat, ia meriwayatkan sebanyak 1660 hadist dan menjadi periwayat hadist terbanyak kelima di antara sahabat nabi.

Subhanallah! Remaja kecil dengan hati yang sadar, pikiran yang jernih, hafalan yang luar biasa, hujjah yang kuat, dan intuisi yang tajam, ditambah dengan doa Rasulullah untuknya:

«اللهم فقّهه في الدين، وعلّمه التأويل».

"Ya Allah pahamkanlah ia akan ilmu agama, dan ajarilah ia tafsir.."

Ayah ibu, kisahkan pula tentang  keberanian para shahabat belia yang ingin menjadi syuhada..Ya, menjadi syuhada. Kata-kata yang mungkin tidak dikenal oleh sebagian besar remaja saat ini, apalagi untuk diimpikan.

Tapi  itulah mereka.. Muadz bin Amr bin Al Jumuuh dan Muadz bin Afra'. Dua remaja yang mengikuti perang Badr untuk membunuh Abu Jahal, sampai akhirnya keduanya berhasil membunuh Abu Jahal, fir'aun masa itu.

Atau tentang Umair, saudara Sa'ad bin Abi Waqash. Berkata Sa'ad bin Abi Waqash radhiyallahu 'anhu; aku melihat saudaraku Umair bersembunyi di tengah pasukan (sebelum perang Badr), maka aku bertanya: "Ada apa denganmu?"

Ia menjawab: "Aku takut Rasulullah melihatku dan menolak aku ikut berperang, sedangkan aku ingin berperang, agar Allah menjadikan aku syuhada'.  Ketika Umair dihadapkan pada Rasulullah, beliau menolaknya karena usianya yang masih kecil, maka Umair pun menangis...

Atau bukalah kisah Zaid Bin Tsabit, yang ketika mendatangi bertemu Nabi usianya baru mencapai 11 tahun. Ketika itu, ia telah menghafal 17 surat dalam Al-Qur'an.
Zaid adalah sekretaris bagi Rasulullah, Rasulullah meminta Zaid untuk belajar bahasa Yahudi untuk menuliskan surat-surat beliau kepada kaum Yahudi.

Dalam usia yang sangat muda tersebut Zaid mampu menguasai bahasa Yahudi hanya dalam waktu 15 hari!  Setelah itu, Zaid radhiyallahu 'anhu selalu menuliskan surat dakwah untuk kaum yahudi sekaligus menerjemahkan balasan surat dari kaum yahudi tersebut untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Zaid juga memiliki kemampuan menghafal dan menulis yang handal, sehingga ialah salah seorang sahabat yang berperan besar dalam pembukuan Al-Qur'an.

Ayah Ibu, tidakkah terketuk hati kita untuk menjadikan anak-anak kita seperti mereka? Generasi dengan akal yang jernih dan iman yang menancap kokoh di dada, melahirkan sederet sikap yang mulia, sangat jauh dari sikap hura-hura serta mengekor para pemuja dunia..

Tidakkah terketuk hati kita untuk menjadikan mereka panutan bagi putera-puteri kita, ketimbang tokoh-tokoh khayal dan para pelaku maksiat?

Karenanya, mari kita dekatkan generasi muda kita dengan para sahabat, jangan pernah enggan meluangkan waktu untuk membuka dan membacakan sejarah mereka. Didik anak-anak kita untuk mencontoh mereka, atau setidaknya mengenal dan mencintai mereka! 

✒ Ummu Sholih, di Kota Nabi
_______________________
�� Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

�� Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
�� http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran

Jumat, 21 Agustus 2015

Tafsir Surat 4 An-Nisaa', Ayat 43. (Lanjutan)

Taushiyah ke 194, Kamis 05 Dzulqa'dah 1436 / 20 Agustus 2015

Tafsir Mudah 100 Ayat Al-Qur'an Seruan Kepada Orang Beriman

Ayat Keduapuluh satu: Surat 4 An-Nisaa', Ayat 43.

Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun."

Tafsir Mudah dan Kandungan Ayat:

---Sambungan sebelumnya---

11. Larangan shalat bagi orang yang dalam keadaan junub dan juga dilarang atasnya menetap di masjid kecuali sekedar lewat saja.
12. Jika telah mandi janabah maka boleh bagi orang junub untuk menetap di masjid.
13. Mandi janabah itu harus disertai niat mandi janabah untuk membersihkan diri dari hadats besar.
14. Junub itu adalah disebabkan oleh pertemuan alat kelamin laki-laki dengan alat kelamin perempuan disertai usaha atasnya, bukan asal menempel saja, walau tidak sampai keluar air mani.
15. Termasuk hukum junub adalah keluar air mani dengan sebab-sebab yang lain.
16. Diperbolehkan bertayamum bagi orang sakit yang khawatir jika mandi atau wudhu akan memperparah penyakitnya atau memperlambat kesembuhannya, walaupun ada air.
17. Diperbolehkan bagi musafir untuk bertayamum jika tidak menemukan air.
18. Diperbolehkan bagi orang yang berhadats karena buang air untuk bertayamum jika tidak menemukan air.
19. Diperbolehkan bagi orang yang berhadats karena bersentuhan laki-laki dengan perempuan untuk bertayamum jika tidak menemukan air.
20. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang maksud dari bersentuhan laki-laki dengan perempuan; sebagian memahami bersentuhan kulit dan sebagian yang lain memahami bersetubuh. Kami tidak membahas permasalahan khilafiyah atau perbedaan pendapat disini.
21. Allah memperbolehkan tayamum dalam dua keadaan;
a). Tidak ada air setelah usaha mencarinya. Hukum ini berlaku bagi musafir dan mukim.
b). Kesulitan memakai air karena sakit dan semisalnya.
22. Bertayamum itu adalah mengusap wajah dan tangan dengan tanah yang suci.
23. Tata cara bertayamum secara mendetail telah dijelaskan lengkap oleh para ulama dalam kitab-kitab fiqih, silahkan meruju' kepadanya.
24. Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun yang selalu memberikan kemudahan kepada hamba-hambaNya dan tidak memberikan kesulitan dalam mengamalkan syari'atNya.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan "Ahlul Qur'an" [Keluarga Al-Qur'an] dan "Shohibul Qur'an"  [Sahabat Al-Qur'an], yang "Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur'an", selalu membaca, memahami dan mengamalkannya sehingga kami menjadi sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat, aamiin..

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

���� WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang ����

�� Infaq kegiatan dakwah MTDHK bisa disalurkan melalui rekening a/n Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah;

�� BSM No: 7755555511
�� BNI No: 0362755494

���� Semoga Allah beri ganti dengan yang lebih baik dan barokah di dunia dan akhirat.

☝��️Kegiatan dakwah dan laporan keuangan ada di website kami www.mtdhk.com.

�� Untuk berlangganan WA Taushiyah MTDHK ketik "GABUNG" kirim WA (bukan SMS) ke +6283848634832 (Anggota lama tidak perlu mendaftar lagi)

�� Silahkan disebarkan kiriman ini sebagaimana aslinya tanpa dirubah sedikitpun, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah.. Jazakumulloh khoiro.

Kamis, 20 Agustus 2015

Nasihat Penting Untuk Saudara dan Saudariku Tercinta

�� Nasihat Penting Untuk Saudara dan Saudariku Tercinta

Akhi dan ukhti fillah...

Perhatikanlah point-point nasihat penting berikut ini dan berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk mempraktekkannya...

1. Tuntutlah ilmu syar'i yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para Salaf Ash-shalih (orang-orang shalih yang terdahulu dari kalangan para sahabat, tabi’in dan pengikut tabi’in)

2. Aplikasikan dan wujudkanlah tauhid (dalam kehidupan), dan bersihkanlah ia dari noda-noda kesyirikan, bid'ah dan kemaksiatan.

3. Tegakkanlah shalat shalat (lima waktu) tepat pada waktunya dengan khusyuk dan tuma'ninah.

4. Keluarkanlah zakat dari hartamu ataupun lainnya, dan berikanlah kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

5. Berpuasalah di bulan Ramadhan, dan bersemangatlah untuk menambahnya dengan puasa-puasa sunnah pada selain (bulan Ramadhan) sesuai dengan yang disyariatkan.

6. Tunaikanlah kewajiban ibadah haji dalam waktu yang sesegera mungkin (jika sudah memenuhi syaratnya).

7. Sambunglah tali silaturrahim dengan saling mengunjungi, saling menasihati, dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.

8. Berdakwahlah kepada jalan Allah ta'ala dengan penuh hikmah, dan mauidzatil hasanah (disesuaikan dengan kemampuannya) bersamaan dengan itu bersemangatlah untuk memberi petunjuk kepada orang lain.

9. Ajaklah untuk berbuat baik, dan cegahlah dari perbuatan kemungkaran dengan kemampuan yang ada.

10. Gunakanlah waktu sebaik mungkin, dan perbanyaklah amal shalih.

11. Didiklah anak-anak dengan didikan yang baik.

12. Hiasilah diri anda dengan akhlak yang terpuji.

13. Perbanyaklah istighfar, taubat, dan dzikir kepada Allah Azza wajalla.

14. Selalu ingatlah akan kematian, hari perhitungan (amal), surga dan neraka.

15. Tutupilah aib orang-orang muslim, doakanlah kebaikan bagi mereka tanpa sepengetahuannya.

�� Diterjemahkan dari: "Ahkam al-Ghinaa', wa At-Tashwir, wa Halqil liha, wa Syurbid Dhukhan, wa Al-Isbal" yang disusun oleh: Dar Al-Qaasim

___________
Unaizah, 05 Dzul Qa'idah 1436 H.
Alih Bahasa: Andri Abdul Halim, Lc.

Demikian, wabillahi at-taufiiq

------------------
♻ Silsilah nasihat ke - 97
�� Broadcast WA Dakwah Jalyat Unaiza_Indo
�� Ikuti di no: +966509273346

DAJJĀL (BAG. 1)

�� BimbinganIslam.com
Kamis, 5 Dzulqa'dah 1436 H / 20 Agustus 2015 M
�� Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
�� Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
�� Halaqah 15 | Dajjāl (bagian 1)
⬇ Link download audio
https://drive.google.com/file/d/0B0Wy0LL4obxMTTczVUt3RVNSSkE/view?usp=docslist_api
➖➖➖➖➖➖➖

DAJJĀL (BAG. 1)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على آله وصحبه أجمعين

Halaqah ke-15 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang Dajjāl (bagian pertama).

Dajjāl, yang secara bahasa artinya pendusta besar, merupakan seorang manusia keturunan Nabi Ādam 'alayhis salām.

Yang di akhir zaman, Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan menjadikan dia sebagai fitnah terbesar dalam sejarah manusia.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ

“Tidak ada fitnah antara penciptaan Ādam sampai hari kiamat yang lebih besar daripada fitnah Dajjāl.”

(HR. Muslim)

Sebelum keluarnya Dajjāl, bumi dalam keadaan kemarau yang sangat panjang, manusia sangat membutuhkan air dan juga makanan.

Dajjāl muncul dan mengaku sebagai Tuhan Rabbul ‘ālamīn.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan dia kemampuan untuk bergerak cepat, menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman.

Dia membawa sesuatu yang menyerupai surga dan neraka sehingga orang-orang yang tidak mengenal Allāh Subhānahu wa Ta'āla (seperti orang-orang musyrik, kafir dan munafik) mereka pun mengikuti Dajjāl.

Di antaranya adalah 70.000 orang Yahudi Ashbahan*. (HR. Muslim)

*Ashbahan adalah nama sebuah daerah.

Sampai ada seseorang yang awalnya menyangka dirinya beriman setelah melihat perkara yang luar biasa pada diri Dajjāl akhirnya dia mengikuti Dajjāl tersebut.

(Hadits shahih, HR. Abū Dāwud)

Setiap Nabi telah mengingatkan umatnya fitnah Dajjāl ini.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِنِّي أُنْذِرُكُمُوْهُ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ، لَقَدْ أَنْذَرَهُ نُوْحٌ قَوْمَهُ

“Sesungguhnya aku akan memperingatkan kalian tentang Dajjāl dan tidaklah seorang Nabi kecuali dia telah memperingatkan kaumnya dari Dajjāl, demikian pula Nūh 'alayhis salām.”

(HR. Bukhāri)

Dajjāl sekarang ada di sebuah pulau.

Tamīm Ad-Dārī, seorang sahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, saat masih beragama Nasrani, dia dan beberapa orang temannya pernah terdampar di pulau tersebut.

Mereka melihat Dajjāl dalam keadaan terikat kuat bahkan sempat terjadi dialog antara mereka dengan Dajjāl.

Kemudian Tamīm mengabarkan pertemuan dan dialog ini kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam setelah masuk Islam dan dibenarkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

(Hadīts shahīh, HR. Imam Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada pertemuan kali ini. Dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

'Abdullāh Roy di kota Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam

Ditranskrip oleh
Tim Transkrip BiAS
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Catatan Kecil tentang Seorang Pemberani

��Catatan Kecil tentang Seorang Pemberani��

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

��Ramai berita tentang seorang pemberani, hanya bermodal sepeda tak gentar menghadang moge seorang diri, walau keberaniannya masih kontroversi, sudah sesuaikah dengan undang-undang negeri ini, tapi terlanjur banyak yang memuji dan bersimpati, lalu berlomba memberi apresiasi.

��Semua itu tak lain demi kenyamanan dan keamanan banyak orang, tak boleh dirampas oleh sebagian golongan, juga demi menaati hukum-hukum tuk pemakai jalan, yang tidak boleh pandang bulu, status sosial dan jabatan, maka sang pemberani pun rela berkorban, hingga patut diberi jempol tangan dan komentar dukungan, tapi aku sendiri berharap untuknya, untuk pengendara moge dan pak polisi sama-sama meraih kebaikan.

��Saudaraku -rahimakumullah-, ini terkait kenyamanan dan keamanan di dunia, dan penegakkan hukum buatan manusia, butuh para pemberani yang tak takut dicela, yang peduli dan siap membela, yang membuat mata dunia terbuka, hingga akhirnya memenuhi berita-berita dan social media.

��Tapi mengapa, yang terkait dengan keselamatan dan keamanan dari pedihnya azab neraka, dan penegakkan hukum Allah, Pencipta dan Penguasa alam semesta, Pemberi rezeki dan kenikmatan untuk seluruh makhluk-Nya; sangat sedikit yang mau jadi pemberani dan pembela, mendakwahkan tauhid dan membela sunnah, memberantas syirik dan menggilas bid'ah, mengingatkan bahaya kesesatan dan harakah hizbiyyah, dengan ilmu dan hikmah, tanpa peduli celaan manusia, dan bersabar terhadap sindiran pedas kawan sendiri di statusnya, yang ikut menghantam dengan kapak yang sama, di dunia maya dan dunia nyata.

⛔Dan yang sedikit itu pun tak semuanya menempuh jalur syari'at, tak sedikit yang hanya bermodal semangat, meneriakkan 'khilafah' dan 'jihad', mencela pemerintah di khalayak, menyempitkan uluhiyyah dan menuntut haakimiyyat, melalui parade yang menurunkan Akhwat, dengan berbagai mode hijab, berfoto ria bersama seruan 'tauhid' yang tak sepatutnya menjadi kocak, lalu disebar dari Facebook hingga WhatsApp, tak hanya menjadi tontonan laki-laki di jalan tapi sampai dunia timur dan barat.

��Kembali ke topik sang pemberani. Saudaraku -rahimakumullah-, jika kita benar-benar orang yang peduli dan penuh cinta, mestinya kita lebih takut dan khawatir atas azab di akhirat yang mengancam saudara-saudara kita, karena ia lebih keras dan dahsyat daripada semua penderitaan di dunia.

��Jika kita berani menegur pengendara yang ugal-ugalan di jalan, mestinya kita lebih berani menegur para pelaku dosa dan penyebar kesesatan, dengan ilmu dan hikmah.

��Jika kita mendukung dan mencintai sang pemberani demi keamanan orang banyak di jalan, mestinya kita lebih mendukung dan mencintai para ulama dan penuntut ilmu agama yang menunjukkan jalan kebenaran dan membasmi kesesatan, agar manusia selamat bukan hanya di dunia tapi yang lebih utama adalah selamat dari azab di akhirat yang sangat pedih dan tak ada kesudahan.

��Sungguh sangat aneh jika kita berusaha melindungi diri, keluarga dan masyarakat dari berbagai macam bahaya di kehidupan dunia yang singkat, tapi kita lupakan bahaya terbesar yang mengancam mereka dalam kehidupan yang kekal di akhirat.

��Ketahuilah wahai saudaraku -rahimakumullaah-, tidak ada manusia yang lebih peduli, pemberani dan penyayang dibanding para nabi dan rasul ‘alaihimussalaam, maka Allah ta’ala yang Maha Penyayang, memilih dan mengutus mereka untuk mendakwahkan tauhid agar manusia selamat dari azab yang sangat menakutkan.

➡Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihissalaam,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah saja, sekali-kali tak ada sesembahan yang benar bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (Al-A’raf: 59)

��Lihatlah mengapa Nabi Nuh ‘alaihissalaam mendakwahi kaumnya, tidak lain karena ketakutan beliau atas azab yang akan menimpa mereka di akhirat apabila mereka menyekutukan Allah ta’ala dan bermaksiat kepada-Nya. Maka seluruh nabi dan rasul ‘alaihimussalaam menyeru kaumnya untuk mengamalkan tauhid; memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta’ala dan mengingkari segala bentuk peribadahan kepada selain-Nya.

➡Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Hud ‘alaihissalam ketika menyeru kaumnya,

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

"Wahai kaumku sembahlah Allah saja, sekali-kali tak ada sesembahan yang benar bagimu selain-Nya." (Al-A’raf: 65)

➡Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Shalih ‘alaihissalam ketika menyeru kaumnya,

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

"Wahai kaumku sembahlah Allah saja, sekali-kali tak ada sesembahan yang benar bagimu selain-Nya." (Al-A’raf: 73)

➡Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ketika kaumnya,

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

"Wahai kaumku sembahlah Allah saja, sekali-kali tak ada sesembahan yang benar bagimu selain-Nya." (Al-A’raf: 85)

➡Allah ta’ala berfirman tentang seluruh para nabi dan rasul ‘alaihimussalaam,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut (yang disembah selain Allah) itu." (An-Nahl: 36)

��Kemudian, setelah berlalu masa para nabi dan rasul ‘alaihimussalaam, para ulama pun mewarisi tugas yang mulia ini, dan para penuntut ilmu membantu para ulama dalam menyebarkan ilmu, merekalah para pemberani yang sejati dan penyayang yang hakiki, maka tidakkah kita ingin membantu para ulama dan penuntut ilmu, sehingga kita pun meraih kasih sayang Allah yang Maha Penyayang? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

��“Orang-orang yang penyayang disayangi oleh Allah yang Maha Penyayang, sayangilah penduduk bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.” [HR. Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jami’: 3522]

��Semoga Allah ta'ala menganugerahkan hidayah, ampunan dan kasih sayang-Nya untukku dan untuk seluruh kaum muslimin.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

����Sumber: http://sofyanruray.info/catatan-kecil-tentang-seorang-pemberani/

✏Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

��Disebarkan oleh Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam:
➡WA Ta'awun Dakwah: 08111377787
➡Web: www.taawundakwah.com
➡Fb: www.facebook.com/taawundakwah

4 AMALAN MENGGAPAI CINTA ILAHI

::: 4 AMALAN MENGGAPAI CINTA ILAHI :::
Oleh :
Ustadz Kholid syamhudi LC Hafidzahullah

عَنْ مُعَاذ بْنِ جَبَلٍ رَِضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْ لُ الله صلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْْمُتَوَاصِلِين فِيَّ وَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَنَاصِحِيْنَ فِيَّ وَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ ;الْمُتَحَابُّوْنَ فِيَّ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ يَغْبِطُهُمْ بِمَكَانِهِمُ النَّبِيُّوْنَ وَ الصِّدِّيْقُوْنَ وَ الشُّهَدَاءُ
Dari Mu’adz bin jabal Radhiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم: Allah berfirman :
”org yg saling mencintai krn-Ku pasti diberikan cinta-Ku, org yg saling menyambung kekerabatannya krn-Ku pasti diberikan cintaKu & org yg saling menasehati krn-Ku pasti diberikan cintaKu serta org yg saling berkorban krn-Ku pasti diberikan cinta-Ku. org2 yg saling mencintai krn-Ku (nanti di akherat) berada di mimbar2 dari cahaya. Para Nabi, shiddiqin & org2 yg mati syahid merasa iri dg kedudukan mereka ini.” (hr imam Ahmad dlm kitab al-Musnad & dishahihkan al-Albani dlm Shahih Jami’ ash-Shaghir no.4198).
Dlm hadits qudsi ini Allah memerintahkan kita u/ mewujudkan 4 hal yg mjd sebab kita mjd hambaNya yg dicintai.
1. Perintah saling mencintai krn Allah
2. Perintah saling menasehati krn Allah
3. Perintah saling menyambung persaudaraan krn Allah
4. Perintah saling berkorban krn Allah.
Demikianlah Allah tunjukkan kpd kita empat amalan menggapai kecintaan ilahi.
Diantara langkah2 mewujudkannya adalah:
1. Memperbaiki aqidah & iman kita mjd sempurna
2. Mengingat keempat amalan ini dicintai & diridhai Allah
3. Menelaah benar siroh (sejarah kehidupan) Rasulullah n & para salaf ash-shalih & mempraktekkannya. Caranya dg mengetahui konsep & tuntunan ajaran mereka sehingga akan muncul keinginan & kecintaan u/ meniti & mengikuti jejak langkah mereka.
Mengingat akibat baik & pahala yg didapatkan dari 4 amalan ini.
Semoga kita dapat mewujudkannya.
*****

Rabu, 19 Agustus 2015

SEBAB KENAPA HARUS MEMA'AFKAN

��BimbinganIslam.com
Rabu, 04 Dzulqa'dah 1436 H / 19 Agustus 2015 M
�� Materi Tematik
�� Ustadz Firanda Andirja, MA
�� 20 Sebab Kenapa Harus Mema'afkan (Bagian 04- selesai)
⬇ Link download audio
https://drive.google.com/file/d/0B1e0BM9z9hzYNGhrREQ5WnJvWmM/view?usp=docslist_api
➖➖➖➖➖➖➖

20 SEBAB KENAPA HARUS MEMA'AFKAN (BAG 4-SELESAI)

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh, kita lanjutkan pembahasan kita.

KESEBELAS

Hendaknya seseorang ingat bahwasanya sabar itu adalah setengah dari keimanan (nishful īmān) dan setengahnya lagi adalah syukur.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ 

"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allāh) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur."

(QS Ibrāhīm: 5)

Allāh menggabungkan antara shabbār dan syakūr.

Oleh karenanya, setengah keimanan adalah kesabaran dan setengah keimanan adalah syukur.

Kalau kita tidak memaafkan tetapi malah membalas maka pahala setengah keimanan itu akan hilang.

Sekarang setengah keimanan ada di tangan kita, tinggal dengan hanya memaafkan maka kita akan mendapatkan setengah keimanan lagi.

Tetapi kalau kita lepaskan dengan emosi dan membalas maka hilanglah pahala setengah keimanan tersebut dan inilah kerugian.

KEDUABELAS

Jika seseorang ingat bahwa saat dia bersabar, dia bisa mengatur jiwanya.

Jiwanya ingin membalas dendam namun dia mengatur/menundukkan/mengalahkan jiwanya, ini berarti dia melatih jiwanya.

Maka jiwanya tidak akan mampu untuk menguasai dia dalam hal-hal yang lain karena dia sudah terbiasa mengalahkan jiwanya.

Seseorang terkadang tunduk kepada nafsunya.

Dalam banyak kondisi kita kalah dan bertekuk lutut dengan hawa nafsu kita, kalah dengan syahwat dan jiwa kita.

Diantara latihan kita menjatuhkan jiwa kita adalah dengan memaafkan.

Jika kita mampu untuk memaafkan berarti kita mengalahkan jiwa kita.

Maka pada kondisi-kondisi yang lain jiwa tidak berani dan tidak bisa mengalahkan kita karena kita sudah tundukkan dia dengan memaafkan orang yang menzhalimi kita.

KETIGABELAS

Hendaknya seseorang ingat jika dia bersabar bahwasanya Allāh yang akan menolongnya dan pasti Allāh akan menolongnya.

Dan Allāh adalah yang mengatur urusan orang yang bersabar.

Dan jika dia bersabar berarti dia telah menyerahkan orang yang menzhaliminya kepada Allāh.

Seakan-akan dia mengatakan:

"Saya bersabar, itu urusan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Tapi jika kemudian dia membalas untuk membela jiwanya maka Allāh akan membuat dia bersandar kepada jiwanya sendiri.

Maka mana bandingannya, jika kita menolong jiwa kita sendiri atau Allāh yang menolong jiwa kita?

KEEMPATBELAS

Jika kita bersabar atas orang yang mengganggu kita, ini bisa menjadikan orang (yang mengganggu) tersebut sadar dan mungkin minta maaf kepada kita.

Kalau kita bersabar maka orang-orang akan mencela dia, dia berusaha mencela kita tetapi dia dicela oleh banyak orang.

Kenapa?

Karena Allāh menjadikan orang-orang benci kepada orang yang suka mencela.

KELIMABELAS

Bisa jadi jika kita membalas dendam maka akan menjadikan dia (orang yang mengganggu kita) lebih parah lagi, dan ini sering terjadi.

Seseorang menuduh kita berdusta lalu kita balas dengan mengungkap kejelekannya yang lain maka akan semakin parah, orang tersebut semakin mencari lagi kejelekan/aib-aib kita yang lain.

Oleh karenanya, sekarang kita dihadapkan dengan 2 pilihan:

⑴ Diam saat dizhalimi (dizhalimi tidak mengapa)
⑵ Membalas kezhaliman saat dizhalimi maka (mengakibatkan) kezhaliman yang lebih besar lagi

Maka kita pilih yang mana?

Lebih baik adalah tidak membalas saat dizhalimi. Daripada membalas kezhaliman sehingga lebih dizhalimi menjadi-jadi.

KEENAMBELAS

Barangsiapa yang membiasakan diri untuk membalas dan tidak bersabar maka suatu saat orang tersebut akan terjerumus ke dalam kezhaliman.

Akhirnya orang yang menzhalimi kita menjadi terzhalimi dan sekarang kita yang menzhalimi orang.

Akhirnya pertolongan Allāh bukan kepada kita tetapi kepada orang yang menzhalimi kita.

Karena dalam posisi sekarang ini orang yang menzhalimi kita menjadi orang yang terzhalimi oleh kita.

KETUJUHBELAS

Ketahuilah bahwasanya kezhaliman yang seseorang rasakan adalah sebab untuk menggugurkan dosa-dosanya atau untuk mengangkat derajatnya.

Kalau orang tersebut membalas maka hilanglah itu semuanya (tidak menghapuskan dosa-dosanya dan tidak mengangkat derajatnya).

Orang tersebut hanya mendapatkan kepuasan duniawi yaitu bisa membalas dendam. Adapun derajat pahala di akhirat tidak ada sama sekali.

Maka seseorang hendaknya merenungkan hal ini, daripada dia membalas yang bisa membuat pusing dan capai, maka tidak perlu menghiraukan agar dosanya terampuni dan derajatnya semakin tinggi.

KEDELAPANBELAS

Sesungguhnya kalau seseorang memaafkan dan bersabar maka ini adalah kekuatan yang paling besar untuk mengalahkan musuh dan musuhnya menjadi terhina.

Orang-orang tidak akan membiarkan musuhnya.

Kalau dia diam maka orang-orang akan membelanya. Tetapi kalau dia mulai membalas maka itu hilang seluruhnya.

Oleh karenanya, kalau ada orang yang mengganggu kita (misal kita dikatakan pendusta) tetapi kita sabar, acuh dan senyum-senyum saja (tidak terusik) maka dia akan semakin jengkel dan menderita.

Tetapi kalau kita balas maka dia akan senang/bahagia karena kita merasa terusik/terganggu.

Sikap diam atau memaafkannya kita adalah senjata paling kuat untuk mengalahkan musuh kita.

KESEMBILANBELAS

Barangsiapa yang memaafkan musuhnya maka jiwa musuhnya akan merasa rendah/di bawah dari jiwanya. Dan ini merupakan keutamaan tersendiri.

KEDUAPULUH

Barangsiapa memaafkan dan berlapang dada maka ini adalah kebaikan.

Dan kebaikan ini akan menimbulkan kebaikan yang lainnya.

Dan kebaikan yang lainnya tersebut akan menimbulkan kebaikan yang lainnya lagi dan seterusnya.

Oleh karena itu, bukalah dan awalilah kebaikan yang banyak dengan memaafkan.

Kata Ibnu Taimiyyah, seakan-akan mengingatkan:

"Kalau kita berhasil memaafkan maka akan timbul kebaikan-kebaikan yang lain yang akan datang setelahnya."

Inilah 20 nashihat yang ditulis oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah untuk mengajarkan kita untuk bisa memaafkan.

Sifat memaafkan adalah sifat yang sangat berat dan tidak ada yang bisa melakukannya kecuali para Anbiyā dan Shiddīqūn (orang-orang yang imannya tinggi).

Dan perangai ini bisa kita terapkan kalau kita dizhalimi.

Semoga kita termasuk dari orang yang Allāh sebutkan dalam Al Qurān:

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

(QS Āli 'Imrān: 134)

Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.

Demikian, semoga Allāh mengampuni dosa-dosa kita.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك 
وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________________
�� Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

�� Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
�� http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran

Tafsir Surat 4 An-Nisaa', Ayat 43.

Taushiyah ke 193, Rabu 04 Dzulqa'dah 1436 / 19 Agustus 2015

Tafsir Mudah 100 Ayat Al-Qur'an Seruan Kepada Orang Beriman

Ayat Keduapuluh satu: Surat 4 An-Nisaa', Ayat 43.

Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun."

Tafsir Mudah dan Kandungan Ayat:

1. Ayat ini adalah seruan untuk semua orang beriman tanpa pandang suku, ras, warna kulit dan bangsa.
2. Orang beriman adalah orang mengimani semua yang wajib diimani dengan ucapan lisan, keyakinan hati dan pengamalan dengan anggota tubuh. Iman bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah dan bisa berkurang dengan kedurhakaan kepada Allah.
3. Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman shalat dalam keadaan mabuk, sehingga mengerti apa yang mereka ucapkan.
4. Ayat ini sudah "mansukh" atau dihapus hukumnya karena pengharaman khamar dilakukan secara bertahap.
5. Definisi khamar adalah segala yang menutupi akal pikiran untuk mencari kesenangan dan kelezatan.
6. Diantara bentuk khamar itu adalah segala macam dan bentuk minuman keras yang memabukkan dan juga termasuk di dalamnya adalah segala macam dan bentuk narkoba.
7. Tahapan pengharaman khamar ada tiga;

- Ayat pertama tentang hukum khamar adalah ayat ini [QS 4 An-Nisaa', ayat 43]

- Ayat kedua tentang hukum khamar adalah:
"Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya".
[QS 2 Al-Baqarah, ayat 219]

- Ayat ketiga tentang hukum khamar dan merupakan hukum final tentang pengharaman khamer adalah:
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."
[QS 5 Al-Ma'idah, ayat 90].
8. Pengharaman secara bertahap ini adalah merupakan hikmah kebijaksanaan dari Allah dalam menetapkan suatu hukum.
9. Tujuan inti dari shalat adalah khusyu' dan hadirnya hati serta penuh ketundukan.
10. Hendaklah orang yang shalat itu fokus kepada shalatnya dan memutuskan apa saja yang berpotensi mengganggu shalatnya.

---Bersambung----

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan "Ahlul Qur'an" [Keluarga Al-Qur'an] dan "Shohibul Qur'an"  [Sahabat Al-Qur'an], yang "Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur'an", selalu membaca, memahami dan mengamalkannya sehingga kami menjadi sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat, aamiin..

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

���� WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang ����

�� Infaq kegiatan dakwah MTDHK bisa disalurkan melalui rekening a/n Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah;

�� BSM No: 7755555511
�� BNI No: 0362755494

���� Semoga Allah beri ganti dengan yang lebih baik dan barokah di dunia dan akhirat.

☝��️Kegiatan dakwah dan laporan keuangan ada di website kami www.mtdhk.com.

�� Untuk berlangganan WA Taushiyah MTDHK ketik "GABUNG" kirim WA (bukan SMS) ke +6283848634832 (Anggota lama tidak perlu mendaftar lagi)

�� Silahkan disebarkan kiriman ini sebagaimana aslinya tanpa dirubah sedikitpun, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah.. Jazakumulloh khoiro.

Tafsir Surat 4 An-Nisaa', Ayat 29.

Taushiyah ke 192, Selasa 03 Dzulqa'dah 1436 / 18 Agustus 2015

Tafsir Mudah 100 Ayat Al-Qur'an Seruan Kepada Orang Beriman

Ayat Keduapuluh: Surat 4 An-Nisaa', Ayat 29.

Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu."

Tafsir Mudah dan Kandungan Ayat:

1. Ayat ini adalah seruan untuk semua orang beriman tanpa pandang suku, ras, warna kulit dan bangsa.
2. Orang beriman adalah orang mengimani semua yang wajib diimani dengan ucapan lisan, keyakinan hati dan pengamalan dengan anggota tubuh. Iman bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah dan bisa berkurang dengan kedurhakaan kepada Allah.
3. Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman dari saling memakan harta sesama mereka dengan jalan yang batil.
4. Diantara bentuk memakan harta dengan jalan yang batil adalah; merampas, mencuri, berjudi dan usaha-usaha lainnya yang terlarang.
5. Termasuk di dalam memakan harta dengan jalan yang batil adalah menghambur-hamburkan harta untuk berfoya-foya dan hidup secara boros lagi berlebihan melampaui batas karena semua ini termasuk yang batil bukan yang haq.
6. Diantara keindahan syari'at Allah adalah selalu memberikan solusi jalan keluar dan alternatif.
7. Jika memakan harta dengan jalan yang batil hukumnya adalah haram maka solusinya adalah berniaga atau berdagang dan usaha-usaha lain yang dihalalkan.
8. Hendaklah dalam berniaga mengikuti aturan-aturan syari'at Allah serta ada saling ridha.
9. Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman dari saling membunuh atau bunuh diri.
10. Termasuk didalam larangan ini adalah menjerumuskan diri dalam kebinasaan yang berakibat membahayakan bahkan kematian.
11. Allah adalah Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya yang beriman.
12. Diantara bentuk kasih sayang Allah kepada kita adalah;
a). Allah menjaga dan melindungi jiwa dan harta kita.
b). Allah melarang membinasakan diri dan menghamburkan harta.
c). Allah menetapkan hukum-hukum dan batasan-batasan untuk maslahat kita.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan "Ahlul Qur'an" [Keluarga Al-Qur'an] dan "Shohibul Qur'an"  [Sahabat Al-Qur'an], yang "Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur'an", selalu membaca, memahami dan mengamalkannya sehingga kami menjadi sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat, aamiin..

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

���� WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang ����

�� Infaq kegiatan dakwah MTDHK bisa disalurkan melalui rekening a/n Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah;

�� BSM No: 7755555511
�� BNI No: 0362755494

���� Semoga Allah beri ganti dengan yang lebih baik dan barokah di dunia dan akhirat.

☝��️Kegiatan dakwah dan laporan keuangan ada di website kami www.mtdhk.com.

�� Untuk berlangganan WA Taushiyah MTDHK ketik "GABUNG" kirim WA (bukan SMS) ke +6283848634832 (Anggota lama tidak perlu mendaftar lagi)

�� Silahkan disebarkan kiriman ini sebagaimana aslinya tanpa dirubah sedikitpun, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah.. Jazakumulloh khoiro.

Tafsir Surat 4 An-Nisaa', Ayat 19.

Taushiyah ke 191, Jum'at 29 Syawal 1436 / 14 Agustus 2015

Tafsir Mudah 100 Ayat Al-Qur'an Seruan Kepada Orang Beriman

Ayat Kesembilanbelas: Surat 4 An-Nisaa', Ayat 19.

Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."

Tafsir Mudah dan Kandungan Ayat:

1. Ayat ini adalah seruan untuk semua orang beriman tanpa pandang suku, ras, warna kulit dan bangsa.
2. Orang beriman adalah orang mengimani semua yang wajib diimani dengan ucapan lisan, keyakinan hati dan pengamalan dengan anggota tubuh. Iman bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah dan bisa berkurang dengan kedurhakaan kepada Allah.
3. Pada jaman jahiliyah dahulu ada kebiasaan menjadikan isteri termasuk sebagai harta waris, yaitu jika seorang suami meninggal dunia maka  kerabat suaminya merasa berhak atas mantan isterinya (jandanya) untuk menikahinya atau melarangnya menikah lagi atau menikahkannya dengan orang lain walaupun sang mantan isteri itu (sang janda) tidak menyukainya. Agama Islam datang melarang perbuatan seperti ini.
4. Agama Islam juga melarang suami menyusahkan isterinya yang sudah tidak disukainya lagi.
5. Diantara bentuk suami menyusahkan isteri yang sudah tidak disukainya lagi adalah tidak menceraikannya dan tidak memperlakukan dengan wajar dengan tujuan memeras isteri agar suaminya memperoleh imbalan materi.
6. Jika isteri melakukan perbuatan keji yang nyata, seperti berselingkuh atau 'nusyuz' (tidak taat kepada suami) maka suami boleh mengambil langkah-langkah agar isterinya meminta cerai dengan mengembalikan seluruh atau sebagian mahar (maskawin) yang telah diterimanya ketika menikah dahulu. Ini dinamakan 'khulu'.
7. Allah perintahkan para suami agar mempergauli isterinya dengan secara patut sesuai aturan syari'at agama Islam, baik dalam ucapan ataupun perbuatan.
8. Hendaklah para suami bersabar jika ada suatu sebab yang menjadikannya tidak menyukai isterinya dan jangan cepat-cepat menceraikannya karena boleh jadi sang suami tidak menyukai isterinya padahal Allah menjadikan pada apa yang tidak disukainya itu terdapat kebaikan yang banyak.
9. Diantara kebaikan yang banyak itu adalah;
a). Melaksanakan perintah dan wasiat Allah yang di dalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan dunia akhirat.
b). Melatih dan mendidik diri untuk sabar dan berakhlak mulia.
c). Boleh jadi kebencian tersebut akan berubah menjadi cinta dengan berjalannya waktu sebagaimana hal ini sering terjadi.
d). Boleh jadi pula Allah berikan anak yang sholeh yang bermanfaat dan barokah bagi kedua orang tuanya di dunia dan di akhirat.
10. Semua ini adalah jika memungkinkan bagi sang suami untuk mempertahankan isterinya.
11. Adapun jika tidak mungkin lagi bagi suami untuk bisa mempertahankan isterinya maka perceraian adalah jalan keluarnya dan tidak diharuskan mempertahankannya.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan "Ahlul Qur'an" [Keluarga Al-Qur'an] dan "Shohibul Qur'an"  [Sahabat Al-Qur'an], yang "Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur'an", selalu membaca, memahami dan mengamalkannya sehingga kami menjadi sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat, aamiin..

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

���� WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang ����

�� Infaq kegiatan dakwah MTDHK bisa disalurkan melalui rekening a/n Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah;

�� BSM No: 7755555511
�� BNI No: 0362755494

���� Semoga Allah beri ganti dengan yang lebih baik dan barokah di dunia dan akhirat.

☝��️Kegiatan dakwah dan laporan keuangan ada di website kami www.mtdhk.com.

�� Untuk berlangganan WA Taushiyah MTDHK ketik "GABUNG" kirim WA (bukan SMS) ke +6283848634832 (Anggota lama tidak perlu mendaftar lagi)

�� Silahkan disebarkan kiriman ini sebagaimana aslinya tanpa dirubah sedikitpun, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah.. Jazakumulloh khoiro.

Tafsir Surat 3 Ali-'Imran, Ayat 200.

Taushiyah ke 190, Rabu 27 Syawal 1436 / 12 Agustus 2015

Tafsir Mudah 100 Ayat Al-Qur'an Seruan Kepada Orang Beriman

Ayat Kedelapanbelas: Surat 3 Ali-'Imran, Ayat 200.

Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung."

Tafsir Mudah dan Kandungan Ayat:

1. Ayat ini adalah seruan untuk semua orang beriman tanpa pandang suku, ras, warna kulit dan bangsa.
2. Orang beriman adalah orang mengimani semua yang wajib diimani dengan ucapan lisan, keyakinan hati dan pengamalan dengan anggota tubuh. Iman bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah dan bisa berkurang dengan kedurhakaan kepada Allah.
3. Allah memberitahukan kepada orang-orang beriman resep menuju kesuksesan, kemenangan dan kebahagiaan, yaitu;
a). Bersabar dalam mengerjakan ketaatan, meninggalkan kemaksiatan dan menghadapi musibah, yaitu hatinya tidak berkeluh kesah, lisannya tidak mengadu (kecuali mengadu kepada Allah atau siapa saja yang diharapkan bisa memberikan solusi) dan anggota tubuhnya tidak anarkis seperti menampar pipi dan merobek baju.
b). Senantiasa berupaya menguatkan kesabaran dalam menghadapi musuh.
c). Murabathah atau ribath, yaitu tetap dan selalu bersiap siaga menjaga perbatasan negeri agar tidak diserang oleh musuh.
d). Bertakwa kepada Allah dengan senantiasa mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
4. Semua itu adalah resep kesuksesan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dan selamat dari apa yang tidak kita inginkan.
5. Jika kita ingin sukses hendaklah kita lakukan kesemuanya.
6. Kegagalan akan terjadi jika kita tidak melakukan semuanya atau sebagiannya.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan "Ahlul Qur'an" [Keluarga Al-Qur'an] dan "Shohibul Qur'an"  [Sahabat Al-Qur'an], yang "Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur'an", selalu membaca, memahami dan mengamalkannya sehingga kami menjadi sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat, aamiin..

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

���� WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang ����

�� Infaq kegiatan dakwah MTDHK bisa disalurkan melalui rekening a/n Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah;

�� BSM No: 7755555511
�� BNI No: 0362755494

���� Semoga Allah beri ganti dengan yang lebih baik dan barokah di dunia dan akhirat.

☝��️Kegiatan dakwah dan laporan keuangan ada di website kami www.mtdhk.com.

�� Untuk berlangganan WA Taushiyah MTDHK ketik "GABUNG" kirim WA (bukan SMS) ke +6283848634832 (Anggota lama tidak perlu mendaftar lagi)

�� Silahkan disebarkan kiriman ini sebagaimana aslinya tanpa dirubah sedikitpun, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah.. Jazakumulloh khoiro.

Tafsir Surat 3 Ali-'Imran, Ayat 156.

Taushiyah ke 189, Selasa 26 Syawal 1436 / 11 Agustus 2015

Tafsir Mudah 100 Ayat Al-Qur'an Seruan Kepada Orang Beriman

Ayat Ketujuhbelas: Surat 3 Ali-'Imran, Ayat 156.

Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh". Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan."

Tafsir Mudah dan Kandungan Ayat:

1. Ayat ini adalah seruan untuk semua orang beriman tanpa pandang suku, ras, warna kulit dan bangsa.
2. Orang beriman adalah orang mengimani semua yang wajib diimani dengan ucapan lisan, keyakinan hati dan pengamalan dengan anggota tubuh. Iman bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah dan bisa berkurang dengan kedurhakaan kepada Allah.
3. Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman dari meniru dan menyerupai orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Rabb mereka dan tidak pula kepada qadha' dan qadar (takdir) dari kalangan orang-orang munafik dan yang selain mereka.
4. Allah melarang menyerupai mereka dalam segala hal terutama dalam kasus seperti yang disebutkan dalam ayat diatas.
5. Orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Rabb mereka dan tidak pula kepada qadha' dan qadar (takdir) dari kalangan orang-orang munafik dan yang selain mereka jika ada orang yang mengadakan perjalanan di muka bumi untuk berniaga atau berperang di jalan Allah  kemudian terjadi kematian atasnya atau terbunuh maka mereka menyalahkannya dan mengatakan:  "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh". Ini adalah sebuah kebohongan.
6. Allah membantah mereka dalam firmanNya:  "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh". [QS 3 Ali-'Imran, Ayat 154].
7. Orang yang mendustakan takdir dan tidak beriman kepada takdir itu hatinya penuh penyesalan, sakit dan bersedih sehingga musibah yang menimpanya bertambah banyak dan berlipat-lipat.
8. Orang yang beriman kepada takdir itu hatinya selalu tenang dan pasrah. 9. Allah menjadikan hati orang yang beriman kepada takdir itu semakin kuat dan Allah memberinya petunjuk sehingga menjadi ringan jika tertimpa musibah.
10. Allah menghidupkan siapa saja yang Dia kehendaki untuk hidup dan mematikan siapa saja yang telah datang ajalnya kapan saja dan dimana saja sesuai kehendakNya.
11. Allah melihat apa saja yang kita kerjakan dan memberikan balasan atasnya dengan setimpal.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan "Ahlul Qur'an" [Keluarga Al-Qur'an] dan "Shohibul Qur'an"  [Sahabat Al-Qur'an], yang "Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur'an", selalu membaca, memahami dan mengamalkannya sehingga kami menjadi sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat, aamiin..

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

���� WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang ����

�� Infaq kegiatan dakwah MTDHK bisa disalurkan melalui rekening a/n Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah;

�� BSM No: 7755555511
�� BNI No: 0362755494

���� Semoga Allah beri ganti dengan yang lebih baik dan barokah di dunia dan akhirat.

☝��️Kegiatan dakwah dan laporan keuangan ada di website kami www.mtdhk.com.

�� Untuk berlangganan WA Taushiyah MTDHK ketik "GABUNG" kirim WA (bukan SMS) ke +6283848634832 (Anggota lama tidak perlu mendaftar lagi)

�� Silahkan disebarkan kiriman ini sebagaimana aslinya tanpa dirubah sedikitpun, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah.. Jazakumulloh khoiro.

KITA DAN SALAF

KITA DAN SALAF
(bila harus berbeda)

Saat mengomentari Imam Ishaq bin Rahuyah, Imam Ahmad mengatakan :

لم يعبر الجسر إلى خراسان مثل إسحاق وإن كان يخالفنا في أشياء، فإن الناس لم يزل يخالف بعضهم بعضاً

“Belum pernah ada orang yang menyeberangi jembatan menuju Khurasan semisal Ishaaq (dalam keutamaan/kemuliaannya) Meskipun ia BERSELISIH dengan kami DALAM BANYAK MASALAH... (Hal itu biasa) Karena manusia senantiasa berselisih satu dengan yang lainnya”

(Siyar A’lamin Nubalaa`:11/371)

Diantara kutipan yang mungkin sering kita baca, kita nukil dan sampaikan adalah perkataan Yunus Ash-Shadafiy terhadap asy-Syaafi'iy:

ما رأيت أعقل من الشافعي ناظرته يوماً في مسألة ثم افترقنا ولقيني فأخذ بيدي ثم قال

Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berakal dari Asy-Syaafi'iy. Suatu hari aku mendebatnya dalam satu masaalah, lalu kami berpisah. Ketika bertemu denganku dia MENGAMBIL TANGANku dan berkata:

يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ

“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?”

(Siyar A’lamin Nubalaa`:10/16)

Itulah MEREKA (salafush shaalih)... BEDA dengan KITA (yang mengklaim pengikut salafush shalih)

Mereka berbeda dalam BANYAK MASALAH, namun mereka tetap saling mencintai satu-sama-lain.

Adapun kita... Bila berbeda dalam SATU MASALAH, maka perbedaan itu akan selalu kita ingat. Bahkan kita selamanya akan memusuhi orang yang kita anggap lawan dalam permasaalah tersebut sampai dia menyepakati kita. Bahkan mungkin dengan perbedaan itu, kita langsung menghilangkan hak-hak persaudaraan yang semestinya masih tetap terjaga. Lantas bagaimana lagi jika berbeda dalam BANYAK MASALAH? Apakan kita tidak akan mengakuinya sebagai saudara kita?

Kemana akhlak salaf yang tercermin dari sikap Ahmad terhadap Ishaq? 
Kemana perginya sikap asy-Syafi'iy terhadap Ash-Shadafiy? 
Ah.. Ternyata itu semua hanya ada pada lisan dan tulisan kita, bukan pada hati dan amal kita.

Kalaupun ada... Maka hanya akan kita terapkan pada orang-orang yang sepengajian atau semadrasah dengan kita. Adapun pada mereka yang berbeda pengajian atau madrasah dengan kita, maka tak perlu melihat banyaknya kecocokan antara dia dengan kebenaran. Tidak perlu mempedulikan dominan atau tidaknya kebenaran yang ada pada dirinya. Karena bila dia tidak sepengajian dengan 'kita', itu sudah cukup bagi 'kita' untuk memusuhinya selamanya. Dan dia tidak berhak mendapatkan hak-hak persaudaraan dari kita.

Tak perlu menunggu hal ini terucap/tertulis dalam lisan-lisan/tulisan-tulisan kita (atau mungkin telah terucap/tertulis?). Karena semua tergambar dalam sikap kita.

Catatan editor:

Saat bersama Syaikh Anis, kami pernah menyinggung perselisihan yang terjadi di medan dakwah. Beliau menatap kami dengan tatapan khasnya dan berkata: "Semua ini takkan ada ujungnya. Bahkan perselisihan ini telah menyumbang saham yang besar pada keterpurukan yang di alami umat saat ini. Dahulu.. kami mendapati alim fulan menyelisihi alim fulan dalam masaalah ini dan itu, tapi penyikapan antara satu dan lainnya tak seperti yang kita lihat saat ini.

Pernah di sela-sela pembicaraan, kami mengutip ucapan Syaikh Hammad yang diriwayatkan anaknya di dalam Al-Majmu'. Perkataan itu berbunyi:

يجب أن تحترم العلماء لعلمهم حتى لو كانوا أشاعرة أو ماتردية وتخدمهم أيضا ، وبهذا تستطيع أن تصل إلى قلوبهم فيستجيبون لسلفيتك ، وبهذا الأسلوب خرجت أمم من الظلمات إلى النور .

"Wajib bagimu untuk menghormati ulama dan berkhidmat pada mereka karena keilmuannya, meskipun mereka dalah Asya'iroh atau Maturidiyah. Dengan cara inilah engkau akan dapat sampai ke hati-hati mereka sehingga menerima kesalafiyyahanmu. Dengan cara inilah umat keluar dari kegelapan menuju cahaya."

Syaikh kemudian memberi komentar:

"Ucapan ini benar pada maknanya yang proporsional, namun bayangkan bila ucapan ini keluar dari lisan seorang alim di zaman ini, tentu dunia akan ribut. Begitulah.. selamanya orang akan memusuhi apa yang tidak dia ketahui"

Sebenarnya apa yang dikatakan Syaikh Hammad Al-Anshory -rahimahullah- merupakan bentuk mudaaroh. Yaitu sifat supel, mudah bergaul dengan siapa saja tanpa harus mengorbankan prinsip dan nilai-nilai yang dianut. Bukan mudahanah, supel namun sering tanazul atau mengalah dari prinsip serta nilai-nilai yang dianutnya. Keduanya adalah hal berbeda.

Semoga Allah membimbing langkah kita.
_________________
Jakarta 3 Dzulqa'dah 1436 H
Abu Zuhry El-Gharantaly
Editor: ACT El-Gharantaly

SEMUA AKAN ADA GANTINYA

SEMUA AKAN ADA GANTINYA. INSYAALLAH..
Puncak kemerdekaan seorang hamba adalah adalah saat ia mampu menahan diri dari apa yang diharamkan Allah, padahal jiwanya amat mencintai hal itu, namun ia meninggalkannya karena Allah semata,
Allah berfirman:
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ
"Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertaqwa, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar" (QS: Al Hujurat ayat: 3)
Sahabat...
Tak perlu gusar bila harus kehilangan sesuatu di jalan Allah... Karena ada ganti untuk setiap yang engkau tinggalkan karena-Nya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
من ترك شئ لله عوضه الله خير منه
"Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari apa yang ditinggalkannya" (HR. Ahmad)
Qatadah -rahimahullah- mengatakan:
لا يقْدِرُ رَجلٌ على حَرَامٍ ثم يَدَعه ليس به إلا مخافة الله عز وجل إلا أبْدَله في عاجل الدنيا قبل الآخرة ما هو خيرٌ له من ذلك
"Tidaklah seorang laki-laki yang mampu melakukan perbuatan yang haram, kemudian dia meninggalkannya, dimana dia tidak meninggalkannya kecuali karena takut kepada Allah azza wa jalla, maka Allah akan mengganti apa yang ditinggalkannya tersebut dengan sesuatu yang lebih baik pada kehidupan dunia sebelum kehidupan akhirat."
Iya. .. Semua ada gantinya. ..
Yusuf pernah menolak Zulaikha, lalu Allahpun menggantinya dengan kekuasaan dan wanita yang halal.
Sulaiman pernah menyembelih kudanya karena membuatnya lalai dari mengingat Allah, lalu Allahpun menggantinya dengan angin yang dapat membawanya kemana saja.
Dahulu ada seorang pedagang yang selalu memberi hutang pada orang-orang. Suatu hari dia mengatakan kepada pembantunya,
"إذا جئت مُعْسِراً، فتجاوز عنه لعل الله أن يتجاوز عنا"
"Bila engkau mendatangi orang yang sulit, maka maafkanlah dia. Mudah-mudahan Allah memaafkan kita". Rasul bersabda: "Orang itupun menemui Allah lalu Allah mengampuninya." (Muttafaq Alaihi)
Alangkah indahnya balasan Allah itu....
Seolah menegaskan kepada kita bahwa hidup tak selamanya berjalan menurut kalkulasi kita semata.
______________
Salemba 4 Dzulqo'dah 1436 H
ACT El-Gharantaly

MUSNAHNYA AMALAN

�� MUSNAHNYA AMALAN ��

Ibnul Qoyyim rahimahullâhu berkata :

<<Apabila ada yang bertanya, "bagaimana amal perbuatan bisa sirna tanpa menjadi murtad?"

Maka dijawab :
�� Iya, Al-Qur'ân, as-Sunnah dan riwayat dari sahabat telah menunjukkan bahwa keburukan dapat menghilangkan kebaikan, sebagaimana kebaikan dapat membuat keburukan sirna.

��Allâh Ta'âlâ berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ

"Hai orang² yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut²nya dan menyakitinya. " (QS al-Baqoroh : 264)

��Dan firman-Nya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ َآمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صوت ِالنَّبِيِّ وَلَا تَجهروا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ ٍأَن تَحْبَطَأَ َأَعْمَالُكُمْ وَأَنتُم ْلَا تَشْعُرُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengangkat suara kalian melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian mengeraskan perkataan sebagaimana kalian berbicara dengan keras diantara kalian, agar amalan kalian tidak hilang sedangkan kalian tidak merasakannya. " (QS al-Hujurât : 2)

�� Aisyah berkata kepada Ummu Zaid bin Arqam :

اخبري زيدا انه قد أبطل جهاده مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا أن يتوب -  لما بايع بالعينة

"Sampaikan kepada Zaid bahwa dia telah menghilangkan (pahala) jihadnya bersama Rasulullah tatkala dirinya bertransaksi dengan sistem jual beli 'inah (yang mengandung unsur riba) kecuali apabila ia bertaubat."

�� Imam Ahmad telah menegaskan hal ini sembari berkata :

ينبغي للعبد في هذا الزمان أن يستدين ويتزوج، لئلا ينظر إلى ما يحل له فيحبط عمله

"Sepatutnya seorang hamba di zaman ini bersikap religius dan menikah, agar ia tidak memandang kepada sesuatu yang tidak halal baginya sehingga amalnya pun sirna. "

�� Ayat² yang berisi komparasi di dalam al-Qur'an menunjukkan hal ini, yaitu sebagaimana keburukan dapat hilang lantaran kebaikan yang lebih besar, maka demikian pula dengan pahala kebaikan yang dapat sirna oleh sebab kejelekan yang lebih besar darinya. >>

�� Al-Wâbil ash-Shayib (hal 24) cet Dâr Ibnil Jauzî
�� Redaksi Arab dishare oleh Ust Tauhidin Rusdi Sahal, dikutip dari catatan kaki kutaiyib (buku kecil) yang berjudul "Ta'zhîmus Sunnah" karya Abdul Qoyyum as-Sahaibânî
✏ Dialihbahasakan oleh Abû Salmâ Muhammad

----------------------
♻ Silsilah nasihat ke - 95
�� Broadcast WA Dakwah Jalyat Unaiza_Indo

Selasa, 18 Agustus 2015

Tanda-tanda Besar Dekatnya Hari Kiamat

�� BimbinganIslam.com
Selasa, 3 Dzulqa'dah 1436 H /18 Agustus 2015 M
�� Ustadz Abdullāh Roy, MA
�� Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
�� Halaqah 14 | Tanda-tanda Besar Dekatnya Hari Kiamat
⬇️ Link Download
https://drive.google.com/file/d/0B0Wy0LL4obxMYW5uODhvN0pkYzg/view?usp=docslist_api
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

TANDA-TANDA BESAR DEKATNYA HARI KIAMAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-14 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang:

"Tanda-tanda Besar Dekatnya Hari Kiamat."

Tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat adalah 10 tanda menjelang datangnya hari kiamat.

Yang apabila sudah muncul 10 tanda tersebut, terjadilah setelahnya hari kiamat.

Tanda-tanda besar tersebut apabila muncul satu, maka akan segera diikuti oleh yang lain.

Suatu saat Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam melihat para sahabat sedang saling berbicara di antara mereka.

Beliau bertanya:

"Apa yang sedang kalian bicarakan?"

Merekapun menjawab:

"Kami sedang mengingat hari kiamat."

Maka, Beliau Shallallāhu 'Alayhi wa Sallam bersabda:

إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ

Sesungguhnya hari kiamat itu tidak akan datang sampai kalian melihat sebelumnya 10 tanda-tanda."

Maka Beliau Shallallāhu 'Alayhi wa Sallam menyebutkan 10 tanda :

1. Asap

2. Dajjāl

3. Dābbah (seekor hawan melata)

4. Terbitnya matahari dari barat

5. Turunnya 'Īsā bin Maryam

6. Ya’jūj dan Ma’jūj

7. Gerhana di timur

8. Gerhana di barat

9. Gerhana di Jazirah Arab

10. Api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke padang pengumpulan

(Hadīts shahīh riwayat Imām Muslim rahimahullāh)

Apa yang tersebut di dalam hadits di atas bukanlah berurutan.

Dan in syā Allāh akan kita pelajari satu-persatu dari tanda-tanda tersebut pada halaqah-halaqah selanjutnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaramu,
'Abdullāh Roy di kota Al-Madīnah

Ditranskrip oleh
Tim Transkrip BiAS
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

20 Sebab Kenapa Harus Mema'afkan (bagian 3)

�� BimbinganIslam.com
Senin, 02 Dzulqa'dah 1436 H / 17 Agustus 2015 M
�� Materi Tematik
�� Ustadz Firanda Andirja, MA
�� 20 Sebab Kenapa Harus Mema'afkan (bagian 3)
⬇ Download Audio 
https://drive.google.com/file/d/0B1e0BM9z9hzYV2JyNHJrUHNFRk0/view?usp=docslist_api
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

20 SEBAB KENAPA HARUS MEMAAFKAN (BAG. 3)

Ikhwān dan akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulillāh, kita akan lanjutkan pembacaan risalah yang ditulis oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh yang topiknya adalah:

"20 Sebab Kenapa Kita Harus Memaafkan Orang Yang Menzhalimi Kita".

KEEMPAT

Hendaknya dia ingat kalau dia memaafkan dan berbuat baik maka hal itu akan menimbulkan di dalam hatinya hati yang bersih, hati yang jauh dari ghill, hati yang jauh dari keinginan buruk, hati yang jauh dari keinginan membalas dendam.

Dan ini adalah suatu kelezatan yang luar biasa kata Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah.

KELIMA

Hendaknya dia mengetahui bahwasanya tidaklah seorang pun yang membalas untuk membela jiwanya (nafsunya) kecuali hal itu akan menimbulkan kehinaan (kerendahan) di dalam hatinya (jiwanya).

Kalau dia memaafkan, maka Allãh akan muliakan dia.

Dan ini adalah yang pernah di kabarkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

"...tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allãh akan menambah kemuliaannya... "

(HR. Muslim)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan hadits ini berkaitan dengan 3 perkara yang diluar zhahir;

• ⑴

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

"Sedekah tidak mengurangi harta."

• ⑵

وما زاد اللهُ عبدًا بعفوٍ إلَّا عزًّا

"Seorang hamba tidaklah memaafkan kecuali Allãh akan menambah kemuliaannya."

• ⑶

وما تواضَع أحدٌ للهِ إلَّا رفعه اللهُ

"Tidaklah seorang tawadhu karena Allãh kecuali Allãh akan mengangkatnya."

KEENAM

Hendaknya dia ingat bahwasanya balasan sesuai dengan perbuatan, dia ingat bahwasanya jiwanya pun zhālim dia adalah hamba yang penuh dosa.

Dan ingat, barangsiapa yang memaafkan orang lain maka dia akan dimaafkan oleh Allãh Subhanallahu wata'allã.

Oleh karenanya, ini adalah a'zhamul fawāid (faidah yang paling besar), jika anda ingin dimaafkan oleh Allāh maka maafkanlah orang lain.

KETUJUH

Hendaknya seseorang ingat, jika dia sibuk, menyibukkan dirinya untuk balas dendam dan untuk membalas kezhaliman orang lain, maka akan habis waktunya.

KEDELAPAN

Bahwasanya seorang yang tatkala dia membalas dendam sesungguhnya dia sedang menolong nafsunya.

Dia bukan membalas karena Allãh tapi membalas karena jiwanya. Dan kebanyakan orang seperti itu.

Padahal Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam-dan dia adalah seorang Nabi-yang ketika seseorang mengganggunya, (mengganggu Nabi adalah mengganggu Allãh, mengganggu Nabi berarti mengganggu agama Allãh)  nabi tidak pernah membela dirinya.

Kalau yang disakiti dirinya, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah berontak padahal jiwanya adalah jiwa yang paling mulia, jiwa yang penuh dengan akhlaq yang mulia yang jauh dari keburukan.

Itupun tidak pernah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bela jiwanya, yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bela adalah kalau ada hak Allāh yang terlanggar baru Nabi marah. Kalau tidak dia yang disakiti, dia tidak pernah membalas.

KESEMBILAN

Jika ternyata anda diganggu (dizhalimi) oleh orang lain karena perjuangan di jalan Allãh:

- karena anda berdakwah, -
- karena menyuruh kepada yang ma'ruf,
- karena mencegah dari yang mungkar,
- karena mengingatkan manusia akan kesyirikan akan kebid'ahan dan macam-macamnya,

lalu anda disakiti, dituduh dengan tuduhan macam-macam, maka janganlah anda balas, karena anda berharap balasan dari Allãh.

Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah menyebutkan ibarat yang sangat indah:

"Barangsiapa yang tidak bersabar dalam berdagang

-dia tidak bersabar dengan panasnya matahari,
-dia tidak bersabar dengan dinginnya hujan
-dia tidak bersabar dengan dinginnya salju
-dengan beratnya bersabar dengan gangguan pencuri

dia tidak bersabar dengan ini semua maka dia tidak perlu berdagang."

KESEPULUH

Hendaknya diingat bahwasanya Allãh bersama dia ketika dia bersabar. Dan dia ingat bahwa Allãh cinta kepada dia ketika dia bersabar.

Siapakah diantara kita yang tidak ingin dicintai Allãh Subhanallahu wata'allã ?

Diantara cara Allãh mencintai kita adalah ketika kita bersabar

إِنَّ اللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

"Dan Allāh mencintai orang-orang yang sabar".

(Āli 'Imrān : 146)

Ibnul Qayyim Rahimahullãh mengatakan:

ليس الشأن أن تُحب ولكن الشأن ان تُحَب 

"Perkaranya bukanlah engkau mencintai Allãh Subhanallahu wa ta'ālla, tetapi perkaranya adalah apakah engkau dicintai Allãh Subhanallahu wa ta'ālla."

Banyak orang merasa cinta kepada Allãh, tetapi belum tentu Allãh cinta sama dia.

Diantara bukti bahwasannya Allãh cinta kepada kita, adalah bila kita diuji kita bersabar, berarti Allãh cinta kepada kita, buktinya kita bersabar, dan Allãh mengatakan:

وَ اللّٰهِ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Allãh mencintai orang-orang yang bersabar.

Inilah derajat yang indah, dicintai Allãh Subhanallahu wa ta'allã, caranya diantaranya dengan bersabar tatkala dizhalimi.

Kata Ibnu Taimiyyah Rahimahullāh:

"Kalau Allãh sudah bersama dengan seorang hamba, maka Allãh akan menghilangkan berbagai macam kemudharatan (gangguan) yang tidak mampu untuk dihilangkan oleh seorangpun dari mahluk Allãh Subhanallãhu wa ta'ālla."

Kenapa?

Karena Allãh bersama kita.

Karena itu Ibnu Taimiyyah mengatakan:

"Barangsiapa bersabar, Allãh bersama dia maka Allãh akan menolong dari segala macam gangguan-gangguan yang lainnya."

(Bersambung bag. 4)

________________________
�� Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

�� Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
�� http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran

JANGAN BANGGA DIRI DENGAN AMAL KITA

JANGAN BANGGA DIRI DENGAN AMAL KITA !✔

Ada 4 pria berbicara mengenai amal ibadah mereka dan kesuksesan yang didapatnya:

Pria 1 : Alhamdulillah, sejak sering shalat dhuha rejeki menjadi lancar. Bisnis sukses, sebentar lagi anak saya lulus smu rencananya akan sekolah ke luar negeri.

Pria 2 : Bukan main, hebat sekali, sejak naik haji ibadah semakin rajin, alhamdulillah anak juga sukses, rumahnya harganya milyaran, belum lagi kendaraannya. Sebagai orang tua
sangat bangga, berkat doa dan didikan saya.

Pria 3 : MasyaAllah, sungguh nikmat tak terkira sejak rajin puasa dan bersedekah, rezeki bagaikan sungai mengalir tidak ada putus-putusnya. Anak baru selesai kuliah di luar negeri sekarang jadi staff khusus
mentri.

Ketiga pria tersebut kemudian melirik pria 4 sejak tadi hanya terdiam. Salah satu bertanya pada pria 4.

“Bagaimana dirimu? Mengapa diam saja?”.

Pria 4 : Saya tidak sehebat kalian, jangankan kesuksesan bahkan saya tidak tahu ibadah yang saya lakukan diterima oleh Allah SWT atau tidak. Saya mengetahui ibadah saya diterima dan sukses setelah saya meninggal nanti.

Jadi saya merasa belum bisa menceritakan ibadah yang saya lakukan dan balasan yang
Allah berikan kepada saya.

Jangan Bersandar Pada Amal

Sebab dari ketertipuan ini adalah sikap bersandar kepada amal secara berlebih. Ini akan melahirkan kepuasan, kebanggaan, dan akhlak buruk kepada Allah Ta’ala.

Orang
yang melakukan amal ibadah tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Mereka tidak tahu betapa besar dosa dan maksiatnya, juga mereka tidak tahu apakah amalnya bernilai keikhlasan atau tidak. Oleh karena itu, mereka dianjurkan untuk meminta rahmat Allah dan selalu mengucapkan istighfar karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallah 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

ﻟَﻦْ ﻳُﺪْﺧِﻞَ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧْﺖَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﺎ ﻭَﻟَﺎ
ﺃَﻧَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻐَﻤَّﺪَﻧِﻲ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻔَﻀْﻞٍ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٍ ﻓَﺴَﺪِّﺩُﻭﺍ ﻭَﻗَﺎﺭِﺑُﻮﺍ

"Sungguh amal seseorang tidak akan
memasukkannya ke dalam surga."

Mereka bertanya, "Tidak pula engkau ya Rasulallah?" Beliau menjawab, "Tidak pula saya. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya. Karenanya berlakulah benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan berlakulah sedang (tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak kendor atau lemah)". (HR. Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Dan di antara rahmat-Nya adalah Dia memberikan taufiq untuk beramal dan hidayah untuk taat kepada-Nya. Karenanya, kita wajib bersyukur kepada Allah dan merendah diri kepada-Nya.

Tidak layak hamba bersandar kepada
amalnya untuk menggapai keselamatan dan mendapatkan derajat tinggi di surga. Karena tidaklah dia sanggup beramal kecuali dengan taufiq Allah, meninggalkan maksiat dengan perlindungan Allah, dan semua itu berkat rahmat dan karunia-Nya.

Seorang hamba tidak pantas membanggakan amal ibadahnya yang seolah-olah bisa terlaksana karena pilihan dan usahanya semata, apalagi ada perasaan telah memberikan kebaikan untuk Allah. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba-hamba-Nya. Dia Maha Kaya, tidak butuh kepada makhluk-Nya.